Kekayaan alam suatu negara tidak akan menjadi sumberdaya jika tidak dimanfaatkan dengan baik untuk menghasilkan produk-produk yang memenuhi hasrat dan keperluan manusia. Berbagai contoh situasi disajikan untuk mendukung pendapat bahwa kegagalan kita di dalam melakukan transformasi tersebut via pengembangan teknologi milik sendiri dan penegakan industri yang menggunakan teknologi ini, telah menjadi salah satu penyebab keterpurukan ekonomi Indonesia akhir-akhir ini dan merupakan ancaman bagi terpeliharanya identitas dan eksistensi bangsa di era globalisasi.

Departemen Teknik Kimia dan Pusat Penelitian Material dan Energi
Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10, Bandung 40132
email : ppeitb@bdg.centrin.net.id
/ wisnua@indosat.net.id

Abstrak

Kekayaan alam suatu negara tidak akan menjadi sumberdaya jika tidak dimanfaatkan
dengan baik untuk menghasilkan produk-produk yang memenuhi hasrat dan keperluan
manusia. Berbagai contoh situasi disajikan untuk mendukung pendapat bahwa kegagalan
kita di dalam melakukan transformasi tersebut via pengembangan teknologi milik
sendiri dan penegakan industri yang menggunakan teknologi ini, telah menjadi
salah satu penyebab keterpurukan ekonomi Indonesia akhir-akhir ini dan merupakan
ancaman bagi terpeliharanya identitas dan eksistensi bangsa di era globalisasi.
Didasari oleh keinginan untuk mengoreksi dan mengatasi kegagalan itu diajukan
saran tentang fokus kebijakan riset dan teknologi dan peneliti teknologi proses
dihimbau untuk proaktif mengembangkan teknologi proses milik sendiri dan menegakkan
industri kecil/menengah domestik yang menerapkannya.

1. Pendahuluan

Di dalam buku klasik "World Resources and Industries", Zimmenmann
(1951) menekankan bahwa kekayaan alam (yang ada di suatu negara. atau wilayah)
belum bisa disebut sebagai sumberdaya jika belum dimanfaatkan (dengan baik).
Pemibangunan ekonomi pada hakekatnya merupakan hasil interaksi tritunggal :
hasrat serta keperluan manusia, pengetahuan serta keterampilan manusia, dan
sumber daya yang dimanfaatkan untuk memenuhi hasrat dan keperluan tersebut.
Taraf dan kualitas dari hasrat serta keperluan manusia dan teknologi yang dikuasainya
(baik via pengembangan sendiri maupun diperoleh dari pihak lain), bersama sama
dengan sistem sistem harga, kebijakan serta politik, bisa mengubah benda benda
yang tadinya ada sebagai kekayaan wilayah menjadi sumberdaya.

2. Ancaman persaingan global terhadap eksistensi bangsa

Di satu sisi, kita perlu menyadari bahwa di masa masa lalu, kini, maupun kelak,
sesungguhnya tiap bangsa (termasuk tentunya bangsa Indonesia) selalu ingin mempertahankan
identitas dan eksistensinya masing masing [Soerawidjaja (1999b)]. Di sisi lain,
kita pada umumnya sudah mengetahui bahwa globalisasi ekonomi dunia akan menjadi
kenyataan dalam dua atau tiga dekade mendatang. Di dalam masa itu, istilah pasar
domestik hanyalah dalih politik, karena. pasar untuk semua barang dan jasa akan
menjadi global. Pusat pusat sains, rekayasa, teknologi yang unggul akan beroperasi
secara global sehingga bakat-bakat intelektual, tenaga kerja, maupun sumberdaya
alam akan terjaring secara global. Pengertian batas negara pun dikatakan akan
menjadi kabur sehingga tak bisa lagi dijadikan tameng untuk bertahan dalam persaingan
[White (1998)]. Mereka yang tak mampu bersaing akan sima tergasak dan dikuasai
yang lebih unggul. Oleh karena itu, agar identitas dan eksistensi bangsa Indonesia
tak musnah di dalam era globalisasi nanti, kita harus berjuang agar bangsa ini
selalu kompetitif dalam segi kemampuan intelektual dan teknologi maupun keterampilan
berinovasi, serta mandiri dalam arti senantiasa mampu menjaga keterjaminan dan
keberlanjutan pasokan aneka kebutuhannya [Soerawidjaja (1999b)].

3. Peran kunci manusia dan teknologi dalam persaingan global

Dewasa ini, telah secara umum diakui bahwa pemanfaatan teknologi adalah faktor
penentu fundamental dari pertumbuhan ekonomi suatu negara. Robert M. Solow,
pakar ekonomi dari Massachussets Institute of Technology (MIT), mendapatkan
hadiah Nobel dalam ilmu ekonomi pada tahun 1988 karena telah menunjukkan hal
ini melalui penelitian penelitiannya di pertengahan tahun 1950 an [Pandau (1988),
White (1988)]. Akan tetapi, pemanfaatan teknologi teknologi yang hampir seluruhnya
bukan milik sendiri, tidak akan mampu menjamin pertumbuhan ekonomi yang berumur
panjang, karena pertumbuhan ekonomi yang demikian sesungguhnya tidak ditulang
punggungi oleh kemandirian dan ketangguhan daya saing yang hakiki. Pembahasan
lebih jauh tentang interaksi teknologi dan ekonomi di dalam proses proses, pembangunan
telah disajikan oleh Sasmojo (1999). Kesadaran berbagai negara, akan hal ini
tercermin dalam kebijakan kebijakan dan program program teknologinya dalam mewujudkan
daya saing global: fokusnya bukan pada pemanfaatan teknologi melainkakan pada
pengembangan teknologi yang menjembatani temuan temuan ilmiah (scientific discoveries)
dan komersialisasi [White (1988)].

Di dalam upaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berbasis kemandirian dan
ketangguhan daya saing yang sejati itu, manusia jelas berperan sentral. Seperti
telah sering dikemukakan oleh berbagai tokoh dan pemimpin, kelompok kelompok
manusia yang berkemampuan serta berdaya kreasi tepat adalah tipe sumber daya
yang paling besar dan paling penting, karena oleh manusialah teknologi itu dikembangkan
dan melalui manusia pulalah benda benda yang disebut khazanah kekayaan alam
diangkat menjadi sumber sumber daya dan dikonversi menjadi barang barang dan
jasa jasa yang memenuhi hasrat dan keperluan masyarakat. Tambaban pula, anak
anak bangsa yang mampu dan berpengalaman dalam pengembangan teknologi adalah
tumpuan harapan untuk mengadaptasi dan memperbaiki dan menjelmakannya menjadi
teknologi baru yang dapat diakui sebagai milik sendiri.

Tetapi malang, manusia tak jarang pula berperan sentral dalam makna yang negatif,
mereka menjadi rintangan utama pemanfaatan kekayaan alam melalui sifat apatis,
kelalaian atau ketak acuhan, kebodohan, ketamakan, kekhawatiran dan ketakutan,
serta manifestasi-manifestasi watak yang lain [Constantin (1975)]. Kekayaan
alam yang berada di suatu daerah atau negara, lebih lebih yang bersifat unik/khas
bagi daerah atau negara itu, bisa tak terangkat menjadi sumber daya jika manusia
manusia di wilayah itu tak mempunyai hasrat, tekad, dan kegiatan nyata untuk
memanfaatkannya.

4. Kesenjangan di antara potensi dan pemanfaatan kekayaan alam Indonesia

Berbekal proposisi-proposisi di atas sebagai acuan, kita sekarang beralih
menyidik fakta-fakta yang bisa menunjukkan apakah bangsa kita berpeluang besar
untuk dapat mempertahankan identitas dan eksistensinya di era globalisasi nanti.
Fakta pertama dan utama yang bisa digunakan sebagai indikator adalah keterpurukan
ekonomi yang kita alami dalam dua tahun terakhir; ini mengisyaratkan bahwa peluang
tersebut mungkin tak besar. Pertumbuhan ekonomi negara kita selama ini tidak
ditulangpunggungi oleh kemandirian dan ketangguhan daya saing yang hakiki. Praktis
semua teknologi industri yang kita gunakan, termasuk teknologi proses kimia,
tidak dilahirkan dan ditumbuhkembangkan di dalam negeri, melainkan dibeli dari
negara lain. Lebih buruk lagi, sebagian besar dana pembangunan industri dipinjam
dari luar negeri dan aneka barang modal (peralatan) serta sebagian bahan mentah
maupun bahan pembantu untuk keperluan operasi industri tersebut diimpor. Ketergantungan
yang berlebihan kepada luar negeri tersebut adalah salah satu penyebab keterpurukan
industri dan ekonomi Indonesia.

Fakta fakta lain selanjutnya dapat diajukan untuk dijadikan indikator peluang
tegak kukuhnya identitas dan eksistensi bangsa kita kelak di era kesejagatan.
Berbagai contoh kesenjangan di antara potensi dan pemanfaatan kekayaan alam dalam
negeri yang dituturkan berikut ini, sebagian daripadanya telah dikemukakan beberapa
waktu yang lalu, [Soerawidjaja (1999a)], dapat kita jadikan bahan renungan untuk
bermawas diri.

  1. Penambangan pertama minyak bumi di wilayah Nusantara dilakukan, hanya berselang
    15 – 20 tahun dari penambangan pertama minyak bumi di dunia, yaitu di Pennsylvania,
    Amerika Serikat. Akan tetapi, di dalam hal pengembangan teknologi penambangan,
    konversi dan pemanfaatan minyak (dan gas bumi) kita dewasa ini amat sangat jauh
    tertinggal. Minyak bumi kita, yang merupakan salah satu andalan perolehan devisa
    negara dan sumber utama pasokan bahan bakar cair di dalam negeri, tanpa banyak
    disadari sekarang terkuras dengan laju yang lebih besar dari kecepatan peningkatan
    kemampuan anak-anak bangsa untuk mengelolanya sendiri. Bahkan, sekalipun telah
    pasti bahwa Indonesia ini tak lama lagi akan menjadi pengimpor netto minyak bumi,
    kita tak pemah serius memikirkan dan mengupayakan pengadaan bahan bakar cair altematif
    dan sumber daya di dalam negeri, untuk mengganti atau menutupi kekurangan kebutuhan
    domestik akan bahan bakar fosil ini.
  2. Pabrik besi baja kita sekarang masih mengimpor bahan mentah bijih besi yang
    diperlukannya. Hampir tak pernah terdengar ada upaya serius untuk mencari dan
    memanfaatkan kekayaan mineral dalam negeri untuk menggantikannya. Ketersediaan
    pasir besi (titanomagnetit) di sepanjang daerah pantai barat Sumatera dan pantai
    Selatan Jawa tak pemah mendapat perhatian yang memadai.
  3. Berbagai pabrik di negara kita (misalnya pabrik bir) mengimpor kiselgur (tanah
    diatome) untuk filter aid. Pengembangan deposit kiselgur yang ada di dalam negeri
    untuk keperluan tersebut tampaknya belum lagi ada.
  4. Potensi kekayaan dan keanekaragaman hayati Indonesia besar. Kondisi kondisi
    cuaca, tanah dan kependudukannya pun sangat memungkinkan kita menjadi ‘gudang
    pangan dunia’. Akan tetapi, kontras dengan kekayaan itu, bangsa kita sekarang
    malah merupakan pengimpor besar bahan pangan seperti beras, gula, kedelai, dan
    jagung.
  5. Indonesia merupakan negara maritim; garis pantainya paling panjang di didunia.
    Ironis terhadap ini, kita mengimpor garam, tepung ikan, bahan kimia berbasis rumput
    laut seperti natrium alginat dan karagenan, serta produk produk berbasis kekayaan
    laut lainnya.
  6. Di jaman penjajahan, pulau Jawa adalah kiblat teknologi gula tebu dunia. Kini,
    semua itu hanya tinggal sejarah. Dari sejak masa kemerdekaan, unjuk kerja industri
    gula terus menurun dan kita sekarang mengimpor gula pasir (sebagai pembanding:
    Brazil, negara tropik di belahan bumi yang lain tetapi dengan kondisi alam dan
    kependudukan serupa dengan kita, adalah negara pengekspor gula terbesar di dunia).
    Potensi kekayaan alam berupa hutan nipah yang terdapat di propinsi-propinsi Riau,
    Kalbar, Sulsel dan Papua sebagai sumber altematif gula pasir (nira mengandung
    14 – 17% sukrosa seperti nira tebu) tak pemah serius dikaji dan dikembangkan.
  7. Jika kita membuka buka buku karya Heyne (1950), ‘Tanaman Tanaman Berguna
    Indonesia’, kita akan mendapati bahwa ada puluhan pohon yang bijinya berpotensi
    menjadi sumber minyak nabati (untuk membuat minyak pangan, sabun, minyak bakar,
    d1l.). Pada kenyataannya, rakyat kita di pedesaan pedesaan sekarang praktis hanya
    bisa mengambil minyak dari biji kelapa, sawit, dan kapok.
  8. Negara kita banyak mengimpor biji kedelai untuk pembuatan tahu, tempe, kecap,
    miinyak pangan, d1l. Kedelai adalah tanaman asli daerah sub tropik sehingga kurang
    tumbuh baik di sini (di Eropa dan Amerika, perolehan bijinya bisa mencapai 2,3
    ton/ha, di negara tropik, perolehan biji 1,2 ton/ha saja sudah tergolong baik).
    Kita memiliki tanaman asli tropik yang kandungan bijinya mirip kedele, yaitu kecipir;
    perolehan bijinya bisa 2 sampai 5 ton/ha. Namun, adanya upaya serius untuk mengembangkan
    tanaman kecipir sebagai pengganti kedelai nyaris tak terdengar.
  9. Rakyat kita sudah mengenal teknologi sederhana, pembuatan alkohol (etanol)
    sejak lama; pengrajin tape dan tuak biasa mempraktekkannya. Akan tetapi, untuk
    membuat alkohol dalam skala besar (pabrik) temyata kita harus, membeli teknologinya
    dari luar negeri. Di pasar tradisional, kita bisa mendapatkan/membeli ragi buatan
    lokal (biasanya dibungkus daun pisang atau plastik). Tetapi, di pasar pasar swalayan
    besar kita hanya akan mendapatkan ragi impor (dengan kemasan yang rapi dan mutu
    yang terjamin).
  10. Kawasan Indonesia sudah mengekspor turpentin dan minyak minyak atsiri seperti
    minyak nilam, minyak akar wangi dan minyak serai wangi, sejak tahun 1915 1920
    [de Jong (1922)]. Sampai sekarang, teknologi distilasi/ekstraksinya tak menjadi
    lebih efektif. Beberapa sumber minyak atsiri bahkan diekspor dalam bentuk bahan
    asli/mentahnya (kapulaga. adalah contohnya). Industri hilir dari bahan bahan ini,
    yaitu industri zat kimia pengharum (pewangi), zat kimia aroma (penggairah selera),
    dan parfum,jugataklcmjung berkembang.

Contoh contoh di atas kiranya cukup menunjukkan bahwa bangsa kita telah gagal
dalam menjelmakan kekayaan alam menjadi sumber daya; kita telah gagal membangun
perekonomian dan industri yang berakar kuat ke sumber daya dalam negeri. Jika
kegagalan kegagalan ini kita biarkan berlangsung terus, maka akan pupuslah peluang
dan barapan kita untuk dapat mempertahankan identitas dan eksistensi bangsa ini
di era globalisasi nanti.

5. Saran Saran Strategi dan Upaya Litbang Pematifnatan Kekayaan Alam

Keseluruhan uraian dalam paragraf-paragraf di muka jelas mengisyaratkan bahwa
untuk membuka dan meratakan jalan yang lapang ke arah terlanggengkannya identitas
dan eksistensi bangsa Indonesia di era globalisasi, maka fokus kebijakan riset
dan teknologi dari negara kita mestinya adalah pengembangan dan pemanfaatan
teknologi untuk mentransformasi kekayaan alam negara ini menjadi sumberdaya
dan mengkonversinya menjadi produk-produk yang memenuhi hasrat dan kebutuhan
masyarakat. Catatan dan penjelasan lebih lanjut mengenai saran fokus kegijakan
ini adalah sebagai berikut :

  1. Budaya teknoekonomi masyarakat kita masih sangat heterogen; ada yang sudah
    sangat maju, ada yang disebut kelompok madya, dan bagian terbesamya masih sangat
    tradisional. Pengembangan teknologi yang menutup kesenjangan di antara kelompok-kelompok
    ini dan memadukannya menjadi satu kesatuan ekonomi harus paling diutamakan.
    Sektor industri minyak atsiri dan minyak nabati yang disebutkan dalam fasal
    yang lalu adalah contohnya.
  2. Kekayaan alam yang kita miliki (misalnya saja minyak bumi dan batubara) bisa
    sangat diminati oleh negara-negara maju sehingga teknologi pemanfaatannya sudah
    dan sedang dikembangkan secara besar-besaran oleh mereka. Mengingat kuantitas
    dan kualitas sumberdaya manusia riset dan teknologi bangsa kita masih rendah,
    maka daripada bersaing tanpa harapan dapat menjadi lebih unggul, lebih baik
    kita mencurahkan perhatian pada teknologi pemanfaatan kekayaan alam (khas) yang
    belum/tidak dikembangkan (secara serius) lembaga-lembaga riset intemasional.
    Di dalam sektor-sektor teknologi yang sedang dikembangkan secara serius oleh
    kekuatan-kekuatan intemasional, kita hanya perlu bangsa yang mampu memilih secara
    tepat, teknologi mana yang kelak harus dibeli di antara aneka tawaran pihak
    luar negeri.
  3. Kemampuan masyarakat (industri) Indonesia di dalam menerapkan dan mengkomersialisasikan
    teknologi yang dikembangkan oleh lembaga lembaga riset masih rendah. Karena
    itu (a) para peneliti yang memilih dan melaksanakan suatu topik riset yang dipandang
    sangat potensial harus memiliki kontak yang erat dengan lingkungan masyarakat
    (industri) calon penerima teknologi yang dikembangkannya tersebut, dan (b) kebijakan
    ristek perlu mencakup situasi yang lebih luas dan menjangkau pengadaan dukungan
    dukungan yang memadai kepada proses penerapan dan komersialisasi via penyediaan
    modal ventura dan kepakaran manajemen yang sangat kompeten. Perlu dicatat di
    sini sebagai rujukan lebih lanjut, bahwa butir-butir 1-3 di atas telah dibahas
    panjang lebar oleh Hill (1987), sekalipun tanpa mengacu khusus kepada situasi
    Indonesia.
  4. Merujuk kepada butir 3 (b) maka teknologi yang kebutuhan investasi untuk
    pabrik/instalasi komersialnya tidak terlalu besar (sehingga dana investasinya
    tersebut dapat dimobilisasi di dalam negeri), harus mendapat prioritas lebih
    besar untuk dikembangkan.

Waktu yang tersedia sudah tak banyak; hanya dalam satu dua dekade mendatang
kita sudah harus mampu mengatasi kegagalan kegagalan yang contoh contohnya disebutkan
di muka. Oleh karenanva, kita perlu sangat efektif dalam bekerja sambil belajar,
agar di dalam era globalisasi nanti, bangsa Indonesia sudah betul betul mampu
melakukan research-development commercialization dalam berbagai bidang teknologi
dan telah menegakkan perekonomian dan industri yang berakar kuat ke sumber daya
dalam negeri. Mengingat situasi ini, sehimpunan kriteria yang lebih spesifik
telah diusulkan [Soerawidjaja (1995,1999a)] untuk digunakan dalam menentukan
teknologi teknologi proses kimia mana yang layak segera kita kembangkan dan
komersialisasikan agar dapat menuai keberhasilan , dalam jangka pendek sampai
menengah.

Selain itu, juga telah disarankan agar bangsa kita mengambil manfaat dari adanya
teknologi teknologi klasik, yaitu teknologi teknologi yang sudah ada dan dikembangkan
sejak lama di negara negara maju, sehingga. paten paten yang melindunginya sudah
kadaluwarsa, tetapi masih ekonomik/menguntungkan serta aman untuk diterapkan
atau diimplementasikan secara komersial di negara kita [Soerawidjaja (19)9a)].
Aneka ragam teknologi proses klasik untuk mengolah hasil hasil industri budidaya
pertanian, perkebunan, kehutanan, pertanian dan perikanan) maupun industri ekstraktif
(pertambangan), kemungkinan besar dapat dikembangkan via adaptasi pada altematif-altematif
bahan mentah yang ada di negara kita dan kemudian dikomersialisasikan sebagai
teknologi proses milik sendiri. Pemerintah disarankan agar menugaskan suatu
badan khusus untuk menggali, menghimpun dan mendiseminasikan informasi tentang
teknologi teknologi klasik itu [Soerawidjaja (I 999a)].

6. Himbauan untuk para peneliti teknologi proses

Mantan Vice President for Science dari perusahaan raksasa IBM, Dr Praveen
Chaudhari baru-baru ini mengemukakan bahwa dalam 25 tahun terakhir, ketergantungan
negara negara berkembang kepada negara negara maju dalam hal teknologi, bukannya
makin berkurang malahan kian meningkat [Chaudhari (2000)]. Ia menyatakan bahwa
ini terjadi karena (a). negara negara berkembang seolah olah tidak memiliki
tekad serta program yang sungguh-sungguh untuk secara mandiri mengembangkan
teknologi teknologi yang memang sangat dibutuhkan oleh bagian terbesar bangsanya
demi membangun kekuatan ekonomi yang hakiki, dan (b). kebijakan kebijakan teknologi
negara negara berkembang lebih banyak ditentukan oleh konsultan konsultan intemasional.

Interaksi dan komunikasi antar bangsa yang erat dewasa ini, serta iming iming
kerjasama dan bantuan dari negara-negara maju, memang sangat memudahkan terdalanginya
strategi pembangungan oleh minat minat intemasional yang tidak/kurang relevan
dengan keperluan meningkatkan kekuatan ekonomi bagian terbesar rakyatnya, sehingga
kebijakan teknologi pemerintah pun menjadi lain dari apa yang disarankan di
muka. Jika hal demikian temyata masih terjadi, maka di sini penulis ingin mengingatkan
rekan rekan peneliti teknologi proses, bahwa manusia intelektual yang menyetujui
logika pengembangan teknologi milik sendiri seperti dimaksud dalam makalah ini,
memiliki beban moral untuk dalam skala mikro melakukannya sendiri sendiri. Terlepas
dari baik buruknya kebijakan pemerintah, kekayaan negara kita tak akan bisa
terjelmakan menjadi sumberdaya jika jika individu individu manusia intelektual
Indonesia tak mempunyai hasrat, tekad, kreatifitas; dan kegiatan nyata untuk
memanfaatkannya.

Berdasar pengalaman selama ini, penulis berkeyakinan bahwa perusahaan perusahaan
industrial yang pada mulanya berdiri dan beroperasi dengan menggunakan teknologi
yang dibeli dan luar negeri, sulit untuk kemudian memiliki budaya melakukan
penelitian dan pengembangan guna mewujudkan teknologi milik sendiri. Budaya
demikian umumnya hanya melekat kuat pada perusahaan industrial yang memang lahir
dan tumbuh dari upaya penelitian dan pengembangan suatu teknologi. Malangnya,
di negara kita perusahaan-perusahaan industrial yang disebut terakhir ini amat
langka, padahal merekalah yang umumnya rajin mengajak institusi institusi penelitian
untuk bekerjasama melaksanakan penelitian terapan dan memberikan donasi donasi
untuk penelitian fundamental.

Oleh karena itu, tugas utama kita dewasa ini adalah mendorong dan turut membidani
lahimya sebanyak mungkin perusahaan-perusahaan industrial kecil dan menengah
via upaya upaya pengembangan teknologi proses konversi dan pemanfaatan aneka
kekayaan alam tanah air kita. Jika tugas ini berhasil dilaksanakan, maka kita
tidak hanya telah berkontribusi pada penegakan industri yang berakar kuat ke
sumber daya dalam negeri, melainkan telah pula memupuk calon calon pemasok dana
dana riset yang paling layak dan dinamik bagi penelitian penelitian di masa
datang.

Sejalan dengan garis pemikiran yang dipaparkan di atas, kegiatan penelitian
penulis belakangan ini lebih berfokus pada studi pengembangan teknologi proses
untuk memanfaatkan kekayaan alam nabati. Ini kebetulan sesuai kecenderungan
dunia yang bergerak ke arah pengutamaan produk-produk berbasis sumber terbarukan.
Bagi rekan-rekan peneliti teknologi proses yang memiliki minat serupa, penulis
ingin menyarankan dua buah buku untuk dibaca dalam rangka penelusuran awal topik
topik teknologi proses yang bisa dan perlu dikembangkan; pertama adalah buku
karya Heyne (1950), yang menguraikan ratusan tumbuhan Indonesia dan berbagai
potensi kegunaannya, kedua adalah buku karya Szmant (1986), yang menyajikan
ikhtisar ikhtisar rute pembuatan aneka zat/bahan kimia yang menguntungkan dan
bahan bahan mentah hayati seperti minyak lemak, karbohidrat, protein, resin,
terpen, dan bahan fenolik.

7. Penutup

Demikianlah makalah ini telah mengetengahkan alasan mengapa kita perlu mampu
secara mandiri menjelmakan kekayaan alam Indonesia menjadi sumber daya, mengupas
kegagalan kegagalan bangsa di dalam hal tersebut, dan mengajukan saran fokus
kebijakan riset dan teknologi serta himbauan upaya para peneliti teknologi proses
di dalam mengoreksi atau mengatasi kegagalan kegagalan itu. Penulis berpendapat
bahwa keberhasilan para peneliti dan ahli ahli teknik kimia di dalam mewujudkan
industri proses yang mengolah sumber daya alam negeri ini dengan menggunakan
teknologi proses milik sendiri, dapat menjadi tonggak kontribusi paling manis
dan fenomenal dari masyarakat dan profesi profesi teknik kimia Indonesia kepada
tegak kukuhnya identitas dan eksistensi bangsa kita di dalam era globalisasi.

Daftar Pustaka

  1. Chaudhari, Praveen, Prasaran yang disajikan dalam sidang ‘Science and Technology
    for Sustainable Development pada The TERI (Tata Energy Research Institute) Silver
    Jubilee Conference New Delhi, India, 18 21 Februari 2000.
  2. Constantin, James A., ‘The Functional Concept of Resources for Economic
    Development Purposes: A Framework for Analysis of Resource & Development’,
    Report PB : 59128, National Technical Information Services (NTIS), U.S. Department
    of Commerce, Springfield, VA. 22161,1975.
  3. de Jong, A.W.K., ‘De Aetherische Oli&n 1xverende Planten vat, Nederlandsch
    0)’slIndj& en De Bereiding van Haar Olien ‘, Druk de Bussy, 1922.
  4. Heyne, K., ‘De Nuilig o Planten van Indonesie’, edisi 3, 1950, diteriemahkan
    ke da am babasa indonesia dengan judul ‘Tanaman Berguna Indonesia’ (4
    jilid) oleb Ba ian Lithang Kehutanan, Jakarta, 1988.
  5. Hill, Stephen, ‘Basic design principles for national research in developing
    countri Is’, Technolo,T1 in Society 9,63 73 (1987).
  6. Landau, Ralph, ‘Hamessing innovation for growth’, Chem. Eng. Prog.
    84(7) 31 42 (1988).
  7. Sasmojo, Saswinadi, ‘Interaksi teknologi dan ekonomi dalain proses proses
    pembangunan’, di dalam Cardijan H.S. (editor), ‘Menuju Indonesia Baru
    ‘, Persatuan Insinyur Indonesia (ko penerbit: Koperasi Pukislantap), Jakarta,
    1999.
  8. Soerawidjaja, Tatang H., ‘Menerawang tantangan tantangan teknologi kimia
    dalam menghadapi globalisasi ekonomi di tahun 2020’, Makalah yang disajikan
    dalam Konvensi ke VII Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK 111),
    Jakarta, 24 25 Jull 1995.
  9. Soerawidjaja, Tatang H., ‘Tinjauan strategis terhadap arah arah penelitian
    & pengembangan teknologi proses milik sendiri’, Makalah yang disajikan
    pada seminar ‘Urgensi Terobosan Teknologi dalam Industri Perminyakan dan
    Industri Kimia’, diselenggarakan oleh Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur
    Indonesia (BKK PII), Pusat Pengkajian Industri, Teknologi, dan Bisnis (PPITB),
    dan P.T. Rekayasa Industri, Jakarta, 10 Nopember 1999(a).
  10. Soerawidjaja, Tatang H., ‘Dayagunakan potensi biomassa darat dan laut
    untuk menunjang keberlanjutan dan keterjaminan pasokan pangan dan energi’,
    Presentasi pada Simposium ‘Strategi Pengelolaan Sistem Energi Nasional dalam
    Menghadapi Globalisasi, dan Milenium Baru’, Balai Pertemuan Ilmiah Institut
    Teknologi Bandung, Bandaung, 4 Desember 122~t(b).
  11. Szffi~ht, H.H., ‘Industrial Renewable Resources: An Introduction’,
    Technomics Publishing Co., Inc., Lancaster, Pennsylvania, 1986.
  12. White, R.M., ‘Technological competitiveness and chemical engineering’,
    Chem Eng. Prof, ‘ 84(l) 24 26 (1988).
  13. Zimmermann, E.W., ‘World Resources and Industries’, edisi ke 2,
    Harper & Brothers Publishers, New York, 195 1.