Perkembangan teknologi sumber daya energi terbaharukan (renewable energy) terus mengalami kemajuan. Salah satu di antaranya adalah pengembangan biodiesel, yaitu bahan bakar untuk mesin diesel yang dihasilkan dari sumber daya hayati yang justru banyak terdapat di daerah tropis seperti Indonesia.

Perkembangan teknologi sumber daya energi terbaharukan (renewable energy) terus
mengalami kemajuan. Salah satu di antaranya adalah pengembangan biodiesel, yaitu
bahan bakar untuk mesin diesel yang dihasilkan dari sumber daya hayati yang
justru banyak terdapat di daerah tropis seperti Indonesia. Bahan baku (feed
stock) biodiesel terus mengalami pengembangan melalui berbagai eksperimen di
seluruh dunia. Dari awalnya berbasis tumbuhan kanola (rapeseed) kemudian dikembangkan
pembuatan dari kelapa sawit, pohon jarak, sampai minyak jelantah (used vegetable
oil).

Maka untuk mengantisipasi makin meningkatnya harga serta permintaan akan minyak
solar / ADO (Automotive Diesel Oil), penting untuk mengkaji pengembangan biodiesel
berbahan baku minyak jelantah sebagai bahan bakar alternatif pengganti solar.

Proses pembuatan biodiesel dari minyak jelantah akan melewati tahap sebagai
berikut:

  1. Proses pemurnian minyak jelantah dari pengotor dan water content
  2. Esterifikasi dari asam lemak bebas (free fatty acids) yang terdapat di dalam
    minyak jelantah,
  3. Trans-esterifikasi molekul trigliserida ke dalam bentuk metil ester, dan
  4. Pemisahan dan pemurnian

Reaksi kimia proses transesterifikasi tri glyceride menjadi methyl ester dengan
alkohol sebagai senyawa pengesterifikasi, adalah sebagai berikut:

Pada penelitian ini, pada kondisi variasi 20% volume alkohol (perbandingan
mol metanol : minyak jelantah 4,95:1), di dapat konversi reaksi sebesar 93%
volume minyak jelantah (kondisi optimal)

Tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran potensi pengembangan
biodiesel di Indonesia, dengan memanfaatkan salah satu jenis bahan bakunya yaitu
minyak jelantah. Gambaran potensi tersebut dapat dilihat dari uji performansi
dan sifat-sifat fisik biodiesel yang dihasilkan.


Analisis Laboratorium Sifat – sifat Biodiesel dari Minyak Jelantah

Sifat Fisik
Unit
Hasil
ASTM Standar (Solar)
Flash point
°C
170
Min.100
Viskositas (40°C)
cSt.
4,9
1,9-6,5
Bilangan setana
49
Min.40
Cloud point
°C
3,3
Sulfur content
% m/m
<< 0.01
0.05 max
Calorific value
kJ/kg
38,542
45.343
Density (15°C)
kg/l
0,93
0,84
Gliserin bebas
Wt.%
0,00
Maks.0,02

Secara keseluruhan, parameter fisik yang ditampilkan dari hasil
penelitian masih berada dalam batasan standar dari ASTM, kecuali harga Calorific
Value yang sedikit lebih kecil dibandingkan harga solar. Saat membandingkan
biodiesel dengan solar, hal yang perlu diperhatikan juga adalah pada tingkat
emisi bahan baker. Biodiesel menghasilkan tingkat emisi hidrokarbon yang lebih
kecil, sekitar 30% dibanding dengan solar; Emisi CO juga lebih rendah, -sekitar
18%-, emisi particulate molecul lebih rendah 17%; sedang untuk emisi NOx lebih
tinggi sekitar 10%; sehingga secara keseluruhan, tingkat emisi biodiesel lebih
rendah dibandingkan dengan solar, sehingga lebih ramah lingkungan.

Mari kita tinjau dari sudut pandang ekonomis produksi biodiesel
dari minyak jelantah ini. Bahan Baku yang digunakan untuk pembuatan biodiesel
dari minyak jelantah adalah:

  • Minyak jelantah (bisa di dapat gratis dari restoran-restoran fast food) atau
    kita hargai dengan Rp 500,00/liter
  • Methanol Rp 5000,00/liter
  • NaOH (s) Rp 12.500,00/kg

Konversi reaksi 93%, berarti setiap 1 liter minyak jelantah akan menghasilkan
biodiesel sebesar 930 ml. Methanol yang digunakan setiap 1 liter minyak jelantah
adalah 200 ml, sedangkan NaOH yang dipakai sebesar 5 gr setiap 1 liter minyak
jelantah. Jadi biaya produksi total untuk menghasilkan 1 liter biodiesel yaitu:

  • Minyak jelantah = 100/93 x 500 = Rp 537,65
  • Methanol = 200/1000 x 5000 x 100/93 = Rp 1075,27
  • NaOH kira – kira kita hargai Rp 100,00 / liter biodiesel
  • Utilitas (listrik dll) kita hargai Rp 100,00 / liter biodiesel

Jadi total untuk menghasilkan 1 liter biodiesel dibutuhkan biaya produksi =
Rp 1812,90 (Harga ini dengan asumsi bahwa harga minyak jelantah Rp 500,00, Kalau
ternyata harganya bisa gratis, jadi total biaya produksi biodiesel hanya menjadi
Rp 1312,90. Bandingkan dengan harga solar sekarang yang Rp 1.890,00. Cukup prospektif
bukan ?)


Tentang Penulis
:
Penulis adalah sarjana Teknik Kimia lulusan Institut Teknologi Bandung.
Saat ini penulis bekerja sebagai staf PT. Nawapanca Engineering, Bandung.