Select Page

Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia (Maret 2003) ini membahas tentang standar chloride content (ppm) air yang berasal dari sumur yang baru selesai dibor (new well), sehingga kita dapat memastikan apakah air yg kita peroleh itu adalah formation water atau masih terpengaruh oleh drilling chemical.

Pertanyaan : (Satya Dharma Pinem – Petrochina
International Jabung Ltd.)

Berapa standar chloride content (ppm) dari water yang berasal dari sumur yang
baru selesai di bor (new well)? Sehingga kita dapat memastikan apakah water
yg kita peroleh itu adalah formation water atau masih terpengaruh oleh drilling
chemical.

Tanggapan 1 : (Doddy Samperuru – SCHLUMBERGER
WTA(M) SDN. BHD.)

Dear Pak Satya,
orang Completions umumnya memakai brine ("air garam") sebagai Completion
Fluids. Brine ini umumnya berkonsentrasi 2-4% by-weight Chloride (KCl, NH4Cl,
CaCl2 atau NaCl). Range 2-4% ini diyakini sama kandungan ionnya dgn fluida formasi
secara umum. Reservoir yg terletak di daerah formasi Salt membutuhkan kadar
yg lebih tinggi, sementara di area Water Flood bisa lebih rendah. Saya kurang
tahu pasti di Jabung.

Cara paling akurat untuk mengetahui berapa kandungan Cl dalam air formasi adalah
sbb: kalau sudah ada sumur yg berproduksi, ambil sample air yg dipisahkan dari
hidrokarbon di gathering station & kirim ke lab. Air ini adalah air formasi
& dari lab dapat diketahui berbagai propertinya.

Cara lain: cari info dari orang Completion berapa kadar brine yg umum digunakan
di field. Dari situ dgn rumus konversi umum kadar Cl dapat diketahui. Sbg contoh
(pada suhu 60oF), brine NaCl 3% mempunyai densitas 8.48ppg (pounds per gallon
US) atau 1.016e+006ppm (part per million). Ini setara dgn 616712ppm Cl. Lainnya,
CaCl2 3% –> 8.6ppg atau 1.03038e+006ppm. Kandungan Cl adalah 659443ppm.

Mudah-mudahan saya tidak salah mencerahkan.

Tanggapan 2 : (Satya Dharma Pinem – Petrochina
International Jabung Ltd.)

Pak Doddy,
Terima kasih buat informasinya…… untuk cara pertama, apakah kita dapat mengasumsikan
bahwa formation water dari tiap-tiap well memiliki chloride content yang sama,
walaupun berasal dari well yg jaraknya berjauhan serta production zone yang
berbeda-beda ?

Untuk cara kedua, berarti sangat tergantung dari konsentrasi brine yg digunakan,
Tadinya saya kira ada suatu kisaran angka yg dapat dipakai sebagai standar bahwa
kalau chloride content berada dibawah kisaran tersebut, maka itu sudah pasti
formation water.Tanggapan 3 : (Doddy Samperuru – SCHLUMBERGER
WTA(M) SDN. BHD.)

Dear Pak Satya,

untuk cara pertama, apakah kita dapat mengasumsikan bahwa formation water
dari tiap-tiap well memiliki chloride content yang sama, walaupun berasal dari
well yg jaraknya berjauhan serta production zone yang berbeda-beda ?

Umumnya bisa, kalau perbedaannya tidak terlalu signifikan. Lagipula, satu gathering
station biasanya berasal dari beberapa sumur. Sukar untuk mengetahui fluida
ttu dari sumur mana. Dalam satu sumur, walaupun mempunyai beberapa production
zone yg dialirkan ke atas lewat production strings yg berbeda, biasanya di permukaan
disatukan kembali dalam satu pipa. Sangat sukar untuk mengetahui fluida ttu
dari zone mana.

untuk cara kedua, berarti sangat tergantung dari konsentrasi brine yg digunakan,
Tadinya saya kira ada suatu kisaran angka yg dapat dipakai sebagai standar bahwa
kalau chloride content berada dibawah kisaran tersebut, maka itu sudah pasti
formation water.

Biasanya orang Completions atau Workover sudah yakin dengan kadar brine yg
mereka gunakan di lapangan ttu, kalau lapangannya sudah mature. Di lapangan
yg baru, memang justru orang Completions akan menanyakan info ini dari lab.
Rule of thumb yg umum, kita pakai data-data yg tipikal dari lapangan di sekitarnya,
case history, guideline dari API misalnya, dsb.

Share This