Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia (April 2003) ini membahas tentang pemasangan KWH Meter. Apakah masih layak bila tetap menginstall KWH meter (dg rating 400//5A) pada CT dg ratio 1200-600//5-5A? Adakah pengaruh yang bisa berakibat fatal dg kondisi yang demikian?

Pertanyaan : (Marga Budiwijaya – Unindo Alstom)

Permasalahannya begini, saat ini saya sedang mendesain LV panel sebuah enclosure
hubung bagi yang didalamnya terdapat beberapa meter dan relay proteksi. Saat
saya akan mulai mewiring KWH meter (merk: schlumberger, type:A6A11, two rate).
saya terkejut dengan adanya rating current 400//5A, yg tertulis dalam tag-plate
yg terpampang pada interface KWH meter tersebut. Karena hal inilah saya ragu
untuk menginstalnya, karena ratio CT yang terpasang saat ini adalah 1200-600//5-5A
(double ratio). Padahal setahu saya, untuk menginstal KWH meter ataupun meter2
lain, tidak bergantung pada ratio primer dari CT/PT yang dipakai. melainkan
bergantung pada ratio sekundernya saja, yg mana dalam ratio sekunder sendiri
masih juga dibagi dengan 2 ratio yang sama namun beda class, yang biasa dipakai
sebagai acuan untuk membedakan fungsi sekunder CT mana yg dipakai untuk proteksi
dan mana yg dipakai untuk metering. Nah…kurang lebihnya begitu permasalahannya.
Pertanyaannya, apakah masih layak bila saya tetap menginstall KWH meter tersebut
(dg rating 400//5A) pada CT dg ratio 1200-600//5-5A?? Adakah pengaruh yang bisa
berakibat fatal nanti bila saya tetap menginstallnya dg kondisi yang demikian??

Tanggapan 1 : (Erwin Guci – Petrosea)

Saya pemakai ALSTOM Product dan pernah beli product tersebut, Kayak nya kalau
tetap di instal sih gak apa apa asal out put dari Primer CT tidak melebihi 400
A waktu terjadi overload, tapi ini sifat nya temporari….dan jangan di gunakan
untuk beban motor motor industri yang beban nya naik turun dan hidup mati…………………..tapi
kalau Panel tersebut akan di jual nah ini akan menjadi masalah besar sebab client
kamu pasti tidak suka akan hal ini, sebab ini akan muncul di komponent list
yang akan kamu attached sebagai kelengkapan panel tersebut dan berakibat menjatuhkan
nama perusahaan anda, jadi saran nya kalau untuk di jual lebih baik cari CT
yang perbandingan nya sesuai dengan KWH meter atau cari KWH meter yang sesuai
dengan Primer CT nya.ya tinggal pilih lah…………………………………Safety
First……Okay..??

Tanggapan 2 : (M. Harisman – Integra Teknik)

Konstanta Ratio mutlak dibutuhkan pada meter yang menggunakan CT dan/atau PT.
Konstanta tersebut diperlukan untuk kalkulasi perhitungan internal di Meter,
karena output data / pembacaan yang ditampilkan adalah data di sisi primer.

Dalam hal suatu meter sudah di fix-kan ratio-nya (dalam kasus Bapak ratio arus
400/5), maka untuk hasil pembacaan yang benar haruslah menggunakan CT dengan
ratio yang sama; jika ratio-nya tidak sama, hasil tampilan di meter akan salah
tentunya.

Dari sisi safety instalasi, sama sekali tidak akan ada masalah, karena meter-nya
hanya akan menerima arus aktual 0 – 5 A (sisi sekunder CT). Yang bermasalah
cuma hasil pembacaan di meter saja.

Tanggapan 3 : (Berlian Syako – PT Sofresid)

Sebenarnya lebih tepat hubungannya ke "akurasi" bukan "safety".
Akurasi dari alat ukur yg menggunakan proses induksi listrik akan terganggu
ketelitiannya bila terjadi saturasi magnet. Kwh meter 400/5A, itu berarti dia
didesign untuk mengukur arus sampai 400A, di atas 400A akan mengalami saturasi
sehingga pengukurannya tidak teliti. Idealnya CT yg di pakai juga harus 400/5A.
Tapi kalau CT yg dipakai 600-1200/5-5A juga tidak menyebabkan kerusakan apa2.
Apabila CT tsb di tap di 600A berarti CT tsb akan mengalami saturasi bila arus
mengalir diatas 600A, dan arus sekundernya tetap 5A terus, padahal primernya
sudah diatas 600A, sehingga tidak terukur lagi actualnya. Ingat yg diukur oleh
kwh adalah arus sekundernya (5A). kwh meter mengukur arus bersama dengan tegangan
dan dikonversikan menjadi kWh.

Tanggapan 4 : (Erwin Guci – Petrosea)

Setau saya …jika kenaikan arus di busbar..akan menaikan arus di CT.dan atomatis
arus di CT akan naik……dan ini akan mempengaruhi kopel ke KWH…jika arus
yang di izinkan 5 A dengan input 400 A otomatis akan berubah jika input nya
600 A dan sekunder nya akan 7.5 A….nah bisa di lihat di kwh meter ada interaksi
arus dan tegangan, dan ini akan membuat overload di Gulungan ( Coil ) Piringan
KWH ( Jika Konvensional )….dan saya pernah mengalami nya .KWH meter itu Demage
( Cover Glass nya Pecah dan piringannya terbakar )…….jadi ini saya persembahkan
sebagai pengalaman pribadi dan sedikit analisa…..tetapi jika ada rekan rekan
yang mau mencoba………….nya dengan analisa yang lebih sederhana silahkan……….selamat
.Mencoba dan semoga berhasil……….usahakan jangan bekerja di flamable area
atau combustible area …………Cuma saran..?!

Tanggapan 5 : (Marga Budiwijaya – Unindo Alstom)

Terimakasih sebelumnya atas respon rekan-rekan sekalian. memang pada dasarnya
yang paling saya ragukan dalam kasus ini adalah factor akurasi pengukurannya
saja. seperti halnya penjelasan bapak Berlian Syako.

Dalam hal ini pengukuran dari sisi sekunder CT/pun PT, adalah pengukuran melalui
hasil konversi dari sisi primer, yang notabene adalah keadaan aktual jaringan
yang diukur. memang untuk KWH itu sendiri, setahu saya ada 2 jenis ratio yang
dipakai.

Ratio yang pertama adalah universal ratio, dalam hal ini yang diutamakan adalah
konversi sisi sekundernya. bisa 5A atau 1A, tergantung ratio sekunder CT yang
dipakai. Ratio yang kedua adalah fixed ratio, dalam hal ini selain konversi
sekundernya yang utama, besaran aktual pada sisi primer juga harus diperhatikan.

Sedangkan KWH dalam kasus ini adalah KWH jenis fixed ratio, dg ratio KWH 400/5A,
yang idealnya diinstall menggunakan CT dengan ratio yang sama, 400//5A juga.
Kalaupun tidak demikian, maka harus kita tetapkan faktor koreksi(k) dari pembacaan
data hasil pengukuran. Jika tidak, maka pembacaan data hasil pengukuran yang
kita dapat, akan salah (seperti pendapat bapak Harisman).

Adapun dalam kasus berbedanya ratio primer antara CT dan KWH, yang berdampak
pada hasil pengukuran, meski konversi disisi sekundernya sama-sama 5A untuk
CT/pun KWH. dapat dibayangkan arti 5A(sisi sekunder) itu sendiri bagi masing
masing instrumen. Pada CT 5A akan diperoleh dari hasil konversi arus aktual
600A (posisi tap pada sisi primer=600A). Sedangkan pada KWH sendiri, 5A akan
dibaca sebagai hasil konversi dari arus actual 400A. Sehingga perbedaan ini,
akan berpengaruh pada proses induksi magnet yang terjadi pada KWH. Di mana pada
saat arus sekunder CT=5A, proses induksi magnet yang seharusnya terjadi adalah
600A, namun berhubung ratio KWH hanya 400A, maka daya hasil pengukuran yang
didapat adalah hasil dari pengalian tegangan terhadap arus aktual yg terukur
KWH yakni 400A. Sehingga besar daya dari hasil pengukuranpun akan berbeda (lebih
kecil), jika disbanding dengan besar daya aktualnya.

Berikutnya adalah faktor koreksi…. mungkin pemberian faktor koreksi (k) yang
berbanding lurus dengan besar daya hasil pengukuran,dapat dijadikan solusi dalam
kasus seperti ini. Seperti misal, kita ambil perbandingan terbalik dari daya
aktual pada CT terhadap KWH (600:400=1.5), sehingga daya aktualnya =daya terukur
x k(1.5). Mungkinkah hal ini diterapkan??? Mengingat juga arus aktual pada system
diproteksi untuk arus 600A, sesuai dengan tap primer CTnya. sehingga tidak mungkin
terjadi saturasi karena melebihi arus maksimum pada CT itu sendiri.

Kalau masalah safety sendiri saya juga belum ‘ngeh’ dimana hubungannya 😉 Cukup
sekian dulu tanggapan saya, kalaupun ada yang salah mohon dibenarkan…. terimakasih
semua…

Tanggapan 6 : (Marga Budiwijaya – Unindo Alstom)

Waaah…menariiik 😉
Dari kasus bapak, mungkin saja terjadi bila terdapat ketidak samaan antara arus
sekunder CT yang diinputkan pada KWH, dengan ratio arus input pada KWH. Misal
dalam hal ini ratio sekunder pada KWH …/1A, diberi input arus dari CT dengan
ratio …/5A. Memang saat arus input masih <1A, KWH masih aman2 saja. Namun
saat 1A<sedikit….waah…bisa jadi kemungkinan terjadinya resiko damage
pada KWH, karena overload. Namun akan berbeda kasusnya bila ratio CT sekunder
sama dengan ratio KWH (1A atau 5A). Karena hal ini tidak ada beda yang signifikan
pada sisi sekunder, jika dibanding dengan sisi primer. Jika misal sisi sekunder
CT 600/5A terukur arus 5A, maka arus aktualnya adalah 600A (arus pada busbar/jaringan).

Beda dengan KWH dengan ratio 400/5A, bila arus input yang masuk adalah 5A,
besar pengukuran KWH adalah hasil dari konversi arus aktual 400A (sedangkan
pada busbar 600A). Nah…mungkin ini yang jadi alasan kenapa tidak direkomendasikan
untuk hal yang demikian ini. selain itu, damage dapat juga dikarenakan kesalahan
wiring, sehingga berakibat induksi pada coil tidak sempurna. bagaimanapun…terimakasih
atas peringatannya mas….

Tanggapan 7 : (Berlian Syako – PT Sofresid)

CT: 1200-600/5-5A yg dipakai oleh sdr.Marga tsb masih bisa dipakai. Apabila
di tap di 600A dan arus primernya 600A maka sekundernya 5A bukan 7.5A, Kwh meter
hanya melihat arus sekundernya yg 5A tsb. Tapi karena kwh meter yg dipakai sdr.Marga
tsb di design pada ratio 400/5A maka keakurasiannya saja yg terganggu, tidak
bahaya ke instalasinya. Sedangkan kasus nya sdr.Erwin, itu bisa jadi kwh meter
nya rusak karena CT nya dipasang untuk beban yg melebihi rating CT nya. Misalnya
CT 600/5A dipasang pada beban yg jauh diatas 600A tentunya rusak kWH meter nya.

Untuk sdr.Marga masih bisa pakai CT tsb siapa tau client nya gak tau, tapi
kalo client nya tau yah mufakat lah sama client, cincai2 lah, kan gak bahaya
ke instalasi, paling akurasinya bisa terganggu sedikit kalo arus beban melebihi
400A. Tapi kalau saya inspectornya awas akan saya rijek, he..he..

Tanggapan 8 : (Catur Janhari – Petrosea)

Menambahkan sedikit, CT 600/5 A bisa digunakan tapi ketika order CT , rating
faktornya jangan 1 tapi 1.2, 1.5 atau 2, tergantung dana yang tersedia dan kemampuan
dari alat yang digunakan untuk arus yang diperbolehkan. ( bukan KWH nya ).