Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia (Mei 2003) ini membahas tentang kesulitan dalam mengetahui/mengkuantifikasi benefit yang dihasilkan dalam pembuatan ‘cost & benefit analysis’ dari suatu program K3. Apakah ada yang mengetahui metode perhitungan khusus atau yg lebih akurat?

Pertanyaan : (A Zuhal Fachri – Astra)

Dalam membuat ‘cost & benefit analysis’ dari suatu program K3,
saya mengalami kesulitan dalam bagaimana kita mengetahui/mengkuantifikasi benefit
yang dihasilkan? Apakah bapak/ibu ada yang mengetahui metode perhitungan khusus
atau yg lebih akurat?


Tanggapan 1 :
(Slamet Suryanto)

Pak Zuhal,
Apakah Bapak sedang melakukan Quantitative Risk Assessment (QRA)dan CBA? Umumnya
CBA (Cost-Benefit Analysis) dilakukan setelah risk dikuantifikasi. CBA sendiri
secara sederhana menganalisa Benefit berupa penurunan risk yang dapat dicapai
(terukur) dengan Cost yang di-spent. Saya tidak dapat memberikan input lebih
jauh jika Bapak belum melakukan QRA sehingga program K3 tersebut dapat dinilai
(diukur) mempunyai benefit berupa penurunan risk. Gampangnya, bagaimana mengukur
penurunan resiko jika resiko yang ada tidak/belum terukur?

Tanggapan 2 : (Bambang Subeno)

P’ Slamet Suryanto,
Saya tertarik juga dengan QRA dan CBA ini. Sebelumnya perkenalkan, saya membawahi
production dan sudah beberapa kali terjadi ‘Accident’ di plant kami
dan kebetulan pimpinan saya yang baru ini sangat care terhadap Safety.
Yang perlu saya tanyakan adalah bagaimana langkah2 untuk melakukan QRA, apakah
ada referensi / procedure?
Terima kasih atas tanggapannya.


Tanggapan 3 :
(Yudi Pantja Putra – DNV)

CBA di QRA digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk penentuan ‘Risk
Reduction Measures’ yang di butuhkan. Selain Cost-Benefit Approach tersebut,
di kenal juga beberapa pendekatan lain seperti ‘Subjective Approach’,
‘code based approach’ dan ‘Risk Criteria Approach’.

Di lain pihak Cost and benefit analysis untuk program-program safety di bidang
K3 juga bisa di terapkan tidak harus setelah QRA….. Beberapa paper di ILO
sudah mencoba membahas hal ini dan tentu formulasi-formulasi sederhana sudah
cukup banyak di kenalkan… Kalau ada ‘quality cost’ masa engga ada
‘SHE cost’ ?

Tanggapan 4 : (A Zuhal Fachri – Astra)

Menarik juga apa yang Pak Yudi bicarakan. Saya tadinya mengalami kesulitan
dalam meyakinkan manajemen bahwa program K3 yang akan dijalankan menghasilkan
benefit yang menguntung bagi perusahaan. Maklum, company kan (kadang) ngga mau
meng-gol-kan program yang mengeluarkan cost-nya kalau kita tidak berhasil meyakinkannya
dengan jalan mengkuantifikasikan benefit yang dihasilkan dalam program tersebut.

Sementara di sisi lain, benefit K3 agak sulit, relatif dan subjektif untuk
dikuantifikasi.. (entah dalam dollar, euro, rupiah, de el el). Seolah kita memprediksi
seberapa besar suatu kejadian (misalnya, kecelakaan kerja) yang mungkin terjadi
sementara kita tidak pernah tahu seberapa parah kejadian tersebut akan berlangsung.

Nah, saya pikir semestinya ada pendekatan yang lebih ilmiah (yang mungkin seperti
Pak Yudi dan Pak Slamet bicarakan) yang dapat digunakan.

Saya ingin tahu lebih banyak lagi, juga tentang QRA dan paper2 ILO yang ada,
maupun tools lainnya yang berkaitan. Mohon saya bisa ditunjukkan materi atau
dimana saya bisa mendapatkannya, Pak. Saya rasa Alat seperti ini sangat strategis
buat Safety Officer perusahaan.

Tanggapan 5 : (Slamet Suryanto)

Pak Zuhal,
Untuk mendapatkan informasi mengenai QRA dapat dicari di internet. Salah satu
buku yang strongly recommended untuk mempelajari QRA adalah Guidelines for Chemical
Process Quantitative Risk Assessment terbitan CCPS-American Institute of Chemical
Engineers. Tetapi meskipun demikian, mempelajari QRA akan lebih mudah kalau
langsung praktek dengan ahlinya yang umumnya melibatkan konsultan resiko (contoh
DNV, Lloyds’ Register, ABS, Electrowatt-Econo, DBA, Quest). Saya beruntung telah
mengikuti dan mereview beberapa QRA untuk onshore dan offshore facilities. Salah
satu kunci keberhasilan QRA adalah pengembangan skenario kecelakaan dan data
base probabilitas kecelakaan. Pengembangan skenario digunakan untuk menghitung
konsekuensi kecelakaan dan umumnya menggunakan software modelling (beberapa
yang sering digunakan OHRAT, PHAST, LEAK, SuperChems, dsb). Studi QRA sangat
complicated dan time consuming and cost. Evaluasi risk reduction measures yang
kredibel dalam CBA umumnya masih bertumpu pada kombinasi disain dan emergency
response. QRA juga dapat digunakan untuk menghitung reliabilitas (availabilitas)
disain instrument dan listrik. Aplikasi ini telah diterapkan dalam menentukan
SIL (safety integrity level) dalam disain instrumentasi dan electrical di process
plant.

Pada saat ini telah berkembang model baru untuk QRA yang bertumpu pada penyederhanaan
QRA yang tradisional yaitu dikenal sebagai ORA (Optimum Risk Analysis). ORA
menekankan seleksi MCAS (Maximum Credible Accident Scenario). Dengan MCAS maka
pengembangan skenario lebih ditekankan hanya pada skenario dengan probabilitas
dan konsekuensi yang kredibel dan berdampak cukup besar untuk dihitung risk-nya.

Beberapa kejadian kecelakaan besar di komplek industri telah melahirkan ilmu
QRA yang diaplikasikan untuk suatu komplek industri yang menggunakan istilah
Domino Effect Analysis (DEA) dimana resiko dihitung tidak hanya single event
tetapi bisa sampai triple event bahkan lebih secara berurutan. Umumnya sampai
sekarang baru digunakan sampai dengan triple event.

Sehubungan dengan menghitung benefit program K3 di luar disain dan emergency
response, terus terang saya belum pernah tahu konsepnya sebagaimana disebutkan
oleh Mas Yudi/DNV. Saya membayangkan bahwa Program K3 yang melibatkan people
action sepenuhnya akan tidak mudah dikuantifikasi mengingat faktor manusia merupakan
variabel yang dinamis. Du Pont telah mencoba menerapkan kuantifikasi kerugian
(loss) dengan cara menghitung balik record kecelakaan yang telah terjadi, tetapi
pendekatan ini tidak memperlihatkan ilmu peluang (probabilitas) sehingga untuk
itu pendekatan prediksi saving of loss belum bisa diterapkan pada proposal program,
kalau perusahaan yang menerapkan tidak mempunyai catatan yang baik mengenai
insiden/kecelakaan maupun investigasinya.

Saya kira Mas Yudi/DNV dan rekan-rekan dari Du Pont dapat memberikan pencerahan
yang lebih mengenai hal-hal yang pernah disebutkan.

Tanggapan 6 : (Haris Widyananda Ranuamihardjo
– DNV)

Saya akan mulai menelaah ini dengan menggunakan logika ‘Loss Causation Model’nya
DNV. Dan secara teknis kita harus mulai dari blok paling kanan, yakni ‘LOSS’
serta ‘INCIDENT alias Near Miss’. Kita harus bisa menghitung berapa loss/kerugian
kita, yang secara awam bisa dilihat dari biaya2 yang timbul dari akibat kecelakaan,
baik manusia-peralatan-assets-dll2, keduanya bisa visible dan invisible expenses.

Tetapi di lain pihak kita juga juga harus menghitung hilangnya ‘business opportunities’
yang timbul akibat tertundanya proyek, misalnya, atau rusaknya peralatan yang
mungkin membuat kita tak bisa meet deadline dari customers. Ini juga ada harganya.
belum lagi, image perusahaan kalau kita punya output HSE jelek. Belum lagi biaya
asuransi – semakin sering cilaka – semakin tinggi biaya premi – Asuransi bukan
lembaga charity lho. Inilah problem terbesar kita, mengetahui berapa LOSS kita

Satu hal yang harus dilihat dari status ini, belum tentu suatu perusahan yang
besar kerugiannya – berarti sistem HSEnya buruk. Ini adalah sistem, sesuatu
yang tak bisa hanya dinilai dari output result, yakni kecelakaan saja. Kita
juga harus menilai ‘proses dan input’nya khan. Kalau Input dan proses amburadul,
pastilah output amburadul. Kalau Output masih bagus, disini dihitung dengan
angka kecelakaan/loss kecil, belum tentu input dan proses bagus. Mungkin masih
beruntung saja. Dan, peruntungan bisa habis.

Apakah kita tak bisa mengurangi LOSS ini? Bisa, syaratnya ya sistem emergency
yang bagus. Bisa improve next time? Bisa, perbaiki sistem investigasi kecelakaan
dan ‘near miss’ serta menganalisa trendnya. So, kita belajar untuk memperbaiki
input dan proses.
Kuncinya, ya kembali ke perbaikan input dan proses. Jadi di ‘Model’ kita di
atas kita bergerak ke kiri, ke arah blok2 Immediate Causes, Basic Causes dan
Lack of Control dimana terletak input dan proses HSE kita. Di blok2 ini kita
akan investasi – istilahnya keluarkan ‘cost’. Cost disini banyak sekali bisa
hardware bisa sofware, bisa keduanya. Misalnya training, study2 HSE, sertifikasi
segala macam, dll, dll. Ini adalah cost yang visible. Anda panggil konsultan,
undang kontraktor, beli alat, beli apa saja.

Visible Cost ini akan besar kalau HSE input dan proses, alias apa yang ada
di dalam blok2 Lack of Control, Basic causes dan Immediate Causes isinya amburadul.
Visible Cost investasi akan lebih kecil, bila problem kita hanyalah compliance
to sistem saja. Kita harus tahu dimana posisi kita. Untuk itu disarankan adanya
suatu audit sistem. Dengan audit sistem kita bisa tahu, dimana problem kita.
Di input, proses, hardware/software ataukah di pemenuhan.

Invisible cost adalah proses pemenuhan dan implementasi sistem, pemenuhan input
dan proses. Disini ada komitmen, ada efforts aktivitas HSE, dll.

Pada awalnya harga cost yang visible dan invisible pasti besar. Asumsi kita,
perusahaan ini masih belum ada HSE sistem. Selain bangun sistem, harus ada yang
melaksanakannya khan. Apakah LOSS bisa langsung turun, biasanya turun secara
gradual. Nah biasanya perbandingan antara ‘Cost versus LOSS’ inilah yang jadi
cost benefit anlysis result. Kalau sistem berjalan baik, Insya Allah, loss akan
turun selama cost dipelihara

Dengan berjalannya waktu dan maintenance yang baik, visible cost akan turun.
Biaya training, peralatan baru dll akan stop. Namun sebagian kecil biaya visible
cost akan tetap ada karena ada biaya maintenance tadi, berupa refreher training,
improvement sistem, teknologi baru, dll. Ada satu biaya lain yang tetap tinggi
dan setiap saat akan muncul, yakni invisible cost – biaya pelaksanaan aktivitas
HSE oleh para eksekutif dll, dll.

So, mudah khan mengukur cost-benefit analysis HSE. Beri harga pada semua kegiatan
Anda, loss, image, nyawa, dll,dll, sorry semua ada harganya – prinsip asuransi–
dan masukkan ke dalam PDCA cycle, LOSS CAUSATION MODELnya DNV, Sistem approach
(input, proses dan output), and there you go. Gotcha…… a Cost Benefit
Analysis.