Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia (Juni 2003) ini membahas tentang Turbin Blade Incident in South Africa. Apakah plant tersebut baru atau existing, sebegitu parahkan sehingga vibration monitor sama sekali tidak mendeteksi adanya defect di turbine blade. Apakah ini kesalahan system atau ‘human error’ karena kelalaian ??

Pertanyaan : (Sutrisno – PT Sofresid)

Adakah yang bisa memberi komentar, penjelasan dari gambar turbin blade incident
in South Africa (slide gambar dapat didownload di bawah artikel – Red)? Ada
pertanyaan dari saya : apakah plant ini baru atau existing, sebegitu parahkan
sehingga vibration monitor sama sekali tidak mendeteksi adanya defect di turbine
blade. Apakah ini kesalahan system atau ‘human error’ karena kelalaian ??

Tanggapan 1 : (Ilham B Santoso – PT. Sarana
Ahli Sejati)

Senada dengan P Trisno, saya juga memiliki pertanyaan yang sama. Jika kegagalan
terjadi saat start up, setahu saya start menuju putaran operasi dilakukan secara
bertahap dan jika terjadi getaran yang cukup besar akibat ketidak-normalan blade
maka biasanya akan langsung trip atau gagal start. Apakah sistem poteksi ini
tidak bekerja? atau kah di by pass operator untuk ‘memaksakan’ start?

Tanggapan 2 : (Gede Sudarkha – BP Indonesia)

Saya hanya sedikit sharing pendapat buat rekan2 di milis ini. Saya punya pengalaman
di helicopter di mana compressor bladesnya sering stuck. Ini sering terjadi
waktu kita melakukan free flight check dengan memutar manual compressor blades-nya
(ini sudah tentu mungkin beda dengan compressor turbine di power plan yang ukurannya
sangat besar dan mungkin tidak dapat dilakuakan waktu free start-up).

Kalau visual inspection ini tidak dapat dilakukan sebelum start up, pilotnya
selalu memonitor engine RPM disaat mereka mekalukan "shutting engine down"
dengan memonitor engine RPM. Kalau engine RPM di cockpit (control room) suddenly
stop ini menunjukkan sesuatu bermasalah pada engine tersebut. Biasanya ini adalah
gejala turbine bearing failure. Kalau petugas control room mengabaikan procedure
ini maka pada start berikut nya akan terjadi accident seperti itu. Penujukan
engine RPM indicator juga belum tentu disebabkan oleh engine tapi juga bisa
disebabkan oleh indicator itu sendiri penujukannya tidak sempurna.

Pengalaman kami di pesawat terbang dimana kalau ada laporan dari pilot bahwa
waktu engine switch switched to off the engine RPM suddenly stop. Kemudian setelah
engine agak dingin kita lakukan check dengan memutar compressor blade-nya. Kalau
betul2 bearing failure compressor blade-nya akan berat diputar.
Disamping itu kerusakan bearing di system mesin dapat dimonitor dengan men-timing
engine setiap shutting down. Ini kita sebut run down time. Kalau di pesawat
biasanya minimum 60 second. Kurang dari 60 second kita dianjurkan untuk melakukan
permeability check pada system pelumasan mesin.

Tanggapan 3 : (Edy Suseno – Edision Mission
Operation and Maintenance Indonesia)

Penjelasannya adalah seperti di bawah.

Below are pics of a Turbine / generator failure in south Africa, the information
is sketchy , documented is the info about the generator and circumstances.

It was a 600 MW generator/turbine set that failed. Apparently it had just been
run up and reached 3000 rpm. One LP turbine blade let go (2 m long) which then
proceeded through the casing (10 cm thick steel) and the roof before landing
in the HV switchyard. In the process, another 15 blades broke off. The turbine
went from a 3000 rpm to standstill very quickly – in the order of a couple seconds
– giving the vibration protection no chance to operate quickly enough to avoid
catastrophic damage. The drive shaft broke in two places. The main damage is
to the LP turbine and the generator although the fire was so hot that the roof
beams (20 m above the turbine) sagged.

Tanggapan 4 : (Benny Siantury – ConocoPhillips
Indonesia)

Plant ini termasuk baru, mengingat ratingnya 600 MW/unit – belum banyak yg menggunakan
satu unit steam turbin dgn kapasitas 600 – 630 MW. Kalau melihat "gosong"-nya,
sepertinya saya mengenal kejadian ini. Kejadiannya tidaklah sekonyong-konyong
terjadi begitu saja. Alarm dan trip pasti sudah terjadi dan seringkali, hanya
saja kejelian dan keakuratan penanganan teamnya yg kurang.

Trouble shooting masih bersifat sementara dan estimasi saja, belum ada metoda
yg pasti utk memonitor kemampuan turbin uap, sangat berbeda dgn turbin gas.
Kenapa? Karena karakter fluida gas driver dgn steam driver yg sangat berbeda
walaupun sudah diusahakan utk mendapatkan kualitas uap yg sedemikian bagusnya
mendekati karakter gas. Hidrazine yg dihasilkan steam inilah yg banyak mempengaruhi
performance turbin, di turbin gas – tidak ada hidrazine. Performance estimation
juga akan berbeda (mestinya), namun pada kenyataanya dianggap sama.

Sewaktu di salah satu PLTU terbesar di Jawa Timur dulu pun, kita pernah mengalami
hal ini. Hanya saja teamnya cepat tanggap dan peka, walau yg korban hanyalah
generatornya saja (utk satu unit). Sistem proteksinya lumayan bagus dan termonitor,
kejadiannya pun pada siang hari. Namun, hingga saat ini belum ditemukan preventive
maintenance yg paling akurat karena teamnya sudah "sibuk dgn urusannya
masing-masing" alias pindah… Tetapi masih tetap "keep in touch"
satu dgn yg lainnya.

Tanggapan 5 : (Sutrisno – PT Sofresid)

Pak Suseno, kayaknya informasi anda sama dengan yang ada di slide page-2. Saya
coba menanggapi informasi berdasarkan apa yang saya sedikit ketahui. Dari gambar
tampaknya ini adalah steam turbine yang kapasitanya (single) kurang dari 600-MW.
Tapi total plant capacity adalah 600-MW (mungkin).

Dalam process start-up, ada procedure kenaikan putaran (speed ramp ??) yang
harus diikuti untuk menghindari ‘critical speed’ dimana biasanya terjadi ‘excessive
vibration’ (natural vibration). Dan setahu saya, unit ini ada protection dari
‘vibration trip’ bila mencapai angka tertentu (5 mm/sec ?).

Yang saya agak heran adalah, informasi bahwa vibration sensor tidak mampu mendeteksi
lebih awal adanya high vibration (- in order of couple second). Jadi saya tidak
setuju dengan informasi Pak Benny bahwa ini terjadi tidak sekonyong-konyong.
Mungkin yang perlu penjelasan dari orang Instrument adalah berapakah ‘delay
time’ signal vibration bisa ‘activate’ trip system.

Semoga menjadi bahan diskusi yang bermanfaat.

Tanggapan 6 : (Benny Siantury – ConocoPhillips
Indonesia)

Pak Tris,
Saya hanyalah sharing akan apa yg pernah kami alami sewaktu masih terlibat di
PLTU Paiton dulu. Lebih baik Pak Edy yg cerita apa yg pernah dilakukan dulu,
bagaimana melewati first and second critical speed-nya, bagaimana karakteristik
speed ramp-nya (kurva), bagaimana pembacaan di woodward dan bently nevada-nya,
hasil bacaan DCS dan PLC-nya, dsb.

Utk steam turbin (unit besar), Pak Tris, sepertinya sudah ada aturan kalau
trip pada 10 mils dan alarm pada 5 mils. Clearance antara blade dan housing
berkisar 2 – 2,5 mm (maks). Lebih dari itu akan big losses. (1 Mils = 1/1000
inch per second). Utk 5 mm/sec, saya tak ada koment…

Demikian pengalaman saya, mohon maaf atas kurang lebihnya.

Tanggapan 7 : (Sutrisno – PT Sofresid)

Pak Benny, terima kasih atas koreksinya. Tadi saya agak ragu dengan satuan
vibration, makanya saya tambahin tanda Tanya. Dibawah adalah tulisan anda, yang
kalo saya tangkap, anda me-refered ke slide yang terkirim. Karena ada tulisan
‘gosong-nya’. Pendapat saya, ‘gosong’ ini tidak ada hubungannya dengan process
terjadinya fail yang dalam ‘in the orde of a couple sedonds’. Slide ini tidak
ada hubungan dengan performance karakteristik dari steam turbine atau gas turbine.
Mungkin ada sedikit hubungan dengan maintenance.

Kalo plant ini dikatakan ‘new facility’, rasanya procedure untuk start-up harus
melalui process yang panjang, dari mechanical check,instrument loop check, functional
test, calibration test dll, dll yang semuanya harus firmed acceptable. Dan tak
kalah pentingnya, bahwa unit ini pernah mengalami factory acceptance test yang
juga harus accetable. Semua certificate/evidence musti verified and approved
by all concerned parties : vendor, contractor & ownwer/client. Termasuk
semua document NDE maupun NDT. Jadi saya agak meragukan kalo plant ini ‘new
facility’.

Saya akan angkat kejadian ‘typical’ yang pernah saya lihat tahun 1997 di LNG
Badak Bontang. Kalo tidak salah saat itu ada compressor 4K-2 dari Train-C yang
rotor blade dari stage-4 koyak (hilang) selebar 2 telapak tangan. Dan potongannya
tidak jelas lari ke mana.Saya tidak tahu percise kejadiannya, tapi mungkin rekan-rekan
dari PT.Badak LNG bisa share pengalaman, indikasi apa, signal apa yang bisa
ditangkap control system dari kejadian itu. Apakah trip system berfungsi. Atau
mungkin bisa cerita lagi kasus 31PT/PG-13 yang ‘misterius’ vibrationnya.

Seandainya kasus ini ‘new equipment/facility’ yang masih dalam ‘warranty dan
guarantee’ period, bagaimana claim terhadap vendor?? Apakah vendor ‘totally
responsible mengganti dengan unit yang baru, atau ini responsible dari Purchaser
(kontraktor atau owner). Bagaimana sebenarnya memahani ‘warranty & guarantee’
pada sebuah kontrak.

Tanggapan 8 : (Wirajaya Hatominuddin – McDermott
Indonesia)

Pak Sutrisno,
Semua itu tergantung dengan kronologi kejadiannya dan agreement antara Buyer

dan Vendor. Sejauh bukan akibat kesalahan pihak pembeli tentunya Vendor harus
mengganti. Singkatnya seperti itu.

Dan biasanya Buyer akan melakukan pengecekan (QC) sebelum menandatangani transmittal
Note, dan jika terjadi kerusakan or kekurangan maka buyer akan mengeluarkan
OS&D report ke vendor. Pada saat ini buyer belum punya kewajiban untuk membayar
100% (lunas) atas barang tersebut sampai terpenuhi-nya semua hal yang telah
didepakati dalam kontrak (termasuk Quality & Spec.)

Tanggapan 9 : (Ilham B Santoso – PT. Sarana
Ahli Sejati)

Ingin ikut sharing pengalaman, pak Trisno.
Kalau tidak salah, PLN Suralaya pernah mengalami masalah sehingga terjadi cacat

pada salah satu blade pada satu tingkat turbin uap Unit I (400 MW). Dan kesalahan
tersebut bukanlah kesalahan dari vendor namun karena masih dalam garansi maka
pihak vendor, kalau tidak salah mitsubishi, (mohon koreksinya dari temen2 PLN
Suralaya) mengganti semua blade pada tingkat tersebut.

Dan pada saat setelah instalasi dan siap untuk start up pertama kali, pada
waktu itu pihak vendor tidak mau dilakukan start up turbin jika tidak ada pihak
ketiga yang memberi penilaian terhadap hasil penggantian blade. Dan kebetulan
pada saat itu
saya diminta untuk melakukan vibrtion monitoring selama proses start up, dan
mereka minta reportnya secara terus menerus apakah ada ciri unbalance, missalignment
dan lain-lain.

Jadi menurut saya kejadian kecelakaan turbin tersebut kecil kemungkinannya
sebagai instalasi baru, sedangkan jika memang instalasi baru saya rasa dapat
dilakukan klaim pada vendornya.