Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia (Juni 2003) ini membahas tentang kandungan coliform yang tinggi pada air. Bagaimana caranya menurunkan kandungan coliform yang tinggi tsb? Kalau memakai chemical, jenis apa yang baik selain chlorine?

Pertanyaan : (Sudarno Dayung – ConocoPhillips
Indonesia)

Saya punya problem dalam hal penangan air bersih. Lokasi kami kerja jauh dari
pemukiman (remote area) sudah barang tentu dari segi kebutuhan harus dihandle
sendiri oleh perusahaan seperti kebutuhan utilities dll. Salah satu kendala
kami sekarang adalah kandungan coliform yang tinggi, hasil ini didapat dari
pemeriksaan sample air yang dikirim ke Dep Kes secara berkala.

Dalam laporan hasil pemeriksaan dinyatakan kandungan coliform sampai 240/100
gr, sedangkan batasan yang diizinkan adalah < 2 MPN/100 ml Coliform. Dalam
operasional sehari-hari pada water treatment package sudah diinjeksi chlorine
dengan rekomendasi dari vendor dan caustic soda sebagai control pH. Sebagai
informasi tambahan air tsb. bukan untuk diminum,masak tetapi hanya untuk keperluan
mandi dan cuci, namun demikian kami semua tetap concern dengan kandungan coliform
yang tinngi tsb.

Pertanyaan saya:

  1. Bagaimana caranya menurunkan kandungan coliform yang tinggi tsb ?
  2. Kalau memakai chemical, jenis apa yang baik selain chlorine?


Tanggapan 1 :
(Ardian Nengkoda – UNOCAL)

Ada beberapa treatment u/ mengurangi/ mengontrol Bakteri ini. Penggunaan chemical
chlorine (Cl) adalah salah satu bentuk desinfaksi, yg lainnya ada yg dinamakan
sterilisasi (yg merupakan "obat" paling lengkap di dalam inaktifasi
mikroorganisme). Cl meng-inaktifasi bakteri Coli sangat bergantung pada konsentrasi
dan waktu. Hasil penelitian level of kill-nya membuktikan 99%. Metode tambahan
lainnya u/ mitigasi Cl adalah filtrasi, UV irradiation dan ozonasi. Drinking
Water treatment lengkapnya adalah sbb:

  • Filtration
  • Chlorination
  • Ultraviolet irradiation
  • Ozonation
  • Silver treatment
  • Iodination
  • Pasteurization

Metode di atas memiliki standar tersendiri sehingga pertumbuhan si bakteri
tetap dalam level yg rendah (<2 MPN/100 ml).

Pada dasarnya, disinfektan efektif digunakan pada mikro organisme "pathogen"
(tergantung juga quantitinya) pada rentang waktu tertentu (retention time).
Betul Pak!. Chemical ini juga harus bersifat aman dan mudah digunakan serta
yg paling penting tdk membuat pencemaran baru (toxic atau unpalatable). Karena
ada kalanya disinfektan " by product" seperti trihalomethanes (THM)
malah membahayakan manusia. Persyaratan lain: disinfektan haruslah murah (tdk
costly). Biasanya dossing dibuat otomatic. Setahu saya berdasarkan lapoprannya
WHO, disinfection by chlorine is still the best guarantee of microbiologically
safe water!. Yg lain bisa saja seperti Bromine atau senyawa Halogen lainnya.
Laporan keracunan drinking water pernah terjadi di Peru tahun 1991.

Tanggapan 2 : (Rio Prianko)

Bakteri coliform ini merupakan flora normal yang ada di dalam tubuh manusia.

Dari kasus Pak Sudarno, yang perlu diperhatikan mungkin, apakah tempat pengambilan
atau sumber pengambilan airnya dekat atau menjadi muara dari beberapa aliran
air, yang kemungkinan terdapat MCK dari penduduk setempat? Walaupun lokasi Pak
Sudarno yang berada di remote area, masih ada kemungkinan aliran air tercemar
oleh buangan dari MCK.

Kemudian, ada kemungkinan bakteri coliform ini sudah mulai resistan terhadap
dosis chlorine yang Pak Sudarno berikan, karena bakteri merupakan organisme
yang mudah sekali beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk dengan Cl yang
bapak berikan. Mungkin dosis yang diberikan tetap selama beberapa waktu ini,
sehingga perlu adanya shock dosing (tapi saya rasa, shock dosing seharusnya
sudah terlaksana, iya kan pak?).

Saran saya, perlu dilakukan tes di laboratorium mengenai seberapa besar daya
inaktifasi Cl yang paling baik, sehingga bisa diketahui dosis CL yang harus

diberikan. Karena ini tergantung tujuan pemberiannya, apakah harus
"membunuh" atau hanya inaktifasi.

Tanggapan 3 : (Yudatomo)

Sampai saat ini chlorine atau umumnya sodium hyphochlorite masih merupakan
disinfectant yang paling sesuai untuk kebanyakan aplikasi. Tentu saja juga harus
memperhatikan pH dari air yang di-treatment. Semakin tinggi pH, HOCl yang terdisosiasi
ke OCl- akan semakin banyak, sehingga semakin kurang efektif chlorine. Umumnya
patokan utk treatment dg hypochlorite adl pH max. 8.5. Untuk pH lebih tinggi,
alternative treatment lain spt yg sdh disebutkan perlu dicoba.

Tanggapan 4 : (Ilham – Energy Equity Epic PTY
LTD)

Untuk menurunkan kandungan bakteri coliform grup, dapat dilakukan dengan menggunakan
beberapa metode/cara seperti yang disampaikan Pak Ardian Nengkoda (Unocal).

Oleh karena metode disinfeksi (by chlorine) sudah dilaksanakan, metode/cara
ini sampai saat ini masih sangat baik digunakan. Menjadi keheranan, kenapa hasil
pemeriksaan sample air yang sudah melalui proses disinfeksi ini, kandungan coliform-nya
masih tinggi? 240/100 ml.

Beberapa factor yang dapat mempengaruhi proses penggunaan disinfeksi (by chlorine)
dalam water treatment antara lain:

  1. Contact time
  2. Temperature
  3. pH
  4. Konsentrasi organisme
  5. Konsentrasi dan bentuk/tipe residu chlorine
  6. Cukupnya pencampuran awal antara chlorine dan organisme
  7. Bentuk/tipe konsentrasi komponen air limbah
  8. Ukuran alami material partikulat yang ada

Dalam metode disinfeksi chlorine, perlu dipahami efisiensi disinfektan (by
chlorine) dimana biasanya dinyatakan sebagai ratio (perbandingan) antara jumlah
mikroorganisme terbunuh terhadap jumlah organisme yang ada. Hal ini dapat dipelajari
dengan hukum chick (Chick’s Law):

N/No = e-kt …………. (1)

Dimana N adalah jumlah satu tipe mikroorganisme yang dapat hidup pada waktu
tertentu t, sedangkan k adalah konstanta waktu.

Untuk suatu konstanta persentase pematian (kill), hokum / persamaan (1) di
atas dapat menjadi:

Ktp = Konstan ……….(2)

Dimana tp adalah waktu kontak yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tingkat
persentase pematian tertentu, sedangkan tingkat konsentrasi dapat dijelaskan
dengan persamaan :

Cntp = Konstan ……..(3)

Dimana C adalah konsentrasi disinfektan (Chlorine, dll), n adalah konstanta
derivate experiment untuk satu system disinfektan dan organisme.
Kaitan antara tingkat konsentrasi dan waktu, khususnya konsentrasi chlorine
sebagai HOCl yang diperlukan untuk pematian 99% E.coli pada suhu 0-6oC adalah
0,24 menit. Jadi dengan titrasi chlorine sebagai HOCl sebanyak 1 mg/l, dalam
waktu 0,24 menit baru mulai mencapai tingkat pematian yang efisien.

Jadi, masalah kontak time dan konsentrasi zat chlorine sangat mempengaruhi
efisiensi pematian mikroorganise (coliforms grup) dalam pengelolaan air, selain
factor-faktor yang disebutkan sebelumnya.