Konon, ditahun 1980, dept. Purchasing di Polaroid menciptakan metoda yg disebut Zero Base Pricing (ZBP) sebagai alat untuk memerangi inflasi dan kenaikan harga-2 selama masa inflasi. Bila ingin berhasil, para buyer harus bekerja sama dengan internal End Users dan supplier untuk mengurangi ‘all-in-cost’ dari barang dan jasa yang dibeli dengan cara me-review semua komponen2 biaya yang terjadi.

Konon, ditahun 1980, dept. Purchasing di Polaroid menciptakan metoda yg disebut
Zero Base Pricing (ZBP) sebagai alat untuk memerangi inflasi dan kenaikan harga-2
selama masa inflasi. Bila ingin berhasil, para buyer harus bekerja sama dengan
internal End Users dan supplier untuk mengurangi "all-in-cost" dari
barang dan jasa yang dibeli dengan cara me-review semua komponen2 biaya yang
terjadi.

Untuk itu, para buyers diharapkan mengerti betul 5 komponen biaya, yaitu: material,
labor, factory overhead, general & admin dan Supplier Profit.

Dengan mengerti ke 5 komponen tsb dan kerja sama yang TRANSARAN (antar Buyer
dan Supplier), Buyer dapat menolak adanya kenaikan biaya material, biaya tenaga
kerja, yang diajukan supplier bila tanpa ada dokumen pendukung. Biaya overhead
pabrik juga harus dianalisa apakah memang benar ada biaya pengembangan pabrik,
bagaimana break even pointnya. Demikian juga untuk kenaikan biaya gen&admin
yang biasanya dipengaruhi oleh jenis produknya. Bila produknya sudah "mature",
biasanya biaya2 nya tidak begitu berfluktuasi. Yang paling menarik adalah Supplier
Profit. Supplier Profit juga secara transparan didiskusikan dengan pihak Buyer.
Profit dapat di"challenge" oleh Buyer bila performance supplier kurang
bagus. Pengukuran performance mempertimbangkan faktor resiko, kualitas produk,
biaya2 yang disebut diatas, ketepatan pengiriman dan after sale service yang
diberikan.

Berdasarkan pengalaman dari yang sudah menjalankan, agar lebih sukses dalam
pelaksanaan ZBP, beberapa teknik/ metoda sbb harus dimengerti dan dilaksanakan
oleh para buyer:

  • Memaksimumkan Value di internal perusahaan: buyer harus terlibat langsung
    pada proses identifikasi produk yg akan dibeli (yg biasanya hanya dilakukan
    oleh Users saja). Buyer harus meyakinkan users untuk mau mencoba produk "alternative".
    Buyer harus dapat membuktikan bahwa value dan brand preference tidak ada korelasinya
  • Value engineering dan Value analysis
  • Keterlibatan Buyer pada perhitungan Capital Expenditure
  • Mengerti teori harga
  • Melakukan analisa harga dan analisa biaya
  • Melaksanakan tender untuk mendapatkan harga yang kompetitif
  • Membuat "model" dari perhitungan biaya
  • Analisa CVP, mengetahui apakah besar kecilnya volume pembelian sangat
    mempengaruhi total biaya dan biaya per unit
  • Melakukan analisa biaya langsung dan tak langsung
  • Melakukan analisa Profit
  • Fleksibilitas kontrak perlu dipertimbangkan
  • Klausal yang mengatur penyesuaian harga juga perlu dipertimbangkan
  • Negosiasi
  • Melakukan research, siapa pemain baru di produk tsb
  • Me-review procurement system, apakah ada aliran proses yang kurang efisien
  • Mendokumentasikan "Cost Reduction" dan "Quality Improvement",
    agar Purcahsing Dept. bisa mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari Manajemen
    yang lebih tinggi.

Polaroid sudah melakukan pendekatan ini di tahun 1980, bagaimana dengan perusahaan
di Indonesia? Silahkan membagi cerita sukses bagi yang telah berhasil melakukan
program "Cost Reduction" di Purchasing Departmen nya.

Tanggapan 1 : (Rudy Alfiyansyah)

Dear mam,
dimana bisa mendapatkan referensi/buku dari metode Zero-Based Pricing tersebut?
Untuk pengendalian overhead cost, selama ini saya menggunakan Activity-Based
Costing. Apakah penerapan 2 metode ini tidak menimbulkan kerancuan? Apakah sudah
ada analisa peningkatan overhead bagi penambahan aktifitas karena penerapan
metode Zero-Based Pricing?

Tanggapan 2 : (Anita Kentjanawati – BP Indonesia)

Referensi: Zero Base Pricing by David Burt, Warren Norquist, Jimmy Anklesaria.
Bisa dibeli di Amazon.com.

Antara Activity-Based Costing dan Zero-Base Pricing merupakan 2 hal yang berbeda.

Kalau tidak salah, Activity-Based Costing adalah sistem pembiayaan yang diperkenalkan
oleh Johnson dan Kaplan di tahun 1987, dimana semua cost yang terjadi pada setiap
aktivitas/ kegiatan dalam memproduksi suatu produk di absorp untuk menentukan
harga suatu produk yang harus dibayar oleh pembeli (customer). Menurut pendapat
saya, ABC diimplementasikan oleh produsen untuk menentukan harga.

Sedangkan ZBP diimplementasikan oleh konsumen dalam membeli barang (pembeli
ingin mengetahui biaya apa saja yang di-jadikan komponen harga suatu produk,
sehingga jika memungkinkan akan terjadi "kontrak kerja sama – Aliansi"
antara penjual dan pembeli.

Sehingga untuk perusahaan pak Rudy, pengimplementasian ABC untuk pengendalian
overhead cost (yg mungkin dilakukan oleh dept. Produksi). Sementara itu, Dept.
Pembelian dapat menerapkan ZBP unutk membeli raw material, mesin-2 dll.