Suatu malam di tempat operasi kami, seorang senior operator kami datang melapor ke saya dan berkomentar tentang shutdown yang baru saja terjadi di associated gas compressor (AGC) kami. Dikatakan sumur non-associated gas tadi trip karena sumur gas kami yang sedang di test ‘jatuh’ karena PSLL (pressure switch hi-hi) nya kena settingnya.

Suatu malam di tempat operasi kami, seorang senior operator kami datang melapor
ke saya dan berkomentar tentang shutdown yang baru saja terjadi di associated

gas compressor (AGC) kami. Dikatakan sumur non-associated gas tadi trip karena
sumur gas kami yang sedang di test "jatuh" karena PSLL (pressure switch
hi-hi) nya kena settingnya.

Wait the minute, bukankah tidak ada hubungannya kata rekan saya sambil terus
mengebulkan asap rokoknya. Si operator tadi menjelaskan, bahwa itu adalah domino
effect karena PSLL.

Make sense, sebab karena sumur-sumur gas dan minyak kami letaknya berdekatan.
Jadi jika satu PSLL aktif di sana, maka diterjemahkan ada kebocoran di sana
dan the safest way adalah shutdown semua sumur yang mengalir.

Tetapi, kata teman saya yang sedang ngerokok tadi, kenapa export compressor
tidak mati, bukankah selain punya feed dari non-associated gas, dia juga kemasukan
gas dari associated gas compressor?

Well, karena control system-nya mungkin lebih stabil, karena sistemnya lebih
sederhana jawab saya. Sebab, associated gas compressor kami bermodel tandem
3 seri yang masing masing punya anti-surge system sendiri dan punya recycle
station yang mendaur-ulang gas keluaran IP (=intermediate compressor) kembali
ke LLP (low-low pressure) compressor. Jadi, dari sistemnya saja, dia relatif
tidak stabil jika dibandingkan dengan export compressor, apalagi juga didukung
oleh kapasitasnya
yang kecil…

Lalu teman saya yang masih saja ngerokok ini iseng bertanya, emangnya kalau
kecil, jadi tidak stabil?

Tergantung, jawab saya. Tapi pada kebanyakan kasus di plant, mungkin ada benarnya.khususnya
jika anda punya kompresor sebesar punya kita tapi dipaksa mengalirkan gas yang
kecil karena tuntutan pembeli..

Teman saya tadi mulai mematikan rokoknya, mungkin dia tertarik dan berkata
lagi.bukankah export compressor kita juga sekarang dalam kapasitas yang sangat
kecil sekali dibandingkan dengan desainnya?

Betul kalau dari sisi itu, tetapi, sebenarnya dia tetap meng-kompres gas lebih
dari yang dibutuhkan buyer guna menjaga kestabilannya, via recycle station,
persis seperti yang terjadi di AG compressor.

Lalu kenapa dia (export compressor) tidak jatuh juga seperti AG compressor?

Wah, banyak nanya juga teman saya ini, typical orang maintenance urusan instrumentasi.he..he.
Oke. Lalu, apa bedanya.saya mencoba men-challange-nya? Tingak-tinguk dia pusing
sambil mengambil sebatang rokok lagi dari sakunya.

Jawabannya, karena jika compressor kita besar kapasitasnya, maka pastilah semua
yang ada di sana ikut membesar, contohnya ukuran suction srubbernya, ukuran
pipanya.tentu saja pastinya ada factor pengurang dari sini karena dia high-pressure.
Jika dua compressor berkapasitas sama, tapi yang satunya beroperasi pada tekanan
yang lebih rendah, pastilah suction scrubbernya lebih besar dari yang hi-pressure
tadi..

Nah, di plant kita ini, perbandingan kapasitas export compressor dengan AG
compressor significant, dan ini juga membuat suction scrubbernya, pipanya dst.lebih
besar dari miliknya AG compressor. Dan seperti kapasitor, dia berperan sebagai
peredam kejutan yang ampuh..spike ataupun turunya pressure secara tiba-tiba
di suction tidaklah begitu terasa oleh control systemnya export compressor.Dan
buktinya, dia masih melenggang dengan santai meskipun di upstreamnya, AG
compressor ngos-ngosan buka station recyclenya , bahkan anti-surgenya..guna
mempertahankan kestabilan proses dan tentu saja proteksi kompresor itu sendiri.

Senior operator saya berkata kembali. Pak, AG compressor tadi jauh karena cooldown,
tetapi menurut saya itu adalah sequence effect dari tidak adanya atau kurangnya
gas yang masuk ke dia, dan juga mungkin faktor kesetabilan system yang bapak
tadi bilang.

Oke, kalau begitu (kata saya ke operator), tolong buatkan Permit to work (PTW)
yang memuat safety system override guna meng-cover override yang kamu lakukan
terhadap PSLL itu. He just said: Oke Boss!

Temen saya tadi kemudian nanya lebih lanjut, lalu ‘Yo, kamu mau lakuin apa
lagi? Tentunya ada tindakan yang harus dilakukan dari cuma sekedar membuat PTW
? Well, saya mungkin akan meminta process engineer mengevaluasi hal ini. Ini
adalah common problem selama saya bekerja kurang lebih tujuh tahun di oil company,
yaitu bahwa ketika menghitung setting PSLL (itupun kalau dihitung he.he..),
biasanya mereka (process engineer) hanya menggunakan data normal desain. Kalau
di kasus very low rate seperti ini, mungkin tidak terpikirkan..Dan lagipula,
ini terjadi di choke sumur. Biasanya, hydraulic analysis yang dilakukan oleh
process engineer itu terkadang tidak menyeluruh dalam menebak berapa seharusnya
nilai PSLL yang benar. Kenapa lagi? Karena kurva karakteristik sumur tidaklah
dimasukkan ke dalam program kebanggaannya (hysyssysys).

Dan jadilah kita yang menanggung akibatnya. Teman saya nanya lagi: Benarkah
itu ‘Yo ???

Saya tidak berminat menjawabnya lagi, sebab musik dangdut, musik kesukaan saya
sudah dimulai di Trans TV judulnya digoda.digoyang dangdut..he..he..