Adakah yang bisa memberikan masukan cara untuk mempercepat breaking dari
emulsi yang terjadi pada campuran crude oil-water, selain dengan menggunakan
emulsion breaker maupun heating?

Pertanyaan : (Satya D. Pinem – Petrochina)

Adakah yang bisa memberikan masukan cara untuk mempercepat breaking dari emulsi
yang terjadi pada campuran crude oil-water, selain dengan menggunakan emulsion
breaker maupun heating?

Masalah yg terjadi adalah, produksi di lapangan meningkat, tetapi kapasitas

separator tetap, sehingga settling time -nya semakin kecil. Akibatnya, perubahan
setting level di separator sedikit saja, akan menyebabkan water terikut ke line
oil dan sebaliknya.

Tanggapan 1 : (Cahyo Hardo – Premier Oil)

Apakah ada kemungkinan memanfaatkan pertukaran panas dari fluida proses lainnya?

Tanggapan 2 : (Darmawan Ahmad Mukharror – VICO
Indonesia)

Bagaimana dengan pemasangan water washing pada separatornya? Itupun jika memungkinkan
lho….

Tanggapan 3 : (Satya D. Pinem – Petrochina)

Thanx buat tanggapannya,
Kalo untuk memanfaatkan perpindahan panas dari fluida lainnya sepertinya enggak
mungkin untuk diaplikasikan skrg ini.

Untuk water washing, bisakah dijelaskan lebih detail mengenai hal ini? Masalah
yg terjadi adalah ditemukannya emulsi dalam jumlah yg besar (shg recycle time
menjadi besar shg mempengaruhi waktu transfer) di production tank.

Kemungkinan emulsi terbentuk kembali di production tank, walaupun sampel dari
well menunjukkan emulsi sudah dapat di- break.

Apakah ada kemungkinan walaupun dari well sudah nge-break, tetapi karena adanya
perubahan temperatur dan tekanan di separator dan tangki menyebabkan emulsi
(yg mungkin belum stabil terpisahnya) tadi terbentuk kembali? Adakah cara untuk
menstabilkan pemecahan emulsi tsb?

Tanggapan 4 : (Holland Simanjuntak)

Adakalanya kita terpaku pada jumalh produksi liquid saja, tanpa melihat objective
sesungguhnya yaitu memproduksi oil.

Pengalaman dilapangan menunjukkan menutup (atau mengurangi produksi) sumur-sumur
yang high water cut/emulsion (BSW > 95%), justru akan menaikkan produksi
oil. Karena disamping akan meringankan beban pipa dan facilitas produksi yang
lain (lowering back pressure to the well), juga akan menstabilkan process dan
menurunkan losses. Sementara usaha-usaha untuk menghentikan/mengurangi produksi
air bisa dilakukan dengan down-hole work seperti water shut-off.

Mungkin berhasil!

Tanggapan 5 : (Teguh Indra Laksana – PT Ondeo
Nalco Indonesia)

Satya,
Saya kira untuk kasus anda, dengan penggunaan emulsion breaker chemical akan
lebih cost effective dibandingkan dengan modifikasi proses atau penambahan mechanical
equipment (yang berarti nambah CAPEX ya?) Saya pernah menangani waste di Steel
Sompany, dimana waste yang akan di treatment oil in waternya cukup tinggi. Untuk
memodifikasi proses butuh waktu dan effort. Sambil mengerjakan proyek ke arah
sana, tentunya waste harus terus ditreatment kan? Saya pakai emulsion breaker
dengan base ingredient terpolymer acrylamide hasilnya oke tuh..

Tanggapan 6 : (Ardian Nengkoda – Unocal)

Sumbang saran:
Biasanya memang di upstream (i.e. gross Separator) sdh diinjeck "chemical
demulsifier", tapi dgn operasi tertentu di "downstream" jadi
emulsi lagi. Memang kelemahannya itu injeksi demulsifier rate-nya tdk dinamik
mengikuti trendnya BS&W si Oil-Water. Seingat saya ada demulsifier yg basenya
"polymer" yg mampu menjaga kestabilan oil-water sampai downstream.
Agak repot memang kalo ngutak-ngatik facilities dan lebih baik trial atau optimisasi
dgn demulsifier.

Kalo reverse demulsifier, di kami, diinjek di inletnya wemco, agar air buangan
tetap berkadar dibawah regulasi. Kalo yg sdh terlanjur masuk storage tank, yaa
kita drain level bawahnya…agar air yg sdh terlanjur masuk bias hilang.

Mungkin rekan-rekan dari Nalco, Baker, Tros, EON bisa cerita…

Tanggapan 7 : (Elwin Rachmat – Totalfinaelf
E&P Indonesie)

Water shut-off yang saya pernah tahu tidak seefektif yang dimitoskan / dipromosikan.
Water shut-off di sumur bisa (dan memang pernah) menghentikan keseluruhan produksi
sumur yang bersangkutan. Kalau ada cerita sukses dari water shut-off saya kira
banyak anggota yang tertarik untuk mengetahuinya.

Bila reservoir yang diproduksikan ternyata terdiri dari beberapa lapisan, lebih
baik bila dapat dilakukan uji sumur terpisah untuk setiap lapisan dan kemudian
lapisan yang memproduksi air dapat diisolasi secara mekanikal atau dengan metoda
squeeze cementing. Cara ini akan lebih efektif (success ratio bisa mencapai
70%) dari pada water shut-off yang memiliki success ratio cukup rendah dan biaya
yang cukup mahal.

Jadi mungkin kita harus kembali pada bottle test dan dilanjutkan dengan field
test di sumur dan di separator untuk memilih demulsifier yang paling sesuai
dengan kondisi lapangan yang bersangkutan. Biaya untuk bottle test dan field
test memang cukup tinggi, tapi rasanya itulah cara yang paling efektif yang
saya tahu. Atau mungkin juga dibutuhkan pemasangan heater treater untuk memisahkan
emulsi pada temperatur yang lebih tinggi. Saya kira teman saya pak Deden lebih
pandai untuk menjelaskannya.