Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia (Juli 2003) ini membahas tentang PSV. Kenapa di discharge PSV spesifikasi rating-nya jauh lebih rendah dari inletnya? Bukankah lebih aman kalau disamakan saja?

Pertanyaan : (Akhmad Sabardi – Petrochina)

Saya mau tanya saja,
Kenapa di discharge PSV spesifikasi rating-nya jauh lebih rendah dari inletnya?
bukankah lebih aman kalau disamakan saja? Soalnya saya beberapa kali menemukan
isolation valve setelah discharge PSV tertutup. Hal ini kan berbahaya sekali
seandainya di inlet PSV yang sedang off duty isolation valve-nya mengalami kebocoran.
Saya tidak yakin dengan keandalan PSV yang sedang offduty, apabila dalam tempo
yang cukup lama tidak mengalami kebocoran. Namanya alat kan bisa saja gagal.
Sedangkan pada BDV, rating antara inlet dan outlet sama, padahal BDV jarang
sekali yang bekerja berdasarkan over pressure.

Tanggapan 1 : (Cahyo Hardo – Premier Oil)

ASME memang memperbolehkan antara inlet dan outlet PSV dipasangi valve asalkan
di back up oleh lag out/tag out prosedur yang ketat. Semuanya demi safety dan
juga kompromi dari operability.

Tetapi, sejauh yang saya amati, justru karena posedural itu, sifatnya jadi
lemah sekali (procedural yng berarti masuk kriteria administratif control menurut
saya adalah rating terendah dari konsep plant safety), dan dalam rangka mendukung
konsep inherently safer, apakah tidak mungkin setelah keluaran PSV rating-nya
tetap sama sampai ke block valve-nya.

Ongkos yang akan timbul saya kira tidak setara dengan konsekuensi safety-nya.

Tanggapan 2 : (Darmawan Ahmad Mukharor – VICO
Indonesia)

Pak Ahmad,
Lebih rendah karena downstream PSV terhubung dengan sistem Flare/KODrum/Burn
Pit Atau mungkin VRU…. jadi jelas aja lebih rendah kelasnya karena umumnya
sistem sistem tersebut diatas tekanannya mendekati atmosferik API 520/521 tidak
menegaskan perlunya isolation valve, jadi perkara isolation valve ini adalah
kepentingan maintenance atau untuk keperluan saat commissioning

PSV tidak didesain sebagai primarily safety system, dia hanya system sekunder/tersier,
jadi pada dasarnya hanya bekerja djika terjadi kasus "double jeopardY"
so, jika ketika dia dia diharapkan berfungsi (sistem safety primer "fail’)
dan pada saat itu dia terblocked downstreamnya, wah wassalam juga … dan mungkin
seperti terlalu sering dibahas,Bapak perlu sistem safety HIPPS.

BDV memanglah bukan sistem utama untuk mengatasi overpressure, BDV adalah sistem
pengamanan untuk sistem proses yang sedang off duty atau sudah shut down. Tidak
semua upstream dan downstream BDV berrating sama tergantung "tekanan settle"
sistem yang dimaksud, jadi mungkin kebetulan saja pada sistem yang bapak kelola
memang rendah (kelas 150#).Tanggapan 3 : (Cahyo Hardo – Premier Oil)

Sebenarnya yang ditanyakan Mas Sabardi adalah kenapa harus terjadi specs break
setelah PSV. Karena kompromi maintenance dan production, maka di downstreamnya
PSV tsb juga dipasang valve yang berating sama dengan plant disposal system.
Ini sebenarnya memicu hazard lagi jika lupa aturan lock open dan lock close.
Dan ini adalah real hazard yang bisa terjadi di plant, terutama ketika off-duty
PSV habis disertifikasi lalu dipasang kembali, dan lupa …inlet dan juga outlet-nya
ditutup…..bahayanya adalah overpressure.

Saya baru tahu looh di upstream dan downstream manual valve BDV ratingnya bisa
berubah. Saya mencium bahaya di sini, terutama ketika harus memaintenance BDV
ini…..Setahu saya sih upstream dan downstream manual valve BDV itu berating
sama dengan BDV-nya sendiri karena alasan safety.

Terus terang saya juga baru tahu jika BDV itu adalah pengaman sistem yang sudah
off duty atau sudah shutdown. Do I miss something here… Mohon pencerahannya.

Tanggapan 4 : (Akhmad Sabrdi – Petrochina)

Tetapi menurut saya isolation valve ini fungsi utamanya untuk kepentingan safety?
Apakah kalau kita mau mensertifikasi PSV, harus mem-blowdown sistem? Kalau peroduksi
gas hanya 50 MMSCFD, mungkin tidak apa-apa, tapi kalau 500 MMSCFD? Kenapa penurunan
rating tidak dilakukan setelah isolation valve? Saya berkeyakinan bahwa kita
harus mendesign sebuah sistem yang mampu menghindari dan mengatasi kealahan
manusia.

API 520/521 memang tidak menegaskan perlunya isolation valve, tapi itu adalah
persyaratan minimal. Kekeliruan menutup isolation valve di discharge PSV yang
off duty, nampaknya hal yang sepele. Tapi kita harus berpikir "the unthinkable".
Dan banyak operator, mungkin di seluruh dunia, yang tidak akan dan tidak pernah
melakukan "think the unthinkable". Sifat dari operator adalah melakukan
suatu tugas berdasarkan pengalaman dia sendiri, maupun koleganya.

Mengenai BDV. Saya belum pernah melihat rating pada downstream BDV ada yang
lebih rendah dari upstreamnya. Urutan dari BDV hingga ke flare sistem yang saya
ketahui, adalah BDV lalu isolation valve (ada yang 2 valve ada yang 1) kemudian
dilanjutkan dengan Restriction orifice. Kalau rating downstream BDV lebih rendah,
bagaimana kita akan melakukan pengujian buka tutup terhadap BDV? Apa kita harus
kembali memblowdown system dahulu baru melakukan pengujian? Betapa tidak ekonomisnya
sistem seperti itu.

Tanggapan 5 : (Nanan Yanie – BP Indonesia)

Isolation valve di inlet-outlet PSV memang ‘keliatannya’ digunakan untuk keperluan
inspection, sertifikasi, dan maintenance. Tetapi semua itu sesungguhnya merupakan
bagian untuk kepentingan safety itu sendiri. Karena sehandal apapun safety protection
kita, jika tidak pernah ditest ya…bisa2 reliability-nya 0. Apalagi untuk passive
device, seperti PSV, SDV, karena normalnya dia tidak bekerja (dan memang diharapkan
tidak bekerja sepanjang plant beroperasi normal). Jika dia bekerja ketika plant
beroperasi, berarti ada kondisi yang tidak diinginkan telah terjadi (high pressure
misalnya dalam kasus PSV ini) dan terpaksalah si PSV membuka untuk mencegah
pecahnya equipment gara2 overpressure.

Untuk alat2 yang ‘pendiam’ seperti ini, ya satu2-nya cara untuk meyakinkan
bahwa dia dapat bekerja ketika dibutuhkan ya dengan inspection atau testing.
Jika tidak, kita tidak pernah tahu bahwa dia ‘rusak’ sehingga tidak bisa bekerja
ketika kita butuhkan. Misalnya SDV yang normalnya selalu terbuka, kita tidak
pernah tahu jika kita tidak pernah mengetesnya, bahwa ternyata dia stuck opened
sehingga tidak bekerja ketika kita butuhkan dia untuk menutup.
Yang ditanyakan Pak Sabardi menurut saya pertanyaan yang menarik dan menggelitik.
Memang sih jika block valve di downstreanm PSV tsb selalu terbuka, yang memang
seharusnya begitu (dia juga harusnya dilengkapi dengan kunci dan tag serta prosedur
lock tag out untuk membantu mengurangi human error, dia aman2 saja. Tetapi pertanyaan
bagaimana jika dia tertutup, bisa menyebabkan overpressure. Mungkin (mungkin
looh..) kemungkinan dia tertutup ini lebih kecil untuk doswnstream valve di
PSV yang sedang bekerja disbanding PSV yang ‘off duty’.

Tetapi untuk PSV spare/stand-by, yang dilakukan dengan menutup inlet valvenya,
kadang2 outlet valvenya ikut tertutup juga. Bagaimana jika inlet valve tsb leak
dan si PSV spare itu juga leak, pressure-nya akan masuk ke si valve rating rendah
di downstreamnya. Dan pada saat ini presure proses masih dalam kondisi normal
(tidak dalam kondisi high pressure yang dapat menggerakkan si PSV on-duty kita),
wah..bisa2 terkena terus dong dia.

Ataukah diasumsikan bahwa si downstream valve ini pun leak, sehingga pressure
bisa release ke flare header. Tapi kan leak rate dari ketiganya belum tentu
sama. Apakah ada kemungkinan overpressure di sini, apalagi jika operating pressure
sistem tsb lebih besar dari MAWP si downstream valve ini.

PSV hanya bekerja ketika double jeopardy? Rasanya kok ngga juga ya. Kalau PSHH
kita gagal aktif menutup SDV inlet, bisa karena pressure switchnya yang error,
atau SDV-nya yang stuck (..karena ngga pernah di-inspeksi) misalnya, terpaksa
membukalah PSV pada setting pressurenya untuk melindungi kita dari overpressure.
Menurut saya, kasus ini bukanlah double jeopardy.

Balik ke pertanyaan menarik tadi, kenapa ya tidak kita samakan saja rating-nya
untuk si downstream valve PSV ini? memang sih tetap tidak bisa menghilangkan
prosedur penguncian dan lock/tag out dalam hal overpressure protection untuk
sistem. Tetapi bisa mengurangi kemungkinan overpressure pada downstream valve
dari PSV spare, jika kenyataannya cukup banyak ditemukan dowstream block valve
tsb ikut2an ditutup ketika si PSV-nya lagi off-duty (untuk kasus ini, mungkin
ada kecenderungan tidak terlalu care, karena overpressure protection sistem
toh sudah
tercover sama si PSV on-duty, sehingga bisa jadi perhatian untuk cek2 untuk
si downstream valve PSV ini kurang dibanding ketika PSV tsb sedang on-duty).

Tanggapan 6 : (Darmawan Ahmad Mukharor – VICO
Indonesia)

Pak Ahmad Sabardi,
Justru untuk menghilangkan kesalahan karena tidak "think unthinkingable"
inilah sebiknya isolation valve dihilangkan atau jika masih diperlukan yah prosedur
tag out lock outnya yang harus ditaati seperti kata Nanan/Cahyo Seharusnya pula
jika berpikir tentang integrity system keseluruhan plant, dengan Process Safety
Management ataupun Risk Base Management, maka bisa
dikelola misalnya waktu sertifikasi berbarengan dengan saat shutdown plant misalnya,
Terus terang saya belum pernah mendengar Plant yang tidak shutdown dalam waktu
setahun pada saat itulah (sebaiknya) sertifikasi migas dilakukan

Sekali lagi, sistem pengujian buka tutup BDV juga selayaknya menjadi bagian
integral RBM dan PSM jadi tidak maintenance melakukan uji sendiri sementara
PSM tidak mengetahuinya Betul, downstream BDV masih berkelas sama yang berkelas
beda adalah downstream block valve pada downstream BDV.

Tanggapan 7 : (Akhmad Sabardi – Petrochina)

Itulah makanya saya ragu dengan prosedur tag out lock out, karena kita harus
mengandalkan prosedur manusia yang bisa aja kan kelupaan, namanya juga manusia.
Tapi kalau kejadian yang paling ekstrim terjadi, bagaimana? kemungkinannya memang
kecil sih, tapi kan sangat mengerikan kalau memang terjadi.

Kalau hendak mensertifikasi kita harus melakukan shutdown, mungkin aja sih
terjadi di VICO yang produksinya 1000 MMSCFD lebih pada sebuah vessel yang apasitasnya
50 MMSCFD. Tapi kalau perusahaan yang produksi maksimumnya cuman 50 s/d 100
MMSCFD, kan rugi banget untuk melakukan sertifikasi harus kehilangan uang yang
cukup besar untuk ukuran mereka.

Mungkin memang pertimbangan ekonomi yang lebih kuat, makanya rating downstream
PSV lebih rendah (mungkin dari vendor PSV lebih tahu). Tapi jadinya malah ada
bahaya yang tersembunyi (menurut saya lho).

Bagi saya sih sebagai operator, plant itu harus mudah dan aman untuk dioperasikan
dan di-maintenance. Tapi kan hal itu harus dikompromikan dengan sisi ekonomisnya.
Disinilah mungkin dilemanya.

Tanggapan 8 : (Cahyo Hardo – Premier Oil)

Lock out tag out procedure, khususnya untuk PSV ternyata, menurut saya pada
satu waktu, menurunkan "wibawa" PSV ini sebagai penjaga plant safety.

Kalau mencontek safety layer-nya AIChE-CCPS, maka PSV, pada satu waktu derajatnya
turun ke administrative control karena lock-out dan tag out procedure itu…..human
error…pasti berkaitan erat.

Dalam rangka menegakkan konsep inherently safer design, kenapa yach tidak dibuat
saja sekalian downstreamnya juga sekelas dengan inletnya (maksudnya sampai downstream
manual block valve-nya saja). Uangkah kendalanya? sehingga cukup dengan prosedur
kita sudah merasa satisfied?

Need input from:
safety engineer
hazop engineer
reliability engineer
process engineer
instrument engineer

Tanggapan 9 : (Eko Noersoesanto – BP Indonesia)

Kalau melihat ke safety checklistnya, API 14C, sepertinya sebagai passive safety
device, PSV bukan satu-2nya penjaga Plant atas pressure risk, (SIL perlu ikut
dilibatkan dalam mempertimbangkan hal ini). Dan bila diterawang lebih jauh ke
kondisi worst case maka bukan tidak mungkin akan timbul kejadian kebakaran atau
ledakan atau bahkan keduanya sebagai akibat atas malfunction atau case lain
yang ditimbulkan oleh si PSV ini, makanya si safety berantisipasi menyiapkan
safety system termasuk fire protection walaupun tidak diminta, Karena tidak
mungkin menunggu atau meyakini bahwa PSV bekerja tanpa failure, apalagi ada
pemikiran bahwa PSV beralih fungsi ke administrative control…

Tentang bagaimana bentuk safety systemnya, banyak aspek dan kepentingan ikut
berperan untuk menentukan wujudnya…saya setuju dengan Mas Cahyo, bahwa pada
hal tertentu uang juga ikut ambil peranan, entah dipuncaknya atau dimana????