Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia (Juli 2003) ini membahas permasalahan tentang glycol loss yang sangat besar pada Dehydration process dengan glycol (MEG) sebagai agent-nya dan menggunakan Gas to Gas exchanger sebagai tempat kontak antara glycol dengan raw gas.

Pertanyaan : (Robby Ansyarie – ConocoPhillips
Indonesia)

Kami mengalami permasalahan dengan glycol loss yang sangat besar, proses yang
kami lakukan adalah Dehydration process dengan glycol (MEG) sebagai agentnya
dan menggunakan Gas to Gas exchanger sebagai tempat kontak antara glycol dengan
raw gas.

Tanggapan 1 : (Ardian Nengkoda – Unocal)

Pak Robby,
Kasus ini sama dgn yg kami alami, alhamdulillaaah sekarang sdh tuntas. Semoga
share ini membantu:

  1. Terjadi jet flooding. Glycolnya terbawa oleh gas stream yg masuk ke Dehydrator,
    akibat dari flownya gas kebanyakan..tdk balance dgn si glycol yg sedikit atau
    ratenya lambat. Coba atur ratenya glycol, atau kecilkan ratenya gas.
  2. Ada line yg bocor di dalaam systems Dehydration itu sendiri? Coba check venting
    line. Kami muter2 nyari line yg bocor kurang lebih 2 bulan): …..Kami di onshore,
    punya pengalaman line glycol boocor di underground (gak kelihatan).
  3. Ada ndak Control Valve yg passing Di dalam systems? Coba check Filter Housing…..flash
    separator…etc. satu-satu Pak.

Tanggapan 2 : (Andhikapati Paripurna – PT Sofresid)

Bung Robby,
Glycol losses itu pasti terjadi. Yang tidak diharapkan adalah bila losses terlalu
besar. Banyak hal bisa menyebabkannya. Gambaran permasalahan umum bisa didapat
dengan membandingkan dengan data design systemnya. Kemudian ditambah dengan
investigasi selanjutnya.

Mengenai G/G exchanger, saya yakin dia bukan tempat salaman glycol dengan raw
gas. Tapi cuma tempat manasin/dinginin gas untuk hemat tenaga dan mecocokkan
kebutuhan proses.

Tanggapan 3 : (Robby Ansyarie – ConocoPhillips
Indonesia)

Pak Andhika,
Pada dehydrating proses kami glycol diinjeksikan ke raw gas (spraying) di gas
/ gas exchanger, selanjutnya gas yang udah ‘dicampur’ glycol tersebut menuju
Low temp separator, lalu glycol dipisahkan di LTS ini, juga sebagai Condensate
recovery unit, dan glycol yang terpisah dikembalikan ke glycol regent, untuk
menurunkan temperatur di LTS kami menggunakan JT effect, demikian gambaran singkat
tentang proses kami,

Sekalian juga untuk Pak Ardian, apakah proses bapak sama dengan gambaran yang
saya berikan?

Tanggapan 4 : (Cahyo Hardo – PremierOil)

Pak Robby,
Keliatannya proses di tempat bapak tidak jauh berbeda dengan di tempat saya
mencari nafkah.

G/G Heat Exchanger seperti yang dikatakan Pak Andhikapati, salah satu fungsinya
adalah pertukaran panas, yang sekaligus menaikkan kondisi gas keluaran LTS dari
keadaan jenuhnya ke keadaan superheated sehingga dia aman di kirim ke pembeli
dan tidak kondensasi di tengah jalan (kecuali gas nya bersifat retrogade he..he..).

Glycol yang disemburkan di G/G HE fungsi utamanya adalah untuk mencegah terjadinya
hidrat karena temperatur di HE tersebut, secara termodinamika memang sudah masuk
daerah pembentukan hidrat. Karena sifat glycol yang cenderung akan viscous jika
temperaturnya rendah, maka TEG biasanya tidak bisa digunakan. Glycol yang suitable
untuk digunakan adalah MEG atau DEG.

Bedanya dengan Pak Robby, jika bapak menggunakan prinsip JT valve guna pendinginan
lebih lanjut, kami di Block A Natuna menggunakan refrijerasi berbasis freon
R-134A. G/G HE secara otomatis juga berfungsi untuk menurunkan beban pendinginan
dari unit refrijerasi. Nah sebelum masuk unit refrijerasi, glycol (kami menggunakan
DEG) sekali lagi disemburkan.

Pokoke Pak Andhikapati, G/G HE yang dilengkapi dengan spray glycol pada prinsipnya
adalah aplikasi integrasi proses…Maaf ngelantur, sudah cukup teorinya..

Balik bakul ke subjek yang dimaksud, saya mungkin telat masuk diskusi ini,
mungkin pertanyaan saya ini sudah basi..Apakah loss nya itu adalah loss karena
kesetimbangan belaka atau loss karena proses? Sebab setahu saya, MEG punya kelemahan
sejati sebagai inhibitor hidrat, yaitu loss vaporizationnya lebih besar ketimbang
rekan sejawatnya yaitu DEG atau TEG (meski orang-orang environment "suka"
MEG karena dia cenderung menyerap BTEX dalam jumlah yang lebih kecil ketimbang
glycol2 yang lain)..

Sudahkah Pak Robby melakukan analisa pendahuluan via proses simulator. Sebab,
jangan2 yang dikatakan losses besar itu sebenarnya adalah konsekuensi dari proses
design-nya sendiri (mengingat Pak Robby memakai MEG).

Something wrong di flash separator (setting too low), Gasnya panas?, G/G HE
tekanannya kerendahan, laju MEG kegedean? Laju gas terlalu cepat? Overcapacity?

Mungkin data yang lebih lengkap bisa sangat membantu. P&ID, PFD?

Tanggapan 5 : (Andhikapati Paripurna – PT Sofresid)

Betul sekali, apa yg dari Bung Cahyo.
Memang pada dasarnya, Bung Robby saya harapkan memeriksa dengan design dasarnya
untuk ngerti deviasinya. Karena setiap sistem bisa dibuat variant rinciannya,
sehingga agak susah juga memberi saran bila basis datanya minim.
Selamat bekerja.