Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia (Juli 2003) ini membahas mengenai
seringnya terjadi internal coorosion pada welding joint di offshore. Mengapa yang kena selalu daerah weldingan? Mengapa bukan base metalnya? Apakah ada base chemical inhibitor oil yg cocok u/ operasi seperti di atas? Apakah ada reaksi kimia di welding joint? Komposisi chemical: weld metal+fluid?

Pertanyaan : (Ardian Nengkoda – Unocal)

Dgn operasi > 25 tahunan di offshore, di daerah kami sering kali terjadi
internal corrosion seperti gambar (attached) di daerah welding jointnya. Kami
sdh menemukan main cause-nya seperti:
-CO2: 10-30% mol
-Sand
-Air
-Multiphase flow
-Pressurize/flowrate

  1. Kok yg kena selalu daerah weldingan (yg kena corrosion itu weld metalnya)?
    Kenapa bukan base metalnya?
  2. Treatment mitigationnya saat ini adalah injeksi chemical dan pigging. Apakah
    ada base chemical inhibitor oil yg cocok u/ operasi seperti di atas?
  3. Apakah ada reaksi kimia di welding joint? Komposisi chemical: weld metal+fluid?

Tanggapan 1 : (Andi M Kadir)

Yth. pak Ardian dan rekan-rekan ,
Berikut ini pendapat saya mudah2an tdk keliru. Menurut pendapat saya, mengapa
didaerah welding yang selalu terserang korosi karena pada saat pengelasan berlangsung
didaerah HAZ yang merupakan daerah transisi mengalami distribusi temperatur
yang tidak merata sehingga mempengaruhi struktur mikro (besar butir) dari materialnya
atau terjadi ketidakseragamgan ukuran dari butiran dimana hal ini mengakibatkan
ada butir yang mengalami pelunakan. Pada derah lasan dapat mencapai 1400 derajat
celcius( cast) sedang pada daerah HAZ di bawah 732 derajat celcius (softining).
Pada daerah softining biasanya struktur butirannya kasar/besar (perlit) dimana
daerah batas butirnya banyak terdapat atom-atom carbida yang mudah diikat oleh
oksigen/ hidrogen sehingga terjadi pelemahan dan akhirnya mudah terserang korosi
(ketidakstabilan energi mengakibatkan kelemahan sehingga mudah terserang). Hal
ini dpt dicek melalui uji kekerasan dimana pada daerah HAZ yang struktur butirnya
kasar kekerasannya lebih rendah. DI LUK BPPT sering menerima keluhan dari industri
kemudian dicarikan solusinya melalui analisis kerusakan (problem & solving)

Tanggapan 2 : (Erwan Saiful – ConocoPhillips)

Corrosion factor bergantung pada tekanan partial CO2.
Tekanan partial = %mol CO2 x tekanan aliran. Tekanan partial CO2>30psi:
berbahaya (sangat korosif)

Daerah weldingan, welding joint adalah HAZ merupakan daerah yang peka terhadap
korosi. Kepekaan HAZ dapat diperbaiki, salah satu, melalui PWHT.

Flowrate akan memberikan gambaran jenis rejim aliran (Flow ragime) sehingga
dapat diketahui bagaimana dampaknya terhadap corrosion rate.

Tanggapan 3 : (Farid Moch. Zamil – Meco Inoxprima)

Kalau kami amati yang terdapat dalam attachment P Andrian termasuk dalam kategori
LOCAL CORROSION serangan korosi ini menghasilkan bentuk sumuran sehingga akan
menghasilkan aspek permukaan yang kasar.

Perlu diketahui Welding dapat dikatakan suatu proses peleburan logam yang kurang
sempurna dibanding proses pembuatan material ( base metal ). Welding sendiri
ada daerah yang disitu strukturnya kurang stabil ( HAZ ) dengan ketidakstabilan
daerah tersebut maka mudah sekali terserang korosif. Sedangkan pada BASE METAL
kalau dapat saya katakan adalah suatu proses peluburan logam yang sempurna.
Dapat saya katakan demikian karena jika ada ketidakstabilan struktur pada proses
pembuatan material maka BASE METAL tersebut akan mengalami suatu proses Treatment
sehingga hampir dikatakan struktur dari BASE METAL benar-benar sama dan merata.
Nah temen-temen dari KBK Material yang bisa menjelaskan mengapa terjadi demikian.

Dari data yang P. Andrian saya ingin menanyakan apakah proses pengelasan yang
P.Andrian lakukan SMAW ?

Saya kuatir pada kasus ini P. Andrian didalam penyambungan menggunakan
elektrode Basic Type Coating ( E. 7018 ). Karena type filler metal ini akan
sangat korosif. Dan laju korosinya 3 x lebih cepat daripada Rutile Type Coating.
Jadi Welding joint akan sangat berpengaruh pada flow service.

Tanggapan 4 : (Julian)

If I dont mistaken….
PWHT gak ‘jauh’ beda dengan tujuan proses Heat Treatment pada umumnya, yaitu
berhubungan dg kekuatan (stress releiving, etc), dan struktur mikro (ie. besar
butir). Hubungannya sama korosi?? Bagaimana yach penjabaran/ mekanismenya….

Tanggapan 5 : (Farid Moch. Zamil – Meco Inoxprima)

Saya akan bantu masalah penjabaran PWHT.

PWHT mempunyai tujuan :
1. Menghilangkan tegangan sisa.
2. Meningkatkan ketangguhan.
3. Meningkatkan kekuatan dan kekerasan
4. MENINGKATKAN KETAHANAN KOROSI.

Perlu diketahui suhu proses yang dipergunakan penghilangan tegangan biasanya
500° – 600°C dengan waktu penanahanan 1 jam per tebal 25 mm. Secara
umum stress releiving berfungsi menghilangkan tegangan sisa. Namun demikian
dengan menghilangan tegangan tersebut akan dapat meningkat sifat-sifat baja
:
1. Memperkecil pengaruh terjadinya pecah.
2. memperbaiki stabilitas dimensi.
3. meningkatkan ketahanan korosi terutama korosi tegangan.

Pada proses pengelasan BAJA setelah terjadinya pengelasan pada daerah HAZ mempunyai
sifat mampu keras, karena mengalami pemanasan sampai terbentuk struktur austenit
setelah terjadi pendinginan kemungkinan akan terbentuk struktur martensite yang
bersifat keras dan getas. Dengan terbentuknya struktur martensite inilah akan
dapat menimbulkan tegangan sisa. Dimana pada sambungan pengelasan selalu terdiri
dari tegangan yang multi axial. Hal ini terjadi karena adanya siklus pemanasan
dan pendinginan selama pengelasan.

Umumnya baja karbon rentan sekali terhadap korosi tegangan lebih-lebih tegangan
akibat pengelasan. dimana tegangan tersebut mudah sekali menimbulkan korosi
tegangan. Oleh karena itu maka proses penghilangan tegangan perlu dilakukan
PWHT.

Tanggapan 6 : (Yudatomo – Powergen Jawa Timur)

Bapak2,
Baja carbon, dengan C equvalent > 0.4% rentan thd pengelasan. PWHT dapat
mengurangi tegangan sisa karena terbentuknya fasa martensit, akan tetapi sebenarnya
yang terpenting adalah mencegah terbentuknya fasa martensit itu sendiri (mencegah
pendinginan yg cepat sehabis pengelasan), karena setiap perubahan sifat baja
dari austenitic ke martensite akan berpotensi menimbulkan "Fissure"
(retak rambut) yg sgt susah dideteksi dengan dye penetrant maupun ultrasonic.
Kandungan Mn,Si,P dan juga Zn dari baja carbon, juga menyebabkan kerentanan
pada bagian HAZ.