Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia (Juni 2003) ini membahas tentang pigging. Jika kita setelah selesai meng-install pipa baru, apakah ada keharusan untuk dilakukan pigging process, apakah tidak cukup hanya dengan flushing dengan water saja sebelum pipa tersebut di-start up? Jika memang harus dilakukan pigging atau cukup dengan flushing saja, mohon diberitahukan code apa sebagai referensinya dan terdapat pada chapter atau section berapa.


Pertanyaan :
(Rachman Ardiansyah – Caltex Pacific Indonesia)

Saya ingin tanya, jika kita setelah selesai meng-install pipa baru, apakah
ada keharusan untuk dilakukan pigging process, apakah tidak cukup hanya
dengan flushing dengan water saja sebelum pipa tersebut di-start up?
Jika memang harus dilakukan pigging atau cukup dengan flushing saja, mohon
diberitahukan ke saya code apa sebagai referensinya dan terdapat pada
chapter atau section berapa.

Sebagai tambahan informasi, saya men-design-nya berdasarkan code ASME B31.3 dan pipa tersebut akan digunakan untuk mengalirkan production fluid dimana
terdapat komposisi water, oil dan sedikit sekali solid particle. Panjang
pipa tersebut sekitar 1350 ft dengan diameter 14′.


Tanggapan 1 :
(Bambang Sugiharta – PT Klaras Pusaka Instrumindo)

Kalo panjangnya cuma 300 an meter, tidak perlu dipigging. Cukup diflushing aja pake air spt yang bapak tulis. Untuk pigging, biasanya untuk pipeline yang cukup panjang dan harus ada fasilitas pig launcher dan pig receiver.
Karena pigging tidak saja dipakai untuk pipeline yang baru tapi juga untuk pipeline yang sudah beroperasi lama. Moga-moga membantu.


Tanggapan 2 :
(Bambang Edy Sudarmadi – Petrosea)

Pigging biasanya dilakukan untuk pipeline, fungsinya sama untuk pembersihan
jika diinginkan fluida yang ditransfer berbeda, etc.

Flushing, pembersihan dengan menggunakan air, biasanya digunakan pada waktu telah selesai install, karena kemungkinan adanya material sisa, sisa lasan, pasir dsb.

Purging, ini pembersihan juga tapi dengan menggunakan N2, tujuannya adalah
untuk mengusir O2. Biasanya dilakukan pada waktu selesai install dan
ready untuk digunakan (oil & gas). Tujuan purging ini adalah untuk mengusir oksigen, karena pada dasarnya kebakaran terjadi karena adanya bahan bakar+O2, kadar O2 sisa biasanya dibawah 2%.


Tanggapan 3 :
(Julian Zahrial – Asahimas Chemical)

Masih (sedikit) terkait dengan Pigging….
Bisakah proses Pigging digunakan untuk ‘menghaluskan’ permukaan (surface
treatment) bagian dalam pipa (ukurannya 6-8′)?
Atau, proses/ treatment apakah yang paling baik/ reliable untuk tujuan tsb
di atas?


Tanggapan 4 :
(Agus Wardiman – McDermott Indonesia)

Ada beberapa macam pigging, standard pig digunakan untuk membersihkan
sisa-sisa kotoran dari konstruksi dan melihat roundness dari pipa ini cukup
dilakukan sekali saja, ada juga pig yang digunakan untuk membersihkan pipa
yang kotorannya sudah sangat tebal, ini dilakukan berulang-ulang dengan
ukuran yang meningkat, ada juga yang digunakan untuk mendeteksi kondisi
dalam pipa apakah ada korosi, crack, dll, ini disebut smart pig atau
intelligent pig. Tetapi nggak ada pig yang bisa digunakan untuk menghaluskan permukaan.


Tanggapan 5 :
(Eddie Candra – McDermott Indonesia)

Bagaimanapun juga yang govern kan client specs. Kalo client minta di-pigging kan mau ngga mau harus dilakukan.
Pigging itu selain untuk membersihkan pipa juga kan untuk mengecek apakah
waktu pipeline itu dipasang ada buckle atau ngga (pake gauging pig).
Kalo misalnya pig launcher atau receivernya yang di platform belum ada, kita
bisa buat yang temporary, misalnya di atas riser.


Tanggapan 6 :
(Iwandana Soendoro – ConocoPhillips)

Kembali ke fungsinya awal pig standard di luncurkan terutama untuk membersihkan sisa sisa pengelasan pada saat penyambungan pipa dan material lainya yang tidak terbuang dengan flushing khususnya pada pipeline.

Selain code kita juga mengacu kepada client spec. kalau untuk mengetaui ada buckle bukan dengan pig tetapi dengan gauging plate, gauging plate di run setelah pipeline mencapai panjang tertentu apabila ada buckle maka plate tersebut akan nyangkut didalam.


Tanggapan 7 :
(Agus Wardiman – McDermott Indonesia)

Pak Iwan, pak Eddie,
Saya kira pendapat anda berdua sama, yaitu menggunakan gauge plate untuk
mengetahui ada atau tidak pipa yang buckle, dan gauge plate ini biasanya
dijalankan bersama dengan pignya (sekaligus) dan kalau ternyata ada buckle,
plate tersebut biasanya tidak nyangkut pak tapi penyok.


Tanggapan 8 :
(Andi M Kadir)

Yth. Pak Agus Wardiman,
Kalau saya mau memeriksa kelurusan pipa, yang praktis, murah dan cukup akurat dilapangan menurut pak Agus menggunakan alat apa. Tolong informasinya.


Tanggapan 9 :
(Agus Wardiman – McDermott Indonesia)

Kalau memeriksa kelurusan pipa diatas tanah, ya pakai alat survey biasa pak
(theodolite). Pada prinsipnya pipeline boleh berbelok dengan radius tertentu
dimana stress yang terjadi masih diijinkan.

Kalau yang bapak maksud adalah roundness dari pipa, maka pengecekannya cukup dengan pigging standard yang dilengkapi dengan gauge plate (seperti
dijelaskan pak Iwandana sebelumnya). Dari output gauge plate (bentuknya
bulat dengan radius lebih kecil dari pipelinenya, biasanya 5%) inilah kita
bisa mengetahui apakah roundness pipa tersebut memenuhi standard yang
ditentukan dan tidak terjadi buckle.


Tanggapan 9 :
(Andi M Kadir)

Yth. Pak Agus,

Pipa yang saya maksudkan disini bukan pipa distribusi tetapi Drill pipe. Biasanya ada beberapa join. Terima kasih atas pencerahannya.


Tanggapan 10 :
(Agus Wardiman – McDermott Indonesia)

Pak Andi,

Standard roundness pipa kalau kita mengikuti code, misal: DNV, out of roundness yang diijinkan adalah 0.5%. Standard inilah yang kita berikan pada pipe manufacturer ketika pipa tersebut diproduksi.

Kalau gauge plate yang di launch bersama dengan pigging memang bisa melihat
roundness pipa tapi dalam batasan yang jauh lebih longgar (ukuran gauge plate +/- 5% lebih kecil dari pipa), jadi tidak bisa untuk mengukur roundness sesuai standard code.

Saya kurang tahu standard roundness yang dipakai untuk drill pipe, tetapi saya kira pigging system tidak bisa dipakai untuk itu. Mungkin ada teman yang bisa membantu untuk drill pipe.


Tanggapan 11 :
(R Gautama – ITB)

Nanya pak Agus, pipa itu kan ada pondasinya, nah kalo pas ditembaknya (theodolit diambil surveynya) musim ujan ama musim panas kadang2 kan nggak sama. apalagi kalo ada ditanah yang rada sensitif. saya pernah dapet cerita dari KEC di PIM mengenai itu. padahal waktu bikin pondasinya oke udah centre tapi itu pas musim panas… setelah musim ujan dicek…kayak uler deh jadinya.

Masalahnya sekarang yang lurus untuk satu section pipa atau untk keseluruhan. saya pikir susah juga kalo untuk keseluruhan (seperti yang ada di Pipe diagram) tapi kalo persection mungkin masih bisa. Begitu mungkin.

Oh ya persyaratan berapa besar pipe bisa berbelok ada dimana ya pak?


Tanggapan 12 :
(Agus Wardiman – McDermott Indonesia)

Pipeline nggak pakai pondasi pak, pondasi dipakai hanya pada kondisi khusus
seperti river crossing lewat atas atau ketika sudah berada diareal plant.
Pipeline selalu menyediakan yang namanya expansion spool yang fungsinya
untuk menerima efek expansion akibat perbedaan temperature, ini dipasang
didaerah ketika pipeline akan masuk ke plant. Sehingga tidak akan ada
pipeline yang seperti uler.

Untuk pipeline diatas pondasi yang letaknya jauh dari expansion spool, maka
kekuatan pondasi termasuk daya dukung tanahnya dan clamp terhadap pipa
tersebut harus diperhitungkan agar bisa menahan pipa dengan baik dan ini
tidak terlalu sulit karena perbedaan musim panas dan musim hujan kan data
temperaturnya ada.

Pipeline boleh berbelok dengan radius tertentu dengan batasan longitudinal
stress 80% SMYS dan combined stress 90% SMYS (ASME B31.8 para A842.222),
tapi ada client yang menentukan batasannya 10% SMYS untuk bending stress.


Tanggapan 13 :
(Iwandana Soendoro – ConocoPhillips Indonesia)

Pak Andi,

Saya rasa ada perbedaan pipa yang dimaksud disini, pipa yang dimaksud oleh Pak Agus ataupun saya adalah pipa distribusi/ pipa penyalur/ pipeline sampai saat ini DNV adalah suatu standard acuan untuk offshore pipeline dan ASME 31.4 31.8 bisa untuk onshore dan offshore.

Kalau untuk drill pipe pasti berbeda lagi pendekatannya dan sepertinya DNV, ASME 31.4 & 31.8 tidak applicable untuk drill pipe mungkin tidak di design sebagai pipa penyalur.