Menghadapi kasus deflagrasi Material, sebenarnya ada cara yang cukup ampuh yakni Passive Fire Protection .
Tapi ada rule of thumb yang lumayan mengena, biasanya untuk kasus kasus VLP (Very Low Pressure) atau LP (Low Pressure) kasus deflagrasi material ini kerap menjadi masalah, artinya sering sekali PSV itu tidak/belum sempat ‘ngepopped’ tapi material sudah bolong (pecah) terlebih dahulu, jadi protection system kita tidak jalan dunk?

Pertanyaan : (Darmawan Ahmad Mukharror –
VICO Indonesia)

Menghadapi kasus deflagrasi Material, sebenarnya ada cara yang cukup ampuh
yakni Passive Fire Protection (semoga Cahyo bisa mengutarakan tentang PFP ini
dengan lebih rinci… gimana Yo?).

Tapi ada rule of thumb yang lumayan mengena, biasanya untuk kasus kasus VLP
(Very Low Pressure) atau LP (Low Pressure) kasus deflagrasi material ini kerap
menjadi masalah, artinya sering sekali PSV itu tidak/belum sempat "ngepopped"
tapi material sudah bolong (pecah) terlebih dahulu, jadi protection system kita
tidak jalan dunk?

Dengan mengaplikasikan PFP pada vessel kita, setidaknya (diharapkan) si Vessel
tidak akan burst terlebih dahulu sebelum PSV ngepopped dan/atau Fire Fighting
berhasil menghalau api (API merefer 15 minuten sebagai waktu yang tepat). Lantas
apa fungsi PSV (fire case) dunk?
Inilah kasus besar yang musti dilakukan risk assessment lagi padanya. Apa perlu
kita memasang PSV Fire? (Insyaallah saya akan tulis lagi di lain waktu)

Hubungannya dengan FEED (Front End Engineering Design)? Yah, yang musti dilakukan
pada FEED adalah si Process Engineer sudah memiliki bayangan (yah cuman bayangan,
ngga perlu detail) kira kira material apa yang musti dipakai buat vessel nantinya
(apa A-516 grade 7 apa yang lain, makanya para Process Engineer juga musti khatam
ASME dan ASTM juga) dari sini resource sudah tersedia buat mengetahui kecenderungan
penurunan strength dari masing masing material terhadap temperatur. Baru kemudian
aplikasi kan persamaan P burstnya Melhem untuk mengetahui profil P burst terhadap
temperatur. Bingo! we’ve got the profile. Nah langkah yang berat sudah menunggu,
bagaiamana profil kenaikan temperatur fluida di dalam vessel terhadap flux panas
dari api/kebakaran? Wow, orang process musti mahfum dengan peristiwa konduksi-konveksi-radiasi
dalam satu tepukan untuk menaikkan tekanan fluida di dalam vessel. Nah lhoo…
orang process musti belajar lagi. Saya sendiri sedang berusaha mencari penyederhanaan
persamaan persamaan ini untuk aplikasi pada oil/gas.

Dari FEED ini pula didapatkan kemungkinan memakai PFP atau tidak sehingga sudah
diperkirakan alokasi biayanya….

Bagaimana dengan tekanan downstream PSV, Hmmm, backpressure adalah factor penting
dalam mensizing PSV. begitu kita memutuskan untuk menurunkan setting PSV tanggung
jawab kita adalah memastikan si fluida yang ngepopped ini sukses sampai ke flare
tip/ VRU system (storaging dan VRU ini sudah di aplikasikan oleh Norsk Hydro).
Makanya musti hati hati memutuskan penurunan setting. Harus melakukan risk assessment
terlebih dahulu.

Bagaimana dengan mengubah kasus PSV fire ke blocked discharge? Hmmm, musti
dipikirkan terlebih dahulu sistem isolasinya. apa iya kalau sistem tersebut
well isolated (biasanya Separator, Kompressor, dan Filter masuk kategori ini)
ketika shutdown lantas kita rancang dengan blocked discharge?
Filosofi dasar blocked discharge dan juga CV failure adalah jika masih terdapat
kemungkinan terjadinya akumulasi pressure misalnya dari sumur atau dari Valve
yang gagal menutup, dari slugging dst. Jadi tidak juga relevan mengubah jenis
kasus hanya karena deflagasi ini.

Seperti saya tekankan di awal, pertanyaannya musti diubah… perlu ngga sih
PSV fire? Atau dia cuman aksesoris saja? Well, saya lebih suka membahasnya tidak
sekarang. Tunggu cerita Markodji lain waktu.
he he he

NB: Sebagian besar jawaban disini juga terinspirasi dari brainstorming antara
Process, Mechanical dan Instrument Engineer di VICO Indonesia dan PTSM (Singgar
Mulia) Rabu, 06 Aug 2003 tentang sizing PSV Fire. Apriandy, Mardoni, Mas Arief,
Aditia, Jazaly, Rina, Widya, Soendoro, Rifai, Dini, Thanks for you all.

Tanggapan 1 : (Slamet Suryanto – Pertamina)

Mas Dharmawan and your discussion gank,

Maaf saya tidak mengikuti dari awal sehingga perlu penjelasan apakah deflagrasi
yang dimaksud adalah salah satu jenis efek ledakan? Atau istilah lain untuk
kerusakan material karena pressure loss secara mendadak? Jika istilah lain yang
dimaksud (ke-2) maka menurut pendapat saya PFP tidak bermanfaat. PFP dimanfaatkan
untuk mengurangi efek panas akibat paparan panas dari kebakaran yang dikuatirkan
melebihi daya tahan material sehingga dapat mengurangi konsekuensi akibat paparan
panas.

API RP 521 (para 3.19.1), memberitahukan bahwa pembuangan tekanan berlebih
(misal tekanan naik akibat peristiwa kebakaran) pada suatu vessel harus dikurangi
tekanannya dengan suatu PSV yang dapat merelease pressure sampai pada tekanan
7 kg/cm2G atau 50% dari design pressure (atau yang lebih kecil dari keduanya)
dalam durasi 15 menit. Dalam paragraf lain dinyatakan bahwa perusahaan-perusahaan
lain menggunakan pendekatan berbeda.

Dalam kasus di atas harus dibedakan aplikasinya antara pengurangan kecepatan
kenaikan tekanan pada suatu vessel akibat paparan kebakaran (misal pool fire)
dengan pengurangan kecepatan pressure loss untuk mengamankan tekanan vessel
dengan cara mereduksi tekanan secara mendadak (dengan kecepatan tinggi), istilah
kerennya sekarang adalah EDP (emergency de-pressurization). Pengurangan kecepatan
kenaikan tekanan pada suatu vessel dapat dilakukan dengan mengaplikasikan PFP
(passive fire protection) tetapi tidak untuk kasus kedua. Aplikasi lain, pengurangan
kecepatan kenaikan tekanan vessel adalah dengan tidak membuka liquid blow down
valve(s), sehingga terjadi penyerapan panas oleh liquid yang tertahan di dalam
vessel sekaligus mengaplikasikan ESD. Hal ini untuk mengurangi risiko burst
pada vessel.

Untuk mendisain PSV untuk keperluan EDP, setidaknya perlu dilakukan 2 pendekatan
yaitu fire case dan non-fire case dengan CV value yang sama. Fire case digunakan
untuk mendapatkan flow rate yang lebih besar dibandingkan dengan non-fire case
sedangkan non-fire case untuk mendapatkan temperatur minimum yang dicapai oleh
material.

Berdasarkan pengalaman aplikasi di LNG plant sejak 1997 dan studi banding ke
industri LNG, diperoleh kesimpulan bahwa penerapan atau pemilihan model termodinamika
yang cocok untuk mensimulasikan case-case di atas sangat memegang peranan penting
agar disainnya efisien.

Mudah-mudahan ikut meramaikan diskusi ini.

Tanggapan 2 : (Darmawan Ahmad Mukharor – VICO
Indonesia)

Mas Slamet,
Deflagrasi adalah peristiwa ledakan yang begitu cepat dari material karena tekanan
burstnya telah tercapai (istilah gampangnya pecah mendadak).
Maaf kalau saya tidak setuju jika dikatakan Pak Slamet PFP sama sekali tidak
berguna.
PFP itu sangat berguna dalam mencegah penurunan drastis pressure burst si vessel
akibat paparan dengan temperature. Bayangkan anda memakai Fire Blanket dalam
memadamkan api untuk melindungi fungsi dermal (kulit) anda sebagai media penukar
panas. Tentunya deflagrasi kulit Mas Slamet akan lebih lama tercapai jika Mas
Slamet memakai Fire blanket bukan? Itulah sejatinya fungsi PFP. Mungkin jika
argumen Mas Slamet bahwa PFP itu tidak praktis dan menyusahkan maintenance vessel
itu betul sekali Mas.

Justru ini permasalahannya, jika merujuk pada depressurisasi tekanan, bagaimana
mungkin tekanan bisa terdepressurisasi? Jika tekanan di dalam vessel sendiri
tidak kunjung "naik" karena panas api ternyata tak cukup menaikkan
temperatur fluida di dalam secara drastis? Pertanyaan berikutnya apa Mas Slamet
yakin si api bisa menyebabkan gas expansion yang sedemikian amat sangat maha
hebatnya sehingga tekanan depressurisasi akan tercapai? saya sangat tidak yakin!
Tentunya Mas Slamet bias menghitung perpindahan energi donk (konveksi-konduksi-radiasi),
sehingga saya yakin kalau hitungannya benar kenaikan tekanan akibat gas expansion
ini ngga sebanding dengan percepatan penurunan kekuatan material, artinya deflagrasi
bisa benar benar terjadi lebih dahulu (sekali lagi sebelum PSV ngepopped).

Akan tetapi jika argumen Mas Slamet bahwa depressurisasi (dengan perintah DCS)
dilakukan sekonyong-konyong ketika api mulai terjadi itu membantu… jawabannya
adalah benar! (meskipun bantuannya tidak cukup effektif menghindari Bursting
Pressure). Coba Mas Slamet baca tulisan Per Salater dkk di CEP Magazine September
2002. Atau mau saya forwardin?

Asal mas Slamet tahu, sejak 1993, hampir semua perusahaan minyak di Laut Utara
sudah tidak lagi mengikuti standar API tentang Fire ini!

Jika assumsi Mas Slamet dengan depressurisasi versi API (selama 15 menit) hingga
tekanan dalam vessel 7 bar (100 psig) atau hingga 50% dari tekanan awal vessel
"whichever is lowest", wow, Mas Slamet masih menyisakan bahan bakar
yang siap memberikan ledakan ketika burst itu terjadi, blaaarrr…. sisa fluida
tadi keluar lewat ledakan (baca: lobang) akibat deflagrasi vessel.

Sesungguhnya dalam menghitung penurunan strength material saya menggunakan hitungan
Norsk Hydro yang lebih konservatif, jika mendasarkan hitungan saya pada HSE
hasilnya akan lebih membahayakan…..
Dalam lima menit, dengan tekanan operasi 100 psig vessel 24 x 8 ft (ID) material
A-516 grade 7, expose dengan jet fire "ringan" 100 KW/m2 …hmmmmm…
blaaaarrrr, dengan ada atau tidaknya depressurisasi. Intinya sebenarnya kita
tidak bisa berbuat apa apa jika deflagrasi material ini terjadi (demikian juga
yang dikatakan oleh Wing Y Wong), kecuali tentunya pasang PFP.

Mengenai pendapat Mas Slamet bahwa liquid bisa menjadi wahana yang baik buat
menghambat deflagrasi material itu benar, namun tidaklah terlalu benar. Kenapa,
karena setiap perpindahan panas itu akan terjadi dari yang panas ke yang dingin.
Tapi masalahnya seberapa cepat? laju kenaikan temperatur logam tentunya jauh
lebih cepat dari kapasitas serap si liquid k dan Cp logam >>> k dan
Cp liquid. So, sekali lagi, Blaarrr akan terjadi terlebih dahulu sebelum fluida
di dalam vessel berhasil menpressurize dirinya sendiri karena effect temperatur.

EDP akan terhambat oleh backpressure dari si Flare Header, katakanlah minimalist,
sebesar 5 psig. Untuk sistem VLP bagaimana?? Dimana tekanan di Separator cuman
10 – 20 psig? Wow, masih banyak donk fluida di separator yang tak terbuang karena
memang tidak bias sisa tekanan 5 psi di vessel mengalirkan seluruh fluida di
vessel ke flare header. Apalagi dengan isolasi LCV yang Mas Slamet usahakan….
hmmmm musti dipikirkan lagi deh kayaknya.

Jika Mas Slamet bilang bahwa capasitas flow PSV Fire Case lebih besar dibanding
dengan Kapasitas PSV non-fire (untuk setting pressure sama), hmmm, saya tidak
setuju. Baik itu memakai softwarenya AGCO, Consolidated, InstruCALC ataupun
menghitung sendiri berdasarkan panduan API 520/521 hasilnya menunjukkan hal
sebaliknya.

Kapasitas PSV nonfire (block discharge dan CV failure) PASTI lebih besar dibanding
PSV Fire. Mas Arief dan instrument engineer lainnya tentunya mahfum hal ini.
Atau Mas Slamet mempunyai kasus yang berbeda? Mohon kalau ada boleh bagi
bagi donk kasusnya. he he he

Perihal PSV pada LNG Plant, terus terang, mohon maaf, tidak bisa diperbandingkan
dengan sistem di Oil and Gas Production Facility. Bicara tentang LNG adalah
bicara tentang multiphase emission, bicara tentang Oil & Gas Prod fac. mostly,
tentunya single Phase. Ada baiknya membaca panduan CCPSnya AIChE tentang hal
ini (Guidelines for Pressure Relief and Effluent handling juga buku buku CCPS
lainnya ada buku terbaru tahun 2003 ini yang sangat bagus, Guidelines for fire
protection in Chemical, Petrochemical and Hydrocarbon facilities).

Saya akui saya sendiri masih dalam taraf "belajar" tentang multiphase
ini, jadi mohon maaf jika belum berani menjelaskan dengan panjang lebar Mungkin
nanti kalau sudah selesai membaca, browsing, correspondensi dan belajar tentang
multiphase ini, saya bisa berargumen disini.

Tanggapan 3 : (Cahyo Hardo – Premier Oil)

Darmawan, saya cuma penasaran saja…

Menurut saya sesuai dengan definisi cp itu sendiri, jika cp atau kapasitas
panas pada tekanan tetap dari suatu zat itu semakin besar, maka kenaikan temperature
zat tersebut, jika dikenakan padanya sumber panas, relatif lebih lambat dari
zat yang punya cp lebih kecil……

Jadi jika dikatakan cp metal lebih besar dari liquid, harusnya kenaikan temperatur
di metal lebih lambat daripada di cairan dan bukan sebaliknya……

Tanggapan 4 : (Cahyo Hardo – Premier Oil)

Darmawan, tambahan lagi sedikit dari saya..

PSV fire memang punya kelemahan sejati karena ketika mensizing-nya, dianggap
distribusi temperatur di area yang diprotect oleh PSV ini homogen, padahal in
real fact, tentunya tidak. Dan ini adalah cacat bawaan dari design PSV fire.

Tentunya, depressuring vessel juga ada pointnya, karena , mostly shutdown system
yang berkenaan dengan adanya fire biasanya dihubungkan langsung dengan depressuring
activities. Jadi serta merta di blowdown. Bahkan sebelum ada api-pun, bisa juga
langsung di blowdown, misalnya jika terdeteksi ada gas di area proses ataupun
terdeteksi ada asap. Jadi jauh sebelum apinya ada…Kecuali sih, jika memang
plant kita di desain dengan konsep let it burn he..he. atawa ongkos untuk improvement
dianggap mahal sehingga proteksinya langsung jatuh ke tahap terendah dari proteksi
plant yaitu bergantung pada emergency procedure.

Kecepatan depressurisasi ini tidak ada standard bakunya, API pun hanya merekomendasikan,
semuanya tergantung dari kebijakan company. Kalau boleh memilih, saya lebih
suka PSV fire ini dihilangkan dan fungsinya digantikan atau dirangkap oleh PSV
yang berkapasitas lebih besar, seperti block discharge.

Selain itu, aktif fire extiguisher system juga bisa menolong dari sebelum api
membesar. Design vessel misalnya yang menggunakan slop di bawah separator juga
bisa menolong vessel dari keparahan lebih lanjut, terutama jika apinya berasal
dari liquid di bawah vessel.

Lokalisasi bejana2 proses menurut kesamaan hazard yang mungkin ditimbulkannya
serta membentenginya dengan PFP, juga bisa menolong untuk menggantikan fungsi
PSV fire ini. Pokoke, semuanya bergantung pada risk assessment yang dilakukan.

Tanggapan 5 : (Darmawan Ahmad Mukharror – VICO
Indonesia)

Begini Cahyo,

Perihal Cp…..
Memakai persamaan Norsk Hydro (sebenarnya Perry, dan juga Mc Cabe juga memiliki
persamaan yang sejatinya dicatut oleh si Per Salater dari Incropera dan de Witt)

Qabsorb = K(as*ef*Tf^4-es*Ts^4)+ h(Tg-Ts)

K = Konstanta Stefan-Boltzman
as = absortivity vessel
ef = emisivitas si api
Tf = Temperatur si api
es = emisivitas vessel
h = koefisien pindah-panas konveksi dari si flame/udara ketika berkontak dengan
vessel
Tg = Temperatur flame/gas

Qabsorb ini besarnya tetap… tentunya sepanjang kebakaran masih nyala.

Kemana panas ini dibasorb oleh metal si vessel?
1. Diserap oleh dirinya sendiri dalam bentuk Q = m*Cp*dT
2. Dihantarkan secara konduksi Q= k*A*dT/dx
3. Dihantarkan secara radiasi keluar taupun ke bagian dalam vessel

Kesetimbangan tiga hal inilah yang dihitung, dan menghasilkan kenaikan temperatur
vessel secara drastis hanya dalam satu menit pertama, dimana pada satu menit
pertama ini kontribusi konduksi metal ke arah liquid masih belum terlalu besar
(si Qabsorbed digunakan untuk memanaskan logam itu sendiri, bagaimana logam
itu bisa menghantarkan panas jika dia sendiri belum panas?) selanjutnya betul
seperti kata Cahyo, Cp semakin membesar , tentunya laju kenaikan temperatur
semakin menurun…

Membandingkan perubahan Cp dengan besarnya kenaikan temperatur kurang relevan,
kenapa? karena si Cp ini kenaikannya lambat sekali…. kecuali pada titik titik
kritiknya, misalnya pada umumnya vessel yang berbahan low carbon steel, kenaikan
drastis Cp hanya terjadi pada temperatur 500 – 800 degC, selanjutnya (anehnya)
turun dengan drastis pula hingga si besi ini mengalami perubahan fasa.

Bagaimana dengan liquid? Sami mawon, bahkan cenderung tidak berubah…. cobain
aja di Hysis…..

Liquid memiliki kecenderungan untuk menghantar panas yang jauh lebih kecil
(k liquid << k logam) akibatnya terjadi pengumpulan hot spot pada titik
titik tertentu, timbul arus eddy karenanya, dan effeknya malah terjadi konveksi
panas (tapi effeknya belum banyak disinggung di literatur perminyakan). Akibat
lainnya terjadi pendidihan si liquid hanya pada tempat tempat tertentu dimana
terdapat hot spot. Mungkin ini yang (justru) kita harapkan bisa menaikkan pressure
fluida, tapi lagi lagi…. seberapa besar?

Pertanyaan terakhir ini memang mendasar, tapi cukup penting peranannya dalam
menaikkan pressure. Liquid yang menguap bisa menyumbang peran kenaikan tekanan,
akibat perubahan volumetrik dari liquid menjadi gas. Tapi butuh konfirmasi lebih
jauh di sini. Mari belajar pindah panas.

Ini dia yang kita bahas dalam group diskusi fire VICO-PTSM beberapa waktu lalu,
disepakati bahwa terjadinya kasus fire adalah worst case artinya semua sistem
depressurisasi tekanan, dianggap macet dan fail. Ingat, sebenarnya dalam kasus
normal, sebelum fire menjadi masalah besar, masih ada Fire alarm, PCV ke flare,
deluge system, dst dst hingga terakhir baru PSV fire in action.

Pembahasan depressurisasi vessel/equipment lain hendaknya menjadi bahasan tersendiri
yang menurut saya juga sangat menarik.

Setidaknya begitu menurut saya Cahyo,
Tunggu saja kisah Markodji-Rukiyah berikutnya he he he

Tanggapan 6 : (Slamet Suryanto – Pertamina)

Mas Dharmawan/Cahyo (dan pemerhati process safety)

Terus terang aku masih penasaran dengan topik yang menggemaskan ini.
Beberapa buku CCPS dan code saya baca ulang, dan ketemu titik terang:

1. Definisi Deflagrasi (deflagration) harus kita dudukan sebenarnya yaitu:
Deflagration is a propagating chemical reaction of a substance in which the
reaction or propagating front is limited by both molecular and turbulent transport
and advances into the unreacted substance at less than the sonic velocity in
the unreacted material (ref: CCPS)

Deflagration is propagation of a combustion zone at a velocity that is less
than the speed of sound in the unreacted medium (ref: NFPA code 68 – 1998)

2. Berikut adalah persyaratan untuk terjadinya deflagrasi (NFPA code 68):
a. Fuel concentration within flammable limits
b. Oxidant concentration sufficient to support combustion
c. Presence of an ignition source

Dari 2 penjelasan di atas, bahwa deflagrasi dihasilkan dari suatu reaksi di
dalam suatu wadah (enclosure) sehingga dihasilkan panas reaksi dan meningkatkan
tekanan dalam wadah reaksi tersebut dengan laju (dP/dT) kurang dari kecepatan
suara. Jika laju pertambahan pressure melebihi kecepatan suara disebut detonation.

Dalam perspektif ini, external heat bukan persyaratan untuk terjadinya deflagrasi
dan dinyatakan sangat eksplisit dalam NFPA 68. Sehingga dalam hal ini passive
fire prevention (PFP) tidak bermanfaat dalam menghambat terjadinya deflagrasi,
karena temperature build-up berasal dari dalam bukan karena heat transfer dari
luar.

Selanjutnya, untuk fasilitas oil and gas production (hulu) atau pun LNG plant,
kemungkinannya hampir nol untuk terjadinya deflagrasi dengan persyaratan tersebut.
Untuk kilang minyak masih ada peluang terjadinya deflagrasi, misalnya ada kandungan
phyrite (FeS) dalam hydrocarbon process stream, lebih-lebih untuk pabrik kimia.

Kalau yang dimaksud Mas Dharmawan dengan terjadinya blast overpressure dan
BLEVE (Boiling Liquid Expanding Vapour Explosion) karena pengaruh external heat
maka masih dapat diterima. Sehingga dari awal saya perlu menanyakan apa
yang dimaksud dengan "deflagrasi" pada saat ikut diskusi.Jadi untuk
mencegah terjadinya deflagrasi pada industri migas hulu menurut saya cukup dengan
mencegah peluang terjadinya reaksi sejauh peluangnya terjadinya ini dapat diminimalkan.

Tanggapan 7 : (Fakhri)

Menarik juga definisi yg diberikan oleh CCPS. Saya butuh klarifikasi juga nih
dari Pak Slamet ttg defenisi yg ada di CCPS karena ada perbedaan dg yg saya
pahami..

Dalam literatur yang saya baca (Crowl and Louvar)..Deflagration adalah salah
satu klasifikasi dari explosion, yaitu (1) deflagration dan (2) detonation…Dan
perbedaannya memang betul adalah berdasarkan berapa kecapatan schok wave (pressure)
yg ditimbulkannya..Kalau kurang dari sonic velocity disebut deflagration dan
kalau lebih detonation…Di plant yg terjadi biasanya explosion berupa deflagration..Kalau
yg detonation itu terjadi di Bali dan di JW Mariot hotel..

Penyebab dari explosion (rapid gas expansion) bisa chemical reaction (combustion
reaction) yg diikuti kenaikan pressure dan vessel dan terjadi mechanical failure
dan bisa juga mechanical (rupture dari high pressure vessel)…

Ttg syarat-2 terjadinya combustion reaction betul dg adanya syarat-2 yg ada
dibawah ini…Cuman ini sebetulnya adalah sarat terjadinya combustion. Sedangkan
combustion kan tidak harus menghasilkan explosion kalau tidak ada vessel yg
pecah (mechanical failure) sehingga terjadinya rapid gas expansion..Dalam sebuah
furnace, exhotermic reactor etc jelas semua sarat itu terpenuhi kecuali tidak
terjadi rapid gas expansion karena tidak terjadi mechanical failure..Yang terjadi
adalah combustion yg terkontrol…

Menurut pemahaman saya itu kayaknya baik CCSP dan NFPA hanya membatasi deflagration
karena chemical reaction (combustion)…Atau pemahaman saya thd literaturnya
yg salah..Mohon pencerahan dari Mas Slamet..

Tanggapan 8 : (Cahyo Hardo – PremierOil)

Pak Fakhri, memang dalam bukunya Guidelines for Engineering Design for Process
Safety by CCPS-AIChE, deflagrasi memang seperti yang bapak sebutkan. Perbedaannya
dari detonasi adalah di kecepatan-nya.

Harga detonasi dan deflagrasi, setahu saya adalah fungsi dari UFL (upper flammability
limit) dan LFL(lower flammability limit) (yang tentunya juga fungsi tekanan
dan temperatur, meskipun banyak literatur lebih sering menuliskannya dalam keadaan
25 C dan 1 atm). Garis maya detonasi dan deflagrasi setahu saya sedikit di atas
garis UFL dan LFL.

Tentang deflagrasi yang dimaksud oleh Darmawan, mungkin beliau punya penjelasan
yang lebih rinci.

Tanggapan 9 : (Darmawan Ahmad Mukharror – VICO
Indonesia)

Mas Fakhri dan Mas Slamet (juga yang masih senang belajar Process Safety),
terima kasih comment nya

Kalau saya sih, mengambil istilah tersebut dari HSE dan disitu sih merujuk
pada pecahnya vessel karena sebab sebab tekanan atau temperature, jadi tidak
ditinjau terjadinya chain reaction atau tidak….
Tapi anyway itu kan cuman istilah saja, yang jelas kita semua sudah nangkap
kejadiannya, bagaimana runutan peristiwanya yah kan?

Sejak setahun terakhir ini saya sangat menggemari Process Plant safety ini….
sayang sekali tidak ada badan pemerintah yang kredible yang mengurusi hal ini
yah? Gimana Mas Slamet, diusulin donk sama Pak Pur, supaya dibentuk badan (task
force) tentang masalah ini…. kayak CSB (Chemical Hazard and Incident Safety
Board)nya USA sana….. jadi biar ada lembaga yang pemerintah profesional yang
bisa dijadikan rujukan untuk mengumpulkan data dan menginvestigasi insident
yang terjadi di chemical, petrochemical and hydrocarbon industry di Indonesia.
Sekalian juga datanya dipublish secara terbuka di internet jadi kita bisa belajar
dari ditu… tapi dengan catatan : tidak lantas badan ini membuka lahan buat
korupsi baru…. mau investigasi ke kalimantan, minta tiket pesawat sama industry
yang sedang kena musibah… itu namanya ngga sensitit…sensitif ding…

Tanggapan 10 : (Slamet Suryanto – Pertamina)

Tambah menggemaskan ya……..?

Dalam tambahan keterangannya dalam CCPS, disebutkan bahwa overpressure dari
peristiwa deflagrasi menghasilkan tipikal tekanan tidak lebih dari satu atau
dua atmosfer, dan ini lebih dari cukup untuk menghancurkan secara substansial
struktur di sekelilingnya. Dalam literatur lain disebutkan bahwa flammable mixture
yang melibatkan udara pada peristiwa deflagrasi menghasilkan tekanan akhir 8X
dari tekanan awal.

Dalam dunia process safety terdapat berbagai istilah dan definisi untuk "ledakan
(explosion)." CCPS sendiri mengartikan explosion dengan " a release
of energy that causes a blast," sedangkan Crowl dan Louvar (1990) mendefinisikan
explosion sebagai " a rapid expansion of gases resulting in a rapidly moving
pressure or shock wave." Sementara itu "blast" sendiri didefinisikan
sebagai " a transient change in the gas density, pressure and velocity
of the air surrounding an explosion point."

Dari keduanya kalau ditarik garis merahnya nggak ada perbedaan, soalnya Oom
Crowl dan Pakde Louvar juga anggota AIChE. Saya nggak bisa "mengiyakan"
bahwa di plant, explosion yang terjadi biasanya deflagrasi, tanpa melakukan
investigasi atau membaca reportnya atau lesson learned-nya. Deflagrasi dapat
terjadi pada bangunan, atau melibatkan material dalam bentuk debu, asal syarat-syaratnya
dipenuhi. Jalur Explosion di plant, lebih-lebih chemical plant sangat bervariasi,
setidaknya ada 2 jalur besar yaitu:

1. Didahului dengan terlepasnya flammable atau combustible material.
2. Tanpa didahului dengan terlepasnya flammable atau combustible material.

Untuk kategori kedua, contohnya deflagrasi.
Untuk kategori pertama, setidaknya terdapat 3 jalur utama untuk terjadinya explosion
yang dikategorikan sebagai physical explosion; confined explosion dan other
loss of containment resulting in explosion. Dari proses terjadinya explosion
dapat dibedakan vapour cloud explosion (VCE), confined VCE, BLEVE, etc.

Jadi untuk memahami "deflagration" kita kembalikan pada definisi
CCPS yang telah disebutkan sebelumnya plus persyaratan dari NFPA. Untuk mengurangi
efek deflagrasi dengan venting, silakan baca NFPA 68 dan 69.
Mudah-mudahan membantu.

Tanggapan 11 : (Slamet Suryanto – Pertamina)

Mas Dharmawan,
Sama dengan pemikiran saya bahwa kita perlu membentuk lembaga untuk mengurusi
process safety, mungkin lebih tepat kalau di bawah Depnaker, atau embryonya
dari migas dulu. Cuma, kemana harus mengadu….? masak kita tenggelam memikirkan
hutang luar negeri dan pemilu 2004. Salah satu kasus yang baru terjadi di Surabaya
3 hari lalu dimana terjadi ledakan container
bahan kimia masih dianggap sepi oleh yang mempunyai otoritas safety di negeri
ini. Bagaimana KMI, bisa menjadi trigger ……?

Tanggapan 12 : (Slamet Suryanto – Pertamina)

Mas Fakhri,
Kelupaan saya untuk menambahkan bahwa explosion, baik itu deflagation atau detonation,
tidak mesti menimbulkan rupture pada suatu wadah atau enclosure. Contoh fenomena
detonation yang tidak menimbulkan rupture adalah yang kita alami hampir tiap
hari (jika kita naik motor atau mobil) yaitu explosion pada internal combustion
engine pada mesin-mesin yang menggunakan bensin. Nah, ini adalah contoh explosion
yang terkontrol. Perlu digarisbawahi untuk tidak terjebak pemahaman fenomena
explosion, rupture dan blast overpressure atau blast waves, lihat definisi blast
sebelumnya. Blast overpressure merupakan efek yang ditimbulkan oleh peristiwa
explosion. Efek lain dari explosion adalah thermal radiation, projectile (terlemparnya
serpihan), fire, leaking, asphyxiant, vision obscuration, dsb.

Salah satu tugas seorang safety engineer adalah menentukan apakah tekanan yang
dihasilkan dari peristiwa explosion akan membuat vessel pecah atau tidak setelah
teridentifikasi bahwa fenomena explosion dapat terjadi pada sistem pada study
node, misal dalam suatu studi HAZOP. Jika ya seberapa luas overpressure yang
tidak dapat diterima sehingga menimbulkan dampak pada manusia, aset, dsb. Mudah-mudahan
membantu.

Tanggapan 12 : (Ayende Hilman)

Pak Slamet,
Di MIGAS sebenarnya sudah ada bagian yang menangani tentang kejadian – kejadian
kecelakaan dalam operasi Minyak dan Gas Bumi, bahkan secara kelembagaan sudah
ada seksi Keselamatan Proses ( Process Safety ) di MIGAS. Kiranya hanya masalah
mengoptimalkan kelembagaan ini dengan melibatkan pihak – pihak yang memiliki
kompetensi dalam bidang tersebutlah yang menjadi concern kita sekarang.

Komunikasi antara rekan – rekan KMI dengan MIGAS sajalah yang perlu ditingkatkan
lebih lanjut. Apalagi saya dengar pak Slamet banyak berhubungan dengan Subdit
Standardisasi MIGAS. Silahkan bicarakan dengan Pak Henry Sianipar ( Section
Head of Process Safety ) tentang hal – hal yang anda pikirkan. Atau akan lebih
mantap lagi kalau anda utarakan ide-ide anda tersebut dihadapan pak Wayan.

Oke, saya kira ini dulu dari saya sekedar mengarahkan kemana anda harus mengadu
tentang kebimbangan anda. Selamat berkomunikasi……..