Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia – September 2003 ini membahas seputar definisi Hazardous Area Classification menurut ABS (American Bureau of Shipping).

Pertanyaan : (Feriansyah Abubakar)

Apakah ada yang dapat membantu memberikan pencerahan mengenai definisi Hazardous Area Classification menurut ABS (American Bureau of Shipping)?

Tanggapan 1 : (Erwan Saiful – ConocoPhillips)

ABS merefer ke API-RP500 or API-RP-505 (Chapter 2, Section 1, page 51) (ABS
"Guide for Building and Classing Facilities on Offshore Installation",
June 2000)

Tanggapan 2 : (Nanang Jamil – Pertamina)

Pak, ini yang dari API RP. 500 mungkin dapat membantu.

1. UMUM
Tujuan dari klasifikasi area adalah untuk menghindari terjadinya penyalaan dikarenakan terjadinya kebocoran atau adanya zat yang mudah terbakar yang mungkin bisa terjadi sewaktu-waktu pada fasilitas operasi. Untuk itu instalasi perlu dibagi menjadi area berbahaya dan zone-zone, tergantung dari kemungkinan adanya zat yang mudah terbakar dimana peralatan yang bisa menjadi sumber penyalaan disesuaikan dengan zone-zone yang telah ditentukan. Hasil dari klasifikasi ini adalah gambar yang menunjukkan pembagian area menjadi zone-zone.

2. BATASAN
Klasifikasi area ini tidak memperkirakan terjadinya penyalaan zat yang mudah
terbakar karena adanya kebocoran besar yang kemungkinan kejadiannya sangat kecil sekali. Kejadian seperti kasus ini harus dihindari dengan perancangan yang sesuai, kontruksi, pemeliharaan dan pengoperasian fasilitas-fasilitas tersebut.

3. DEFINISI

Zone : Sub-divisi area berbahaya adalah sebagai berikut :

Zone 0 :
Bagian dari area berbahaya dimana zat mudah terbakar ada secara terus menerus
untuk waktu yang lama.

Zone 1 :
Bagian dari area berbahaya dimana zat mudah terbakar mungkin ada pada normal
operasi.

Zone 2 :
Bagian dari area berbahaya dimana zat mudah terbakar tidak mungkin terjadi pada
normal operasi, dan jika ada, hanya untuk waktu yang pendek.

Tingkat Kebocoran (Grade of Release)

Kebocoran yang terjadi bisa bervariasi antara tingkat keseringan dan lamanya
sebagai berikut :

  1. Kebocoran terus menerus : Keberadaan zat mudah terbakar secara terus-menerus.
  2. Kebocoran primer : Kebocoran yang mungkin terjadi pada normal.
  3. Kebocoran sekunder : Kebocoran yang mungkin terjadi pada normal operasi
    dan jika terjadi waktunya pendek.

Ringkasan dari tingkat kebocoran/pembebasan diuraikan pada hal 8 pedoman ini.

Kelas Cairan.

Cairan petroleum secara umum diklasifikasikan sebagai berikut :

  • Kelas 0 : Liquefied Petroleum Gas (LPG)
  • Kelas I : Cairan yang mempunyai flash point dibawah 210C
  • Kelas II : Cairan yang mempunyai flash point dibawah 210C s/d 55 0C
  • Kelas III : Cairan yang mempunyai flash point dibawah 210C s/d 100 0C
  • Unclassified : Cairan yang mempunyai flash point dibawah 100 0C

    Kategori Cairan dan Gas :
    Gas dan cairan petroleum dikategorikan berdasarkan potensi kecepatan penyebaran
    uap ke lingkungan sekitarnya.

    • Kategori fluida A : Cairan mudah terbakar yang terbebas, dimana cairan
      akan menguap secar cepat dan berjumlah banyak sekali. Kategori ini termasuk
      : LPG atau cairan mudah terbakar yang ringan baik dibawah tekanan atau didinginkan.¨Cairan
      mudah terbakar pada temperatur yang mencukupi untuk memproduksi lebih dari 40
      % uap dengan tidak ada input panas dari sekitarnya.

    • Kategori fluida B : Cairan mudah terbakar, tidak termasuk kategori A,
      tapi pada temperatur yang mencakupi untuk mendidih pada saat terbatas.

    • Kategori fluida C : Cairan mudah terbakar tidak termasuk dalam kategori
      A, dan B, dimana bila terbebas berada pada temperatur diatas flash pointnya.

    • Kategori fluida G : Gas atau uap yang mudah terbakar.
    • Gas dan uap bouyan : Gas atau uap yang lebih ringan dari udara dengan
      density pada saat terbebas kurang dari 0,75 relatif pada udara ambient.