Saat ini opini yang berkembang di masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa sumber energi fosil yang kita miliki sangat melimpah dan tidak akan pernah habis. Baru-baru ini, dalam Coal Tech 2003 di Balikpapan (Kaltim Post, 17 September 2003), telah mengemuka suatu upaya menghadirkan batu bara sebagai alternatif baru dalam pilihan utama pembangkit listrik, menggantikan dominasi minyak dan gas bumi. Bukankah batu bara merupakan energi fosil juga?

Saat ini opini yang berkembang di masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa sumber energi fosil yang kita miliki sangat melimpah dan tidak akan pernah habis. Baru-baru ini, dalam Coal Tech 2003 di Balikpapan (Kaltim Post, 17 September 2003), telah mengemuka suatu upaya menghadirkan batu bara sebagai alternatif baru dalam pilihan utama pembangkit listrik, menggantikan dominasi minyak dan gas bumi. Bukankah batu bara merupakan energi fosil juga? Kondisi sebenarnya cadangan minyak dan gas yang ada di Indonesia hanya 1% dari 1.4% total cadangan yang ada di dunia sedangkan untuk batubara cadangannya hanya 3% dari cadangan yang ada di dunia. Sedangkan Indonesia sangat tergantung pada energi fosil, yaitu minyak, gas dan batu bara sebagai sumber energi dimana bila pasokan energi
tersebut terhenti, tentu saja semua aktifitas kita akan lumpuh total. Sehingga jika kita tidak siap dan sadar akan keterbatasan sumber energi fosil yang kita punyai maka Indonesia yang dikenal sebagai negara "exportir", pada
20 tahun mendatang justru akan menjadi negara "importir" minyak. Ironis?

Tulisan ini bertujuan untuk menggugah kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Kalimantan Timur tentang keterbatasan sumber energi fosil yang ada. Sehingga diharapkan masyarakat akan lebih siap dengan berbagai alternatif solusi dalam menghadapi krisis energi 10 atau 20 tahun mendatang. Toh, kita sudah terlanjur manja menggunakan minyak untuk keseharian kita, mulai dari dapur rumah tangga, bahan bakar kendaraan serta penggerak turbin listrik.

Wow, Sebegitu Parahkah?

Menurut Agus P. Sari (Direktur Eksekutif Pelangi), pada tahun 1988 yang lalu,
Indonesia mengeluarkan dana untuk impor minyak sebesar 985 juta dollar AS, namun
pemasukan dari ekspornya masih lebih besar, yaitu 3 milyar dollar AS. Akan tetapi,
dengan kian menipisnya cadangan minyak bumi maka pada tahun 2010 nanti nilai
ekspor minyak akan sama dengan nilai impor. Tahun 2020 diperkirakan Indonesia
akan mengimpor minyak senilai 11 milyar dollar AS, dengan asumsi harga minyak
ketika itu 25 dollar AS per barrel. Dan pada tahun itu Indonesia tidak akan
lagi mengekspor minyak karena cadangan minyaknya telah habis.

Keterangan di atas sejalan dalam suatu wawancara dengan sebuah majalah Dunia
Insinyur, Menristek Ir. M. Hatta Rajasa mengemukakan bahwa sangatlah tidak mungkin
kita melakukan apa yang disebut dengan "pembangunan" tanpa energi.
Tetapi, dalam suatu kalkulasinya ditemukan suatu situasi sangat "serius"
yaitu akan terjadi kesenjangan antara suplai dan kebutuhan energi. Sampai dengan
tahun 2025 nanti, pertumbuhan energi 25%, tapi kebutuhannya mencapai 100%. Tahun
2010, kita akan defisit sekitar 150 juta barrel dan tahun 2020 defisit kita
mencapai 700 juta barel.

Kunci pemecahan dari krisis energi yang akan kita hadapi adalah bagaimana
mempersiapkan mental masyarakat sedini mungkin sehingga akan timbul suatu kesadaran
untuk melakukan penghematan penggunaan energi serta mencoba penggunaan energi
alternatif lainnya seperti memaksimalkan penggunaan energi yang terbarukan mengingat
energi fosil suatu saat akan habis (non re-newable). Berikut 2 pilihan yang
dapat dijadikan bahan wacana, bukan sesuatu yang baru atau "rocket science",
pilihan ini sudah dilakukan oleh sebagian masyarakat kita:

  1. Salah satu bentuk penghematan energi yang bisa dilakukan adalah penghematan
    energi listrik rumah tangga atau perkantoran mengingat krisis energi listrik
    tak mungkin dihindari atau dilupakan. Keluhan banyak orang di rubrik koran selalu
    tidak jauh dari komentar akan minimnya daya dukung listrik dalam kehidupan sehari-hari
    atau "complaint" mengapa tagihan mahal; adalah bukti bahwa listrik
    masih merupakan kebutuhan yang vital serta harus diperhatikan oleh pen-supply
    dan konsumen-nya. Pernah dengar bagaimana hemat listrik di perkantoran? Gedung
    Graha Pangeran Surabaya malah berhasil mendapatkan penghargaan sebagai gedung
    yang hemat energi di tingkat ASEAN dan sekaligus membuktikan diri sebagai gedung
    yang paling efisien menggunakan energi listrik di Indonesia. Gedung ini bahkan
    mampu bersaing dengan 19 gedung se-Asia Tenggara yang diseleksi langsung oleh
    tim penilai dari Brunei Darussalam.
  2. Mengingat Indonesia sebenarnya negara yang kaya akan sumber daya energi terbarukan
    (re-newable), namun sayangnya pemanfaatannya belum maksimal. Energi terbarukan
    merupakan energi yang terbukti ramah lingkungan, bersih dan senantiasa dapat
    diperbarui. Saat ini baru 4,06% energi panas bumi yang telah dimanfaatkan. Sementara
    itu, pemanfaatan energi surya dan mikro hidro, masing-masing baru 0,4% dan 11,76%
    dari semua potensi yang ada.

Perkembangan R&D Energi di Indonesia?

Sebenarnya, kemampuan nasional untuk mengembangkan teknologi bidang energi
cukup besar, baik untuk mencari alternatif energi baru maupun meningkatkan konservasi.
Penelitian-penelitian tentang solar cell, panel surya mikro, fuel cell sudah
mulai berkembang. BPPT telah lama mulai menerapkan energi surya di pedesaan
baik yang sifatnya individual mau-pun hybrid dengan diesel. LIPI bahkan sedang
meneliti chip untuk solar cell dan LAPAN juga sedang mengembangkan energi alternatif
angin. Bersyukur juga kita bahwa kita bangsa yang memiliki alternatif energi
seperti batubara, gas, biomassa, gelombang laut (magneto hydrodynamic), panas
bumi dan juga nuklir. Meskipun kalau dihitung dengan jumlah penduduk kita yang
terbesar no.4 di dunia maka jumlah itu juga terbatas.

Berapa sesungguhnya kekurangan energi listrik nasional? Dalam studi terbaru,
sebagaimana diungkap Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), diperkiraan kebutuhan
listrik terpasang tahun 2015 untuk Jawa-Bali lebih dari perkiraan. Yakni, 32.710
MW. Jadi perlu tambahan 7.625 MW. Karena itu tak mengherankan bila dalam tiga
tahun terakhir krisis listrik makin parah. Sebagaimana pernah diberitakan, kapasitas
listrik Kota Kupang turun 10 MW. Hal itu akibat komponen tenaga pembangkit listrik
sudah tua dan rusak. PT. PLN (Persero) sendiri mendapat tawaran pinjaman dari
sejumlah negara untuk mengatasi kekurangan listrik di 28 daerah di Indonesia
sebanyak 313 MW. Direktur Utama PLN Eddi Widiono menyatakan membutuhkan dana
sekitar 800 juta dolar untuk mengatasi kelangkaan listrik (Suara Merdeka, 4
Juni 2002).

Siasati Dampak Krisis: Batu bara?

Krisis listrik telah menjadi momok yang luar biasa. Tentu masih segar di ingatan
kita, ketika banyak orang bingung kemaren ini, mengapa Amerika "sang negeri
super power" mengalami mati listrik. Krisis listrik akhirnya menghantam
dan mencemaskan masyarakat luas, termasuk dunia industri. Karena itu terlepas
dari dampak negatifnya cukup beralasan bila perusahaan seperti Pura Group Kudus
berencana membangun PLTU yang diproyeksikan menghasilkan 15 MW. Apalagi krisis
itu dibarengi kenaikan tarif secara berkala oleh PLN sampai tahun 2005. Masyarakat
menjerit. Tak berbeda pula dunia usaha, yang mau tak mau harus mengeluarkan
ongkos lebih besar. Padahal, ketika pertumbuhan ekonomi tidak menggembirakan
seharusnya ongkos produksi bisa ditekan.

Contoh industri berikut mungkin akan menarik: Digerogoti tarif listrik PLN
yang terus merayap naik, Pura Group terdorong memproduksi energi listrik. Berapa
daya listrik PLN yang tersedot perusahaan dengan buruh 8.500 orang itu tak diketahui
pasti. Yang jelas, duit yang harus dibayarkan pabrik kertas dan percetakan itu
ke PLN Cabang Kudus berkisar Rp 3 miliar/bulan. Itu paling besar di Kudus. PLTU
berbahan bakar batu bara yang direncanakan Pura berada di Dukuh Kencing, Desa
Jatikulon, Kecamatan Jati, bersebelahan dengan kompleks pabrik. Tak pelak, proyek
PLTU itu dikhawatirkan menimbulkan dampak negatif. Yakni, pencemaran debu dari
pembakaran batu bara dan penggunaan air bawah tanah (ABT) untuk boiler. ”Untuk
mengatasi debu yang terbuang kami akan memasang electrostatic precipitator di
cerobong yang berfungsi menangkap debu ,” kata Public Realtions Pura Group,
Hasan Aoni Aziz.

Untuk mengatasi emisi gas SO2 dan NO2, kata dia, Pura akan menggunakan batu
bara dengan sulfur content kurang dari 1%. Dengan demikian, pembentukan emisi
SO2 bisa diminimalisasi. Juga mencampurkan lime stone (zat kapur) ke dalam batu
bara untuk menangkap SO2. Alat konrol temperatur juga akan dipasang di boiler.
Dia mengemukakan berdasar pengalaman dalam menangani boiler yang digunakan dalam
rangkaian proses produksi, emisi gas buang yang dihasilkan telah memenuhi syarat
baku mutu.

Ketua MBI (Masyarakat Batu bara Indonesia); Firdaus Akmal juga telah memberikan
sinyal bahwa PLTU Mulut Tambang di Berau kelak akan menggunakan batu bara sebagai
bahan bakarnya. Lalu; life after oil (minyak dan gas); akankah muncul batu bara?
Jangan-jangan malah nuklir? Hanya waktu yang mampu menjawabnya, setidaknya yang
harus di "goyang inul" terlebih dahulu adalah kesadaran masyarakat
akan energi fosil yang suatu saat akan habis.