Bagaimana cara pekerjaan seismic di marine??
Pertanyaan : (Gary Wiwaha)

Saya meminta bantuan kepada rekan2 mungkin ada yang mempunyai bahan tulisan
dari Milis Migas Indonesia dan referensi bagaimana cara pekerjaan seismic di
marine??

Tanggapan 1 : (Noor Yuriza)

Pak Gary,
Ada gambaran basic yang cukup menarik di sitenya Schlum
http://www.bgr.de/index.html?/b316/homepage.htm

Kalau rajin bisa coba cari cari di google atau yahoo dibawah bendera PSG, Western,
CGG, Geco Prakla untuk lihat perkembangan yang terbaru ….

Pak Gary perlu tahu yang bagian mana ?, daily operasinya ?, atau perencanaan
survey seismicnya ? , kalau pertanyaannya dipilah mungkin saya atau yang lain
bisa jawab …..


Tanggapan 2 :
(Paul Kristianto)

Dear Mas Gary,
Saya kebetulan dengan back-ground Offshore Seismic dan masih di Gulf of Mexico.
Mungkin anda harus mempersempit scope seismic marinenya. Apakah anda ingin dalam
2-D, 3-D atau 4-D ? Kemudian masih banyak hal yang harus di kupas dalam masing2
struktur tsb.

Saya memiliki film tersebut (made in ‘me’) dengan durasi waktu 28-30 menit
yang kebetulan untuk kegiatan introduction bagi pemula di perusahaan kami bekerja.

Anyawy jika anda tertarik berbicara lebih jauh, maka adalah tidak keberatan
buat saya untuk menerangkannya.

Tanggapan 3 : (Gary Wiwaha)

Trima kasih atas masukannya dari Mas Paul dan Mas Noor.
Saya memerlukan referensi untuk pekerjaan 2D & 3D serta basic operationnya.
Apakah sama halnya seperti pekerjaan di shallow water (transition zone)?


Tanggapan 4 :
(Noor Yuriza)

Mas Gary,
Acquisition di transition zone berbeda dengan di offshore :

  • jaringan survey (spread) : ditransition mirip sama di darat spreadnya
    menetap/ditanam (dipindah pindah sesuai dengan kepentingan), sementara di offshore
    umumnya spread ditarik kapal (kecuali kalau pake obc, tapi biasanya obc cuma
    untuk daerah khusus).
  • seismic source di transition zone bisa dinamit dkk bisa airgun dkk, di
    offshore biasanya airgun dkk
  • seismic receiver ditransition zone bisa geophone atau hidrophone, di
    offshore hydrophone
  • 2D dan 3D dilaut sama aja methodanya (sama sama ditarik kapal) cuma perencanaan
    survey seismiknya beda, pada 3D survey didesain sedemikian rupa agar kapal bergerak
    menyisir seluruh area survey. Sementara untuk survey 3D darat atau transition
    zone , spread digelar dan ditembak per area (ada macam macam modelnya tergantung
    kebutuhan).

Point pertama diatas membuat seismik darat (dan transition zone dan foothill
juga) jadi ribet, tingkat keribetannya sangat tergantung kondisi lapangannya,
kalau di Mahakan (transition zone) misalnya keribetannya datang dari penggelaran
spread di rawa rawa, pindah ketanah keras, pindah kesungai dll. Bisa anda bayangkan
berapa banyak orang harus dikerahkan untuk menggelar dinamit dan geophone, berapa
banyak tambak udang mesti diterabas ……belum masalah orang hanyut, digigit
ular dan dimakan buaya ……belum masalah kabel seismik,,’station unit’ dicuri
orang atau kemasukan air…. belum masalah dikerjar penduduk minta ganti rugi
……… kalau lagi supervisi dikantor bisa marah marah ini kok cuma ‘maju’
10 shotpoint sehari ?, tapi kalau supervisi kelapangan jadi sedih dan terharu
………Itu baru masalah operasional sehari hari, masalah processingnya juga
nggak kalah rame : source dan receiver yang beda beda menimbulkan respon seismic
yang beda, kemudian juga tingkat kekerasan wheathering zonenya juga beda beda
dan mesti dikompensasi dengan bener, semua itu bikin sakit kepala orang yang
memproses datanya ……..

Itu Mahakam, bagaimana kalau di Bolivie dengan bukit bukit dan gunung mencakar
cakar langit, yang mengelar spread harus jago manjat tebing, dan gimana kalau
di basin timan pechora rusia ?, satu survey seismic bisa berlangsung selama
dua musim dingin biar ketebalan es sama semua supaya nggak pusing mengkompensasi
respon seismiknya …….

Acquisiton seismik dilaut jauh lebih sederhana operasinya dibanding di darat
dan di transition zone, spread ditarik kapal dan kapal tinggal mondar-mandir
aja pindah ketempat yang direncanakan. akibatnya orang yang terlibat jadi lebih
sedikit, kalau didarat buruhnya bisa 1000 orang, kalau dilaut 100 atau kurang
juga cukup, toh yang mendeploy spread (streamer) bukan manusia ….. Saat ini
bahkan untuk daerah laut dalam di Afrika sering dipakai enam streamer sekali
jalan dan panjang streamer bisa 10 km ( untuk mengcover target dalam, maklum
lautnya saja kedalamannya 3 km). Akibatnya kerjaan seismik laut bisa selesai
jauh lebih cepat dari seismik darat, dan harganya perkm persegi jadi lebih murah
juga. Jadi nggak heran kalau seismik laut di afrika saat ini bisa luar biasa
luas nya, ibaratnya satu delta Mahakam di 3D seismik semua sekali pukul …..

Ok sekian dulu ngalor ngidulnya, kalau ada pertanyaan detail silahkan, siapa
tau saya bisa jawab ….


Tanggapan 5 :
(Gary Wiwaha)

Terima kasih banget ya atas penjelasannya……
Setidaknya udah ada gambaran dari Mas Noor…
Satu pertanyaan lagi, untuk recording unit tetap memakai SN408UL seperti onshore
seismic kan?

Tanggapan 6 : (Noor Yuriza)

Pak Gary,
SN408UL itu station unit darat, seperti yang sudah diceritakan pak Paul, di
marine kita tidak pake station unit , tapi langsung ke labo (perekam utama).
toh kita pake streamer yang intact, nggak perlu bongkar pasang kayak didarat,
nggak perlu pake segala formasi bintang, formasi paralel dll untuk ngurangi
ground roll, jenis noisenya juga beda …..
Dan untuk masalah source signature, di kapal aja sudah pusing ngestimasinya,
apalagi di darat/transition zone, jadi secara teknis marine lebih ‘mudah’ dan
seharusnya hasilnya jauh lebih bagus …..

Juga masalah processing dari raw qc sampai stacking, dulu memang sering dilakukan
di di kapal sekarang sudah enggak lagi, hasilnya kurang bagus, ibaratnya ikan
jangan dulu dimasak di kapal, tapi cepet cepet disuplay ke darat dan dimasak
sama koki pintar di darat biar enak. Biasanya hasil shooting beberapa hari di
jemput kekapal dan langsung di masukin ke
dedicated center didarat diawasi geophysicist oil comp ( yang umumnya nggak
mau naik kapal berminggu minggu ngetest parameter processing …… )

Saat ini ada teknologi Q-marine dengan jarak antar shot point ( <20 m)
dan jarak antar trace sangat kecil ( <5 m), sehingga fold bisa tinggi sekali.
Maunya sih supaya resolusi seismiknya jadi tinggi. Tapi sejauh ini menurut pengalaman
(sudah pernah dua kali nyoba di afrika) hasilnya tidak sebagus itu, rugi untuk
harga yang lebih dari dua kali lipat seismik ‘normal’. Saat ini kami memutuskan
untuk stay konvensional aja (<6 streamer, 10 km, 25 , dan 12.5) …….


Tanggapan 7 :
(Paul Kristianto)

Dear Mas Gary,
Ini ada secuplik note yang bisa anda baca mengenai marine seismic operation.

Dalam operasi Seismik ada 3 Departemen yang bertanggung jawab :
1. Navigation.
2. Acquisition.
3. Mechanics.

Navigation

Departemen ini bertugas untuk melakukan recording terhadap ‘posisi’ streamer/kabel
yang di tarik kapal dan berisi hydrophone. Ingatlah kabel ini bias sepnjang
6Km hingga 12Km, dan jumlahnya adalah biasanya 8 hingga 10 Streamer (normal
set up untuk North Sea dan West Africa). Umum untuk dilakukan biasanya menempatkan
active Tailbuoy pada akhir dari streamer tersebut (ada yang passive). Pada Tailbuoy
ini dilengkapi dengan perangkat lunak untuk menerima signal satelit (GPS receiver
– SeaTrack) yang kemudian akan direkam Paling tidak harus ada 4 Satelit yang
terlihat dan juga menggunkan base station yang ada di onshore (biasa pihak Oil
Company memberikan pilihan, jika tidak maka kita yang akan menentukan.it depends
on the contract).

Kembali ke awal, bahwa masing masing kabel/streamer harus diposisikan sedemikina
rupa pas dengan kontrak yang diminta. Biasanya adalah 100m separation kemudian
bias 200m. Toh meskipun untuk high resolution seismic (dengan kabel panjang
2,5Km), separation ini bisa ditekan hingga 25m, dan ini sangat berbahaya untuk
dilakukan (ini dikerjakan untuk mengetahui reservoir characterization setelah
3-4 tahun lalu dikerjakan steam ..(? memompa minyak/gas keluar,dengan jumlahnya
lebih besar dari sebelumnya) dalam well-well daerah tersebut, STATOIL &
NORSKHYDRO paling sering melakukan operasi seismik ini. Ini betul2 pekarjaan
challenging untuk orang2 seismik. Nah pengaturan kabel2 ini dalam menyapu daerah
konsesi disebut sebagai coverage yang direntukan oleh bagaimana kabel2 ini bergerak
ketika ditarik kapal. Yang merekan gerakan kabel ini adalah pihak Navigator.
Mereka harus bisa memprediksi gerakan kabel2 tersebut dan juga pada system active
seperation, kita bisa kendalikan Outer
Streamer in – out dengan menggunakan active deflector (only Schlumberger – WesternGeco…Monowing*),
dengan prinsip kerja persis seperti sayap pesawat terbang yang mana bisa kita
kendalikan. Jangan lupa ada yang passive dan anda tidak dapat mengendalikan
(this is for old style.)

Kadang2 kita juga menempatkan FrontBuoy (semacam Tailbuoy) pada front end Streamer
(seperti yang saya lakukan saat ini). Jelas dengan Active Buoy (GPS receiver).

Keterangan untuk Navigation masih banyak, namun sekian saja dulu.

Acquisition

Departemen ini bertanggung jawab terhadap rekam seismic, kabel dilaut (dan
peralatan yang ada bersertanya), source controller, deployment cable and semua
peralatan elektronik yang berhubungan dengan kable (active monowing as well,
untuk electronicnya).

Harus diperhatikan bahwa Streamer tsb dibagi2 atas section dengan panjang 100m.
Section inilah yang berisi hydrophone dengan setiap group hydrophone dengan
lainnya berjarak 12.5. Setiap 2 sections, akan kita letakkan dengan Bubble atau
Module yang berfungsi untuk merubah signal analog dari hydrophone menjadi digital.
Didalam bubble ini proses re-sampler itu terjadi dan melakukan apa yang sering
kita dengan denga Nyquist Frequency. Bisa 2ms, bisa 4ms bergantung dengan kontrak
yang diminta. Setipa hari harus dilakukan apa yang disebut dengan Instrument
Test dan harus pass semua (bergantung dari manufacturenya). Kemudian ada Start
of Job test dan End of Job. Kemudian hal yang lain adalah bahwa setiap 3 sections
kita letakan Bird. Device ini adalah untuk membuat kabel bisa berada pada kedalam
yang kita inginkan (6 meter untuk daerah ASIA, 7 meter untuk North Sea dll)
hal ini bergatung pada kedalam target record yang kita inginkan. Semua bergantung
pada frequency berapa yang kita harapkan bisa terekam signal seismic itu. Jika
terlalu shallow, maka anda tidak akan mendapatkan signal tersebut. Kemudian
pada front end, mid-streamer & far-end) streamer kita taruh apa yang disebut
dengan Sonardyne/Pingger. Peralatan ini adalah milik Navigation, yang bertugas
untuk mengetahui ketepatan separation kabel. Bekerja berdasarkan Ultrasonic
(ping…ping..& ping.). Sehingga dalam suatu coverage (kembali sedikit ke
Navigation), Client biasanya akan menentukan Coverage froup 1 (front end), group2
(mid-streamer) dan group 3 (far-end) bagus atau tidak bagus (yang terakhir bisa2
Infill Line, or worse reshoot !!)

Melepas kabel (deployment) bisa memakan waktu 3-4 hario bergantung pada : panjang
kabel, cuaca, problem yang timbul dari peralatan2 electronicnya, separasi yang
tidak menguntungkan dll (saya pernah mengalami 1 minggu untuk ngelepas kabel
ini 6 x 8km North Sea job).

Dalam recording tugas Acquisition berfungsi untukQC Raw Seismic Data yang bisa
dilakuan hinga Stacking proses oleh Departemen ini (orang processing geophysics
tahu tentang hal ini)

Source Controller yang dipegang oleh Acquisition adalah untuk Start the AirGun,
online controlling..bisa NFH (near field hydrophone) DT (depth Transducer),
Sensor Return dll. Dia harus bisa dan tahu problem yang mungkin dan sudah terjadi
dalam suatu shot (airgun). Mungkin ada Air Leak, Bad Sensor Return, Bad NHF
dll. Air Gun ini diletakkan pada kedalam tertentu (dan juga ditarik dengan kapal).
Ada 8 Gun per-subarray (2 clusters per subarray), biasanya ada 2-3 sub-array
per side. Jadi total Port Side dan Starboard Side adalah 48 Guns. Bergantung
pada kontrak. Mereka harus diledakkan secara bersama2 dengan maintain pressure
2000 psi (+/- 10%). Jika satu gun terlambat meledak Timing Error atau tidak
meledak Misfire dan atau meledak tak beraturan Auto Fire. Semua yang saya sebutkan
ini adalah tidak bagos shotnya (Bad Shot)

Dalam Source Controll ini, nantinya akan kita kenal dengan SSE. Source Signature
Estimation atau juga sering disebut Far Field Signature. Ini adalah estimasi
Signal yang akan masuk ke bumi. Untuk melakukan hal ini adalah sangat banyak
hal yang harus dilakukan dan besar biaya yang dikeluarkan. Orang2 di Geofisika
Processing melakukan Deconvolution pada dasarnya adalah untuk mecari sedemikian
rupa bentuk Wavelet sebelum masuk kebumi (pada dasarnya yang kita tahu adalah
bentuk wavelet yang telah melalui lapisan bumi dan sudah mengalami Konvolusi).

Demikian dulu untuk Acquistion.

Mechanic

Mereka bertanggung jawab terhadap Compressor yang bekerja untuk menghasilkan
2000 psi yang di salurkan ke Air Gun. Maintenance untuk masing2 Air Gun, Maintenance
untuk Monowing and any deflector system dan juga bersama sama Acquisition bertanggung
jawab saat deployment. Biasanya untuk kerjaan yang agak keras, adalah milik
Mechanic. Untuk Monowing itu sendiri yang lebarnya sekitar 2m dan panjang sekitar
8-10m dengan berat 1-2 ton (I am guessing) yang pasti bukan hitungan kilogram,
ada pack yang berbeda2 untuk diperiksa dan dijaga. Hydraulic Pack & battery
Pack, ditambah dengan Towing Harness…

Well sekian saja dulu untuk Mechanic.

Tanggapan 8 : (Andi Mannappiang)

Saya ingin menanyakan mengenai pemrosesan data seismic Marine, setahu saya
akan berbeda dengan pemerosesan seismik Darat. Hal-hal apa yang mesti diperhatikan
dalam Pemrosesan seismik Marine?

Tanggapan 9 : (Noor Yuriza)

Berikut ini ada urutan sederhana processing data marine (3D):

REFORMATTING
– Reformat to processing format
– Resampling
– Traces edition
– Merge with navigation data (semacam geometri assignment untuk 2D)

PRE-STACK PROCESSING
– Binning
– Spherical Divergence Correction
– Filtering (Low Cut, FK, antialias dll)
– NMO
– De Q
– Demultiple
– Amplitude Corr
– Deconvolution
– DMO
– Migration
– Stack
– Migration
– Stack

POST-STACK PROCESSING
– Filter, gain dll

Keterangan :

  • Binning bisa macam macam komprominya : 1/4 trace tetangga ikut misalnya,
    tergantung hasil shooting.
  • NMO bisa dilakukan berkali kali tergantung kesulitan data, konvensionalnya
    dua kali sebelum DMO, satu kali sesudah DMO dan satu kali sesudah Migration.
    Pada saat ini kita sering memakai substack angle 0-20, 20- 35, 35-60, untuk
    study efek avo/ava. Untuk substack angle terutama untuk angle besar terpaksa
    harus pakai NMO yang bisa mengatasi efek anisotropi perjalanan gelombang alias
    efek strectching, biasanya kita sebut NMO orde ke empat karena mengambil orde
    keempat dari persamaan shuey ….
  • Demultiple juga bisa dilakukan berulang ulang dengan metoda berbeda tergantung
    kekekehan multiplenya (yang paling canggih datanya di tansfer ke domain tau
    phi, karena pada domain ini diharapkan data bisa terpisah dari multiple, sehinga
    multiplenya bisa dihajar tanpa memakan data) " Ada banyak metoda Deconvolution
    yang bisa dipakai (ada spike, ada gap, ada surface consistence dll " DMO
    ada berbagai metoda juga
  • Migration ada berbagai metoda atau bisa juga langsung ke PSTM dari prestack
    awal

Semua keputusan parameter/metoda yang diambil tergantung hasil test dan pengalaman
lapangan/interpretasi si empunya data alias geophynya oil comp. Geophynya oil
comp bisa saja bilang jangan pake FK karena FKnya makan fault
saya, walaupun di kontrak awal dicantumkan processingnya pake FK ……

Note :
Perbedaan besar antara data darat dan data laut adalah : jenis noise dan kompensasi
statik.
Di darat ada ground roll frekuensi rendah tapi sangat kuat (bisa dipotong pakai
formasi akuisisi darat sebagian), dilaut tidak ada. Dilaut tidak ada kompensasi
statik (kepusingan besar data darat !!), kalaupun ada kantong kantong gas dangkal
yang harus dikompensasi kesulitannya biasanya tidak besar. Setannya data laut
adalah water bottom multiple, sulit sekali mengatasinya tanpa memakan data sendiri,
terutama untuk laut dalam seperti di afrika barat, multiple pertamanya malah
persis jatuh di reservoir utama, menjengkelkan sekali …….

Sekian dulu semoga membantu …..

Tanggapan 8 : (Paul Kristianto)

Dear All,
Untuk Marine Seismic Processing jelas akan anda perbedaan dengan Land Seismic
dalam pemrosesan data. Di bawah ini saya cantumkan step flow yang pada umumnya
di kerjakan (Full OnBoard Processing).
1. Acquisition & Acq. QC
2. Input (Raw Data)
3. Signal Processing
4. Geometry (Navigation Merge …always)
5. Statics
6. Resample & data Reduction (since on the raw we have 2.0ms sample while
on the processing we should changed to 4.0ms sample)
7. Noise Attenuation
8. Interpolation.
9. Deconvolution
10. Multiple Attenuation
11. Velocities Analysis
12. Pre-Stack Regularisation
13. DMO
14. Stacking
15. Migration
16. Filtering (just a cosmetic, I would think)
17. Scalling
18. Display & Visualitation
19. Output (Final Migration)
Step di atas yang kami gunakan saat ini untuk PEMEX – Gulf of Mexico dan kelihatannya
sih nggak banyak berubah jika dibandingkan dengan job2 yang lain. Ok that’s
all, hope this will answer your question.

Tanggapan 9 : (Ardian Nengkoda)

Pak Paul,
Ikutan bertanya. Di Majalahnya WorlOil yg baru, ada artikel tentang "what’s
new in seismic sensor technology". Disitu disebutkan tentang fiber optic
sensors yg dibuat menggunakan FBG Fiber Bragg Gratings, yg selain sebagai sensor,
telemetry path juga multiplexing.

Sejauh ini aplikasinya sdh sejauh mana yaa?

Tanggapan 10 : (Paul Kristianto)

Mas Ardian,
Sayang nggak tahu terus terang dengan apa yang anda sebutkan. Saya belum pernah
baca World Oil, cuma langganan dengan Leading Edge & SEG journal. Sorry
untuk yang ini.

Tanggapan 11 : (Noor Yuriza)

Ardian,
Logisnya fiber optic bisa digunakan sebagai kabel penyalur data, mengantikan
kabel elektronik, jadi lebih ringan, lebih muat banyak tidak ada crosstalk,
tidak kena korosi dll, jadi kalau mau di gelar dibawah air sebagai obc lebih
reliable.
Sebenarnya ide pengukuran geophone/hydrophone memakai metoda lama dan baru lebih
kurang sama saja : yaitu mengukur displacement suatu badan relative bergerak/berubah
terhadap suatu badan acuan yang relative rigid/diam. Dulu
mungkin sensornya piezo electrik dsbnya itu saya sudah lupa pelajaran instrument
18 tahun yang silam, sekarang yang canggih ya pake sinar terarah (laser). Fiber
optic memungkinkan penggunaan sinar terarah, sehingga displacement bisa dideteksi
dengan mengukur pola interferensi antara sinar yang dipancarkan badan rigid/diam
dan badan berubah/bergerak, sebenarnya cara pengukuran seperti ini juga sudah
diajarkan disekolah dari 18 tahun yang lalu (buat yang ngambil pelajaran instrument
pengukuran dengan metoda optik). Tapi mungkin baru bisa jadi barang praktis
(cukup ekonomis) akhir akhir ini saja.
Terus terang saya sudah tidak pernah kelapangan acquisition lagi, jadi tidak
tahu perkembangan terbaru peralatan yang dipakai.

Tanggapan 12 : (Andi Mannappiang)

dear Pa’ Paul Kristianto
Terimakasih, bapak merespon pertanyaan saya. Yang saya ingin tanyakan lebih
lanjut mengenai proses static dan interpolation yang dilakukan pada data marine,
kebetulan saya menggunakan software Promax. Mungkin bapak bisa memberikan sedikit
penjelasan, karena dilaut topografinya datar-datar aja, apakah perlu pakai Statik
? Dan interpolasi itu apanya yang di iterpolasi ?
Terimakasih banyak sebelumnya, atas penjelasan bapak.

Tanggapan 13 : (Paul Kristianto)

Dear Mas Andy,
Ini dia yang juga saya kagetkan ketika saya bertemu dengan static corection
di marine. Dulunya saya tidak melihat hal ini digunakan (baik dalam TA teman2
dahulu ketika kuliah, dan juga staf pengajar).

Static corection digunakan ketika Pasang dan Surut daerah tersebut juga besar.
Ketika kami melakukan kerjaan di West Africa, hal ini sudah menjadi lazim untuk
digunakan. Ini mungkin juga di akibatkan oleh Filter Delay. Kemudian juga kalau
kita mengerti bahwa kedalaman streamer dan source itu adalah berbeda.

Kemudian untuk interpolation, saya pikir hal ini cukup lazim. Jika kita membayangkan
sail line – sail line dalam suatu daerah. Maka untuk mendapatkan resolusi yang
baik, "terpaksa" kita membentuk trace2/sail line yang baru yang bernilai
diantara sail line sail line yang memang sudah ada sebelumnya. Dengan mengasumsikan
bahwa diantara sail line – sail line tersebut tidak ada fault …..namun kontinyu.

Oh ya, jangan lupa topografi laut nggak selalu datar2. Jika anda pernah kerja
untuk daerah North Sea (diatas 60° lintang utara), Barentz Sea. Anda akan
cukup melihat adanya Graben yang cukup luas. Juga mungkin anda bandingkan untuk
daerah di Palawan Island di West Phillipine.

Anyway, hanya itu yang mungkin bisa saya bantu. Saya kira saya nggak begitu
tahu banyak soal processing jika dibandingkan sama teman2 yang lain. Mungkin
ada jawaban yang lebih baik dari saya punya.

ps : Terus terang step2 yang saya sebutkan, kadang-kadang tidak digunakan dari
satu job ke job yang lain (tapi bukan untuk yang ‘main process’)

Tanggapan 13 : (Noor Yuriza)

Pada dasarnya koreksi statik digunakan agar barisan receiver dan barisan source
berada pada tempat yang rata (sama tinggi), sehingga setelah nmo correction
cdp/cmp gathernya jadi berjajar lurus (paling kurang untuk angle <30 degree).
Untuk shooting di darat ada banyak masalah yang membuat perlunya diadakan koreksi
statik : misalnya kompensasi untuk receiver adalah topographi dan wheathering
zone, dan kompensasi buat source dalah lubang dinamit yang tidak sama dalamnya
ditambah masalah weathering zone juga. Si weathering zone sendiri kalau berlapis
lapis susah pula memodelkannya. Akibatnya data kompensasi ini sangat masif dan
bisa mengandung banyak error (wong semuanya
harus diukur manual dilapangan : regu survey yang ngukur elevasi, regu drilling
yang ngukur kedalaman lubang dinamit, regu tembak yang ngukur uphole time, )
sehingga kompensasinya jadi banyak errornya juga.

Karena itu statik laut jarang disebut sebut, apalagi kalau shooting 2D, logisnya
(kecuali ada masalah) tide tidak terlalu menganggu karena toh semua anggota
suatu cdp gather tertentu ditembak pada waktu yang hampir bersamaan (pengaruh
tide kecil). Tapi untuk 3D biasanya cara penembakannya keliling (bukan zigzag),
mestinya tide akan berpengaruh karena anggota bin (cdpnya 3D) bisa datang dari
sail line yang hari tembaknya bahkan bisa beda seminggu. Koreksi statik tide
ini tidak berupa data masif tapi lebih berupa model pasang surut laut di daerah
itu, jadi tidak bikin pusing.

Cacat sea bottom ( ada lapisan lumpur atau karang yang sangat beda kecepatannya
dengan tetangganya) kalau dianggap mengganggu perjalanan gelombang kadang kadang
di kompensasi juga dengan cara statik koreksi, tapi sekali lagi ini bukan untuk
setiap kasus.

Topographi dasar laut kenapa harus dikoreksi statik ?, toh receiver dan source
kita tidak ditanam didasar laut (kecuali untuk obc) justru bentuk dasar laut
ini adalah salah satu hal yang mau kita imaging (terutama untuk HR seismik supaya
rig jangan masuk jurang dasar laut, atau dididikan diatas pockmark tidak stabil).

Sayang sekali kalau kita perlu statik koreksi karena filter delay nggak jalan
atau karena streamer kendor (sehingga receiver tidak sama tinggi), artinya mekanisme
tailbouy dan birdnya nggak bagus dong ?, lha katanya sekarang sudah pada pake
motor sehingga bisa jaga streamer biar nggak kendor ?. atau streamernya kepanjangan
sehingga ekornya tenggelem ?. Wah kalau ketahuan yang punya gawe bisa bisa mereka
ganti kontraktor nih ……. sorry becanda …… saya bukan ahli akuisisi kok…..
cuma suka ngomong doang ……..

Tanggapan 14 : (Andi Mannappiang)

Terimakasih, Ibu Yurisa,
untuk pemerosesan data seismik saya baru belajar, kebetulan saya pakai ProMax,
mungkin ibu punya file- mengenai tip atau trik menghilangkan noise multiple
untuk data marine dan penjelasan lebih detail mengenai geometry acuisisi dilapangan.

Tanggapan 15 : (Noor Yuriza)

Dulu waktu saya masih hands on di processing kita sering pakai gap decon (predictive
deconvolution) kalau mau menghilangkan multiple.

Seingat saya ada tiga parameter yang dibutuhkan : panjang operator, panjang
gap (dari 2 – 120 ), time gate

Panjang operator dan panjang gap bisa diperkirakan dari hasil autocorrelation
seismic. Hasil autocorrelasi biasanya kan spike besar di zero dan kemudian ada
ekornya, spike besar itu logisnya kan data kita kemudian ekornya yang berulang
ulang itu logisnya adalah multiple atau noise. Panjang operator adalah seberapa
panjang ekor yang ingin dipotong (potong yang kuat kuatnya aja, yang lemah biarin
nanti juga hilang kalau distack), dan gapnya adalah panjang spike pertama. Sebaiknya
jangan ganas dulu, biarin aja pake gap yang agak longgar. Kalau time gate rule
of thumbnya sekitar 8 kali panjang operator …. Biasanya sih kita test dulu
parameter parameter ini bersama si empunya data ….. trial and error lah

Saat ini ada radon trasfom untuk menyikat multiple, data seismic (domain time
dan meter) di transfer dulu ke domain theta rho (alias tau phi), diharapkan
di domain ini noise yang terstruktur (seperti multiple) bisa misah dari data
sehingga bisa dipotong mirip dengan penggunaan filter FK untuk dipping noise.
Saya sudah keburu loncat ke Total waktu teknologi ini
keluar, jadi nggak punya hands on experience, nggak punya kiat operational pemilihan
parameter.

Untuk onboard processing saya rasa kita longgar longgar aja dulu, nanti kalau
ganas ganas banyak makan data kan bisa dimarahi sama si empunya data, kecuali
si empunya data ikutan ngetest. Anggap saja sebagai QC untuk masalah masalah
besar (ya semacam quick look lah). Sebagai si empunya data tempat kerja saya
sekarang rada konservative, tidak menekankan onboard processing lebih suka processing
center darat biar agak lama ngetestnya, dipandang pandang dulu, di’bersilat
lidahkan’ dulu sama geophy expert, baru diputuskan parameter parameter nya.

Sekian dulu semoga menjawab.