Telah sering saya baca milis bicara tentang process, tentang vessel, kali ini
saya mengundang para pakar dan praktisi sipil untuk bicara. Banyak lokasi proyek2
MIGAS yang berada di daerah dan tanahnya disebut sebagai PEAT
Pertanyaan : Suparman

Telah sering saya baca milis bicara tentang process, tentang vessel, kali ini
saya mengundang para pakar dan praktisi sipil untuk bicara. Banyak lokasi proyek2
MIGAS yang berada di daerah dan tanahnya disebut sebagai PEAT.
Ada suatu proyek dengan type tanah peat, mereka memasang kordoroy sampai tumpuk
4 M sebagai fundasi alhasil tetap tenggelam. Ada yang punya pengalaman dengan
fundasi didaerah Peat Soil??

Tanggapan 1 : Ismail Umar

Mas (atau Akang sih) Suparman,
Kalau saya nggak salah duga, yang dimaksud dengan PEAT oleh mas Suparman mungkin
tanah gambut ya?

Saya kebetulan bukan orang civil tapi juga kebetulan pernah bekerja pada lapangan
migas yang bergambut setebal kurang lebih 12 meter hampir diseluruh area konsensi
perusahaan tersebut. Lokasinya di Selat Panjang di bawah atau bagian selatan
Riau Daratan.

Di atas lahan bergambut tersebut kami pernah membangun kantor, mess, Mushalla,
pondasi rig, jalan, dll lain-lainnya.

Untuk pondasi rig kami menggunakan piling yang cukup (sangat) dalam menggunakan
pipa sedangkan untuk bangunan lain kami menggunakan piling kayu. Baru diatas
piling ini kami bikin skid untuk menarok bangunan di atasnya. Begitu pula untuk
process equipment atau facilitas produksi, kalau bebannya terlalu berat (dari
hitungan) kamai gunakan piling besi selebihnya piling kayu.

Sedangkan untuk jalan, jetty, dan lay down (open storage) area kami menggunakan
anyaman kayu korodorai yang dianyam dengan kawat 5 mm secara keseluruhan. Dengan
demikian hamparan kayu kordorai ini seolah-seolah mengapung di atas gambut –
seperti rakit lah kurang lebih. Dengan demikian beban yang beratpun dapat melewati
jalan tersebut. Kami pernah waktu itu mendatang moveable (truck) work over rig,
kalau nggak salah ingat, beratnya 75 ton (atau kapasitasnya yang 75 Ton). Pokok-e
itu work over rig truck tidak ngejeblos ke dalam gambut dan naik ke pondasi
rig dengan selamat.

Demikian Mas Suparman, mungkin teman2 CPI di Riau dan Petronusa di Selat Panjang
bisa menambahkan lebih detailnya.

Buat teman2 dari civil tolong analisa teoritisnya dong, karena selama ini karena
perusahaannya kecil – perkerjaan ini dikerjakan oleh orang isntrument yg terorinya
tentang ini kagak cukup atau kagak ada. Dibantu vendor sipil juga sih padawaktu
itu, cuman kagak tahu benar salah nya?


Tanggapan 2 :
Bambang Purnomo Sidi

Pak Suparman,
Mungkin sekedar informasi yang pernah saya ketahui, PEAT (Tanah Gambut) memiliki
kadar air dan pori yang cukup tinggi karena karakteristik tanah terdiri dari
material organic.

Pembangunan di daerah ini untuk mendapatkan stabilitas tanah yang baik membutuhkan
waktu yang relative lama (cara konvensional), yaitu dengan pre-loading. Salahsatu
alternatifnya dengan membuat aliran vertical/horizontal drainase pada tanah
gambut itu sendiri selama proses pre-loading berlangsung. Pre-loading dengan
drainase ini dimaksudkan/ditujukan air yang termampatkan selama proses konsolidasi
lebih cepat teralirkan sebagai akibatnya tanah akan mengalami penurunan (settlement).
Penurunan akibat pre-loading ini diharapkan dapat mengurangi penurunan bangunan
nantinya.

Besarnya pre-loading ini tergantung pada pembebanan bangunan yang akan diterima
tanah nantinya serta penurunan bangunan yang diizinkan tentunya.

Proses drainase dapat dibantu dengan pembuatan sumuran-sumuran yang berisi
material sangat permeable (kerikil, pasir kasar, kerakal) atau dengan bahan
sintetis yang telah banyak digunakan.

Diharapkan dengan proses drainase seperti ini maka tanah akan cepat lebih stabil
dan settlement yang akan datang tidak melebihi batas-batas yang telah ditentukan.

Tanggapan 3 : Rachmat Hendrawan

Pak Suparman,
Ijinkan saya utk berbagi pengalaman tentang konstruksi di atas lahan gambut,
kebetulan saya pernah terlibat dalam pembangunan Palm Oil Mill utk lahan perkebunan
kelapa sawit di Simpang Kiri, Sungai Guntung, Kateman Indragiri
Hilir, Riau.

Gambaran singkat metoda yang kita lakukan untuk pembagunan proyek di atas adalah
dengan Reklamasi dan Pemasangan Drain Pipe pada area gambut. Sebelum kita lakukan
reklamasi pada area pembangunan terlebih dahulu kita bersihkan
semua bongkahan/potongan kayu yang tertimbun pada lapisan gambut sebagai akibat
penebangan diarea yang akan kita bangun. Setelah itu lakukan soil investigation
utk mengetahui parameter tanah serta kedalaman lapisan gambut/peat dibeberapa
titik. Kemudian kita lakukan reklamasi/penimbunan pasir diseluruh area yang
akan kita bangun, reklamasi ini dilakukan
perlapisan setiap 1 meter. Pada lapisan satu meter pertama kita pasang DRAIN
PIPE dengan jarak setiap 50 cm. Drain pipe ini terbuat dari material khusus
yg kedap air dan flexible. Tujuan dari pemasangan drain pipe ini adalah untuk
memberikan jalan air untuk bisa keluar dari lapisan gambut keatas permukaan
pasir melalui drain pipe yang kita pasang. Air tersebut dapat
keluar setelah terbebani oleh timbunan pasir yang kita timbun diatas lapisan
gambut.

Proses ini akan memakan waktu cukup lama tergantung dari tebalnya lapisan gambut
yang dan reklamasi pasir yang dilakukan. Soil investigation akan dilakukan kembali
utk mengetahui apakah parameter tanah pada area yang sudah reklamasi tsb sudah
cukup memadai atau sesuai dengan specification. Jika sudah, maka kontruksi tiang
pancang bisa dilakukan seperti dilahan biasa.Demikian pencerahan dari saya,
jika ingin lebih detail silakan japri saja.

Tanggapan 4 : Bobby Pramayudha

Pak Suparman,
Kebetulan yang diceritakan pak Umar Ismail tsb, saya terlibat langsung juga
dalam mendesain pondasinya untuk beberapa tempat di open area, diesel engine
foundation dan rig foundation kira2 th. 96 – 97 an. Benar yang dikatakan pak
Ismail bahwa kita mengandalkan pondasi kayu dolken yang disebar diarea yang
kira2 akan dibebani dengan beban yang cukup berat dari tempat yang lainnya.

Dalam mendisain pada waktu itu kita mengandalkan skin friction dari kayu2
dolken tsb. Karena skin frictionnya relatif kecil maka akibatnya jarak-jarak
kayu-kayu dolken tsb juga relative cukup rapat sehingga kita betul-betul juga
mempertimbangkan efesiensi dan defleksinya. Untuk tempat-tempat yang tidak bisa
dihindari kita campur dengan pondasi dari tubular pipe kalo nggak salah 12 inch
sampai pile refusal. Dan khusus untuk pondasi rig kita mampu menahan beban 75
ton selfweight + kira2 150 ton pada saat operation.

Sedangkan untuk tempat-tempat yang tidak menggunakan piling sama sekali, sedapat
mungkin kita coba ratakan beban diatasnya melalui kayu-kayu kordorai sehingga
masih mampu ditahan oleh bearing tanah dengan safety factor 1.25 dengan pertimbangan
beban-beban tsb tidak permanen Semoga bermanfaat

Tanggapan 5 : Tata Peryoga

Masalah utama di areal peat (gambut) yang utama adalah sifatnya yang sangat
compressible dimana lapisannya akan memiliki potensi settlement (penurunan)
yang sangat besar ketika dibebani di atasnya. Semakin tebal lapisan gambutnya,
semakin besar settlement yang dapat terjadi.

Gambut di Indonesia (contoh Kalimantan Tengah) merupakan salah satu daerah
yang memiliki lapisan gambut yang besar di dunia (s.d 15-20m).

Nah, metode2 aplikatif yang dapat diterapkan berkaitan dengan konstruksi suatu
struktur di atasnya akan sangat bergantung pada beberapa aspek, misalnya tebal
gambut, strength lapisan tanah di bawah gambut, sifat konstruksi di atasnya,
dan tentu saja properties dari peat itu sendiri.

JIka lapisan gambutnya cukup tipis, 0-2m, cara yang paling gampang adalah dengan
membuang atau mengupas lapisan gambut tersebut dan menggantinya dengan material
yang lebih baik. Jika kedalamannya tidak terlalu dalam (3-4m), konstruksi dengan
menggunakan cerucuk kayu (dolken atau curdoray) dapat pula menjadi pilihan.
Sedangkan jika lapisan gambutnya sangat dalam/tebal, maka konstruksi dengan
tiang pancang maupun dengan menggunakan material alternatif yang ringgan seperti
EPS (Expanded Polyesthyrine) dapat menjadi pilihan. Namun tentu kita harus pula
memperhitungkan segi biayanya pula.

Settlement pada gambut dapat pula di percepat dengan melakukan preloading ataupun
dengan menggunakan system vertical drain (PVD, sand drain, etc.).

Metode2 aplikatif sebagaimana yang diceritakan oleh teman2 milis yang lain
tentu saja dapat dipilih jika masalahnya sesuai dan telah melakukan analisis
mendalam berdasarkan soil investigation yang baik serta dengan menggunakan pendekatan
yang tepat. Saat ini telah banyak software yang dikembangkan untuk dapat memperhitungkan
besarnya dan lamanya settelemnt yang akan terjadi berdasarkan karakteristik
lapisan gambut setempat.

Jika ada yang berminat dapat menghubungi Pusat Litbang Prasarana Transportasi
di Ujung Berung Bandung pada nomor 022-7811883 pada Balai Geoteknik, mereka
sepengetahuan saya pernah menerbitkan Manual untuk penyelidikan tanah pada tanah
gambut.

Demikian informasinya semoga cukup membantu.

Tanggapan 6 : Johannes Sidabutar

Sedikit saya mau menambahkan,
Dari keterangan Bapak Suparman ada yang kurang diinformasikan yaitu luas lokasi,
ketebalan tanah peat(gambut = rawa-rawa), dan bangunan apa saja yang mau dibangun,
dan juga equipment apa saja yang mau diletakkan atau dilewati di lokasi tersebut?

Karena kita menghitung beban berdasarkan beban tetap maupun beban bergerak.
Dari sini kita dapat menghitung daya dukung tanah yang dapat menahan beban yang
ada, dan pondasi apa nantinya yg cocok untuk dipakai di lokasi tersebut.

Untuk membangun seperti mess kantor mushalla atau bangunan civil seluruhnya
cocok seperti apa yang dikatakan oleh Bapak Ismail Umar yaitu menimbun tanah
di lokasi yg mau dibangun lalu pondasinya menggunakan piling kayu. Tetapi bisa
juga menggunakan piling beton untuk bangunan konstruksi yang bertingkat Dan
diatasnya dibuat skid untuk bangunan.

Hal yang sama juga dapat dilakukan dengan pondasi rig. Apabila menurut hitungan
terlalu berat maka dapat digunakan dengan piling beton untuk dapat menahan beban
yang ada. (Ini biasanya dilakukan untuk kontruksi yang beban tetap maupun beban
berjalannya besar)

Hanya untuk moveable (truck) work over rig itu kapasitasnya yang 75 ton bukan
beratnya 75 ton, mengingat daya dukung tanah yg setebal 12m pasti tidak mampu
untuk menahan beban yang seberat 75 ton walupun sudah digunakan anyaman kordorai
setebal 5 mm. Dan sudah pasti truck tersebut dapat lewat walaupun agak sedikit
bergoyang goyang diatas jalan tersebut (bukan begitu Pak Umar?)

Kebetulan saya pernah melakukan pembangunan bangunan rumah dan ruko menimbun
rawa-rawa seluas 30 ha dengan ketebalan 4m. Dimana untuk membangun rumah hanya
menggunakan piling kayu dan untuk ruko digunakan piling beton (karena ini bangunan
konstruksi yg bertingkat dan mempunyai beban tetap yang berat).Dan sampai sekarang
ternyata tidak ada penurunan (settlement) dan juga kendaraan yang bergerak tidak
ada yang amblas sama sekali.

Jadi secara keseluruhan tergantung dari beban apa saja yang akan di daya dukung
oleh tanah, sehingga konstruksi pondasinya dapat didesain

Tanggapan 7 : Ismail Umar

Pak Johanes dan Pak Suparman,
Karena Pak Bobby Pramayudha sudah menjelaskannya dengan pendekatan civil, saya
hanya menambahkan sedikit betapa gambut atau peat yang saya maksudkan di bawah
sangat-sangat dalam sekitar 12 meter tebalnya (dari hasil soil test waktu itu).
Lha, kok jadi cerita pengalaman, maaf nih Pak Suparman – alih mencerahkan malah
mungkin bikin bingung 🙂

Bakal tidak ekonomis kalau gambutnya dipotong atau dipapas mengingat panjang
jalan kurang lebih 5 km dengan lebar 3 – 4 meter dan kedalaman seperti itu.

Jadi kayu kordoroi (atau dolken kata Pak Bobby) disusun dua lapis kayak anyaman.
Lapis bawah dan atas ukuran diameter 20 – 30 cm. Lapisan bawah ini lebih kepada
memadatkan lahan gambut, sedangkan lapisan atas berfungsi sebagai rakit tadi
yang mana antara satu kayu dengan kayu yang lain diikat dengan kawat 5 mm kayak
bikin tikar lampit. Dibagian atas sekali baru dikasih jalur ban 2 x lembar papan
dengan ketebalan 5 cm di dua sisi roda. Memang pada saat mobil rig masuk jalannya
melesak tapi karena kayu-kayu nya saling terikat dari jetty sampai pondasi rig
dan mobil tetap bergerak sehingga selamat deh sampai tujuan? Setiap 6 bulan
– 1 tahun kita melakukan maintenance jalan kayu ini dengan mengganti kayu/papan
yang hancur, pecah, atau putus.

Saya sampai sekarang juga nggak habis pikir, kok bisa, apakah dayu apung yg
diakitkan oleh rakit kordoroi ini lebih berperan dari pada daya dukung datang
tanah atau gambut? Mungkin teman2 di civil bisa menjelaskan? Monggo Pak Bobby!

Tanggapan 8 : Errol

Untuk areal yang luas, biasanya dengan cara memperbaiki areal tersebut dengan
cara dikupas/digali kemudian galian tersebut diisi dengan lapisan tanah/pasir
yang lebih baik, yang mana kemudian tanah yang telah diganti tersebut dipampatkan
dengan diberi beban diatasnya berupa tumpukan pasir/tanah selama jangka waktu
tertentu. Untuk mempercepat pemampatan lapisan tanah, ada beberapa cara yang
dilakukan yaitu ada yang menggunakan tiang pasir (vertical sand drain, contohnya
pada proyek EXOR I di Balongan) yang dipasang pada setiap jarak tertentu dan
ada juga yang menggunakan semacam bahan sintetis yang dipasang vertical juga
yang jaraknya tergantung kebutuhan (biasanya sekitar 1m) yang dikenal dengan
nama vertical wick drain. Penggunaan vertical wick drain ada juga yang ditambah
dengan bantuan pompa vakum untuk mempercepat proses pemampatan tanah. Semua
hal ini dilakukan untuk mengeluarkan air dan udara yang mengisi pori-pori pada
lapisan tanah. Proses pemampatan tanah ini ada juga yang menggunakan system
yang disebut dynamic consolidation yaitu dengan cara menjatuhkan beban yang
berat kelapisan tanah yang akan dipampatkan (system ini contohnya dipakai pada
proyek Kansai airport di Jepang dan Nice airport di Perancis yang mana arealnya
berupa areal reklamasi).

Untuk areal yang tidak luas seperti pondasi untuk gedung, pondasi untuk equipment,
ada yang langsung membangun pondasinya (contohnya pondasi cakar ayam), yang
mana setelah pondasinya terpasang baru kemudian diberi beban
diatasnya berupa tumpukan pasir/tanah supaya terjadi pemampatan sampai yang
diinginkan baru kemudian dibangun fasilitas yang ingin dipasang diatasnya seperti
gedung dll. Ada juga yang memakai tiang pancang baik berupa tiang beton maupun
berupa pipa baja, kemudian diatas tiang pancang tersebut dipasang pile cap dst.
Cara yang murah adalah dengan memakai dolken atau bamboo berukuran diameter
sekitar 8 cm dan panjang antara 4 ? 6 meter yang dipancang dengan jarak tergantung
kebutuhan (biasanya sekitar 30-40cm).

Tanggapan 9 : Djunaedi Rachmat

Mau menambahkan aja.

Pengalaman waktu di Kurau / Selat Panjang (waktu itu kita sama2 di sana ya
pak Suparman), untuk lokasi dengan kondisi tanah gambut yang jelek sekali (berair
/ rawa2) atau dilokasi dengan beban yang berat seperti di lokasi drilling rig,
pemasangan cerucuk dari kayu dolken dengan jarak tertentu lalu diatasnya dipasang
lapisan korduroi akan sangat membantu untuk meningkatkan daya dukung.

Dengan cerucuk ini, penurunan dari lapisan korduroi akibat beban akan dihindari.

Memang untuk system korduroi diatas gambut ini penurunan secara analitis susah
untuk dilakukan (mungkin ada yang tahu?). Tapi yang jelas daya dukung yang timbul
dari korduroi ini adalah akibat ikatan antar kayu itu sendiri ditambah sedikit
dukungan dari tanah gambut itu. Seperti kita tahu gambut itu terdiri dari akar2
gambut dengan prosentase tanahnya sedikit sekali.

Tanggapan 10 : Abraham Imam

Saya juga pengen ikutan nimbrung untuk masalah weak and compressible soil (contoh
tanah gambut) ini terutama ditinjau dari sisi ‘soil improvement’. Seperti yg
sudah dijelaskan Bapak2 sebelumnya (yg sudah memiliki jam terbang lama), dan
posting terakhir Pak Ismail perihal kedalaman lapisan gambutnya, beberapa metoda
yg umum digunakan antara lain :

  1. Removal/Replacement or Removal/Recompaction. Ini cocok terutama kalo lapisan
    gambutnya dangkal.
  2. Surcharge Fills, dengan tujuan utamanya adalah mempercepat konsolidasi
    tanah tersebut. Proses ini juga dikenal dgn istilah preloading atau precompression.
    Waktu yg diperlukan untuk proses konsolidasi ini tergantung pada : tekanan
    pori air dan koefisien permeabilitas. Biasanya dikombinasi dgn memasang vertical
    drain agar waktu konsolidasinya bisa dipercepat lagi.
  3. Vibo-Compaction and Vibro-Replacement. Pertama kali dikembangkan oleh insinyur2
    di Jerman (1930-an).

  4. Dynamic consolidation, dikembangkan oleh perancis. Caranya menjatuhkan
    5-40 tons berat (pounders) dari ketinggian 6-30 meter diatas muka tanah. Impact
    dari energi tersebut cukup ampuh untuk memadatkan tanahnya. Dilakukan dibeberapa
    area sesuai luas total lahan.

  5. Menggunakan geosintetik.

Lebih detailnya, mungkin bisa di baca dibuku2 pondasi seperti ‘Foundation Design,
Principles and Practices’ karangan Donald P. Coduto.


Tanggapan 11 :
Suparman

Sorry saya baru nimbrung lagi nih.
Yang menarik disini adalah, cukup banyak lokasi MIGAS di Indonesia yang fasilitasnya
di tepi pantai dan berada di tanah gambut dengan ketebalan gambut yang bisa
dikategorikan cukup dalam (7 M lebih) dan lapisan dibawah gambut ini biasanya
jenis tanah yang sangat lunak dan compressible juga, dan baru ketemu marine
soft clay nya pada kedalaman kurang lebih minus 24 M dari muka tanah.

Sementara itu kasus kegagalan fundasi di lokasi ini cukup sering terdengar
antara lain:
Bollar lari dari posisinya bisa sampai diatas 3 M bahkan lebih, jalan2 tenggelam
setelah 6 bulan atau satu tahun digunakan, semakin diurug semakin tenggelam,
pipeline untuk sewerage yang membutuhkan slope kearah tertentu tapi karena penurunan
tanah peat yang tidak merata menyebabkan arah aliran sewerage jadi terbalik
bahkan untuk mencegah akibat berbaliknya aliran sewerage spt ini ada proyek
yang terpaksa melakukan pemancangan untuk sebuah toilet, baru2 ini ada satu
jetty cukup besar di daerah peat juga failure.

Anternatif solusi yang pernah dipakai oleh para praktisipun cukup beragam,
namun untuk peat yang dalam, cara soil improvement dengan menggantikan jenis
tanah akan makan waktu yang lama dan biaya yang sangat besar dan dapat
merusak lingkungan dan mempengaruhi keseluruhan stabilitas "pulau peat"
yang bentuknya seperti anyaman akar2 pohon bakau, sementara di daerah seperti
tanah ataupun pasir harus di import jadi mahal dan dari schedule maupun biaya
proyek umumnya jadi tidak memungkinkan.

Langkah yang pernah kami lakukan di 3 pulau sekitar kep. Riau untuk suatu fasilitas
Migas adalah kami mencoba hampir seluruh jenis fundasi dilokasi proyek tersebut
antara lain konsep tekanan tanah pasif Cakar ayam, konsep friction pile (kayu,
beton, baja), konsep mikro pile, konsep floating foundation (corduroy – fundasi
telapak), konsep consolidation by using water
channeling (kami bikin parit di kiri-kanan jalan agar badan jalan padat), konsep
membrane foundation (geotextile)dan tak tanggung-tanggung kami lakukan juga
semuanya secara hitungan teoritis maupun full scale testing di lapangan.

Dan hasilnya, tidak ada satupun jenis fundasi tersebut yang aman dari akibat
penurunan tanah (penurunannya tergolong tinggi dari 10 Cm sampai 60 Cm). Jadi
kalau ada proyek di lokasi seperti ini yang harus di antisipasi adalah siap
melakukan adjustment sebagai akibat dari penurunan ataupun perbedaan penurunan
yang tinggi.

Fundasi yang paling optimum dari semua jenis yang pernah saya pakai diproyek
tersebut (EPC hampir 4 tahun) ada dua macam:

Untuk laydown area/ jalan, fundasi ringan —- pakai kordoroy atau pakai geotextile
dengan perhitungan akan ada penurunan, untuk mengurangi penurunan buat spreading
area seluas mungkin (jangan sekali-kali memotong peat karena daya ikatan bagian
peat tadi jadi lepas).

Untuk fundasi equipment atau hal yang kritis —- pakai friction pile yang
paling ekonomis pakai tiang beton.

Perhitungan teoritis semuanya dapat anda peroleh sesuai jenis fundasi tersebut
: untuk friction pile paling dekat pakai Tomlinson (free head)

Demikian sedikit obrolan dari saya, mohon maaf bila ada yang salah dan kurangnya
yah…………. ditambahin aja.

Tanggapan 12 : Alex Elpianto Kajuputra

Saya ingin berbagi pendapat mengenai topic yang menarik ini. Masalah geotechnical
memang berbeda dengan problem structural yang dapat diprediksi dengan lebih
akurat karena material structural (steel, concrete, or wood) lebih dikenal sifat
materialnya. Berbeda dengan geotechnical, dimana kita harus berhubungan dengan
alam yang tidak menentu.

Saya pernah membaca (majalah Konstruksi) dan juga menerapkan (di pelabuhan
Tanjong Priok Jakarta) suatu system Pondasi untuk tanah lunak yang kembali menggunakan
metoda Raft Foundation (Pondasi Rakit)…yaitu Pondasi Sarang Laba-Laba.

Pondasi sarang laba2 ini pada dasarnya bertujuan untuk memperkaku system Pondasi
itu sendiri dalam berinteraksi dengan tanah pendukungnya. Semakin fleksibel
suatu Pondasi (Pondasi Dangkal), maka semakin tidak merata stress tanah yang
timbul, sehingga terjadi konsentrasi tegangan di daerah beban terpusat. Sebaliknya
semakin kaku Pondasi tersebut, maka akan semakin terdistribusi merata tegangan
tanah yang terjadi yang dengan sendirinya effective contact area Pondasi tersebut
akan semakin besar dan tegangannya akan semakin kecil….

Pondasi sarang laba2 ini memiliki kedalaman kira2 1 s/d 1.5 meter, dan terdiri
dari pelat2 rib vertical yang berbentuk segitiga satu sama lainnya. Di antara
ruang2 segitiga tersebut akan diisi material tanah pasir yang dipadatkan (bisa
sirtu). Selanjutnya di atas pelat2 tersebut akan di cor pelat beton kira2 tebal
150 s/d 200 mm. Konstruksinya cukup sederhana dan cepat dilaksanakan serta ekonomis.

Bila memungkinkan, akan saya cari artikel tentang Pondasi ini (dari majalah
konstruksi) dan saya kirimkan ke milis Migas sebagai referensi.

Semoga uraian saya ini dapat diterima dan mohon koreksinya bila ada kesalahan….

Tanggapan 13 : R Gautama

Pak Suparman,
masalah gambut memang sangat sulit sekali di kendalikan apalagi konsolidasi
yang terjadi sangat panjang dimana gambut adalah bahan organik.

Setahu saja (saya bukan pakar lho pak), dosen saya pernah melakukan perbaikan
jalan di lahan gambut menggunakan kayu yang ditumpuk hingga 4 lapis. kenapa
kayu? karena mudah sekali diperoleh di kalimantan dan cukup tahan lama "bila
terendam air". selain itu memang tetepa menggunakan geotekstil agar kayu
tersebut menyatu satu dengan yang lainnya dan agar lapisan grade tidak terbawa
oleh air.

Melihat dari slide yang diberikan dosen saya (masyhur irsyam, lab geoteknik
PPAU-IR ITB), memang jalannya tidak sebaik jalan pada lapisan tanah pada umumnya,
tapi setidaknya alat berat dapat melewatinya.

Dapat juga menggunakan sistem plat JHS. nanti saya coba carikan brosurnya.
namun teknik ini dipatenkan. sistemnya adalah seperti ini, ada plate beton kira2
2x2m (kalo tidak salah) dimana pada tengah2 nya ada 1 mini pile. kemudian plate
tersebut di susun memanjang. teknik ini pernah dilakukan untuk jakarta utara
seingat saya ring roadnya di daerah merunda.

Mungkin segini dulu nanti saya tambah infonya.