Diskusi KBK Piping pada November 2003 ini mengetengahkan beberapa topik yang masih bisa saya catat, antara-lain: Defleksi Pada Coil Cracking Equipment,
Monitoring Kondisi Rubberlined Pada Pipa, Standar Pengecekan Ovalitas pada Piping dan Seputar FRP.

1. Defleksi Pada Coil Cracking Equipment

Pertanyaan (Budi Prasetyo):

Mohon pencerahan dari rekan-rekan semua mengenai masalah piping. Di plant tempat saya bekerja, kami mengalami masalah di Furnace tempat Cracking EDC.

Pipa/Coil untuk Cracking mengalami defleksi/bengkok yang cukup significant, mencapai 50 mm pada defleksi maksimumnya. Defleksi maksimum terjadi di tengah pipa, pipa untuk coil kami berukuran 6′ sch: 80 A312 TP231 panjang 2X6 mtr.

Setelah kami lakukan Replica test, tidak ada indikasi terjadi overheat selama proses berlangsung, struktur mikronya tidak ada perubahan. Proses cracking pada temperatur sekitar 450 derajat Celcius dan tekanan sekitar 12 bar. Coil terdiri dari 2 pass dan setiap pass ada 18 row. Coil yang mengalami defleksi maksimum terjadi pada row 17&18 (2 row teratas) di setiap pass-nya. Kami mencoba untuk memperbaiki kondisi pipa coil kami, yaitu dengan diluruskan kembali.

Mungkin ada rekan-rekan yang mengetahui tempat yang bisa meluruskan pipa coil kami dan bagaimana prosesnya??tentunya dengan harapan struktur dan sifat mekanis pipa tidak berubah.

Kepada rekan-rekan milist saya harapkan pencerahanya mengenai phenomena tersebut dan tempat yang bisa memperbaiki kondisi pipa coil tersebut.
Atas bantuan rekan-rekan semua saya ucapkan banyak terima kasih.

Dari Uraian Bapak Budi di atas dapat disimpulkan beberapa hal:

Data-data penunjang:

  1. Material ASTM A312 TP231 (TP321 ?-red)
  2. Pipa 6” Sch. 80 panjang 2x6m
  3. Tekanan dan suhu operasi: 12 bar pada 4500C
  4. Konfigurasi 2 pass, per pass 18 row.

Berdasarkan pengamatan:

  1. Defleksi/bengkok maksimum terjadi di tengah pipa sebesar 50 mm
  2. Defleksi maksimum hanya terjadi pada row 17 & 18 (2 row teratas)
  3. Hasil Replica Test menyatakan tidak ada perubahan struktur mikro dan overheat selama proses berlangsung.

Pertanyaan:

  1. Apa yang menyebabkan terjadinya phenomena tersebut?
  2. Dimana bisa dilakukan perbaikan pelurusan kembali pipa tersebut, bagaimana prosesnya tanpa merubah sifat mekanis pipanya.

Tanggapan Anggota dan Kesimpulan:

1. Email Bapak A. Taufik berikut ini menjawab pertanyaan a. dan sebagian pertanyaan b di atas:

Kelihatnnya pipa/tube tersebut mengalami thermal expansion diatas deformasi plastis, sehingga ketika suhu turun, kondisi pipa tetap memanjang atau bending. Lain halnya kalau deformasi elastis yang terjadi, ketika suhu turun, dimensi pipa kembali ke ukuran semula.

Pipa tidak mengalami creep karena tidak ditemukan adanya voids yang dapat dilihat pada replika selain itu creep baru terjadi untuk suhu diatas 1/2 Melting Point (teoritis).

Jika pipa sudah mengalami deformasi plastik, tidak dapat dikembalikan ke dimensi semula, kecuali panjang yang berlebih itu dipotong dan dilas. Menghadapi kasus seperti ini
biasanya dikakukan Fitness for Services Analysis.

Melalui analisis tegangan bending atau dimensi yang diijinkan, remaining strength dari pipa bisa jadi
pipa masih aman walaupun penampilannya ‘mengerikan’ atau menghawatirkan.

Untuk kondisi seperti ini, pipa masih dapat dapat beroperasi, hanya interval inspeksi harus ditingkatkan. Hal ini dapat berlangsung sampai schedule TA
berikutnya.

Yang harus diwaspadai kemudian adalah kemungkinan adanya mekanisme kegagalan lain yang dapat beroperasi, yakni
i) thermal fatigue akibat cyclic temperature,
ii) mechanical fatigue akibat cyclic internal pressure.

Keputusan untuk run-repair-replace sangat ditentukan kemudian oleh faktor cost, mana dari ketiga pilihan itu yang lebih cost effective baik jangka pendek maupun panjang. Sebab dari aspek mechanical integrity melalui stress analisis, piping tadi masih terjamin reliability nya (misalnya).

Sebagai info tambahan, sebaliknya jika ada indikasi creep yang ditemukan, misalnya adanya voids, dan microcrack harus dilakukan analisis untuk menghitung kekuatan sisa dan umur sisa dengan Larson Miller parameter
ataupun procentase voids Vs umur (Cummulative Damage Rule Method). Dari sini interval dan intensitas inspeksi bisa diatur.

Sekian …. don’t get creep be steady !!!
Wassalam,
A. Taufik.

Selengkapnya silahkan download pada bagian bawah artikel ini