.. Untuk jenis Polymeric matrix composite secara umum dapat diklasifikasikan menjadi 2 kategori :
THERMOSETTING MATRIX COMPOSITE & THERMOPLASTIC MATRIX COMPOSITE dimana salah satu dari kedua jenis material ini khususnya THERMOSETTING MATRIX COMPOSITE tidak bisa dijoint dengan menggunakan welding hal ini disebabkan Off the cross-linking of the polymer chains. tetapi material ini dapat dijoint dengan metode mechanical fastening atau adhesive bonding secara otomatis kedua metode tersebut tidak dialiri oleh panas.

Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia – Des 03 s/d Jan 04

Pertanyaan : (Farid Moch. Zamil – PT. MECO INOXPRIMA – SURABAYA)

Dear P. Agus + P. Fauzan

Thanx …… Atas pencerahannya pagi ini. Pak untuk jenis Polymeric matrix composite secara umum dapat diklasifikasikan menjadi 2 kategori :

THERMOSETTING MATRIX COMPOSITE & THERMOPLASTIC MATRIX COMPOSITE dimana salah satu dari kedua jenis material ini khususnya THERMOSETTING MATRIX COMPOSITE tidak bisa dijoint dengan menggunakan welding hal ini disebabkan Off the cross-linking of the polymer chains. tetapi material ini dapat dijoint dengan metode mechanical fastening atau adhesive bonding secara otomatis kedua metode tersebut tidak dialiri oleh panas.

Mungkin P. Agus atau P. Fauzan bisa menjelaskan kedua metode tersebut diatas. Sedangkan untuk material THERMOPLASTIC MATRIX COMPOSITE dapat juga dilakukan penyambung seperti diatas yang dapat dialiri panas. Apakah metode ini dapat akan sedikit banyak mempengaruhi perubahan struktur mekanis dan sifat fisis dari material tersebut khusunya didaerah sekitar sambungan dan didaerah sambungan itu sendiri ????

Demikian bahan diskusi pagi ini.
Salam

(Farid Las / Welding)

Tanggapan 1 : (Agus Trilaksono – PT. DIRGANTARA INDONESIA – BANDUNG)

d/h, Pak Farid

Polimer secara umum memang dibagi dua (ada yang bilang tiga dengan memasukan elastomer) seperti yang Pak Farid sebutkan. Khusus untuk thermosetting, sekali mengalami curing, tidak bisa di soften, reshape, tetapi bisa decompose oleh panas. Sehingga kita tidak bisa menggunakan welding untuk penyambungan, tetapi bukan berarti tidak boleh terkena panas. seperti saat kita melakukan joining dengan teknik bonding yang dalam aplikasinya menggunakan adhesive, dimana ada dua macam curing/aging dalam adhesive, yaitu room temperature dan elevated temperature. Satu hal penting yang harus kita pahami dalam hal ini adalah adanya glass transition temperature yang ditandai dengan turunnya modulus elastisitas yang secara umum akan linear dengan strength suatu bahan, biarpun dalam termosetting penurunan ini akan terasa kecil (kurang dari 10 dalam skala logharitma, sementara thermoplastic bisa mencapai 1000 dalam skala logharitma). Kami pernah melakukan penelitian tentang hal tersebut, dimana beberapa re-curing cycle komposit dengan matrix thermosetting telah memberi kesimpulan pada kami untuk me-replace parts karena kekuatannya ternyata turun mendekati angka limits-nya.

Glass transition temperature (Tg) ini juga bisa mengakibatkan terjadinya creeping akibat beban berulang, sehingga harus diketahui untuk menentukan temperatur operasional yang hendak diberikan baik untuk thermosetting maupun thermoplastic.

Mekanikanya…terhadap mechanical fastening dan bonding Shear stress ditentukan oleh luasan geser yang diberikan, dimana kalau fastening dari luasan diamater fastenernya, sementara kalau bonding oleh luasan kontak adherent yang hendak disambung. Bonding dapat menghindarkan
kita dari pelubangan yang berakibat pada stress consentration, yang berarti juga memberi kesempatan kita menaikan fatigue life, tetapi inspeksinya agak rumit. Sementara mechaninal fastening memberikan kemudahan dalam aplikasinya (karena operator sudah biasa menggunakan teknologi ini) dan inspeksinya. Hati-hati kalau melakukan mechanical fastening terhadap komposit akibat adanya fastener thread yang akan mengenai bearing surface-nya atau adanya
ketidak sempurnaan proses pelubangan, bisa diatasi dengan memberi bushing.

Sementara untuk thermoplastic, memang polimer jenis ini memang dikenal repeated soften and hardenen karena ikatan kimianya yang linear or branched-chain molecul yang berarti kita bisa melakukan penyambungan dengan welding karena adanya kemampuan tersebut, sehingga kita dapat berharap adanya difusi atau adanya ikatan kimia baru dengan dua benda yang hendak
kita sambung. Secara teori kekuatannya tidak banyak berpengaruh, tetapi kita perlu tahu degree of crosslinkid-nya, karena thermoplastic itu ada yang amorphous juga semicrystalline, semakin ke semicrystalline, perubahan akibat glass transition temperature juga semakin kecil, artinya semakin susah dibentuk kembali, artinya konsep repeated soften and hardenen juga lebih sulit, yang berarti juga akan ada kekawatiran terjadi turunnya strength. Demikian, semoga bermanfaat.

oh ya..selama akhir tahun akan off (nomail mode) sebentar, melihat-lihat suasan tahun baru, jadi tidak bisa berdiskusi dengan Pak Farid yang semakin hari semakin mengasyikan.

agus trilaksono