Berapa besar gaya geser yang dapat ditahan antara
sambungan beton lama dengan bahan grouting, apakah dapat dianggap sama
dengan gaya geser beton yang dicor monolit?
Pertanyaan : Badaruddin

Mohon pencerahan, berapa besar gaya geser yang dapat ditahan antara sambungan
beton lama dengan bahan grouting, apakah dapat dianggap sama dengan gaya geser
beton yang dicor monolit?

Contoh kasusnya adalah :
Pada pengecoran pondasi mesin, akan sangat praktis apabila anchor bolt tidak
dipasang dulu, tetapi pada bagian tersebut, diberi styrofoam dengan ukuran tertentu
kemudian setelah beton mengering dan bekisting/form work didemolish barulah
kita menyetel anchor bolt tersebut kemudian digrout…., tapi apa kuat sambungan
antara grouting dan beton tersebut menahan getaran mesin?

Tanggapan 1 : Suparman

Pak Badaruddin,
Pemakaian anchor pocket dalam system fundasi adalah hal yang umum dan banyak
dilakukan. Apalagi alignment suatu mesin membutuhkan presisi yang tinggi, jadi
pemasangan anchor bolt yang dipasang sejak awal pengecoran fundasi jelas akan
menyulitkan aligment equipment diatasnya.

System anchor pocket ini artinya beton suatu fundasi di cor duluan dan anchor
bolt dimasukan belakangan konsekwensinya ada beton lama yang sudah mengeras
dan ada beton baru (grouting) sehinggga ada resiko beton
lama dan grouting tidak menyatu.

Pembuatan anchor pocket, cara yang sering ditempuh adalah dengan membuat anchor
pocketnya kasar dan yang terbaik berbentuk "baji" sehingga shear factornya
jadi besar untuk lebih jelasnya anda bisa cari di ACI (maaf saya lupa chapternya).
Pemakaian Styrofoam akan menyebabkan permukaan anchor pocket menjadi mulus dan
ini mengurangi bonding dan shear beton lama dan grouting. Yang terbaik pakai
kawat ayam.

Permasalahan shear beton lama dan baru ini sering muncul justru pada sambungan
pengecoran yang besar misalnya suatu mat foundation tower area dengan luas yang
besar, karena batasan volume beton yang bisa di siapkan, ataupun karena adanya
gangguan mendadak (hujan deras, rusaknya mesin, demo, dll) sehingga pengecoran
terpaksa dihentikan. Langkah yang sering diambil adalah, pastikan penghentian
pengecoran bukan didaerah kritis, dan akhiran pengecoran yang dihentikan tadi
dibuat kasar, lalu bila hendak dilakukan pengecoran kembali (setelah terhenti)
pastikan tidak ada kotoran, berikan "lem beton" dan baru di lakukan
pengecoran lanjutan.

Kalau ada keraguan pada sambungan beton lama dan baru tersebut, bisa dilakukan
coring untuk pengetesan.

Demikian semoga membantu.

Tanggapan 2 : Badaruddin

Thanks atas jawabannya pak suparman, apakah sudah pernah dilakukan penelitian
oleh teman-teman kita dikampus mengenai daya rekat atau kuat geser yang dapat
ditahan oleh sambungan antara beton lama dengan grouting?

Tanggapan 3 : Alek Poerba

Saya pernah beberapa kali mengerjakan pekerjaan yang memerlukan adanya sambungan
antara beton lama dengan beton baru. Walaupun mungkin berbeda kasusnya dengan
yang Bapak hadapai. Pengalaman saya terutama saat pemasangan anhor pada rooftop
untuk tower telekomunikasi.

Sebelum anchor dipasang, tentunya rooftop harus di bor terlebih dahulu untuk
tempat si-anchor, untuk memastikan setelah anchor terpasang lubang bor telah
‘monolit’ dengan beton eksisting dapat dilihat dari uji tarik terhadap anchor
tersebut. Hal lain yang sering ditekankan buat rekans di lapangan adalah kualitas
lubang bor. Seperti yang telah diutarakan oleh Bapak Suparman, pastikan tidak
ada kotoran disepanjang lubang, dan pada saat pengeboran diusahakan dinding
lubang di biarkan kasar. Sehingga, bisa diperoleh gaya geser yang mencukupi.
Saya setuju dengan Pak Suparman bahwa pemakaian stereofoam kurang bagus untuk
mendapatkan gaya geser di sepanjang dinding geser tersebut ..

Pengalaman lain adalah ketika harus menambah (mempertebal) kolom eksisting.
Yang saya lakukan adalah disepanjang kolom eksisting "dikikis" setebal
1 – 1.5 cm. Dan disetiap 50 cm dipasang anchor ukuran tertentu secara zigzag.
Kemudian sebelum pengecoran beton baru dilakukan, terlebih dahulu permukaan
beton lama diolesi dengan "lem beton" (grouting). Untuk melihat kualitas
sambungan beton lama dan baru, dilakukan lagi coring seperti yang telah diutarakan
sebelumnya.

Secara pribadi, (may be i’m wrong ..?) saya berpendapat, bahwa beton lama tidaklah
mungkin 100% monolit dengan beton baru. Tetapi kita dapat melakukan rekayasa
agar antara beton lama dan beton baru terdapat sambungan yang bagus. Sehingga
ketika beban bekerja pada sistem ini, keduanya bekerja secara bersamaan, bukan
independen satu sama lain. Saya pikir, that’s the point when we face such problem.