Adakah yang sudah pernah menerapkan wireless
LAN sebagai backbone dari Control System? Baik dari segi safety operating-nya, security datanya maupun installation/maintenance-nya.
Pertanyaan : Machmud Riyadh

Mohon referensi, kalau ada teman-teman yg sudah pernah menerapkan wireless
LAN sebagai backbone dari Control System. Baik dari segi safety operating-nya,
security datanya maupun installation/maintenance-nya.

Tanggapan 1 : Danang Sapputra

Kelihatannya topik ini menarik mas,
Saya juga membutuhkan referensi aplikasi wireless LAN di dunia industri, utamanya
Oil&Gas.
Sampai saat ini untuk design backbone dengan node to node jarak menegah, dan
1 – 5 km, saya lebih preferred menggunakan DSL connection dibandingkan Wireless
LAN, dengan pertimbangan salah satunya masalah equipment, karena dengan DSL
kita bisa menumpang Standart Telecommunication Cable yang 2 wires.

Akan sangat membantu kalau pertanyaan mas mahmud riyadh ada yang bisa menjawab,
dapat menambah referensi saya juga.

Tanggapan 2 : Warih Kundono

Pak Machmud,
Sebagai referensi bisa baca artikel "Legacy Systems: Wireless and Ethernet
in SCADA revamp" dari Jonas Berger di
http://ethernet.industrial-networking.com/articles/i13scada.asp

Tanggapan 3 : Rachman Arief

Kebetulan sejak 2001 kita sudah sering men-deploy WLAN. Akhir 2003, kemarin
kita menjadi konsultan Wireless Network Plan utk salah satu client.

(1) WLAN itu sebenarnya ya LAN biasa hanya bukan kabel, dan bukan untuk kebutuhan
backbone cak. Kalau di networking term, backbone itu berbeda. Lebih ke arah
microwave link yang point to point dan utk kapasitas yg besar. Kalau sekedar
utk menjembatani koneksi nggak ada masalah, WLAN cukup adequate.

(2) Safety atau security itu sifatnya beragam dan ada bbrp level. Tingkat proteksi
juga bisa diatur mulai pada layer wireless, hingga application. Tergantung kebutuhan
dan budget.

(3) Masalah maintenance, sebenarnya WLAN didesign ease of use dan ease of maintenance.
InsyaAllah nggak ada masalah dalam operasinya sepanjang tidak terjadi interferensi
dan sampeyan punya lisensi frekuensinya. Bakal pakai di 2.4 GHz, 3.5 GHz, 5.8
GHz, atau yang 7 GHz?

Hanya saja cak, karena control system itu termasuk kategori "mission critical"
jadi sebaiknya wireless network plan-nya extra hati-hati.

Kita sekarang sedang engage utk deploy GPRS-based meter pada ratusan nodes.
GPRS kan juga wireless. Namun security system-nya berbeda dengan WLAN.

GPRS dan WLAN ini emerging application cak. Tergantung kebutuhan sampeyan.

Tanggapan 4 : Machmud R.

Wah.. ketemu konco lawas…ya jelas masih eling lah aku. Sebaiknya diskusi
subject ini di floorkan saja ke forum. Biar tambah rame dan banyak referensinya.

(1) (2) Setuju, Mas, WLAN itu seperti LAN biasa. Tapi karena accessibility
dan connectivity suatu "node" kejaringan yg tidak bisa didetect secara
visual (nirkabel), pihak-pihak yg connect ke jaringan hanya bisa didetect secara
digital. Sedangkan "lobang" dalam OS jaringan selalu ada. Itu yg jadi
pertimbangan saya utk memikirkan lebih lanjut pemakaian WLAN sebagai "perangkat
keras" di dunia Control System. Tapi kemampuannya yg luar biasa dalam menghubungkan
banyak "node" dengan kecepatan access yg cukup tinggi (2.4 GHz dg
menggunakan type IEEE 802.11g device), cukup menggoda saya utk menerapkannya
pada plant-plant exsiting yg utk narik kabel dan routingnya cukup bikin pusing
engineer dan designer 🙂

(3) Utk pemilihan bandwidth frekuensinya saya mohon pencerahan bandwidth yg
bisa dipakai dan range budget/lisensinya. Sementara sih saya mau coba pake yg
gratisan 2.4 GHz. Paling-paling cuma ijin ke Deparpostel diwilayah lokasi. Tapi
kalo ada alternatif yg lebih baik, tolong saya dikasih tahu (maaf saya masih
belum banyak tahu soal pemakaian bandwidth frekuensi).

Ngomong-ngomong soal GPRS, terus terang, saya juga tergoda utk menyelami lebih
lanjut. Soalnya utk daerah-daerah remote yg nodenya tidak terlalu banyak (kebutuhan
electrical power supply kecil), technologynya cukup applicable dan tidak terlalu
mahal (betul ya?). Di daerah operasi kami di Sumatra Selatan, yg wells-wells
oil dan gasnya berlokasi ditengah hutan, sangatlah riskan membuat fasilitas
yg menyolok di sekitar sumur [colong-able 🙂 ].

Terima kasih banyak penjelasannya.