Mengapa harga crude oil cenderung fluktuatif (bahkan setiap bulannya), sementara harga gas cenderung konstan? Faktor apa saja yang mempengaruhi keduanya? Di Indonesia, ada beberapa jenis crude oil yang dihasilkan dan digunakan sebagai acuan untuk harga minyak mentah dalam negeri. Apakah harga gas juga demikian,
maksudnya berbeda-beda untuk setiap jenis sumur?
Pertanyaan : Anton

Rekan-rekan,
Mohon pencerahannya tentang yang namanya harga/price dari Crude Oil dan Gas.
Mungkin sebelumnya sudah pernah dibahas tapi akhir2 ini punya rasa ingin tahu
yang besar, jadi mudah2an tidak keberatan memberi pencerahannya.

  1. Mengapa harga crude oil cenderung fluktuatif (bahkan setiap bulannya), sementara
    harga gas cenderung konstan? Faktor apa saja yang mempengaruhi keduanya?
  2. Di Indonesia, ada beberapa jenis crude oil yang dihasilkan dan digunakan
    sebagai acuan untuk harga minyak mentah dalam negeri. Apakah harga gas juga
    demikian, maksudnya berbeda-beda untuk setiap jenis sumur?
  3. Bagaimana cara menghitung harga gas, baik wellheadprice maupun setelah dialirkan/transmisi?
    Saya ingin tahu mengapa harga gas di Indonesia begitu tinggi, padahal jumlah
    cadangannnya besar, dan demandnya juga tinggi. Bandingkan dengan negara lain.
  4. Berapa tarif transmisi/distribusi gas saat ini? Variabel apa saja yang digunakan
    dalam menentukan tarif transmisi/distribusi?

Tanggapan 1 : Zaki

Koreksi kalo saya salah….

Harga gas dihitung per MMBTU sehingga komposisi gas seperti apapun tidak diperhatikan
secara langsung (komposisi gas akan menentukan berapa nilai kalor gas tsb, selanjutnya
menentukan harga gas), sementara harga minyak dilihat per barrel, sehingga komposisi
minyak menjadi penting, dan akibatnya minyak mentah memiliki harga yg bervariasi
tergantung dari komposisinya.

Harga gas cenderung konstan karena sumur gas hanya dapat diekploitasi jika
sudah ada pembeli (ga mungkin buat storage tank utk gas di permukaan, biarkan
saja reservoir di bawah sana menjadi storage-nya). Kalau kita mengebor sumur2
eksplorasi dan menemukan gas, maka langkah selanjutnya melakukan kalkulasi cadangan
gas yg tersimpan di bawah, lalu mencari buyer dan menegosiasikan harga gas yg
dapat diterima kedua pihak (memenuhi skala ekonomis oil company utk mengembangkan
lapangan dan memenuhi skala ekonomis buyer, misal sbg feed utk petrokimia, atau
utk bahan bakar power plant, dsb). Jadi harga gas tidak fluktuatif selama masa
kontrak karena sudah dihitung di depan. Variasi harga gas terjadi utk setiap
transaksi yg berbeda
menjadi berbeda karena disesuaikan dg skala ekonomis masing2 producer-buyer.

Sementara kalau kita mengebor sumur2 eksplorasi dan menemukan minyak, kita
bisa meneruskan ke program eksploitasi, karena minyak mentah yg dihasilkan bisa
disimpan dan split antara oil company dan BPMIGAS adalah dalam bentuk produk,
sementara split utk gas adalah dalam bentuk uang. Karena minyak bisa disimpan,
dan pembeli selalu ada, maka harga minyak akan ditentukan oleh faktor supply
& demand.

Sisa pertanyaan lain yg belum terjawab karena saya sendiri ga tahu 🙂

Tanggapan 2 : Kuswo Wahyono

Saya coba untuk menjawabnya satu per satu.

1. Harga crude oil dipengaruhi oleh beberapa faktor, a.l.: kebutuhan dan supplay
dunia, pergantian musim panas dan dingin, politik (perang), dan isu-isu lainnya.
Harga tersebut bukan hanya setiap bulan, tetapi kemungkinan setiap hari berubah
terutama harga di spot market. Untuk menjamin kestabilan harga, maka biasanya
antar produser dan konsumer minyak membuat kontrak penjualan/pembelian dalam
jangka waktu tertentu, misalnya setiap 3 bulan harga ditinjau kembali.
Untuk menentukan harga gas ada beberapa cara, ada yang konstan dan ada pula
yang fluktuatif menggunakan formula tertentu sesuai fluktuasi harga crude oil.
Besarnya harga gas, baik yang fix maupun yang formula tergantung pada kesepakatan
antara pembeli, penjual, dan produser berdasarkan keekonomian proyek masing-masing
pihak (MARR = Minimum Atractive Rate of Return). Harga gas domestik biasanya
dibuat fix dan lebih murah daripada harga ekonomis produksi lapangan gas, untuk
melindungi kepentingan rakyat (baik di Indonesia maupun di luar negeri). Untuk
menutupi kekurangan harga ekonomis gas, maka Pemerintah memberikan insentif
yang dibayar kepada produsen (investor). Kalau tidak demikian
maka tidak ada yang mau mengembangkan lapangan gas.

2. Dari beberapa jenis crude Indonesia, diambil harga rata-ratanya berdasarkan
jenis crude dan harga internasional. Setiap bulan Pemerintah mengeluarkan harga
patokan minyak Indonesia yang disebut ICP (Indonesian Crude Price). Untuk harga
gas digunakan sesuai dengan harga perjanjian, yang tentunya kemungkinan akan
berbeda untuk setiap lapangan gas (bukan per sumur) untuk setiap pembeli.

3. Cara menghitung harga gas lebih rumit daripada harga crude oil, semua berdasar
keekonomian proyek. Untuk memproduksikan gas diperlukan peralatan produksi yang
lebih kompleks dan lebih mahal dibandingkan minyak. Semakin besar cadangan gas
dalam satu lapangan, maka harga gas akan lebih murah. Semakin jauh lapangan
gas dari pembeli, maka semakin mahal. Semakin banyak impuritiesnya yang tidak
memenuhi spesifikasi pembeli, maka harga gas akan semakin mahal karena membutuhkan
peralatan lebih kompleks. Harga gas di Indonesia sebenarnya TIDAK tinggi. Tinggi
atau tidak sebenarnya relatif sekali.
Harga gas LNG spot market dunia bisa mencapai 7 $/MMBTU, bandingkan dengan harga
gas di Indonesia antara 1 – 2,5 $/MMBTU. Harga jual gas ke LN dari Indonesia,
baik yang LNG maupun yang disalurkan, sekitar 3-4,5 $/MMBTU, tergantung pada
fluktuasi harga minyak. Cadangan gas di Indonesia dalam jumlah keseluruhan memang
besar, tetapi perlu diingat bahwa banyak lapangan yang marjinal dan kecil-kecil
sehingga memerlukan biaya yang tinggi untuk menyalurkannya sehingga tidak mungkin
untuk mengembangkannya karena tidak ada pembelinya. Dari Sumber gas yang besar
yang ada saat ini, baik yang di Aceh, Jawa, Kalimantan sudah tidak dapat menampung
permintaan (demand).

4. Tarif transmisi/distribusi gas tergantung dari besarnya investasi pembangunan
pra-sarana dan sarana alat/pipa salur gas, besarnya volume gas yang melewati,
jumlah produser gas yang menggunakan pipa, dan jumlah konsumer gas.

Maaf, mungkin jawaban tersebut sangat kuantitatif sekali. Semoga dapat sebagai
sekedar masukkan.

Tanggapan 3 : Dicky Suriakusumah

Penjelasan yang sangat jelas dari pak Kuswo dan pak Zaki. Namun ijinkan untuk
saya dapat memberikan beberapa tambahan pendapat pribadi berkaitan dengan topik
ini sbb

1. Harga Gas
Sebenarnya anggapan harga gas cenderung konstan adalah tidak benar. Semua ini
bergantung dari sejauh mana ketersediaan kapasitas jaringan pipa gas transmisi
dan distribusi. Yang bung Zaki terangkan di-email beliau cenderung hanya berlaku
untuk negara atau wilayah yang infrastruktur gas yang belum berkembang seperti
Indonesia, dimana penjual dan pembeli cenderung mengikatkan diri dalam kontrak
pasokan gas jangka panjang akibat jumlah penjual dan pembeli yang terbatas.
Namun, kalau kita lihat situasi seperti di Inggris dan North America, karena
infrastruktur gas yang sudah demikian berkembang keseluruh wilayah dan didukung
dengan kebijakan akses terbuka ke infrastruktur gas tsb, penjual dan pembeli
mempunyai banyak pilihan transaksinya: mau membeli dari siapa, atau mau menjual
ke siapa. Dengan situasi pasar gas seperti ini, penjual maupun pembeli tentunya
cenderung tidak mau mengikatkan diri ke dalam suatu kontrak penjualan jangka
panjang, karena akan merugikan mereka akibat hilangnya fleksibilitas dari pembeli
atau penjual untuk mendapatkan harga yang terbaik. Akibat dari kecenderungan
kontrak pasokan gas yang jangka pendek, situasi ini menyebabkan harga gas sangat
berfluktuatif ditentukan oleh keseimbangan supply-demand yang dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti cuaca, kapasitas produksi gas etc….Sounds familiar
?……Benar…akhirnya suatu saat dengan berkembangnya infrastruktur, gas akan
berubah perilaku seperti komoditi energi la
inya seperti minyak, batubara, dll
Saya diatas juga sebutkan satu kebijakan yang dapat mempengaruhi harga gas,
namun seperti yang pak Kuswo katakan, kebijakan langsung penetapan harga gas
dari pemerintah juga sangat menentukan perilaku harga gas. Nah, kalau sudah
berada di situasi ini, keputusan politik tentunya lebih berperan dibandingkan
keputusan komersial atau ekonomis…..and someone somewhere has to pay the cost……

2. Penjelasan pak Kuswo jelas sekali. Namun apakah harga ICP merupakan harga
nyata minyak (realised price) yang dilempar saat transaksi di pasar atau hanya
merupakan harga patokan untuk perhitungan cost recovery ?

3. Penjelasan pak Kuswo jelas sekali. Namun perlu juga diperhatikan fuel-on-fuel
competition. Jadi kalau harga gas yang tinggi akibat biaya pengembangan yang
besar, tentunya transaksi nggak akan jalan karena calon pembeli mempunyai bahan
bakar alternatif yang lebih murah.
Cadangan gas yang besar tidak menjamin harga gas yang murah. Selain cadangan
ini merupakan akumulasi lapangan gas marjinal, beberapa lapangan gas yang mempunyai
cadangan besar mempunyai komposisi gas yang tidak menguntungkan, lokasi yang
jauh dari demand center, dan rendahnya kandungan kondensat/LPG yang dapat menambah
pendpatan (contoh lapangan gas Natuna yang berlokasi di tengah laut dengan CO2
content yang tinggi), sehingga untuk pengembangannya membutuhkan biaya yang
amat sangat besar.
Saya sarankan, jangan coba bandingkan dengan negara lain karena banyak faktor
yang mempengaruhi ini seperti fiskal (PSC, royalty etc), pajak, pengembangan
lapangan gas yang berbeda, kondisi infrastruktur gas (transmisi dan distribusi),
daya beli, kebijakan lingkungan, keputusan/keinginan politik pemerintah ybs,
etc.

4. Penjelasan pak Kuswo jelas sekali. Namun dalam metode penetapan tariff, banyak
cara yang diterapkan di negara-negara lain seperti contohnya penetapan tariff
sistim target rate of return (Australia dan UK kalo nggak salah) atau sistem cost
plus (US FERC kalo nggak salah). Implikasinya tentunya kalau sistem cost-plus,
pihak PL owner harus bersiap untuk open-book untuk audit dari pihak regulator,
dan ini biasanya beban yang berat dan sangat intensif sehingga kadang membebani
perusahaan. Sementara untuk sistem target rate of return, PL owner cenderung mengabaikan
pengembangan system lebih lanjut untuk mempertahankan margin yang ada (contoh:
EPIC yang menunda ekspansi pipa transmisi di West Asutralia), atau bahkan slack
dalam maintenance.

Tanggapan 4 : Abdul Muin

Rekan rekan Milis Yth,

Jawaban Pertanyaan ke 1.
Harga crude oil sebagaimana harga komoditi yang lainnya berfluktuasi sesuai
dengan situasi dan kondisi pasar minyak itu sendiri. Parameter yang mempengaruhi
harga minyak ada yang bersifat fundamental (supply-demand balance) dan non-fundamental
(perubahan cuaca/musim, situasi geopolitik, kondisi stok/cadangan crude/produk
dari Negara-negara konsumen utama dunia/OECD, sentiment pasar yang biasanya
dipermainkan oleh para spekulan). Bahkan pada kondisi akhir akhir ini dimana
harga minyak yang tinggi (diatas price band OPEC, $22-28/b) cukup bertahan agak
lama, peranan factor non-fundamental sangat menonjol sekali al seperti: perubahan
spek bensin diberbagai Negara bagian di US yang menyebabkan fleksibilitas output
product menjadi terbatas, stok bensin di US kritis dibawah level minimum, meningkatnya
ketegangan politik di Timur Tengah dan juga di Venezuela. Faktor-faktor non-fundamental
ini selanjutnya mempengaruhi kondisi psikologi pasar
yang dimanfaatkan oleh pemain/spekulan di FUTURE MARKET untuk mengeruk keuntungan
dalam waktu singkat. Kondisi ini mungkin memang juga didukung oleh perusahaan
perusahaan minyak besar di Negara OECD (agar bisa menaikkan keekonomian pengembangan
lapangan mereka yang relative lebih mahal jika disbanding dg biaya di OPEC).
Satu factor tambahan lagi adalah lemahnya nilai US DOLLAR.

Jawaban Pertanyaan ke 2 (Jenis Crude Indonesia).
Berdasarkan asal lapangannya (API degree dan kandungan Sulfurnya bervariasi),
Crude Indonesia yg di ekspor terdiri dari Ataka, Belida, Cinta, Duri, Handil,
Lalang, Minas, Widuri. Untuk OPEC Reference Basket, minyak Minas yang dijadikan
referensi karena terbanyak untuk diekspor.
Minyak mentah dan produk yang dipakai didalam negeri pada dasarnya bukanlah
harga pasar sesungguhnya (karena mendapat subsidi pemerintah).
Sedangkan untuk benchmark international ada tiga referensi utama yg dipakaiyaitu:
WTI = West Texas Intermediate, Brent (European) dan ORB (OPEC Reference Basket).
Mengenai masalah harga minyak secara umum (baik crude maupun produk) pada dasarnya
ditentukan oleh pasar, namun tentunya dipengaruhi oleh faktor faktor diatas.
Tetapi secara rinci harga tsb bisa ditentukan dan diklasifikasikan pada berbagai
kriteria (e.g. physical dan non-physical/paper market), dll furmulae serta regime
(nanti saya susulkan beberapa tulisan).
Mungkin sementara sekian dulu, lain saya susulkan ulasan tentang HARGA
GAS. Mohon maaf kalau ada kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan ini.

Tanggapan 5 : Arifin

Setelah membaca tulisan Pak Abdul Muin tentang penentuan harga crude oil yang
sangat gamblang sekali menjelaskan proses penentuan harga crude oil, saya memiliki
beberapa pertanyaan:

1. Untuk penentuan harga crude oil, Indonesia memiliki ICP (Indonesian Crude
Price) yang mengacu kepada APPI, Platt’s dan RIM dengan proporsi masing-masing.
Apakah ada korelasi antara harga berdasarkan ICP dengan harga dari OPEC, Brent
dan WTI? Bila dibandingkan dengan international benchmark, dimanakah kira-kira
posisi ICP?

2. Dalam penentuan harga crude oil tersebut, apakah volume export berperan
dalam menentukan harga jual? Dari volume export yang saat ini sebesar 1 juta
bph tersebut, itu berapa persen dari total kapasitas produksi Indonesia?

3. Pricing mechanism, saya mengamati bahwa harga crude oil APPI, Platt’s, RIM,
WTI, OPEC dsb berbeda-beda satu dengan lainnya padahal minyaknya sama saja.
Mungkin ada yang bisa dijelaskan apa saja faktor yang menyebabkan perbedaan
harga antara masing-masing referensi tersebut.

Terima kasih banyak

Tanggapan 6 : Anton

Salam,

Terima kasih banyak buat Bapak2 yang sudah memberi pencerahan buat saya. Tidak
sangka yang turun tangan, langsung Bapak2 dari BP MIGAS. Paling tidak meskipun
masih menyandang status "Fresh Graduate/ Job Hunter", ilmu2 seperti
ini bisa mengembangkan wawasan saya.

Pertanyaan berikutnya:
1. Apakah perhitungan APBN kita (dengan asumsi harga crude US$ 22/barel) karena
mengikuti standar crude price band OPEC US$ 22-28/barel. Jika memang demikian,
mengapa tidak menggunakan standar yang tinggi saja sehingga saat ada lonjakan
seperti ini pemerintah tidak ‘kaget’ dan harus melakukan revisi yang berarti
pengurangan alokasi di sektor anggaran yang lain. Karena setahu saya, data
historis harga rata2 crude oil di Indonesia, sangat jarang berada di kisaran
US$ 22/barel.

2. Berkaitang dengan penjelasan Pak Kuswo, mengenai cadangan gas yang marjinal
di Indonesia. Siapa yang bertanggung jawab dalam usaha pengembangan cadangan
gas seperti itu. Dalam proyeksi kedepan apakah gas Indonesia hanya akan dimanfaatkan
sesuai yang sudah ada sekarang (ekspor/LNG, pupuk, power plant, dll) ataukah
akan ada invetasi pemanfaatan gas menjadi produk lain? Setahu saya, gas bumi
merupakan salah satu sumber daya fosil yang memiliki banyak sekali turunan.
Terlepas dari permasalahan teknis (komposisi, jumlah kandungan, lokasi, dll),
bagaimana usaha pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah gas bumi ini?

Terima kasih. Please correct me if I’m wrong….

Tanggapan 7 : Budi Sudarsono

Ingin menanggapi paragraf di bawah ini:

From: "Johanes Anton Witono"
Pertanyaan berikutnya:
1. apakah perhitungan APBN kita (dengan asumsi harga crude US$ 22/barel) karena
mengikuti standar crude price band OPEC US$ 22-28/barel. Jika memang demikian,
mengapa tidak menggunakan standar yang tinggi saja sehingga saat ada lonjakan
seperti ini pemerintah tidak ‘kaget’ dan harus melakukan revisi yang berarti
pengurangan alokasi di sektor anggaran yang lain. Karena setahu saya, data historis
harga rata2 crude oil di Indonesia, sangat jarang berada di kisaran US$ 22/barel.

Yang menjawab pertanyaan ini mestinya dari Panitia Anggaran DPR, Departemen
Keuangan, dan Departemen ESDM. Saya juga mempunyai pendapat yang serupa/senada
dengan pertanyaan di atas. Yang dinamakan APBN adalah semulanya RAPBN, "R"
adalah untuk "rancangan" yang lk sepadan dengan "rencana".
Suatu rencana, bisa dijalankan, dan kemudian kalau keadaan berubah, rencana
bisa disesuaikan. Bukan begitu ?
Tetapi harga minyak bumi internasional dalam APBN kita selalu di tetapkan oleh
DPR pada angka yang sangat konservatif – artinya: selalu lebih rendah dari suatu
angka perkiraan yang wajar. Saya menduga hal ini adalah suatu "tradisi"
yang dikembangkan sejak zaman Orde Baru ketika bidang ekuin dipimpin oleh prof.
Widjojo Nitisastro. Kalau asumsinya agak tinggi (seperti "suatu angka perkiraan
yang wajar"), nanti bilamana harga realisasi di bawah angka asumsi, maka
revisi harus dilakukan dengan mengurangi anggaran kegiatan. Hal ini akan menyakitkan,
karena sudah terlanjur ada harapan bakal tersedia dana, tetapi ternyata harus
dikurangi; lalu siapa yang anggarannya lebih dahulu dikurangi ? Andaikata asumsi
harga minyak sangat konservatif, maka bila harga ternyata turun, maka penyesuaiannya
tidak terlalu menyakitkan. Dan andaikata ternyata harga bahkan naik, maka akan
diperoleh tambahan dana, yang lebih mudah dibagikan karena "semua senang".
Demikianlah kira-kira filosofinya. Tetapi ini dugaan saya lho ! Untuk jawab
yang benarnya, harus ditunggu biografi para ahli ekonomi Orde Baru, atau para
pejabat yang sekarang.
PS : Secara historis, harga minyak pernah anjlok ke kisaran $12/bbl pada tahun
1986; ini tentu jauh sebelum Sdr. Anton lulus. Kalau tidak salah, pada zaman
Pak Habibie juga pada kisaran $ 22/bbl.

Tanggapan 8 : Abdul Muin

Tepat sekali tanggapannya Pak Budi tsb. Sebagai tambahan perlu kita ketahui
bahwa saat ini kondisi harga minyak semakin volatile dan semakin dipengaruhi
oleh faktor faktor non-fundamental yang mempengaruhinya. Sebagai contoh, harga
minyak setinggi belakangan ini tidak ada satupun forcaster international termasuk
(IEA, EIA, OPEC, CGES dll) yang memperkirakannya.
Demikian juga pada saat drop, krisis harga minyak tahun 1998, dimana harga jatuh
sampai $10/b, dan mengakibatkan goncangan dalam kegiatan industri minyak yang
sangat significant seperti al: perubahan energy policy dari pihak producer dan
consumer, menurunnya kegiatan investasi/aktifitas Upstream (yang dalam jangka
menengah panjang berdampak pada penurunan kapasitan pasokan dunia, juga security
of world oil supply) serta perubahan paradigma dari perusahaan perusahan minyak
baik major oil companies maupun small independent (adanya merger, pengalihan
prioritas aktifitas dengan focus jangka menengah cenderung hanya ke pengembangan
lapangan yang sangat potensial dan murah biaya produksi nya serta menunda kegiatan
eksplorasi, perubahan orientasi dari minyak ke gas, dll)
Jadi kalau boleh saya katakan (berdasarkan pengalaman mengikuti perkembangan
forecasting harga minyak dalam masa 10 tahun belakangan ini), mayoritas ramalan
harga minyak jangka menengah/panjang yg dipublikasikan oleh kajian kajian international
cenderung meleset, sehingga dalam dua tahun ini forecaster dunia tsb rada kapok.
Ini merupakan gambaran betapa volatil nya situasi harga minyak saat ini. Hal
ini selanjutnya berdampak ke iklim investasi minyak dunia dan para investor
sangat hati hati dalam memutuskan. Disamping itu pula kalaupun mereka invest,
maka oil price assumption yg dipakai masih pesimis
(maksimum sekitar $20/b untuk major companies dan $22/b untuk perusahaan yg
kecil)walaupun harga minyak saat ini tinggi sekali. Oleh karena itu pula maka
wajarlah kalau pemerintah bersikap konservatif dalam mengambil asumsi patokan
harga minyak. Sebagai acuan saat ini adalah batas bawah price band nya OPEC
($22-28/b) ditambah $1 menjadi $23/b.
Mudah mudahan bermanfaat.