Bisa tidak kalibrasi dan sertifikasi peralatan instrument (timbangan, lowmeter,dll) yang biasanya dikerjakan dan dikeluarkan Metrologi, dikerjakan sendiri?
Atau bisa tidak kita sertifikasi personel dan standart-nya, sehingga bisa dikerjakan sendiri kalibrasi dan penerbitan sertifikatnya?
Pertanyaan : Afta

Rekans, mohon pencerahan.
Bisa tidak kalibrasi dan sertifikasi peralatan instrument (timbangan, lowmeter,dll)
yang biasanya dikerjakan dan dikeluarkan Metrologi, dikerjakan sendiri.
Atau bisa tidak kita sertifikasi personel dan standart-nya, sehingga bisa dikerjakan
sendiri kalibrasi dan penerbitan sertifikatnya.

Tanggapan 1 : Dirman Artib

Rekan Afta,
Saya akan response berdasarkan pendekatan, persyaratan ISO 9001:2000 section
7.6 Control of monitoring and measuring devices (Pegendalian terhadap peralatan
untuk pemantauan dan pengukuran)

Para 2 :
Organisasi harus merencanakan "establish" proses untuk memastikan
bahwa pemantauan dan pengukuran bisa dilakukan dan dilakukan dengan cara yang
konsisten terhadap persyaratan pemantauan dan pengukuran yang ditetapkan.

Para 3 :
Jika perlu untuk memastikan hasil yang sah, maka peralatan ukur harus :
a. Dikalibrasi atau diverifikasi pada interval tertentu dalam hal penggunaan,
dan mampu telusur terhadap standard atau standard pengukuran National atau International

b. Jika diperlukan disesuaikan "adjusted" atau disesuaikan kembali
"re-adjusted"

Nah, masalah apakah anda akan mengerjakan sendiri proses kalibrasi atau dikerjakan
oleh supplier anda/subcontractor anda/pihak lain maka terserah kepada peraturan
Nasional yang ada atau persyaratan yang ditentukan oleh pelanggan anda .

Tanggapan 2 : Afta

Pak Dirman,
Kita sudah mengerjakan kegiatan kalibrasi sesuai klausul ISO, seperti yang telah
anda jelaskan. Yang saya lebih concern adalah persoalan sertifikasi oleh metrologi.

Apakah ada, selain metrologi yang berhak atau bisa menerbitkan sertifikat kalibrasi
alat ukur, yang memiliki kekuatan (hukum) yang sama dengan yang dikeluarkan
metrologi?

Kalau kita sudah punya standart yang bersertifikat (mampu telusur ke standart
Nasional / Internasional), bisakah kita menerbitkan sendiri sertifikat (pengganti
metrologi) tersebut?

Sepengetahuan saya, beberapa negara mensyaratkan selain standart ukur, orang
/ personal yang melakukan kalibrasi yang harus juga bersertifikat agar dapat
menerbitkan sendiri sertifikat alat.

Kesulitan yang kita hadapi untuk persoalan sertifikasi metrologi ini adalah
waktu. Karena mungkin load kerjanya banyak, seringkali sertifikasi metrologi,
untuk weight scale (truck, floor, dan portable) dan juga tank gauge memakan
waktu sampai 6 bulan, apalagi kalau ada komplain customer, kegiatan sertifikasi
butuh dikerjalan lebih sering.

Tanggapan 3 : Zainal Abidin

Pak Afta Yth,
Agar memiliki kekuatan hukum, pelaksana kalibrasi harus mampu dan syah.

Mampu artinya kita memiliki keahlian dan memiliki kalibrator yang kepresisian
10 kali dari alat yang akan dikalibrasi.

Syah artinya harus diakreditasi aleh KAN (Kantor Akreditasi Nasional) atau
lembaga akreditasi lain yang setara (?). Prosedur untuk memperolehnya cukup
repot lho Pak (secara administrasi sangat tedious). Di sini kemampuan telusur,
validitas pengkalibrator dsb akan diaudit oleh KAN. Audit akan dilalukan secara
berkala baik segi administrasi maupun kemampuan kita sebagai pelaksana.

Mungkin teman-teman dari KAN dapat menambahkan.

Tanggapan 4 : Dirman Artib

Pak, mohon dilihat peraturan yang ada dari pemerintah yang berkenaan dengan
masalah alat ukur dan metode ukur. Jelas ISO mereferensi kepada hal ini. ISO
tidak mentolerir pelanggaran thd peraturan dan otoritas sebuah pemerintahan
yang sah dalam suatu Negara. Ini adalah prinsip.

Kemudian, saya menyangsikan bahwa peraturan pemerintah atau perundang-undangan
mewajibkan secara umum bahwa sertifikat alat kalibrasi harus dilakukan oleh
metrologi (mohon diberi pencerahan dari teman-teman yang biasa menggunakan ISO
17025), tetapi saya yakin bahwa untuk alat-alat ukur tertentu yang sifatnya
melayani publik secara langsung spt. ukuran liter untuk SPBU/pompa bensin maka
pasti kepentingan public dilindungi dengan perundang-undangan atau peraturan.
Apakah alat ukur anda fungsinya sama spt hal ini ?

Well,
Sewaktu masih di lapangan, saya punya pengalaman bahwa yang penting alat ukur
tsb. dikalibrasi oleh perusahaan yang merupakan anggota dalam organisasi professional
JNK (Jaringan Kalibrasi Nasional) , prinsipnya sama, yaitu perusahaan yang tergabung
dalam JNK mampu telusur kepada standard nasional. Yang termasuk dalam JNK adalah
seperti PINDAD, B4T, Laboratorium ITI di serpong (mohon response dari teman-teman
yang berkarya di sini).

Tanggapan 5 : Alfa

Mohon pencerahanya lagi.

Alat ukur yang kita sertifikasi disini adalah yang berhubungan dengan trading
/ perdagangan, baik untuk kita beli atau untuk kita jual. Misal, weight scale
(truck, floor, dan portable) tank level gauge, dan flowmeter.

Saat kalibrasi dan sertifikasi oleh metrologi, yang melakukan kalibrasi adalah
kita, dengan standart kita juga (yang bersertifikat KAN / Metrologi), sedang
metrologi hanya menyaksikan dan approved. Setelah itu kita dapat sertifikatnya.
Hal yang sama juga berlaku di perusahaan lain yang mensupply material ke kita,
kita diundang juga untuk menyaksikan proses kalibrasi oleh mereka bersama metrologi.

Kalau pelaksanaanya seperti itu, kenapa kita masih tidak berhak untuk menerbitkan
sertifikatnya ? Atau syarat apa lagi yang harus kita penuhi, selain dari aspek
teknis tentunya agar kita berhak menerbitkan sertifikat seperti metrologi. Kemudian
apa bedanya sertifikat yang dikeluarkan metrologi dengan sertifikat yang dikeluarkan
perusahaan yang terakreditasi oleh KAN?

Tanggapan 6 : Subhan Wahyudi

Pak Afta
Sejauh yang saya ketahui bahwa kalibrasi peralatan bisa dilakukan sendiri (kalibrasi
internal) dengan catatan perusahaan Bapak mempunyai personel yang kompeten untuk
melakukan kalibrasi tersebut. Untuk memenuhi hal ini bisa dibuktikan dengan
sertifikat pelatihan kalibrasi dari personel yang melakukan kalibrasi tersebut.
Kedua perusahaan Bapak harus mempunyai standar (kalibrator) yang telah dikalibrasi
oleh metrologi (mungkin yang dimaksud Pak Afta yaitu KIM-LIPI ?!) atau laboratorium
kalibrasi terakreditasi lain yang mampu mengkalibrasi standar tsb. Yang terakhir
yaitu tentunya perusahaan Bapak harus mempunyai SOP kalibrasi tersebut. Contoh
sederhana jika kita ingin mengkalibrasi timbangan maka Bapak harus mempunyai
anak timnagan yg sudah dikalibrasi laboratorium kalibrasi, mempunyai SOP nya
dan mengirimkan personel untuk mengikuti pelatihan kalibrasi timbangan. Jika
ketiga parameter tersebut sudah dipenuhi saya kira sudah mempunyai kekuatan
hukum (tertelusur ke SI). Hal ini juga sering dilakukan terhadap instrumen-2
tertentu dimana tidak ada satupun laboratorium kalibrasi di Indonesia yang mampu
mengkalibrasi instrumen2 tsb karena berbagai keterbatasan.

Sebagai tambahan bahwa kalibrasi tidak harus dilakukan oleh metrologi (KIM-LIPI)
tetapi bisa dilakukan oleh laboratorium kalibrasi lain yang tertelusur ke SI
(baik melalui KIM-LIPI atau secara langsung). Ada banyak laboratorium kalibrasi
di Indonesia dan bahkan lebih murah jika dibanding dengan kalibrasi ke KIM-LIPI.
Demikian masukan dari saya dan jika ada yang salah mohon diluruskan.

Tanggapan 7 : Nugroho

Dear members,
Saya sisipkan dibawah, mohon koreksinya jika salah..

—–Original Message—–
From: Zainal Abidin
Syah artinya harus diakreditasi aleh KAN (Kantor Akreditasi Nasional) atau lembaga
akreditasi lain yang setara (?).

Mungkin yg dimaksud pak Zainal lembaga akreditasi lain adalah UKAS (United
Kingdom Accreditation Services), ini termasuk mbahnya KAN nih..

—–Original Message—–
From: Afta
Apakah ada, selain metrologi yang berhak atau bisa menerbitkan sertifikat kalibrasi
alat ukur, yang memiliki kekuatan (hukum) yang sama dengan yang dikeluarkan
metrologi?

Tergantung alat ukurnya mas Afta, kalo alat2 ukur telekomunikasi, PT Telkom
punya satu bagian di DivRisti yg khusus untuk kalibrasi alat2 telkom, tapi kalo
alat2nya udah canggih (kayak alat2 yg butuh optical calibrator) baru larinya
ke Puspiptek Serpong. Lab kalibrasi di DivRisti tersebut boleh menerbitkan sertifikat
sendiri.

Kalau kita sudah punya standart yang bersertifikat (mampu telusur ke standart
Nasional / Internasional), bisakah kita menerbitkan sendiri sertifikat (pengganti
metrologi) tersebut?
Kasusnya di lab kalibrasi di DivRisti persis seperti itu. Mereka mampu-telusur
(traceable) langsung ke UKAS dan juga ke KAN, sehingga berhak menerbitkan sertifikat
kalibrasi. sebenarnya bukan pengganti metrologi, asalkan hasil kalibrasi tsb traceable
ke lembaga yg terpercaya boleh2 aja nerbitin sendiri.

Sepengetahuan saya, beberapa negara mensyaratkan selain standart ukur,
orang / personal yang melakukan kalibrasi yang harus juga bersertifikat agar
dapat menerbitkan sendiri sertifikat alat.
Sepertinya begitu, orang yg mengkalibrasi dan barang yg dipergunakan untuk
mengkalibrasi harus certified juga. Mustinya sih sertifikasi orang dan barang
juga ga berlaku selamanya, artinya mereka harus disertifikasi ulang.

Kesulitan yang kita hadapi untuk persoalan sertifikasi metrologi ini adalah
waktu. Karena mungkin load kerjanya banyak, seringkali sertifikasi metrologi,
untuk weight scale (truck, floor, dan portable) dan juga tank gauge memakan
waktu sampai 6 bulan, apalagi kalau ada komplain customer, kegiatan sertifikasi
butuh dikerjalan lebih sering.
Membuat dan merawat Lab. kalibrasi yg traceable
sampai ke UKAS juga mahal lho, Telkom aja sampe nombok ratusan juta rupiah per
bulannya.

Tanggapan 8 : Zainal Abidin

Pak Subhan dan Pak Nugroho Yth,

Jawaban untuk Pak Nugroho dulu:
Pak, KAN (Kantor Akreditasi Nasional) itu telah memiliki perjanjian dengan lembaga-lembaga
akreditasi dunia. Artinya bahwa alat yang dikalibrasi di luar negeri oleh badan
akreditasi dunia juga diakui oleh KAN. Demikian juga sebaliknya. Jadi kalau
bisa dikalibrasi di Indonesia, kenapa harus ke Inggris Pak. Biayanya 9x lipat.
Lagian, sebaiknya kita dukung program: Aku cinta Indonesia.

Untuk Pak Subhan:
Tidak Pak. Walaupun Bapak memiliki personel yang mampu, memiliki alat, dan pernah
ikut training, tidak secara otomatis kalibrasi yang Bapak lakukan berkekuatan
hukum karena itu baru aspek teknis. Selain aspek teknis, KAN akan mangaudit
aspek administratif agar Bapak dapat menghasilkan sertifikat yang
terakreditasi secara syah.

KIM-LIPI hanya salah satu dari puluhan Laboratorium yang diakreditasi KAN.
Sucofindo, Pindad, B4T, dan beberapa lab perguruan tinggi telah diakreditasi
oleh KAN untuk bidang-bidang yang khusus. Contoh:
Lab Dinamika PAU-ITB (&KIM Lipi) untuk Getaran, Lab. Metrologi Mesin untuk
pengukuran dimensi, Sucofindo-untuk berat, tegangan dll.

Mohon teman-teman dari KAN menambahkan informasi ini.

website KAN dapat diakses dari: Badan Standardisasi Nasional (BSN) www.bsn.or.id

Tanggapan 9 : Nugroho

Pak Zainal,
Saya ga tahu kenapa si Telkom harus ngerujuk ke UKAS juga, apakah mungkin ada
sebagian yg tidak bisa dikalibrasi di sini sehingga harus merujuk kesana? Yang
jelas saya ngelihat logonya UKAS dan KAN berdampingan dengan gagahnya dikantor
Telkom sana..

Saya sih setuju2 aje, kalo bisa murah dan hasilnya sama aja, kenapa harus ke
Inggris? lagian.. aku cinta indonesia juga kok.. 🙂

Tanggapan 10 : Arief Rahman T

Bapak-bapak,
Apa ya nggak lebih baik kalau kita merujuk lagi kepada kenapa sih kita perlu
mengkalibrasi instrument (karena topiknya instrument)?? Setahu saya (mohon koreksinya
kalau salah) sebuah alat ukur bisa dikatakan "valid" dipakai sebagai
alat ukur dan hasil pengukurannya dianggap sesuai apabila alat tersebut sudah
dikalibrasi dan alat kalibrasinya traceable ke international measurement standard
(Misalnya yang ada di International Beruau). Dengan demikian pengukuran yang
akan dilakukan oleh sebuah alat ukur akan standardized.

Menurut saya, ini diperlukan supaya pengukurannya yng dilakukan dan hasilnya
mempunyai basis yang sama dengan pengukuran lain di seluruh dunia (internationally).
Ujung-ujung-nya menurut saya adalah keseragaman.

Tapi karena mahal kalau langsung dikalibrasi dengan yang di National Beruau
maka setiap negara biasanya mengkalibrasi-kan alatnya terhadap alat yang standard
tersebut dan dipakai sebagai "turunan" alat kalaibrasi di setiap negara
(misalnya alat-alatnya LITBANG KIM dsb-dsb). Anggap saja ini sebagai turunan-I.
Dengan demikian alat-alat dari perusahaan-perusahaan bisa dikalibrasi dengan
turunan-I ini dan bisa dianggap sebagai turunan-II.

Menurut saya, untuk internal use setiap alat yang ada di suatu perusahaan akan
valid dipakai untuk pengukuran dengan memakai turunan-II ini. Agak beda kalau
sudah melibatkan pihak lain misalnya dalam custody transfer. Persoalannya lebih
kepada aspek legal (menurut saya). Kalau sudah urusan legal ya terpaka harus
melibatkan banyak pihak (misalnya BP Migas, Dpeartment perindustrian dsb-dsb
tergantung masalahnya). Atau juga misalnya barang yang dihasilkan akan dijual
ke pihak lain dan pihak lain tersebut hanya mau beli kalau pengukuran-nya di
sertifikat oleh badan tertentu ya harus dilakukan. Kalau tidak ya produk-nya
pasti nggak akan dibeli.

Dengan begitu menghadapi pertanyaan apakah boleh mensertifikat sendiri untuk
instrument di tempat bapak AFTA, menurut saya bisa boleh bisa tidak. Case by
case.

Tanggapan 11 : Subhan Wahyudi

Pak Zaenal
Pertama saya ingin meluruskan dulu bahwa KAN bukan Kantor Akreditasi Nasional,
tapi Komite Akreditasi Nasional. Sebagai tambahan informasi sekaligus meluruskan
bahwa perjanjian yang Bapak maksud yaitu MRA (Multilateral Recognition Arrangement),
namun sampai saat ini baru tingkat asia pasifik (MRA APLAC) sejak november 2003.

Supaya diskusi ini tidak terlalu melebar perlu saya sampaikan adalah pertanyaannya
bisa tidak melakukan kalibrasi sendiri dan bisa menerbitkan sertifikat kalibrasi
sendiri (sesuai email pertama). Jadi keliatannya ada salah persepsi bahwa karena
yang dilakukan KAN dalam mengaudit persyaratan teknis maupun administratif (manajemen)
diperuntukkan bagi laboratorium kalibrasi yang ingin mendapat akreditasi sebagai
laboratorium kalibrasi terakreditasi (tentunya sesuai ISO 17025) dari KAN. Saya
kira bukan itu yang dimaksud Pak Afta dari MCCI karena MCCI bukan laboratorium
(kalo tidak salah ini Mitsubishi Chemical ??).

Tanggapan 12 : Dirman Artib

Pak diskusinya jadi menarik nih..!

Saya mau tahu sejarahnya kenapa KAN terlibat dalam menyaksikan dan meng-approved
sertifikat yang dikeluarkan oleh perusahaan Bapak sendiri. Apakah ini persyaratan
pelanggan ? Apakah ini karena anda bermaksud memenuhi persyaratan peraturan
dan perundang-undangan di Indonesia ?
Atau…
Apakah ini sudah berjalan dari dulunya yang dijalani oleh staff sebelum anda
sehingga …selama ini anda hanya mengikuti ?

Perlu untuk meninjau ulang, apalagi peraturan dan policy di Indonesia sudah
banyak berubah.

Catatannya adalah :
Jika secara bisnis proses ini menguntungkan dan memberikan benefit kepada perusahaan
bapak untuk lebih dipercaya pelanggan karena sertifikatnya di-approved oleh
KAN sebagai lembaga yg kredibel, why not ? Apalagi jika hal ini membuat anda
menjadi "berbeda" dgn. Competitor dan merupakan kunci daya saing…….saya
anjurkan untuk teruskan, bukankah ini adalah satu tujuan sertifikasi apapun
? Yaitu PENGAKUAN.

Tanggapan 13 : Afta

Menjawab pertanyaan Pak Subhan :
Benar pak, saya dari Mitsubishi Chemical, bukan perusahaan / laboratorium kalibrasi.

Pak Dirman :
KAN tidak terlibat lansung, yang langsung adalah metrologi. seperti yang saya
jelaskan sebelumnya, metrologi hanya witness dan approved. Aktifitas kalibrasinya
sendiri kita yang kerjakan dengan menggunakan standart kita yang traceable /
bersertifikasi KAN atau metrologi berikut personel dan SOP-nya. Saya juga sepakat
bahwa, dengan memiliki sistem kalibrasi yang terakreditasi, tentunya kita menjadi
lebih "diakui"

Pak Arif Rahman :
Kasus di kita, sertifikasi memang buat trade dengan pihak lain, saya sendiri
kurang tahu mengenai aspek legalnya (sudah masuk areanya logistic), sehingga
kita tetap mempertahankan sertifikasi metrologi. (mohon pencerahanya)

Nah, kembali ke pertanyaan semula, kalo ada kemungkinan bisa saya melakukan
sertifikasi sendiri, apa yang harus saya penuhi? Kalau ada pihak selain metrologi
yang berhak menerbitkan sertifikat, apakah nilai hukumnya sama dengan versi
metrologi?

Barangkali juga bisa share yang punya pengalaman soal aspek teknis – legal
kalibrasi dan sertifikasi instrument yang digunakan untuk trade / custody transfer
(meminjam pernyataan Pak Arif Rahman).

Tanggapan 14 : Subhan Wahyudi

Pak Afta
Sejauh yang saya ketahui bahwa kalibrasi peralatan bisa dilakukan sendiri (kalibrasi
internal) dengan catatan perusahaan Bapak mempunyai personel yang kompeten untuk
melakukan kalibrasi tersebut. Untuk memenuhi hal ini bisa dibuktikan dengan
sertifikat pelatihan kalibrasi dari personel yang melakukan kalibrasi tersebut.
Kedua perusahaan Bapak harus mempunyai standar (kalibrator) yang telah dikalibrasi
oleh metrologi (mungkin yang dimaksud Pak Afta yaitu KIM-LIPI ?!) atau laboratorium
kalibrasi terakreditasi lain yang mampu mengkalibrasi standar tsb. Yang terakhir
yaitu tentunya perusahaan Bapak harus mempunyai SOP kalibrasi tersebut. Contoh
sederhana jika kita ingin mengkalibrasi timbangan maka Bapak harus mempunyai
anak timbangan yg sudah dikalibrasi laboratorium kalibrasi, mempunyai SOP nya
dan mengirimkan personel untuk mengikuti pelatihan kalibrasi timbangan. Jika
ketiga parameter tersebut sudah dipenuhi saya kira sudah mempunyai kekuatan
hukum (tertelusur ke SI). Hal ini juga sering dilakukan terhadap instrumen-2
tertentu dimana tidak ada satupun laboratorium kalibrasi di Indonesia yang mampu
mengkalibrasi instrumen2 tsb karena berbagai keterbatasan.

Sebagai tambahan bahwa kalibrasi tidak harus dilakukan oleh metrologi (KIM-LIPI)
tetapi bisa dilakukan oleh laboratorium kalibrasi lain yang tertelusur ke SI
(baik melalui KIM-LIPI atau secara langsung). Ada banyak laboratorium kalibrasi
di Indonesia dan bahkan lebih murah jika dibanding dengan kalibrasi ke KIM-LIPI.
Demikian masukan dari saya dan jika ada yang salah mohon diluruskan.

Tanggapan 15 : Waskita Indrasutanta

Kalau berbicara mengenai kekuatan hukum, saya artikan sebagai kekuatan hukum
untuk alat ukur ‘custody transfer’ (meter untuk keperluan jual-beli).

Apabila pihak Penjual maupun pihak Pembeli mempunyai kesepakatan mengenai sertifikasi
kalibrasi sudah cukup untuk mengadakan transaksi jual-beli dengan menggunakan
alat ukur tersebut. Walaupun demikian, apabila terjadi dispute / perselisihan,
Direktorat Metrologi – DiMet (yang berada dibawah Departemen Perdagangan) tidak
bisa menjadi pihak ketiga dalam penyelesaian perselisihan tersebut.

Untuk transaksi custody transfer di Indonesia, DiMet adalah satu-satunya badan
yang berwenang sebagai pihak ketiga dalam pengadilan. Khusus untuk komoditi
migas, alat ukur harus disertifikasi oleh DirJen MIGAS bersama-sama DiMet.

Saya kurang pasti apakah DiMet dan MIGAS memberikan otoritasnya kepada pihak
lainnya. Mungkin rekan-rekan DiMet atau MIGAS bisa memberikan penjelasan yang
lebih baik.

Tanggapan 16 : Afta

Menjawab pertanyaan Pak Subhan :
Benar pak, saya dari Mitsubishi Chemical, bukan perusahaan / laboratorium kalibrasi.

Pak Dirman :
KAN tidak terlibat langsung, yang langsung adalah metrologi. seperti yang saya
jelaskan sebelumnya, metrologi hanya witness dan approved. Aktifitas kalibrasinya
sendiri kita yang kerjakan dengan menggunakan standart kita yang traceable /
bersertifikasi KAN atau metrologi berikut personel dan SOP-nya. saya juga sepakat
bahwa, dengan memiliki sistem kalibrasi yang terakreditasi, tentunya kita menjadi
lebih "diakui"

Pak Arif Rahman :
Kasus di kita, sertifikasi memang buat trade dengan pihak lain, saya sendiri
kurang tahu mengenai aspek legalnya (sudah masuk areanya logistic), sehingga
kita tetap mempertahankan sertifikasi metrologi. (mohon pencerahanya)

Nah, kembali ke pertanyaan semula, kalo ada kemungkinan bisa saya melakukan
sertifikasi sendiri, apa yang harus saya penuhi? Kalau ada pihak selain metrologi
yang berhak menerbitkan sertifikat, apakah nilai hukumnya sama dengan versi
metrologi?

Barangkali juga bisa share yang punya pengalaman soal aspek teknis – legal
kalibrasi dan sertifikasi instrument yang digunakan untuk trade / custody transfer
(meminjam pernyataan Pak Arif Rahman)

Tanggapan 17 : Waluya Priatna

Kalibrasi dan certifikasi bisa dilakukan sendiri jika bapak mempunyai master
equipment yang telah dikalibrasi oleh third party atau oleh KAN dan master itu
bisa mengkalibrasi turunannya. Yang disebut inhouse kalibrasi sertifikat, ini
berlaku karena bapak sudah mempunyai master dan ini juga sudah dilakukan diperusahan
kami PT.McDermoot Indonesia-Batam kami punya master yg dikalibrasi oleh Sucofindo
dan Master Sucofindo dikalibrasi oleh KAN ( Komite Akreditasi Nasional ).