Kami ingin melakukan pengukuran delta pressure dari steam reformer kami secara langsung dengan menggunakan type DP untuk redundant (existing saat ini dengan 2 buah PT, indikasi Delta P adalah kalkulasi lewat DCS), beberapa kendala yang kami hadapi adalah jarak antara inlet dengan outletnya cukup jauh antara 25-30 meter
dengan beda ketinggian sekitar 15 meter.Pertanyaan : Budi Yuwono

Kami ingin melakukan pengukuran delta pressure dari steam reformer kami secara
langsung dengan menggunakan type DP untuk redundant (existing saat ini dengan
2 buah PT, indikasi Delta P adalah kalkulasi lewat DCS), beberapa kendala yang
kami hadapi adalah jarak antara inlet dengan outletnya cukup jauh antara 25-30
meter dengan beda ketinggian sekitar 15 meter, kemudian dikhawatirkan terjadi
kondensasi pada sistem piping atupun tubing. pengukuran dengan PT saat ini
seringkali bermasalah sehubungan dengan terbentuknya kondensat (terutama pada
sisi intlet) strategi yang udah diterapkan adalah dengan memasang separator,
tetapi kayaknya hasilnya masih kurang memuaskan, karena mungkin masih ada carry
over ke transmitter.

Mohon masukan dari saudara2 semua tentang strategi yang memungkinkan untuk
permasalahan kami, sekian dan terimakasih.

Tanggapan 1 : Johanes Sudarsono

Menurut saya pengukuran delta pressure dengan menggunakan DP cell untuk aplikasi
di proses anda dimana jarak antara inlet dan outlet sekitar 25-30 mtr dengan
beda ketinggian 15 mtr kurang praktis meskipun bisa dilakukan. Sistim pengukuran
delta press yang ada disistem proses anda sekarang cukup baik. Sebetulnya untuk
mengatasi masalahnya anda hanya cukup memasang seal pot pada impulse line pressure
transmitter. Kalau fluida prosesnya adalah steam maka anda cukup pakai air untuk
mengisi seal pot tsb. Dengan memasang sealpot pada impulse line maka variasi
pengukuran hanya propotional terhadap variasi tekanan proses. Bila anda tidak
pasang seal pot maka besarnya tekanan yang ditunjukan oleh pressure transmitter
tidak akan mempresentasikan tekana proses sebenarnya karena adanya tambahan
variasi statik head hasil kondensasi yang masuk impulse line press transmitter.

Setelah itu lakukan kalibrasi pressure transmitter dengan benar seperti berikut.

Misal pressure transmiter anda punya range 0 – 20 kg/cm2 dan press trans dipasang
pada elevasi dibawah proses yang akan diukur

Calibration input signal :
Zero: S , dimana S = statik pressure dari ketinggian air yang mengisi seal pot
( anda bisa hitung sendiri dengan ref berat jenis air 1). Anda inject S ini
ke press trans lalu adjust zero setnya sampai press tx menunjuk 0 kg/cm2.

Span: S + 20kg/cm2, inject besaran ini ke press tx, lalu adjust span sampai
press tx menunjuk 20 kg/cm2.

Lakukan cara ini pada kedua pressure transmitter yang dipasang pada upstream
dan down stream, bila hal ini dilakukan dengan benar maka DCS tidak akan salah
menghitung DP nya.

Tanggapan 2 : Waskita Indrasutanta

Apabila pada ambient temperature, process mengalami kondensasi maka kita harus
menggunakan wet leg (diisi dengan seal liquid) pada impulse line. Seal liquid
bisa dari process sendiri (misal untuk steam digunakan air sebagai seal liquid),
atau lainnya (yang tidak kontaminasi terhadap process) apabila process fluid
sifatnya volatile pada ambient temperature. Dalam hal ini kedua instalasi (2
bh PT dan 1 bh DP) harus menggunakan wet leg.

Posisi transmitter harus berada dibawah process, dan konstruksi harus sedemikian
rupa sehingga level seal liquid konstan. Untuk jelasnya saya cuplik gambar dibawah
dari salah satu instruction manual (html version dengan gambar akan diposting
oleh Pak Budhi). Vent valve dari transmitter harus pada posisi upper untuk membuang
gas trap pada sensor chamber. Setelah seal liquid diisi penuh, maka transmitter
harus di-zero kembali (pada zero dP). Wet leg dari kedua impulse line (high
& low side) tidak harus sama tingginya, karena dP yang disebabkan oleh masing-masing
wet leg akan di-zero.

Tanggapan 3 : Budi Yuwono

Terima kasih pak Indra, mungkin perlu saya tambahkan informasi bahwa dengan
adanya beda ketinggian sekitar 10000 s/d 15000 mm maka jika digunakan wet leg
(semi wet leg menurut saya karena hanya satu leg yang memungkinkan untuk konfigurasi
ini) maka delta P nya udah cukup tinggi antara sisi high sama low. Sekitar 10000
mmH2O (0.98 bar) untuk kondisi zero, dengan air sebagai sealnya. yang perlu
saya tanyakan adalah kira2 ada nggak pengaruhnya terhadap akurasi pengukuran,
mengingat delta P yang terbaca saat ini hanya sekitar 2.78 bar saja. kalau kedua
leg mau di kofigurasi wet saya rasa akan sulit pak mengingat transfer line untuk
outlet posisinya rendah.

Kemudian dari gambar kayaknya manifoldnya kok diatas (jauh dari transmitter),
kalau boleh tahu kenapa pak? Terus untuk posisi vent dari transmitter saya rasa
apa gak sebaiknya dibawah, karena pada saat ngisi air vent ini kita buka dikit
untuk memastikan bahwa pada chamber sensing element tidak terdapat udara yang
terjebak.

Tanggapan 4 : Waskita Indrasutanta

Pak Budi dan rekan-rekan,
Untuk pengukuran yang lebih tepat, kedua kaki (high & low side) sebaiknya
menggunakan wet leg. Bagian low side tidak perlu terlalu panjang asalkan posisi
transmitter (sensor chamber) berada (sedikit) dibawah low side process connection.

Kalau salah satu leg menggunakan dry leg, maka kita tetap menghadapi masalah
kondensasi pada dry leg tersebut. Pada aplikasi Pak Budi, bisa saja dP transmitter
dipasangkan misalnya 30 cm dibawah low process nozzle, sedangkan high side bisa
15 meter tingginya. Kalau kita menggunakan wet leg, panjang impulse line tubing
tidak mempengaruhi respond time dari pengukuran, karena seal liquid yang sifatnya
incompressible. Untuk dry leg yang panjang akan mengalami delay time pengukuran
yang besar karena sifat gas yang compressible dan process pressure harus mengisi
seluruh impulse line dan sensor chamber dengan tekanan sampai sama dengan process
pressure.

Mengenai satu leg yang jauh lebih panjang dari yang lainnya, hal ini tidak mempengaruhi
accuracy pengukuran. Sebuah dP transmitter yang baik mempunyai zero suppression
dan zero elevation yang cukup lebar mendekati URL (Upper Range Limit) dan LRL
(Lower Range Limit), sedangkan kalau kita perhatikan spesifikasi mengenai accuracy
hanya merupakan fungsi dari calibrated span, URL dan LRL; tidak dipengaruhi oleh
zero suppression maupun zero elevation. Artinya, kalau kita mempunyai 0 ~ 3 Bar
differential Pressure dengan URL 5 Bar, kita masih bisa melakukan zero suppression
sampai dengan 2 Bar tanpa mengurangi accuracy.

Gambar yang saya kirimkan pada posting terdahulu adalah schematic diagram,
bukan dimensional drawing. Jadi tidak menggambarkan jauh dekatnya 3-way manifold
dengan transmitter, melainkan bahwa posisi 3-way manifold berada di posisi wet
leg. Masih banyak instalasi yang menggunakan 3 buah needle valve yang dirangkai
sebagai 3-way manifold; kalau zaman sekarang orang lebih senang menggunakan
3-way manifold (lebih praktis) yang sudah fabricated dan menempel langsung pada
transmitter.

Untuk liquid atau wet leg, posisi vent valve harus berada di upper dari sensor
chamber agar gas trap bisa di-vent. Prosedur yang dimaksud Pak Budi benar, kecuali
posisi vent valve yang harus diatas, karena gas akan berada diatas liquid. Posisi
dibagian lower diperuntukkan untuk aplikasi gas atau dry leg, agar kita bisa
melakukan drain dari liquid (karena kondensasi atau lainnya) yang ada di sensor
chamber.

Tanggapan 5 : Budi Yuwono

Baik pak Indra sekarang sudah jelas dan gamblang…
terimakasih banyak atas kesediaan bapak untuk memberikan bimbingan, termasuk
memaklumi kesalahan2 saya.

Tanggapan 6 : Waskita Indrasutanta

Lho bukan bimbingan, tetapi hanyalah sharing apa yang sudah saya pahami sebelumnya.
Juga bukannya memaklumi kesalahan, tetapi saya senang kalau sharing tersebut
bisa berguna bagi rekan-rekan.

Justru diskusi semacam ini yang membuat milis kita menjadi hidup, dimana para
anggota saling berbagi pengalaman. Moderator KBK akan merangkum semua diskusi,
siapa tahu nantinya dari rangkuman-rangkuman tersebut akhirnya bisa dibuat buku
yang berguna bagi KMI maupun rekan lainnya.

Tanggapan 7 : Afta

Pak Budi, sekedar sharing pengalaman saja. Dengan jarak inlet-outlet 25m, memang
memungkinkan terjadinya kondensasi sepanjang lead pipe ke transmitter, yang
tentunya akan mengganggu "reading" di DP Transmitter.
Mungkin alternatif solusinya adalah pemakaian liquid sealing (water), jadi yang
kontak dengan diafragm si DP Transmitter adalah liquid (water) bukan steam.
Tentu saja hal ini akan mempengaruhi pembacaan DP, sehingga harus dikalkulasi
ulang berapa nilai URV dan LRV yang mewakili pressure actual. Mohon koreksinya
kalau ada yang salah.

Tanggapan 8 : Gede Aria

Ada beberapa cara untuk menghilangkan terjadinya kondensasi,
1. Bisa dipakai heat tracing kalo di plant anda ada panel heat tracingnya.
2. Memakai kondensat pot dan tubing harus tidak ada pocket.
3. Penggantian tubing dengan capillary DP type.
dan sebaiknya PT yang sudah ada di inlet maupun di outletnya dipertahankan sebagai
perbandingan dengan pengukuran dengan DPTx.

Tanggapan 9 : Waluya Priatna

Gede, Kalau yang mau diukur itu liquid tidak perlu pakai codensate pot.


Tanggapan 10 :
Afta

Maaf sebelumnya kalo jadi melebarkan masalah, tapi mumpung masih berhubungan.
Minta sharing pengalamannya, dari bapak-bapak.

Kalau liquid (water) yang jadi sealing steam berkurang, kira-kira penyebabnya
apa yah?, padahal tidak terdeteksi kebocoran. Juga ada pendapat kalau liquid
sealing dari steam, kecil kemungkinanya berkurang, karena steam di dekat liquid
akan turun temperaturnya, dan berkondensasi menjadi air, kira-kira mungkin gak
hal seperti ini?

Sekali lagi mohon sharing pengetahuanya.

Tanggapan 11 : Waskita Indrasutanta

Pastikan seluruh bagian wet leg mempunyai temperature yang cukup rendah sehingga
tidak terjadi penguapan air. Diharapkan terjadi kondensasi dari steam pada temperature
tersebut, sehingga kalau air dalam wet leg berkurang terisi kembali oleh kondensasi
steam.

Untuk memastikan temperature cukup rendah, jangan menggunakan isolated tubing.
Kalau masih kurang rendah bisa menggunakan cooling fin atau menambah panjang
tubing dari proses ke wet leg.