Select Page

Kebetulan saya sedang mempelajari software pipe stress analysis Caesar II 4.10, dan ada beberapa kesulitan yang saya temui, terutama pada saat melakukan dynamic analysis (steam relief, water hammer, equipment vibration, dsb).
Sekiranya ada di antara rekan-rekan yang punya pengalaman dengan dynamic analysis Caesar II, saya mohon bantuan pencerahan.
Pertanyaan : Winner Tarigan

Kebetulan saya sedang mempelajari software pipe stress analysis Caesar II 4.10,
dan ada beberapa kesulitan yang saya temui, terutama pada saat melakukan dynamic
analysis (steam relief, water hammer, equipment vibration, dsb).
Sekiranya ada di antara rekan-rekan yang punya pengalaman dengan dynamic analysis
Caesar II, saya mohon bantuan pencerahan

Tanggapan 1 : Teddy

Wah, ini bagian yang tersulit dalam mempelajari stress analysis software, dalam
proyek jarang sekali diminta dilakukan, karena memang jika klien menghendaki
dynamic analysis maka’charge’ nya pun jadi berbeda jauh. Saya tidak
tahu apakah pak winner sudah memakai CAESAR II V.4.5 apa belom, tapi CASEAR
versi ini cukup memanjakan pemakai, dibandingkan versi terdahulu, apalagi versi
4.10 yang membuat pusing jika modelnya terpaksa hanya satu stress number dengan
ratusan nodal saat melakukan static tapi juga harus seismic.

Pada prinsipnya pak winner, daripada harus berpusing ria pada berbagai prosedur
yang njlimet, dynamic analisis bisa ‘disederhanakan’ dengan menggunakan
pseudo-quasi static analysis, yaitu pertama dengan mencari beban maksimum akibat
hammering misalnya, lalu mencari dynamic load factor (DLF). Ada aturan lebih
lanjut untuk aplikasi DLF ini, tapi nilainya berkisar antara 0-2. Saya sendiri
belom sempat mendalami secara lebih komprehensif mengenai berbagai variasi dan
aplikasi dari DLF ini. Tapi awal pencariannya adalah dari frekuensi resonansi
sistem. Tolong dikoreksi oleh yang lain jika saya keliru.

Sampai sekarang pun masih jadi perdebatan, apakah perlu mengalikan thrust force
case PSV pada sistem close loop dengan DLF. Angka 2 ini angka yang konservatif,
jika mau konservatif ya kalikan saja beban luar dengan angka ini saat input.

Tapi kelemahan dari pseudo-quasi analysis ini adalah, kita tidak tahu persis
pada nodal mana beban maksismum akan terjadi, harus ada analisis yang lebih
cermat lagi. Contohnya pada sebuah sistem perpipaan dari heat exchanger ke cracking
tower misalnya, dimana fluida mengalami perubahan fase saat ‘berjalan’
di dalam pipa, akibatnya ada slugging disitu. Tentunya harus ada dynamic analisis,
karena slug nya kan akan hantam sana-sini pada setiap elbow yang dia lewati.
Akibat tidak adanya kesetimbangan momentum saat hantaman, timbul gaya pada salah
satu elbow. ini yang menyebabkan vibrasi. Kalau mau pake pseudo statik ya dianalisis
pada elbow mana kira-kira ketidak seimbangan paling besar terjadi, hitung gayanya
kalikan 2. Tapi kalau mau njlimet ya pake dynamic analisis, hitung fatigue casenya,
hitung frekuensi resonansinya, hitung DLF nya,lakukan dynamic run.

Ada satu lagi yang meurut saya kelemahan CAESAR (meskipun kata penjualnya ini
kelebihan) yaitu kecenderungan untuk tidak mau convergence saat iterasi incore
numerik, sehingga kita harus berulangkali setting friction stiffness nya. Kalau
stifnessnya terlalu rendah, restrain load yang keluar di output report itu jadi
meragukan, karena komponen gaya gesek pada arah Z atau X menjadi kecil. Hal
ini menyulitkan saat static analysis, terlebih bila menjalankan dynamic analysis.
Bakal seru kalau ngomongin dynamic analysis ini, sayang tidak ada cukup kesempatan
dan waktu untuk mencoba, apalagi buat yang bekerja di konsultan 🙂

Saran saya, coba dulu satu case pada sistem yang sederhana, misalnya hammering
saja, jalankan dulu fatique casenya, jangan sampai salah memberi tanda saat kombinasi
case nya, ada vector ada skalar, ada absolut, lalu coba jalankan frekuensi resonansi
nya. Hati2 dengan banyak detail di sheet inputnya.

Share This