Mohon pencerahannya mengenai aktifitas-aktifitas apa saja yang ada dalam proses Commissioning untuk proyek Oil & Gas pada umumnya terutama pada
disiplin Instrument dan Elektrikal. Untuk pengerjaan modifikasi tentunya perlu melakukan Shutdown, bagaimanakah prosedurnya ?

Pertanyaan : Heyder Bachmid

Mohon pencerahannya mengenai aktifitas-aktifitas apa saja yang ada dalam proses
Commissioning untuk proyek Oil & Gas pada umumnya terutama pada disiplin
Instrument dan Elektrikal. Untuk pengerjaan modifikasi tentunya perlu melakukan
Shutdown, bagaimanakah prosedurnya ?

Tanggapan 1 : G. Edwin Dewayana

Aktifitasnya sbb:

  1. Callibration/function test
  2. Pneumatic leak test tubing
  3. Control panel verification from end device through
  4. Control logic
  5. Continuity checking of control cabling
  6. Integrated Loop Check through BPCS
  7. Simulation of regulatory control using DCS by making
  8. Control mode setting
  9. Cause and effect / SIS testing of the facility
  10. Fire and gas Instrument Check and verify correct

mohon dikoreksi

Tanggapan 2 : Hasanuddin

Pak Bachmid,
Dalam konteks ini saya melihat bapak menanyakan ttg commissioning untuk shutdown
project. Berikut adalah step2 yang biasanya dilaksanakan, semoga bisa sedikit
membantu:

1. Preparation activities
– logistic: mess, catering, office, transport, dll
– material: consumable, test equipment, temporary equipment, dll
– personnel: mobilisasi, administrasi, organisasi, dll
– vendor/sub-con: mobilisation, assistance, dll
– planning: forecast, program, histograms, manhours, dll
– plant document reference: manual, drawing, certificates, dll (biasanya diprovide
owner)

2. Preliminary checks
melakukan cross-verification pada semua system/sub-system, setting PSV, piping
flushing/cleaning, machinery cold alignment, electrical protection relays setting,
instrument calibrations, dll.

3. Functional tests
melakukan functional test pada equipment2 pada fungsi normal maupun di-energisation
berikut reportingnya.

4. Pre-start-up activities
melakukan leak test, chemical cleaning, dry out, chemical loading, purging/inerting
pada equipment dan piping system.

5. Operational tests
Melakukan test pada kondisi operasi normal dengan verifikasi2 atas kemungkinan
terjadinya faultness yg mungkin terjadi pada kondisi operasional (vibrations,
overheating, overloading,dll). Pada fase ini, subsystem dalam keadaan ready
for normal operation. Test dilakukan pada semua sub-system dan major equipment

6. Documentation tasks.
– technical data base: sbg working document yang me-record completion dates
functional test dan macam2 commissioning activities.
– drawings: PID, single line diagram, interconnecting diagram, interlock logic
diagrams, ESD matrix, dsb.
– punch list: mendata punchlist dan clearance-nya sebagai basic data untuk ready
for hand over punch list.
– commissioning report forms: pengisian form report, functional test sheet,
operational test procedures,dll.
– handover dossier
a. handover certificate
b. subsystem definition drawings
c. data base print-out
d. commissioning reports (preliminary check report, functional test sheet, pre-start-up
activities report, operational test procedure, mechanical report, vendors report,
dll)
– handover punch list
– as-built drawings
– list of modifications

Kalo boleh numpang kasih saran, bapak mesti FULLY AWARE terhadap dokumentasinya.

Tanggapan 3 : Ashari

Sebagai refference mungkin API Publication 700 bisa digunakan. Saya punya,
tapi second edition, Sept. 1981. Ada yang punya last edition ???

Tanggapan 4 : G, Edwin Dewayana

Pada saat construction/installation – commissioning – kemudian start-up, diperlukan
juga satu kegiatan assurance untuk memastikan bahwa technical integrity dari
semua yang dipasang sudah dalam kondisi siap dioperasikan dengan aman sesuai
dengan specs dan maksud design-nya. Hal-hal yang dilakukan bisa mulai dari physical/visual
check, testing (loop/continuity, leak, function, grounding, dll), calibration,
simulation, dll.

Untuk memastikan bahwa tidak ada aktivitas instalasi/commissioning yang kelupaan,
biasanya dipakai check list dengan berbagai macam form-nya. Check list ini bisa
diasosiasikan dengan job cards, misalnya. Saat ini metode konvensional dengan
form-form/card-card ini sudah mulai ditinggalkan oleh beberapa supermajor companies,
digantikan dengan software yang bisa membantu dengan lebih sistematis/terstruktur
dan membantu mengeliminasi kemungkinan human error dalam suatu projek yang rumit.

Software untuk completion (fab/construction, commissioning, start up) assurance
ini mencakup pekerjaan sertifikasi (istilahnya memang sertifikasi, meskipun
pengertiannya berbeda dari yang selama ini kita pahami) tahap demi tahap mulai
dari penyerahan barang dari vendor ke EPC contractor, energy isolation, fabrication,
commissioning/test, sampai handover dari project team ke Operation, dan bahkan
pengamatan plant performance plant sampai periode tertentu (warranty period).
Konfigurasinya dibuat dengan mengacu kepada P&ID, SLD, dan hook-up/installation
drawings.

Sebelum masing-masing tahap handover, software ini mengakomodasi point-point
apa saja yang harus diperiksa dan harus diselesaikan dulu sampai diperoleh zero/reasonable
punch list. Pihak yang diserahi dalam setiap tahap handover harus sadar benar-benar
kalau ada punch list bahwa outstanding items yang ada di dalamnya itu mengandung
resiko yang harus dimitigate. Kalau dirasakan masih terlalu banyak pekerjaan
yang harus dilakukan, dia sebaiknya tidak menerima hand over yang mengandung
punch list itu.

Hasil dari completion assurance ini akan dimasukkan dalam suatu electronic
database yang akan dipakai sebagai acuan pekerjaan maintenance kelak, karena
database ini bisa diintegrasikan dengan Maximo misalnya, untuk mengidentifikasi
spare parts, maintenance periods/planning, dll.

Tahap akhirnya adalah handover ke Operation, dengan satu sertifikat akhir yang
ditandatangani bersama, antara project team dengan Operation. Sebelum menandatanganinya,
Operation bisa memeriksanya di komputer terlebih dahulu karena software ini
(kita tahu semua) tidak bisa dibohongi/membohongi.

Jadi memang pekerjaan commissioning untuk projek yang besar sebenarnya tidaklah
sederhana karena harus juga melihat jauh ke depan, supaya pekerjaan maintenance
untuk plant itu lebih mudah.

Mudah-mudahan berguna….tanpa ada maksud menggurui, meskipun tidak hanya terbatas
di disciplin E&I.

Tanggapan 5 : Imam Dermawan

Wah menarik juga dokumentasinya dlm bentuk softcopy/software.
Pak Edwin,
apakah bisa memberikan gambaran mengenai softwarenya ,
apakah seperti software PIMS = project information management system ?

Kalo yg sy tahu yg konvensional biasanya ada folder yg isinya data2 yg diperlukan
misalnya datasheet,data hasil testing/sertifikat,drawing2 yg diperlukan spt
hook-up,loop diagram,vendor data (spare part #),dll.data/folder tsb di kelompokkan
berdasarkan system/subsystem di P&ID. Tujuannya untuk memudahkan pada saat
trouble shooting/maintenance. Jadi klo ada trouble/maintenance bisa dilihat
di foldernya data2 yg diperlukan.

Tanggapan 6 : G, Edwin Dewayana

Pak Imam,
Saya menangkap pertanyaan Pak Imam lebih mengarah ke pekerjaan maintenance ?
Folder-folder yang disebut Pak Imam di bawah ini kalau tidak salah lebih tepat
dikaitkan dengan computer-based maintenance management system ? Dan bukan untuk
project completion technical integrity assurance ?

Untuk features yang saya utarakan dalam posting pertama saya, saya akan coba
konsisten untuk tidak menyebut software developer tsb tapi saya ingin menyebutnya
secara generik Computer-Based Project Completion Technical Integrity Assurance
Management System untuk menghindari kesan promosi. Fungsinya menggantikan checklist-checklist/job
card-job card pekerjaan project completion tapi dengan tetap memberikan features
untuk memudahkan memelihara plant technical integrity dengan berjalannya waktu.
Tujuan akhirnya menghasilkan handover certificate dari project team ke Operation.
Jaman dulu (pre 1998) sertifikat ini disebut TCCC atau Transfer of Care, Custody
and Custom (kalau tidak salah ingat kepanjangannya).

Maksudnya begini: Dengan berjalannya waktu, beberapa plant component bisa rusak.
Maka technical integrity dari plant tersebut akan ter-impair. Akibatnya akan
meng-introduce risk, apakah itu high/medium/low. Dengan software ini (yang sudah
dikonfigurasi pada saat project) akan ditentukan pekerjaan-pekerjaan apa saja
yang diperlukan untuk mengembalikan ke integrity level yang sesuai dengan design
semula. Selama belum dilakukan sertifikasi terhadap penyelesaian pekerjaan-pekerjaan
yang berkaitan dengan penggantian komponen yang rusak tsb, plant atau bagian
plant belum boleh dioperasikan lagi.

Untuk budaya kita, metode ini bagus sekali karena memaksa pelaku projek untuk
disiplin menyelesaikan semua pekerjaan, termasuk clean up sebelum start-up.
Juga memaksa pemilik aset untuk merencanakan maintenance jauh-jauh hari karena
bangsa kita selama ini terkenal bisa membangun tapi belum bisa me-maintain.

Tanggapan 7 : Dirman Artib

Pak Edwin,
Kalau saya membaca tulisan anda ini , kok saya sepintas beranggapan bahwa software
yg dimaksud telah merupakan sebuah "Quality (& Inspection Test) Plan"
untuk pekerjaan commissioning khususnya bidang instrument. Ini sangat menarik
sekali, karena bagaimana bisa sebuah software merencanakan rangkaian aktivitas
inspeksi/ testing untuk memverifikasi hasil pekerjaan,
karena setiap individual pekerjaan/project tsb. adalah unik.

Selama ini, pasti akan lebih mudah merencanakan sesuatu dengan cara manual (baca:
bukan pake software) karena akan lebih fleksibel (maksudnya bukan kompromi terhadap
spesifikasi lho) untuk direvisi/diupdate berdasarkan Informasi terkini dalam
perkembangan pekerjaan proyek tsb. Tapi mungkin saya telah ketinggalan Informasi
ya ?

Apakah bisa anda terangkan lebih detail bagaimana ini bisa dilakukan ? Apa nama
spesifik software tsb ?

Tanggapan 8 : G. Edwin Dewayana

Pak Dirman,
Bukan ITP kok. ITP kita juga punya tersendiri, terpisah dari metode ini.
Quality system juga punya tersendiri. Saya sedikit ragu-ragu nih, Pak Dirman
mengacu ke posting saya yang pertama atau kedua ? Kalau mengacu ke yang pertama
memang belum terlalu jelas karena (spt biasa) saya menulisnya buru-buru (harap
maklum). Tapi kalau Pak Dirman sudah menerima posting yang kedua, bisa dibaca
di situ saya buat lebih jelas dengan memberikan nama generiknya. Dari nama generik
itu tersirat sudah fungsinya. Dan juga saya tambah lagi beberapa penjelasan
dengan harapan bisa semakin memperjelas. [Dari attachment posting Pak Dirman
ternyata masih mengacu ke yang pertama, mudah-mudahan sekarang sdh membaca yang
kedua].

Dan seperti yang saya tulis di akhir posting yang pertama, ini tidak hanya
untuk instrument atau E & I saja, tapi untuk multidiscipline, semua discipline,
semua scope proyek ybs. Di metode ini ada semacam tree, begitu, untuk scope-scope
misalnya structural, mechanical, instrument, telecom, dll.

Kalau yang dibangun plant atau platform sederhana, memang cara manual masih
lebih mudah dan cepat. Tapi untuk platform/plant besar, cara manual terlalu
sulit me-manage-nya. Lagipula kalau dengan manual, kita tidak bisa mengintegrasikannya
dengan software maintenance untuk dipakai selama plant life cycle.

Untuk membuat menjadi unik, software ini memang harus dikonfigurasi dengan
mengacu kepada project documents spt P&ID, dan lain-lain utk masing-masing
disiplin.

Oya…untuk proyek-proyek EPC yang akan datang, metode ini akan selalu dipersyaratkan
dalam kontrak. Ada baiknya kita mulai mempelajari. Tapi untuk nama software-nya,
dengan berpegang pada etika per-mailing list-an kita, sebaiknya tidak saya sebut
saja. Moga-moga dengan tanpa menyebut nama software tidak mengusik esensi dari
sharing info dalam forum kita ini.

Tanggapan 9 : Heyder Bachmid

Buat Bpk. Hasanuddin, Bpk. Imam, Bpk. Edwin, Bpk. Dirman dan Bpk. Ashari, terima
kasih atas pencerahannya.
Aktifitas commissioning begitu kompleksnya sehingga bagi saya yang masih sangat
terbatas pengetahuannya di bidang ini masih ingin bertanya lagi. Dari begitu
banyak aktifitasnya, manakah yang prioritas dilakukan pada saat shutdown. Karena
menurut pemikiran saya shutdown period harusnya seminimal mungkin agar tidak
terlalu banyak mengganggu produksi. Mohon maaf kalau ada pertanyaan saya yang
salah.

Tanggapan 10 : Hasanuddin

Pak Heyder,
Shutdown memang pekerjaan yang cukup bikin pusing apalagi karena biasanya schedule-nya
tergolong fast-track.

Apa yang sudah saya kemukakan adalah shutdown scope untuk complex facilities,
semisal petrochemical, oil refinery, LNG plant, power plant, dsb. Saya justru
merasa kelupaan nambahin satu item pada posting terdahulu yang merupakan critical
point, yaitu pekerjaan repairing.

Jadi, kalo shutdown untuk fasilitas yang tidak begitu kompleks, bapak bisa
men-delete sub item tertentu, tetapi secara garis besar bapak tetep menjalankan
step2 preparation, preliminary checks, equipment/system repair, functional tests,
pre-start up, operational tests dan documentation. Untuk item preparation misalnya,
bisa jadi tidak diperlukan pengadaan sarana transportasi, temporary equipment,
dll.
Sekali lagi, tergantung scope of work-nya.

Basically, in order to minimise the inconvenience caused, pekerjaan shutdown
harus properly designed, planned, controlled and executed.

Tanggapan 11 : DAM

Pak Hasanuddin
Saya kira tidak semua pekerjaan repairing digolongkan dalam kategori Critical
Point, even itu di petrochemical or nuclear industry. Banyak yang ngga kok,
tergantung expertise dan kesiapan.

Pengalaman saya pada saat terlibat banyak pekerjaan commissioning/shutdown justeru
gak boleh bikin kita pusing, komandan harus di tangan satu orang yang cakap
dan mampu mengambil keputusan cepat. Dan, jangan lupa, tetap tenang meski pihak
production/operation ngotong berteriak minta pekerjaan dilakukan dengan cepat.
Saya kira seorang pemimpin yang mampu menciptakan suasana "segar"
dengan sense of humor yang tidak garing juga dibutuhkan kok…..jadi jangan
terlalu banyak teori lha

Kalau terlalu banyak teori memang suka bikin kita pusing, maka segeralah praktekkan

Tanggapan 12 : Hasanuddin

Thanks pak Darmawan atas koreksinya,

Kebetulan saya memang belum pernah ngatur pekerjaan commissioning untuk
major plant. Hanya kebetulan aja pernah beberapa kali menghandle inspeksi dan
documentation system-nya (termasuk di plant Anda). Nitip salam buat Kenneth
Ockman, kalo mungkin ketemu dia di plant.

Tanggapan 13 : Gunawan
S

Sekedar meramaikan diskusi ini dan nostalgia shutdown dan commissioning dari
sisi owner dulu.

Untuk kegiatan "shut-down" atawa "turn-around" sebenarnya
harus dilihat dulu dimana lokasi kerjaannya. Ada shutdown untuk pekerjaan upstream
( hulu ) seperti di Offshore platform atau untuk yang di downstream ( hilir )
seperti di kilang oil & gas atau petrochemical.

Selanjutnya tipe shutdownnya juga ada macamnya lagi apakah Major Shutdown ataukah
Non Major Shutdown ( misalnya Package Unit Shutdown, Hot Gas Path Inspection
Shutdown atau Combustion Inspection Shutdown ). Jadi untuk menjawab yang mana
yang kritikal, yah perlu tahu dahulu tipe shutdown yang mana yang dikerjakan,
karena akan berbeda WBS nya. Saking pentingnya pekerjaan shutdown ini, perusahaan-perusahaan
besar biasanya memiliki Shutdown Manual yang merupakan bagian dari Maintenance
Management System dan biasanya dipimpin oleh seorang shutdown coordinator atau
manager.

Kami sendiri kebetulan memiliki dokumen dari salah satu Seven Sister Company
untuk shutdown dan commissioning jobs. Dokumen ini memuat prosedur dan dokumen-dokumen
apa yang harus di-isi dalam pekerjaan shutdown dan commissioning, bagaimana
organisasinya, dsb, dsb. Yang pegang peran utama dalam shutdown ini adalah bagian
Maintenance Planning ( erencanaan Pemeliharaan ). Eksekutornya adalah Seksi
Maintenance yang lain, seperti Mechanical, Piping, Electrical, Instrument &
Control Systems , Supporting Maintenance ( Crane, Rigging, Insulation, Civil,
dst ). Mungkin rekan-rekan seperjuangan saya dulu sewaktu shutdown bisa menambahkan
( Widodo Wiryono, Harlion Bahar, Idrus Nyak Cut di Rasgas, Zulkifli Taher di
CAPC, dsb).

Tanggapan 14 : DHANYA ICHSAN RAHARDJO

Pak Gunawan Siregar,
Sedikit menambahkan commissioning typical untuk proyek DCS baru ke existing
plant antara lain dikenal istilah "Cold Change Over" (CCO) bila existing
plant dalam kondisi stop dan "Hot Change Over" (HCO) bila masih beroperasi.
Pelaksanaan HCO tentunya harus lebih cermat karena berdampak terhadap existing
plant.