Apa mungkin kita mengukur roughness (kekasaran) hasil welding untuk bagian dalam pipa yang sudah diinstall. Biasanya kita ambil beberapa sample welding pipe join saja. Masalahnya pipe tersebut sudah terinstall dan kita ingin tahu roughness untuk welding bagian dalamnya. Barangkali ada yang bisa share ilmu dan info alatnya. Pertanyaan : Idjal Manitz

Apa mungkin kita mengukur roughness (kekasaran) hasil welding untuk bagian
dalam pipa yang sudah diinstall. Biasanya kita ambil beberapa sample welding
pipe join saja. Masalahnya pipe tersebut sudah terinstall dan kita ingin tahu
roughness untuk welding bagian dalamnya. Barangkali ada yang bisa share ilmu
dan info alatnya.

Tanggapan 1 : Hasanuddin

Pak Rizal,
Mungkin metode thermography dengan infrared (metode aktif), laser optics, ultrasound
(dg ultrascan sensor) bisa dipakai untuk mengukur roughness-nya. Atau bisa juga
dengan caliper atau intelligent pigging.

Kalo boleh tahu, untuk apa roughness inner pipe after weld tersebut diukur?
Apakah terkait dengan turbulensi ? Bukankah sebelumnya sudah dilakukan gauging
plate check?

Rekan2 yang berkecimpung di plant integrity/reliability mungkin bias share
ilmunya…

Tanggapan 2 : Soedardjo

Di Batan Yogya ada alat Borescopes Video LongSteer ® VideoProbe
(http://www.everestvit.com/pdf/long_sell_121302.pdf).
Tapi saya tidak yakin dapat digunakan untuk mengukur kekasaran permukaan. Alat
tersebut hanya untuk
menginspeksi permukaan (surface visual inspection). Jika tertarik silahkan kirim
imil ke Bapak Yohannes Sarjono atau Bapak Tegas Sutondo di tegas_s@yahoo.com,
jika macet ke tegas_2002@yahoo.com. Ada juga alat ULTRASCAN 5, untuk mengukur
ketebalan pipa.

Jika kita search, ada alat yang digunakan untuk mengukur kekasaran permukaan
seperti skidded contact profilometer. MOHON DI COPY SEMUANYA, BUKA SITE BARU
LALU DI PASTE. Jangan di klik saja.

(http://www.smt.sandvik.com/sandvik/0140/internet/se01702.nsf/GenerateFrameset1?
readForm&url=http://www.smt.sandvik.com/sandvik/0140/internet/se01702.nsf/
(DocumentsInternetWeb)/D4721621FEE72F4E4125683B0051C26B
)

Tanggapan 3 : Ramzy SA

Mas Rizal,
Pertanyaan anda agak cunfuse, apa yang anda maksud dengan roughness inner welding
itu. Sebab setahu saya kalau sudah penetrasi tidak akan kelihatan lagi roughness
atau tidak karena sudah lumer jadi satu. Kalau yang anda maksudkan excess

penetration (biasa terjadi pada root welding) itu bias ketahui melalui metoda
NDT umum seperti Radiography atau Ultrasonic.

Kemudian kalau terjadinya tidak diroot tapi dengan basemetal tidak sound biasa
disebut dengan istilah incomplete penetration, itu bisa diketahu dengan metoda
NDT yang tadi (RT atau UT).

Tapi saya kurang jelas dengan maksud pertanyaan anda. Hanya untuk diketahui
bahwa metoda NDT itu juga ada kelemahannya/ kekurangannya, misalkan pada metoda
Radiography testing, meskipun ada cacat tapi bisa saja tidak terdeteksi dan
itu bisa diindikasikan dengan terlihatnya penny di film hasil shooting. penny
itu ada yang berbentuk plat dengan ada lubang code 1T, 2T, 3T dan juga ada jenis
dan nomor penny, tergantung dari ketebalan dan jenis material yang di RT. Nah
dari film yang telah dishoot, kalau terlihat lunag hanya 2T dan 3T saja, itu
menandakan bahwa defect yang lebih kecil dari lubang 2T tidak akan tanpak, meskipun
ada.

Oleh karenanya standard mengatur acceptance criteria pemakaian penny number
dan hole number yang harus tampak untuk setiap jenis pekrejaan tergantung dari
subjectnya. Jenis penny ini juga ada yang wire. Ultrasonicpun ada kelemahannya
terutama untuk mendeteksi defect subsurface.

Mudah2an membantu, tapi kalau you bisa menjelaskan maksudnya apa mungkin bisa
saya tambahkan

Tanggapan 4 : Idjal Manitz

Fine, thanks terutama buat 3 pengomentar pertama Pak Hasanuddin, Pak Ramzy,
dan Pak Soedardjo.

Biar clear gini. Salah satu client saya punya internal process standard untuk
hygiene product. Ada kasus produk yang dihasilkan terkontaminasi oleh bakteri.
Nah, dalam standar (tentu buah dari riset dan pengalaman mereka sendiri) disebutkan
bahwa salah satu penyebab kontaminasi tersebut karena adanya udara yang terjebak
di sela-sela joint welding di bagian dalam pipa. Hasil las yang kasar berpotensi
membuat "rongga" sehingga memungkinkan udara terjebak lalu tumbuh
bakteri. Singkatnya dugaan mereka dalam hal ini karena roughnessnya tidak memenuhi
standar untuk hygiene product.

Jadi masalah karena pipa sudah diinstall sementara kita harus mengetahui roughnessnya.
Gitu Bapak-bapak sekalian, moga jadi lebih klir.

Tanggapan 5 : Andryansyah Rivai

Oh, begitu rupanya.

Berapa ukuran diameter luar pipanya dan terbuat dari material apa? Apakah memungkinkan
lasan pada sisi luar pipa diratakan?

Kalau memang pipa itu panjang dan berkelok, maka saya kira metoda ultrasonik
dengan mode scan B memungkinkan.

Tanggapan 6 : Soedardjo

Pak Andry, saya kira yang harus diratakan adalah bagian las-lasan di diameter
dalam atau permukaan dalam pipa, yang mungkin ada incomplete root fusion atau
penetration. Ultrascan 5 kepunyaan BATAN Yogya, dapat untuk mengetahui las-lasan,
ketebalan pipa secara kontinyu sepanjang pipa, dengan scanning kecepatan tertentu,
dan penampilannya adalah Scan C. Jenis material memang diperlukan, untuk disesuaikan
dengan block kaliberasinya.

Tanggapan 7 : Andryansyah Rivai

Apakah alat itu juga bisa digunakan untuk mengetahui ketebalan tube arah circumferensial
dengan diameter luar sekitar 9 mm dan tebal 0,8 mm dan panjang 0,5 mm?

Tanggapan 8 : Saptodewo Bambang

Pak rizal ,
melihat kasus yang bapak jelaskan, untuk mengukur kekasaran permukaan bagian
dalam pipa ( misal. sanitary pipe A270-316L od 10 mm – 76 mm ;
t. 1.2 mm – 2.0 mm ) untuk higyenic welding ( baik orbital maupun gtaw process
)saya belum pernah menggunakan.
Tapi dengan visual inspection ( bantuan borroscope yg dilengkapi kamera, contoh
buatan olympus )setelah welding dan kita pastikan bahwa keseluruhan circumferential
welding inside surface terlihat jelas, maka bila terjadi gejala seperti internal
concavity ataupun excesive penetration, maka jalan yang saya tempuh adalah potong
( buang ) bagian tersebut. jadi pastikan hasil pengelasan untuk permukaan bagian
dalam tersebut benar-benar rata .

Sudah tentu sebelum melakukan pengelasan ke pipeline sesungguhnya ,
maka kita harus membuat test pieces. Sedangkan untuk borroscope, yang pernah
saya gunakan memang mempunyai keterbatasan panjang jangkauan ( max 1.5 m ),mungkin
yg buatan sekarang ada yg sampai 6 m.

Untuk surface roughness gauge yg saya pakai merk "pocket surf III "
buatan federal,
mempunyai keterbatasan dimana dudukannya harus benar-benar rata agar pembacaan
sensornya valid & jankauannya sangat terbatas sekali.

Sekedar tambahan prediksi saya penyebab hasil yang buruk (selain skill dari
welder/
welding operator ) adalah:
1. edge preparation base metal & tack weld yang jelek ,
2. masih adanya oxygen content pada backing gas. ( saran : gunakan high purity
argon gas, dan sebelum pengelasan dimulai, buang kandungan oxygen yg masih ada
dengan " argweld purge monitor " buatan huntingdon fusion techniques
limited .
sampai benar-benar nol persen.

Tanggapan 9 : Soedardjo

Saya kurang memahami secara teknis. Sebab demonya atau direncanakan untuk mengetahui
cacat melalui diameter dalam TANGKI BESAR seperti untuk reaktor lebih dari 13
mm atau bahkan lebih dari 50 mm. Kalau spesifikasi alatnya dapat dilihat di
(http://www.usultratek.com/products/ultrascan5.htm),
atau (http://www.usultratek.com/PDF/UltraScan5.pdf)
Saya juga sangsi, apakah metoda TOFD dapat digunakan untuk bagian diameter dalam
tangki?. Kalau teman di Pupuk Kujang, mempunyai semacam CRAWLER, untuk mengetahui
perubahan circumference pipa reformer berdiameter luar sekitar 10 hingga 25
cm (dari diameter luar pipa reformer). Mohon pak Andry dari KOREA KAERI ke Japri
saja untuk posting ke pak Y Sardjono, dan mohon info ke pak Tegas (tegas_s@yahoo.com).

Memang inner diameter dari pipa yang akan diamati kekasarannya perlu diketahui.
Walau longsteer yang berada di BATAN YOGYA mungkin mampu untuk melihat obyek
sepanjang 30.5 meter. tetapi diameternya dalamnya untuk pipa minimum sekitar
6 mm. Silahkan melihat spesifikasi alatnya di http://www.everestvit.com/pdf/long_sell_121302.pdf.

Jika diameter pipa cukup besar, ada kemungkinan dilakukan gouging, jika sambungan
pipanya pendek dan dapat dijangkau oleh peralatan GOUGING. Namun jika sambungan
las dari ujung pipa agak panjang, maka sebaiknya dilakukan pemotongan atau CUTTING.
Ada sekitar 10 cara untuk pemotongan (Cutting) dan GOUGING untuk sambungan las,
dan silahkan klik di
http://www.twi.co.uk/professional/protected/band_3/prof_jobknow.html