Dalam pigging,bagaimana cara kita melihat prosentase bahwa pipa itu sudah
memenuhi kreteria ( bersih dan siap untuk dioperasikan )??
Apakah ditentukan dari berapa kali pig dijalankan atau bagaimana?? Pertanyaan : W.Agus Aryawan

Dear all,
Selamat sore,saya pengen tahu nih.
Dalam pigging,bagaimana cara kita melihat prosentase bahwa pipa itu sudah memenuhi
kreteria ( bersih dan siap untuk dioperasikan )?? Apakah ditentukan dari berapa
kali pig dijalankan atau bagaimana?? Mohon pencerahan dari saudara-saudara sekalian.

Tanggapan 1 : e-Director

Mungkin anda bisa memonitor tahap kebersihan pig tersebut…
Pig yang hendak digunakan diperiksa terlebih dahulu…
Semoga methode dibawah ini bisa membantu…..

Jika pig yang keluar dari pipeline sudah bersih dan tidak mempunyai kesan-kesan
kotoran, pipeline itu boleh diketagorikan sebagai bersih dan boleh digunakan…

Mungkin juga pigging proses terakhir ini dilakukan sebanyak tiga kali, dan
jika ketiga-tiga pigging terakhir menghasilkan result yang memuaskan, ianya
dianggap sudah bersih….

Di bahagian-bahagian yang bisa diakses secara visual atau secara boroscope,
lebih baik jika diboroscope untuk memastikan kebersihan pipeline tersebut…

Tanggapan 2 : Agus Wardiman

Mas Wayan,
Pigging setelah konstruksi, tujuannya adalah membersihkan pipa (melihat kebersihan
dalam pipa) dan untuk meyakinkan bahwa tidak ada bagian pipa yang mengalami
deformasi (penyok).

Setahu saya untuk kebersihan pipa tidak ada criteria khusus, tetapi kontraktor
harus mengajukan prosedur & konfigurasi dari system piggingnya (tentu tidak
1x pigging) agar tidak merusak internal lining (kalau ada) dan diperoleh kondisi
dalam pipa yang cukup bersih.

Untuk mengecek apakah ada deformasi, maka pigging harus dilengkapi dengan gauge
plate yang terbuat dari aluminium dengan diameter 95% dari internal diameter
pipeline. Gauge plate tidak boleh penyok setelah pigging karena ini menandakan
deformasi. Loaded and removed of gauge pig biasanya harus dihadiri oleh Company
representative.

Tanggapan 3 : Autumn Batara

Pak Agus,
Saya mau menanyakan ukuran gauge plate untuk pigging, Apakah ukuran gauge plate
itu 95 % dari internal diameter pipa? apakah penentuan ini berdasarkan dari
toleransi dent yang tidak boleh melebihi 6% iternal diameter pipa? (ASME B31.4)

Soalnya saya pernah melihat perhitungan ukuran diameter gauge plate dari salah
satu KPS, mereka menghitung diameter gauge plate itu sebagai berikut:

D = Internal diameter pipa x 98 %

Ukuran Gauge Plate = D x 95 %

Jadi diameter yang diperkalikan dengan 95 % adalah nilai dari 98 % internal
diameter pipa.

Tanggapan 4 : Hasanuddin

Pak Agus,
Setahu saya, dalam pigging tidak ada criteria khusus ttg cleanliness. Yang biasa
di check tingkat cleanliness-nya adalah water flushing dan air blowing.

Untuk mendapatkan hasil pigging yang memuaskan, bisa dilakukan pigging secara
bertahap dengan fase2 sbb:

– fase 1: untuk membersihkan large metallic debris dengan menggunakan bi-directional
scraper pigs dan gel plugs.

– fase 2: untuk membersihkan small residual debris dan macam2 scales (dg asumsi
bahwa pipeline sudah free dari large debris) dengan menggunakan bi-directional
pigs (dg konfigurasi fine brush dg magnetic pig) yang di drive oleh air.

– fase 3: untuk membersihkan final debris yang kemungkinan masih tertinggal
pada fase 2 dengan menggunakan bi-directional scraper pigs dengan gel sections.

– fase 4: untuk membersihkan sisa2 gel pada pipe wall sekaligus menginspeksi
structure geometry dengan sprayer pigs yang dilengkapi deflectors untuk membersihkan
pipe wall secara hydraulic dengan turbulent deflection. Sebaiknya pake juga
intelligent pig.

Tanggapan 5 : Ganapati Sjastri Satyani

Pak Hasanuddin,
Ikut nimbrung nih….
Apakah fase 1 juga harus dilakukan untuk pipeline yang digunakan untuk mentransportasikan
BBM mengingat produk BBM seperti Premium, Kerosene dan Solar relative lebih
ringan dan bersih dibandingkan crude oil?

Tanggapan 6 : Hasanuddin

Pak Ganapati,
Fase2 tsb recommended terutama untuk gas dan crude oil pipeline.

Untuk multiproduct pipeline dg fluida P/K/S, setelah konstruksi dapat di pigging
dengan gauging plate. Mediumnya pake air sampe tingkat kebersihan yang diinginkan,
dan finally di gauging dengan medium petroleum product (biasanya solar sebagai
product antara).

Sementara penggunaan intelligent pig pada multiproduct pipeline disarankan
untuk dipake dalam fase operasional & maintenance. Semoga bisa diterapkan
di perusahaan bapak secara reguler sehingga penumpukan quantity debris &
solid materials seperti yang pernah terjadi di depot Ujung Berung (kalo tidak
salah th 2001/2002) tidak terulang lagi.

Tanggapan 7 : Autumn Batara

Pak Agus,
Saya mau menanyakan ukuran gauge plate untuk pigging, Apakah ukuran gauge plate
itu 95 % dari internal diameter pipa? apakah penentuan ini berdasarkan dari
toleransi dent yang tidak boleh melebihi 6% iternal diameter pipa? (ASME B31.4)

Soalnya saya pernah melihat perhitungan ukuran diameter gauge plate dari salah
satu KPS, mereka menghitung diameter gauge plate itu sebagai berikut:

D = Internal diameter pipa x 98 %

Ukuran Gauge Plate = D x 95 %

Jadi diameter yang diperkalikan dengan 95 % adalah nilai dari 98 % internal
diameter pipa.

Tanggapan 8 : Hasanuddin

Pak Autumn,
Untuk informasi, menurut code BSI, requirement gauging plate adalah 95% dari
minimum ID atau 25 mm less than minimum ID (whichever is the larger). Sedangkan
code DNV mempersyaratkan 97% dari nominal ID.

Tanggapan 9 : Sujatmiko, Muhdi

Ikut nimbrung juga.
Pertanyaan pak Agus Aryawan adalah untuk tahap pre/commisioning, sedangkan pertanyaan
pak Ganapati lebih tepatnya untuk tahap operasi & maintenance.

Untuk gampangnya, tujuan pipeline pigging adalah untuk cleaning, proses, dan
inspeksi.

Untuk tahap commissioning, pigging diperlukan untuk:

  1. Membuktikan bahwa pipeline tersebut berlubang sesuai dengan spesifikasi design
    dan tujuan pembangunan pipeline tersebut.

  2. Membersihkan pipeline dari material2 yang tidak diinginkan yg merupakan sisa
    fase konstruksi – misalnya: palu, pacul, arit, buldozer, rumah bedeng, dll – sebelum
    diserahkan ke pemiliknya.

Untuk tahap operasi, pigging diperlukan untuk:

  1. Mereduksi/menghilangkan endapan/akumulasi yg mungkin mempengaruhi proses
    produksi (press drop, roughness, liquid slug, dsb)

  2. Sebagai salah satu metoda corrosion control.
  3. Sebagai suatu bagian dari proses produksi (misalkan diperlukan pengiriman
    beberapa produk melalui satu sistem pipeline contohnya pengiriman premium-kerosene-solar
    dalam satu pipeline dalam waktu yang hampir sama agar tidak tercampur satu sama
    lain).

  4. Sebagai salah satu metoda inspeksi (intelligent pigging) untuk mengetahui
    level integrity dari suatu pipeline (seperti NDT pada peralatan produksi yang
    lain).

Tanggapan 10 : Ganapati Sjastri Satyani

Pak Muhdi, Pak Hasanuddin dan rekan-rekan lain,
Saya mau share sambil Tanya nantinya. Awal tahun ini saya sempat menelusuri
pipeline PERTAMINA dari Padalarang, Tol Padaleunyi, Ujung Berung sampai Tasikmalaya.
To my surprise ada informasi bahwa pipeline tersebut baru sekali di pigging
dan itupun baru berapa kilometer pignya ambrol. Saya kurang jelas jenis pignya
apa (jangan-jangan pig hidup…makanya ambrol…). Waktu saya Tanya petugas
jawabannya enteng saja… wong produk yang ditransportasikan produk bersih kok…
ngapain sering-sering dipig…???!!!??? Yang beginian masih terjadi… euy…
Padahal dibenak saya yang awam teknik sederhana saja… wong sudah dibuat pig
launcher dan pipa sering dipakai kan minimal setahun sekali kek atau dua tahun
sekali kek dipig agar ketahuan kalau ada rusak dan jgua buat ngebersihin…
apalagi banyak ruas-ruas pipa yang tahu-tahu sudah berada di bawah kamar tidur
penduduk….

Ternyata sekarang ada informasi bahwa jika produk yang ditransportasikan berbeda
tapi pipanya sama maka perlu juga dipig. Ini berapa kali dalam setahun harus
dipigging Pak? Lalu jenis pignya apa?

Tanggapan 11 : Sujatmiko, Muhdi

Pak Ganapati,
Saya juga awam dengan operasi pipeline Pertamina. Menurut saya, kebutuhan pigging
untuk pipeline ini adalah:

1. Kebutuhan proses/spesifikasi dari produk yang dikirim (mohon dikoreksi kalau
ternyata prosesnya tidak seperti ini) Jika satu pipeline digunakan untuk mengirim
beberapa produk, seperti kasus BBM distribution systemnya pertamina yang mengirimkan
Premium, Solar, dan Kerosene menggunakan pipa yang sama, idealnya setelah pengiriman
satu produk dan sebelum mengganti mengirim produk yang lain, sebaiknya dilakukan
pigging terlebih dahulu. Hal ini menjaga kontaminasi produk satu dengan produk
yang lain. Misalnya setelah mengirim Premium, refinery Cilacap kemudian mengirimkan
Solar yg berakibat Solar yg terkirim akan terkontaminasi Premium yang dikirimkan
sebelumnya, demikian juga sebaliknya, in my opinion pigging seharusnya dilakukan
setiap kali pergantian pengiriman produk (kecuali jika product QC manual Pertamina
memberikan toleransi suatu produk terkontaminasi oleh produk yang lain pada
proses pengiriman ini atau ada prosedur yang lain).

2. Kebutuhan untuk pipeline cleaning
Untuk end product atau product yang sudah siap dipasarkan, kemungkinan besar memang
sudah memenuhi standard kebersihan tertentu. Jadi secara teknis mungkin tidak
perlu dilakukan khusus untuk memenuhi kebutuhan ini. Tetapi untuk mencegah penumpukan
material yang tidak diinginkan (seperti zat pewarna kerosene dan solar).

3. Inspeksi sederhana untuk mengetahui ada atau tidaknya obstruction yg berlebihan
(misalnya pipeline dent, buckle, etc).

Mengomentari pengamatan pak Ganapati terhadap pipeline Pertamina Padalarang-Padaleunyi-Ujung
Berung-Tasik, sekiranya QC manual Pertamina menyatakan pigging bukan suatu keharusan
pada setiap kali pergantian pengiriman produk, menurut pendapat saya sebaiknya
memang dilakukan pigging setidaknya setahun-dua tahun sekali. Selain untuk melakukan
cleaning/sweeping, juga untuk inspeksi sederhana.

Pig ambrol/rusak setelah beberapa km juga tergantung pada banyak faktor:

  1. Adanya obstruction yang berlebihan: Pig bisa rusak karena adanya dent, buckle,
    tee, valve, dll.

  2. Jenis dan material pig yang digunakan tidak cocok dengan tujuan: contohnya
    untuk foam pig yang dilapisi dengan polyethilene coating dibagian luarnya biasanya
    hanya tahan maximum sampai 20 km karena terkikis atau bare foam pig tidak akan
    tahan kalau ketemu dengan premium-kerosene-solar (material compatibility issue).

  3. Velocity/kecepatan yang terlalu tinggi akan menambah kemungkinan pig rusak
    jika melewati obstruction. Beberapa type pig dilengkapi dengan bypass untuk
    mengurangi kecepatan.

Pemilihan jenis pig dan penentuan frequensi pigging juga sebaiknya dilakukan
dengan cermat tergantung tujuan pigging itu sendiri, panjang pipeline, jenis
fluidanya, kemungkinan terjadinya endapan, tipe endapan, dsb.

Semoga bisa membantu.

Tanggapan 12 : Hasanuddin

Pak Ganapati,
Hanya sedikit nambahin aja, sepengamatan saya di perusahaan bapak (setidaknya
di beberapa depot/terminal transit yang saya tahu) menggunakan extra storage
tank (biasanya medium size) untuk menampung produk antara (product percampuran
solar/kerosen atau solar/premium) yang kayaknya product tersebut bakal ditreatment
lagi untuk dijadikan menjadi (kalo tidak salah) solar.

Jadi (mungkin) filosofi design terminal seperti itu yang menjadi "celah"
sehingga pigging adalah tidak diperlukan walaupun idealnya mesti dilaksanakan
setiap pergantian product spt dikatakan pak Muhdi. Mohon maaf sebesar2nya pak,
kalo membicarakan satu urusan teknis di perusahaan bapak bisa melibatkan banyak
sekali urusan non teknis. Semoga jajaran direksi baru bisa lebih care ttg hal2
spt ini.