Bagamana prosedur design/analyis yang digunakan untuk design spreader bar untuk mengangkat (lifting) suatu vessel. Apakah spreader bar harus dilakukan uji sertifikasi MIGAS?
Pertanyaan : Wisnu

Saat ini saya memerlukan pencerahan dalam merancang spreader bar yang akan
saya gunakan untuk mengangkat (lifting) suatu vessel. Mungkin di antara rekan-rekan
ada yang memiliki prosedur design/analyis yang bisa saya gunakan untuk design
spreader bar tsb. Selain itu saya juga ingin bertanya, apakah spreader bar harus
dilakukan
uji sertifikasi MIGAS?

Tanggapan 1 : Badaruddin

Pak Wisnu,
Seperti yang pernah kami lakukan sebelumnya, untuk mengangkat beberapa tanki,
adalah dengan menggunakan analisa mekanika rekayasa biasa, dimana dalam perhitungan
loading selain beban mati dari tanki ditambah dengan beban kejut sebesar 30%…
profil ideal yang digunakan untuk spreader bar adalah pipe…

Untuk lifting eyes, tinjauan kita lakukan untuk panjang las, erta tebal dari
plat yang digunakan, satu hal lagi jarak lubang dengan sisi terluar sehingga
tidak terjadi sobek dari lifting eyes tersebut…

Tanggapan 2 : Engdept2

Kalau boleh saya tambahkan.
Untuk design lifting eye tentukan juga sling angle-nya (berdasarkan ketersediaan
panjang sling, tinggi hook dan panjang spreader) Sling force ini bisa di jadikan
acuan SWL dari lifting eye setelah dikalikan Safety Factor. Untuk spreader,
diperhitungkan juga gaya tekan (horizontal force) akibat sudut sling (sudah
di jelaskan oleh Pak Alex), moment akibat berat sendiri pipa (semakin panjang
spreader semakin besar moment yg terjadi), juga moment ujung (akibat beban horizontal
terhadap jarak pin shackle ke center pipa)

Penggunaan bar atau frame speader tidak hanya berdasarkan berat suatu struktur,
tapi juga berdasarkan kelayakan stuktur (pd waktu pre-design) dimana struktur
frame bisa/tidak menerima beban lain (horizontal) untuk kondisi lifting. Terkadang
bentuk struktur mengharuskan penggunaan spreader frame, dimana kondisi sling
harus vertikal agar tidak merusak struktur lain pada waktu loadout dan erection.

Perlu juga menjadi pertimbangan, manakah yang lebih effisien menggunakan spreader
atau temporary reinforcement utk konvensional lifting.

Tanggapan 3 : Kajuputra Elpianto

Sedikit sumbang pendapat mengenai spreader bar ini.

Tujuan utama dari pemakaian spreader bar ini adalah untuk menyerap gaya compression
(horizontal force) yang ditimbulkan oleh sling akibat memiliki sudut kemiringan
tertentu pada saat melakukan lifting. Sehingga setelah melewati spreader bar
maka hanya sling vertical saya yang terhubungkan dengan padeye dari object struktur
yang akan di angkat. Hal ini untuk mengurangi beban (horizontal) yang diterima
oleh padeye pada struktur tersebut.

Untuk berat struktur yang tidak terlalu besar dapat digunakan spreader bar,
namun untuk struktur yang lebih berat maka diperlukan spreader frame, bahkan
kadang2 terdapat kombinasi dari kedua system ini (spreader bar dan spreader
fram digunakan bersama2 pada level ketinggian yang berbeda). Spreader frame
ini pun ada yang 2 dimensi (1 bidang saja) maupun yang 3 dimensi. Menurut hemat
saya, system 3 dimensi ini kurang efisien dikarenakan berat sendirinya yang
cukup besar dibandingkan 2 dimensi dengan fungsi yang tidak jauh berbeda.

Spreader bar memiliki tingkat ketidakpastian atau DOF (Degree of freedom) in
term of movement yang lebih besar dibandingkan dengan spreader frame. Hal ini
dikarenakan hanya merupakan 1 dimensi (hanya sebatang pipa besar) saja, sehingga
kasus2 yang harus dipertimbangkan dalam analisa akan lebih sulit pemodelannya.
Sebagai contoh sederhana dalam melakukan misfit atau mismatch atau 75-25 analysis
dalam lifting yang biasanya diterapkan pada system dengan 4 sling. Sedangkan
spreader bar hanya memiliki 2 sling saja.

Karena itu dapat dikatakan penggunaan spreader bar lebih beresiko daripada
spreader frame dikarenakan memiliki factor X yang lebih banyak pada saat melakukan
lifting (misalnya bila panjang sling actual tidak sesuai dengan rencana atau
hook point tidak berada pada CG rencana, dll, dll)

Sehingga saya berpendapat spreader bar lebih recommendable untuk lifting struktur
yang lebih ringan.

Barangkali rekan2 dari saipem yang tentu lebih berpengalaman mengenai hal ini
dapat sumbang pendapat maupun saran.

Saya memiliki contoh gambar yang menggunakan spreader bar dan spreader frame
bersama2 pada level yg berbeda. Bila berminat dapat saya kirimkan via japri.

Demikian sekilas pendapat.

Tanggapan 4 : Ferry Triyana Anirun

Pak Badaruddin dan rekan2 yg lain,
Tes2 apa saja yang harus dilakukan pada spreader bar ini selain melaksanakan
NDT (MT) pada las-lasan di lifting lug-nya? Apakah pelat material utk lifting
lug harus di-UT dulu utk mengetahui ada tidaknya cacat laminasi?

Bagaimana prosedur load test utk spreader bar ini? Bagaimana juga prosedur
load test utk spreader frame?

Saya pernah melihat salah satu perusahaan melaksanakan load test utk lifting
frame (boks – dengan 4 point lifting) dengan cara memberi beban sesuai dengan
SWL ditambah dengan safety factor, setelah itu sling di-koneksikan pada salah
satu lifting lug, diangkat, dan kemudian ditahan selama kurang lebih 1 jam (jadi
posisi boks tergantung pada satu point dan terangkat sebagian dari tanah). Begitu
masing2 utk setiap lug (total pengetesan -/+ 4 jam). Apakah prosedur ini benar?
Karena menurut saya hal ini berlebihan sekali.

Mohon tanggapannya.

Tanggapan 5 : Kajuputra Elpianto

Untuk sling vertical, selain padeye dapat juga digunakan trunnion.

Saya memiliki beberapa gambar lifting dengan spreader bar dan spreader frame.
Silahkan browse ke alamat dibawah ini http://photobucket.com/albums/v484/agietra/LIFTING/

password to view this album is: guest