Baru-baru ini ada limbah (type D3?) yang diekspor Singapore ke Indonesia lewat Batam dengan kamuflase sebagai pupuk organik. Nah, yang jadi petanyaan saya, Limbah D3 itu yang seperti apa sih? Mungkin ada teman-teman yang bergerak di bidang ini bisa memberikan pencerahan ke kita semua tipikal limbah, mana yang benar-benar hazardous bagi makhluk hidup. Pertanyaan : Jasman

Baru-baru ini ada limbah (type D3?) yang diekspor Singapore ke Indonesia lewat
Batam dengan kamuflase sebagai pupuk organik. Nah, yang jadi petanyaan saya,
Limbah D3 itu yang seperti apa sih? Mungkin ada teman-teman yang bergerak di
bidang ini bisa memberikan pencerahan ke kita semua tipikal limbah, mana yang
benar-benar hazardous bagi makhluk hidup. Semoga kita lebih bisa melek lagi
dengan sampah/limbah. Jangan sampai terjadi kejadian seperti di Cimahi atawa
di Bojong baru membuat kita sadar betapa "serius"nya masalah sampah
ini.

Tanggapan 1 : Alia Damayanti

Dengan hormat Bapak Jasman,
sebenarnya istilahnya adalah Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Salah satu kasus Limbah B-3 yang terkenal adalah Tragedi Minamata Jepang (karena
Hg).

Limbah B3 sangat penting karena memberikan efek toksik kepada manusia. Masalah
keracunan oleh Li B3 tidak timbul begitu saja melainkan membutuhkan waktu yang
cukup panjang. Misalnya, pada periode 2 millenium yang lalu banyak pemuka bangsa
Roma yang menderita keracunan Pb (La Grega, Buckingham, dan Evans, 1994). Runtuhnya
kerajaan Roma antara lain karena psikosis yang diderita rajanya.

Kemajuan teknologi dengan temuan2nya yang pesat sejak Revolusi Industri, menghasilkan
Li yang mengandung B3.

Contoh-contoh keracunan li B3 antara lain:
– DDT
Tahun 1962 ditemukan di cumi-cumi laut Antartika–karsinogenik (penyebab kanker).
– Merkuri (Hg)
Di Jepang sampai menyebabkan kelumpuhan.
– PCB
Merupakan bahan isolator, plasticizer, dan pembuatan kertas tanpa karbon.

Definisi B3 sendiri menurut PP RI No. 18/1999 ttg Pengelolaan Li B3: Sisa suatu
kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun, yang karena sifat dan/atau
konsentrasinya, baik secara langsung maupun tak langsung merusak lingkungan
hidup, kesehatan maupun manusia.

Yang boleh diimpor menurut SK Menteri Perd. No. 156/KP/VII/1995 adalah cuma
skrap/timah hitam (aki bekas).

Sampah sendiri tidak termasuk B3, tetapi berhubung negara kita tidak (belum?)
memilahkan sampah (mis. baterai, aki, dll), jadi kadang2 ada Logam Berat yang
masuk di dalamnya sehingga bila telah lama bisa menjadi lindi/leachate (air
sampah).

Nah..ini yang kadang2 Logam Beratnya besar sehingga masuk B3. Tempat
pembuangan Li B3 setelah mendapatkan perlakuan khusus di Indonesia, setahu
saya hanya ada di Cileungsi, Jabar.

Tanggapan 2 : Herry

Mungkin maksud Pak Jasman Limbah B3? Bahan Beracun dan Berbahaya? Kalau ini
termasuk logam berat dan radio aktif. Setahu saya, kalau sudah tidak bisa diolah
lagi ya ditimbun di tempat tertentu yang sudah didesain sedemikian rupa agar
tidak membahayakan lingkungan sekitarnya. Biasanya ini kalau limbah hasil dari
Chemical
Treatment.

Nah kalau yang bisa dipakai sebagai pupuk itu adalah limbah yang diolah secara
Biological. Kalau secara biological, hasil akhir dari Wastewater Treatment Plant
itu biasanya adalah air, biogas, ventgas dan sludge/biomass. Nah Sludge/biomass
ini kan makhluk hidup, bisa disimpan buat cadangan (karena pengolahan limbah
biological membutuhkan biomass ini), bisa juga diolah menjadi bahan seperti
pupuk itu.


Tanggapan 3 :
Arief Aryanto

Berikut kutipan dari PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 74 TAHUN
2001, TENTANG
PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

BAB II
KLASIFIKASI B3
Pasal 5
(1) B3 dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. mudah meledak (explosive);
b. pengoksidasi (oxidizing);
c. sangat mudah sekali menyala (extremely flammable);
d. sangat mudah menyala (highly flammable);
e. mudah menyala (flammable);
f. amat sangat beracun (extremely toxic);
g. sangat beracun (highly toxic);
h. beracun (moderately toxic);
i. berbahaya (harmful);
j. korosif (corrosive);
k. bersifat iritasi (irritant);
l. berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment);
m. karsinogenik (carcinogenic);
n. teratogenik (teratogenic);
o. mutagenik (mutagenic).

(2) Klasifikasi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari :
a. B3 yang dapat dipergunakan;
b. B3 yang dilarang dipergunakan; dan
c. B3 yang terbatas dipergunakan.

Tanggapan 4 : Syam

Sekitar awal 2000an bersama beberapa tema di WALHI sumsel kami mendampingi
penolakan masyarakat lokal ketika limbah singapore dilemparkan ke pulau BANGKA
yang sudah dibolong-bolongi oleh eksploitasi timah itu.

Tentu saja "niat" membuang itu ada. Bagi Singapore tentu saja keuntungannya
adalah biaya pengolahan limbah yang rendah. Didokumennya meman tertulis bahwa
limbah padat tersebut adalah bahan galian berupa lumpur (clay) dari proyek penggalian
rel kereta bawah tanah (subway). sederhananya tidak mungkin ia membuang itu
jika mereka tidak bisa memanfaatkannya. Harap diingat mereka masih mengimpor
(gelap atau legal) pasir laut dan kwarsa dari beberapa kepulauan di Riau dan
Bangka Belitung untuk menguruk pantai menjadi daratan. Mereka amat membutuhka
benda-benda padat (yang) aman untuk reklamasi pantai.

Ditengarai limbah yang dibuang ke Indonesia oleh singapore itu adalah limbah
elektronik dan chemical yang tentu saja berguna untuk meracuni ekosistem.

Celakanya, pengusaha di Indonesia tentu saja tergiur dengan bisnis tersebut.
Mereka bisa membuangnya dimana saja di Indonesia yang nyaris tidak terawasi
dan tidak juga peduli dengan lingkungan. Keuntungannya mereka mendapat sejenis
upah dari sampah tersebut setiap satuan berat. Keuntungan lain adalah, biasanya
sehabis
mengirim pasir laut atau kwarsa yang dicuri dari daratan Indonesia biasanya
pulang dengan kapal kosong. Tentu saja tidak efisien. Maka mereka juga menangguk
upah dari biaya kirim.

Itu yang terjadi saat itu.