Jika temuan ini benar, Jepang harus evaluasi rencana penanggulangan gempa bumi.

Seorang ahli geologi dari Jepang menyatakan bahwa
dirinya menemukan satu lempeng tektonik baru di bawah Tokyo. Jika temuan
ini benar, pemerintah Jepang harus mengevaluasi rencana penanggulangan gempa
bumi yang telah dibuat sebelumnya.

Jepang mengalami 20 persen gempa bumi terbesar di dunia
karena posisinya yang terletak di antara empat lempeng besar bumi, yaitu
Eurasia, Amerika Utara, Filipina, dan Pasifik.

Jika sebuah gempa bumi berkekuatan 7,3 Skala Richter
(SR) mengguncang Tokyo di saat jam sibuk, mungkin 13 ribu orang akan terbunuh
dan mengakibatkan kerugian 1,1 triliun dollar AS. Demikian informasi yang
dilaporkan pemerintah awal tahun ini.

Tokyo termasuk dalam daerah struktur geologi Kanto yang
secara aktif berinteraksi dengan lempeng Flipina, Pasifik, dan Eurasia.
Daerah tersebut diyakini sebagai bagian dari lempeng Filipina.

Akan tetapi, Dr. Shinji Toda berpendapat bahwa Kanto sebenarnya
merupakan lempeng independen, sebagaimana diberitakan kantor berita Kyodo.

Toda, kepala peneliti di Active Fault Research Center
di National Institute of Advance Industrial Science and Technology mengaku
telah menganalisa data 150 ribu gempa bumi dengan kekuatan di atas 2 SR
antara tahun 1979 hingga 2004 di daerah Kanto.

Jika penemuan Toda terbukti, Jepang harus mengevaluasi
kebijakan mengenai penanganan gempa bumi di sekitar Tokyo karena sebelumnya
menggunakan asumsi bahwa daerah tersebut menjadi bagian lempeng tunggal
Filipina.

‘Kami membutuhkan gambaran dasar untuk memahami mekanisme
terjadinya gempa bumi, termasuk struktur lempeng tektonik,’ kata Toda sebagimana
dilaporkan oleh lembaga penelitian tersebut.

Gempa bumi terbesar yang terakhir melanda daerah Kanto
terjadi pada 1923 dan meminta 142.807 korban jiwa atau mungkin lebih.

Pada 17 Januari 1995, kota di bagian barat Jepang,
Kobe menderita guncangan hebat berkekuatan 7,3 SR dan menewaskan 6.433 orang.
Gempa bumi di Kobe merupakan salah satu yang paling mematikan yang melanda
sebuah kota modern

Source : www.kompas.com