Karena banyaknya keterbasan, secara pelan-pelan teknologi Foundation
Fieldbus pada boiler diobati dengan jamu tradisional.
Karena banyaknya keterbasan, secara pelan-pelan teknologi Foundation Fieldbus
pada boiler diobati dengan jamu tradisional (baca kembali pake 4-20 mA).
Karena firmware dan dan software FF masih “misteri”. Jadi, apakah yang harus
dilakukan?

Sistem lama yang berdampingan dengan sistem baru untuk mengetahui respon
dari proses terhadap sistem yang baru diinstalasi. Hal tersebut dilakukan
untuk jaga-jaga kalau ternyata sistem yang baru tidak cukup stabil dalam
operasinya, maka bisa dilakukan switch back yang relatif lebih cepat ke sistem
lama. Pengetesan sistem baru tersebut dilakukan terhadap live process supaya
bisa langsung diketahui performance dari sistem baru tersebut.

Keuntungan utama dari fieldbus system adalah pada sisi Data retrieving &
Diagnostic capability dan failure consequences kalau ada loop yang bermasalah
(karena real distributed). Sisi yang pertama bisa juga didapatkan dari Hart
based system yang juga point-to-point dan 4 – 20 mA based. Bila sistem 4
– 20 mA mempunyai kemampuan Hart protocol, data retrieve capability yang
bisa didapat bisa dibandingkan. Selanjutnya dinilai sesuai dengan kondisi
plant dan operating mode system.

Mengistall FF instrument, pada awalnya memang sedikit bermasalah, terutama
masalah DD file. DD file yang di-install di DCS harus benar-benar sesuai
dengan device rev dari transmitter/CV. Selain itu harus juga diperkirakan,
panjang kabel, current draw, no.of instrument dalam segment, macro cycle,
dan lain-lain.

Tahap awal bisa dicek masalah wiring-nya, perlu dipastikan apakah total current
consumption field instrument dalam segment masih masuk dalam range current
supply power conditioner, dan working voltage intrument yang biasa digunakan
9 -3.2 VDC.

Masalah macro cycle yang perlu dipertimbangkan juga adalah AI/AO excecution
time tiap-tiap field instrument, biasanya DCS menggunakan 1000 ms sebagai
batasan maximum macro cycle per segmen, untuk faktor keamanan biasanya total
excecution time yang boleh dipakai 750 ms.

Kenyataannya, dalam 1 model transmitter kadang-kadang bisa terdapat beberapa
revisi DD file. Kalau sudah seperti ini biasanya dicoba-coba saja satu-satu,
karena vendor transmitter pun kadang-kadang tidak tahu mana DD file yang
cocok dengan device revision.

Biasanya DCS vendor mempunyai tested DD file dari beberapa instrument vendor,
sehingga lebih baik memakai tested DD, dan tidak perlu meminta DD file dari
vendor instrument.

Tapi bila brand tidak begitu beragam, dari sisi DCS dan instrument dari manufacturer
yang sama, seharusnya troubleshoot bisa lebih mudah.

Switch lagi ke 4-20mA perlu dilakukan banyak pertimbangan, walaupun 4-20mA
sudah pasti bisa jalan, tapi harus dipertimbangkan pembelian kabel, delivery
dan cost impact-nya.

Penggambaran yang diberikan para vendor fieldbus mengenai kemudahan yang
mereka tawarkan kadang-kadang sudah terlalu menggampangkan persoalan. Seolah-olah
semuanya ‘plug and play’. Padahal yang sering kali terjadi adalah ‘plug and
pray’.

Berikut adalah cuplikan beberapa alinea dari sebuah tulisan mengenai open
sistem (walaupun tidak langsung mengenai fieldbus). Mungkin kejadian untuk
fieldbus tidak seseram yang diungkapkan tulisan ini.

Despite the increasing power of microprocessors, the increasing speed of
networks, and the best-intended efforts of interoperability organizations,
distributed control systems can be vulnerable to faults and overload conditions
if non-validated products connect in an open manner. A DCS is a tightly integrated
set of modules with distributed functions. Dependable DCS vendors strive
to protect their users by limiting access, qualifying third party devices,
executing extensive interoperation, performance, capacity, and topology testing,
insuring robustness, and providing guidelines for acceptable loading, interoperation,
and security of various products. Periodic releases of the system also assure
qualification of interoperation of the defined set of products supported.

Users who plan to create their own fully open systems need to plan to commit
capital for full-capacity equipment to be dedicated to testing. They need
to staff up with trained testing engineers who can develop thorough and selective
battery of test scenarios to establish confidence in capacity, performance,
interoperation, and security. Automated testing with automated recording
and scoring can help to reduce the costs.

True openness does not come without a price. Along with the ability to connect
anyone’s anything anywhere anytime comes the risk that untested elements
may not reliably function as intended, may interfere with the proper operation
of other elements, and costly unpredictably loss of plant production may
result. In order to assure the ‘dream come true’ does not become a ‘nightmare,’
those risks can best be mitigated by comprehensive, methodical testing and
re-testing in large-scale system configurations as new elements and upgrades
to existing ones are considered for use.

Presentasi dari para User dan pakar FF dapat dilihat di http://ffeucme.org/Multqa%202004%20Presentations.html
dan http://www.fieldbus.org/endusersupport/enduserpresentations/ga05vienna/presentations/fayad.pps 
dengan kesuksesan implementasi FF pada plant dengan skala besar, termasuk
Refinery. Daftar lebih lengkap bisa kita lihat di http://www.fieldbus.org/EndUserSupport/Installations/.

Semua I&C (Instrument and Control) vendor yang mulai mengalihkan teknologinya
menuju implementasi FF technology, maka bisa diprediksi bahwa teknologi konvensional
4-20mA lambat laun akan ditinggalkan. Sayang sekali kalau plant sudah maju
menuju teknologi FF, dikembalikan lagi ke sistem konvensional, kecuali sebagai
solusi sementara.

Sekali sistem kita bekerja dengan baik dan selama tidak ada perubahan, software
dan firmware tidak mempunyai masa berlaku tertentu. Demikian pula dampak
virus / worm tidak akan sampai mengganggu FF firmware, mengingat belum adanya
pembuat virus yang membuat virus untuk FF.

Kalau kita melihat presentasi User di website di atas, beberapa User mengatakan
kesulitan dalam implementasi FF adalah ‘Lack of FF Experts from vendors and
contractors’. Kalau bicara dengan para vendor dan kontraktor (tidak hanya
di Indonesia) memang keberadaan FF Expert masih sangat minimal. Sedangkan
suksesnya implementasi project sangat tergantung dari para expert ini. Sebagai
User, kita perlu dibekali pelatihan seperlunya untuk bisa melakukan maintenance
& operation dari plant yang menggunakan teknologi ini.

Bila tidak tersedia Manpower supply untuk mendukung fieldbus system yang
baru, sebaiknya vendor FCS-nya diminta menyediakan orang yang harus memelihara
sistemnya secara keseluruhan at VENDOR’s cost expense. Dan memang seharusnya
vendor bisa memberikan garansi bahwa sistem yang diinstalasi akan beroperasi
dengan benar dan vendor juga bisa melihat masalah apa yang dihadapi selama
day-to-day operation sehingga penanganannya bisa dilakukan dengan efektif.
Kalau ini pun tidak bisa dilakukan, bisa jadi back to 4 – 20 mA adalah pilihan
yang lebih bijak. Apalagi mempertimbangkan kehilangan dana kalau plant sering
suriously shutdown.