Hydro power atau PLTA, sudah lama di implementasikan di Indonesia

Apakah di Indonesia sudah mulai banyak menggunakan Hydro Power Turbine? Dan
bagaimana dengan penggunaan Wind Power Turbine, Apakah ada kemungkinan digunakan
di Indonesia? Walaupun mungkin untuk Hydro Power Turbine sendiri daya yang
dihasilkan tidak begitu besar, tapi bisa dipertimbangkan untuk menggantikan
minyak?

Hydro power atau PLTA, sudah lama di implementasikan di Indonesia, terutama
di pulau Jawa dan Sumatra. Dan semuanya dimiliki dan dioperasikan oleh PLN
sendiri. Biasanya, hydro plant tersebut menggunakan danau dan waduk alami
atau buatan (mungkin masih ingat Kedung Ombo dan Waduk Koto Panjang).

PLTA sendiri mempuyai biaya investasi yang sangat tinggi bila dibandingkan
kita membangun 1 unit PLTA dengan 1 unit PLTU (bahan bakar batu bara). Investasi
untuk satu unit PLTU (coal burner) per megawatt sekitar USD 1 juta. Kalau
untuk PLTA biaya per megawatt plus biaya konstruksi (membendung air dan membuat
terowongan saluran air ke turbinnya).

PLTA memiliki biaya operasi yang sangat rendah dibanding PLTU. Tetapi sekarang
ada biaya eksternal seperti biaya pemakaian air yang dikenakan pajak oleh
pemda setempat. Biaya tersebut mulai diberlakukan setelah otonomi. Belum
lagi masalah kurangnya debit dan tinggi air permukaan waduk atau danau. Di
Sumbar PLTA Singkarak dan Maninjau selalu bermasalah dengan hal tersebut.
Padahal PLTA Singkarak termasuk baru. Oleh karena itu, fasilitas tersebut
sering menurunkan kapasitas atau shutdown. Apalagi kalau musim kemarau tiba,
PLTA sendiri bisa menghasilkan daya listrik yang sangat besar bila dibanding
dengan PLTU. Satu unit PLTA bisa meghasilkan daya sampai 200 MW bahkan lebih
tergantung debit airnya. Kemampuan PLTA bisa disejajarkan dengan PLTN yang
dengan biaya operasi yang rendah tapi menghasilkan daya listrik yang besar,
namun biaya konstruksinya besar sekali.

Umumnya Hydro Power Plant dibagi menjadi tiga kelompok: Micro, Mini dan Hydro.
Total hydro power yang telah terinstall di Indonesia sekitar 2700 MW untuk
di Jawa-Bali (14% dari total kapasitas pembangkit di Indonesia), dengan 2500
MW dimiliki oleh PLN : PLTA Area 1 (33,5 MW), Area 2 (54,5 MW), Saguling
(695,8 MW), Cirata (1.000 MW), Area 3 (124 MW), Mrica (173,6 MW), Area 4
(40 MW), Sutami (102 MW), Brantas Non-Sutami (125 MW), dan Jatiluhur (179
MW).

Sisanya milik swasta dan swadaya masyarakat. Untuk luar Jawa-Bali Total pembangkit
hydro milik PLN = 624 MW. Sisanya tersebar di tempat terpencil yang merupakan
swadaya masyarakat (umumnya micro hydro). Microhydro yang digunakan adalah
mini turbine dan dengan pengelolaan sendiri untuk kepentingan daerah mereka
sendiri.

Selain PLN perusahaan yang menggunakan hydro power adalah PT. INCO. Saat
ini INCO sedang membangun sebuah power plant :PLTA Balambano.

Indonesia Power sedang dilakukan FS untuk 3 PLTA yaitu : PLTA Siteki (1 x
1,2 MW), PLTA Ketenger (1 x 600 kW), dan PLTA Plumbungan ( 1 x 1,69 MW).

Sedangkan untuk di PLN sendiri dengan menggunakan dana ADB Loan INO 1982,
sedang dilakukan bid process untuk PLTA Mongango, PLTA Lobong dan PLTA Merasap
ini merupakan Package 1.

Sedangkan yang dilakukan FS untuk package 2 yaitu di Papua dan Nusa Tenggara
Timur.

Untuk mendapatkan informasi data statistik yang lengkap, lebih baik membuka
website PLN (www.pln.co.id). Daya puncak untuk Jawa-Bali dan Region lainnya
di update tiap hari

Untuk Wind Power Plant, potensi di Indonesia rata-rata 3-6 m/s dan telah
terpasang sekitar 0.5 MW, kebanyakan dimiliki oleh swasta.