Apakah ultrasonic testing benar-benar bisa tergantikan dengan sounding
testing?
Dalam melakukan neoprene coating untuk riser, harus dilakukan ultrasonic
testing untuk itu, meskipun sebenarnya sounding testing sudah cukup untuk
mengetahui suspect bonds.
 
Dari segi biaya, ultrasonic testing sangatlah mahal, bahkan jauh lebih mahal
dari biaya untuk coating pipa-pipa itu sendiri. Apakah ultrasonic testing
benar-benar bisa tergantikan dengan sounding testing?

Sebenarnya dengan cara pengukuran COATING thickness akan diketahui bondingnya
baik atau tidak. Saat ini banyak alat Coating thickness dengan model terbaru
dan canggih. kalau ada sedikit saja  ketidakhomogenan bonding maka alat
tersebut akan membunyikan alarm dan merekamnya.

Alat lain yang bisa digunakan adalah CIPS (Closed Interval Potential Log),
untuk memeriksa system cathodic protection kalau pipeline tersebut menggunakan
sistem proteksi. Tetapi kalau tidak, hanya ingin memeriksa insulation saja,
CIPS menggunakan additional module bernama pear system.

Sebenarnya, metode UT ‘tidak lazim’ diterapkan untuk menginspeksi bonding
quality hasil aplikasi coating. Metode UT (dengan pulse echo dan/ atau pitch
& catch techniques) akan lebih baik digunakan untuk menginspeksi bonding
quality suatu casting product. Metode UT-nya nanti adalah Dry Coupling memakai
teknik Through Transmission Shadow.

Sedangkan metode sounding (saja) juga masih jauh dari akurat untuk mengetahui
bonding quality hasil aplikasi coating. Akan lebih baik kalo melakukan inspeksi
secara lebih menyeluruh dengan visual test, thickness, cut-back, hardness,
holiday test, adhesion test dan sounding/hammer test.

Masing-masing jenis coating memiliki karakteristik sendiri-sendiri, sehingga
metode inspeksinya tidak selalu sama. Inspeksi yang umum (common) dilakukan
untuk beberapa tipe coating adalah visual, holiday detection, adhesion dan
cut-back. Metode-metode lain yang dipakai untuk menginspeksi adalah surface
profile, dust test, chloride/salt/abrasive contamination, dan lain-lain.

Secara sederhana aplikasinya adalah sebagai berikut:

– Visual
dilakukan pemeriksaan visual 100% pada permukaan pipa yang dilapisi (coating).
Secara visual, pastikan bahwa imperfections, lack of bond, blister, laminasi
dan apparent irregularity tidak ada.

– Thickness
mengukur thickness dengan gauge atau alat pengukur lain pada beberapa lokasi
yang ditentukan sesuai dengan kebutuhan.

– Cut back
mengukur cut back (ujung coating pipa dipotong) secara manual dengan measuring
tape atau template.

– Hardness test
uji beberapa titik pipa terlapisi (coating) dengan hardness tester (biasanya
tester yang dipakai adalah type jarum). Criteria failed-nya tergantung dari
requirement.

– Holiday Detection Test
melakukan pemeriksaan dengan holiday detector yang terkalibrasi (biasanya
dilengkapi dengan elastomer element untuk mengidentifikasi defects) sepanjang
pipa yang di coating. Pastikan tidak ada pinhole yang terdeteksi.
 

– Adhesion Test
dengan memotong circumference strip pada salah satu sisi, kemudian di coak/cungkil
pada potongan gap-nya. Dari coakan tersebut, dipasang clamping dan ditarik
sampai sampai coating robek/clamping terlepas. Lokasi clamping berada didekat
daerah cutback. Pastikan masih ada lapisan tipis yang tertinggal yang mengindikasikan
adanya chemical bond yang baik.

– Hammer/Sounding Test
dengan cara memukulkan hammer/sounding equipment pada pipa yang sudah terlapisi
(coating). Pastikan tidak ada ‘hollow sound’ yang terdengar.

Methode test tersebut applicable dipakai untuk inspeksi beberapa neoprene/EPDM
coating (elastomer based). Untuk coating lainya (based on laminated epoxy/glass
fibre, hot enamel, dll) akan berbeda metodenya.

Untuk visual dan thickness, biasanya user spec cukup jelas menyatakan requirement-nya
(merupakan referensi sekaligus acceptance criteria). Untuk referensi standar
bisa mengacu ke:
 
– BS 903 dan standard-satandar turunannya (seri A1/A2/A3, dan seterusnya)
untuk menentukan criteria hardness, tensile, tear strength, dan sebagainya.
– ASTM G8 untuk cathodic disbonding
– ASTM C177 untuk thermal conductivity
– ASTM 429 untuk adhesion
– SSPC, SIS dan beberapa ISO series untuk surface preparation
– ISO 8502 untuk dust level
– Dsb

Adapun yang melakukan inspeksi haruslah memiliki kompetensi/license yang
sesuai-sebagaimana license WI dipersyaratkan untuk menginspeksi welding.
Tapi kenyataannya di lapangan masih sangat banyak inspector yang tidak memiliki
license ini.

Ada beberapa lembaga/organisasi yang bisa mengakreditasi/memberi license
seperti NACE (dengan program CIP-Coating Inspection Personnel), CSWIP (dengan
program Mill & Site Coating Inspector), INDOCOR (di Indonesia), dan lain-lain.

Jadi, metode UT ‘tidak lazim’ diterapkan untuk menginspeksi bonding quality
hasil aplikasi coating. Tetapi menggunakan metode sounding pun masih jauh
dari akurat untuk mengetahui bonding quality hasil aplikasi coating. Sehingga
akan lebih baik kalo melakukan inspeksi secara lebih menyeluruh dengan visual
test, thickness, cut-back, hardness, holiday test, adhesion test dan sounding/hammer
test.