Akibat terjadinya pencemaran limbah pabrik di Sungai Citarum, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling, Kab. Bandung, terkadang harus menghentikan sebagian pembangkitnya karena sebagian komponennya rusak.

Akibat terjadinya
pencemaran limbah pabrik di Sungai Citarum, Pembangkit Listrik Tenaga
Air (PLTA) Saguling, Kab. Bandung, terkadang harus menghentikan
sebagian pembangkitnya karena sebagian komponennya rusak. Meski
kerusakannya tidak parah, penghentian itu cukup mengganggu pasokan
listrik dari PLTA Saguling.

‘Kami tak bosan-bosan untuk
meminta kesadaran pengusaha pabrik agar tidak membuang limbah
berbahaya ke sungai atau anak Sungai Citarum. Karena selain membahayakan
semua aspek kehidupan makhluk hidup di sekitarnya, juga dapat
merusak pembangkit listrik yang merupakan aset negara,’ ungkap
Manajer Unit Pembangkit (UP) Saguling, Ir. Sumarna, Sabtu (18/6).

Dijelaskan Sumarna, masalah
limbah pabrik sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu dan melalui
media massa masalah ini gencar diberitakan. Namun, hingga saat ini masalah
tersebut tetap saja muncul seolah tidak didengar oleh pengusaha
pabrik.

Akibat tidak terkendalinya
limbah yang masuk ke Citarum, pihak PLTA Saguling juga mengalami
kerugian yang cukup besar. Selain harus menanggung kerusakan alat-alat
pembangkit, juga sangat mengganggu pasokan listrik dari PLTA tersebut.
Akibat limbah industri, umur alat-alat pembangkit makin singkat
dan sering kali terjadi kerusakan.

‘Akibat teraliri air yang
mengandung limbah, bagian pendingin pembangkit berkarat dan keropos.
Untuk menormalkan kembali, alat itu harus diganti. Proses penggantian itu
membutuhkan waktu cukup lama dan pembangkit harus dimatikan,’
katanya.

Pemeliharaan

Lebih lanjut Sumarna menjelaskan,
selain mengganti kerusakan yang diakibatkan limbah, pihak manajemen
juga melakukan pemeliharaan rutin. Untuk tahun 2005, direncanakan akan
melakukan perbaikan pembangkit dari Juli hingga September. ‘Pemeliharaan
rutin ini dilakukan pada saat musim kemarau atau pada saat ketinggian
air berkurang. Namun, kalau air tinggi, proses pemeliharaan akan
ditunda,’ kata Sumarna.

Untuk tahap pertama, pemeliharaan
akan dilakukan Juli 2005, karena pada bulan itu biasanya air
Waduk Saguling menyusut. ‘Tahap pertama, satu unit pembangkit yang
menghasilkan 175 mega watt (MW) selama satu minggu diperbaiki sehingga
tidak dioperasikan,’ katanya.

Kemudian untuk pemeliharaan
unit II dan III akan dilakukan pada bulan berikutnya, masing-masing
unit berhenti beroperasi selama satu minggu. ‘Kalau tidak ada aral
melintang, pemeliharaan itu akan dilakukan sesuai jadwal,’ katanya.

Disisi lain, Sumarna mengungkapkan
air Waduk Saguling makin hari makin menyusut akibat penggundulan
hutan di hulu Sungai Citarum dan di sepanjang bantaran sungai. Untuk
menghijaukan kembali hutan yang gundul tersebut, pihak PLN melakukan
kerja sama dengan masyarakat menanam kembali pohon dan buah-buahan.
Tahun 2005 saja PLTA Saguling sudah menanam sekira seratus ribu
pohon kopi, mangga, nangka, dan jenis lainnya.

Source : www.pikiran-rakyat.com