Selama tiga hari terakhir, aktivitas Gunung Merapi berupa gempa vulkanik mulai meningkat. Bahkan, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian sudah meningkatkan statusnya dari aktif normal menjadi waspada.

Selama tiga hari terakhir, aktivitas Gunung Merapi berupa
gempa vulkanik mulai meningkat. Bahkan, Balai Penyelidikan dan Pengembangan
Teknologi Kegunungapian sudah meningkatkan statusnya dari aktif normal menjadi
waspada.

Menurut Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi
Kegunungapian (BPPTK) Subandrio, Minggu (10/7), selama tiga hari berturut-turut
terjadi serangkaian gempa vulkanik dengan kekuatan mencapai 2,8 skala Richter.
Kamis terjadi 14 kali gempa, Jumat 37 kali gempa, dan Sabtu 49 kali gempa.

�Aktivitas Gunung Merapi sebenarnya sudah mulai menampakkan tanda-tanda
peningkatan sejak pertengahan 2004. Aktivitas Merapi sempat mereda Desember
2004 hingga Maret 2005 dan kembali meningkat hingga tanggal 6 Juni lalu, yang
ditandai dengan sekali gempa vulkanik. Sejak saat itu pengamatan terhadap
Merapi mulai ditingkatkan, katanya.

Keberadaan gempa vulkanik hingga sampai pada gempa yang terasa ini, menurut
Subandrio, merupakan indikasi adanya aktivitas internal Merapi. Peningkatan
aktivitas ini memang sesuai dengan siklus letusan yang terjadi 2-7 tahun sekali.
Dengan peningkatan status tersebut, masyarakat di sekitar lereng Merapi diminta
waspada.

Pengamatan di Pos Babadan, Kabupaten Magelang, juga melaporkan adanya peningkatan
aktivitas ini. Menurut pengamat gempa Sunarto, kekuatan getaran 3-4 skala
Richter.

Empat pemkab

Status waspada ini bisa dengan cepat berubah menjadi siaga atau awas, tergantung
dari peningkatan aktivitasnya. Karenanya, BPPTK sudah mengeluarkan rekomendasi
kepada pemerintah daerah di empat kabupaten sekitar untuk mengantisipasi terjadinya
bencana dan mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di
sekitar lereng Merapi, kata Subandrio.

Keempat kabupaten rawan bencana di lereng Gunung Merapi, yang meliputi Boyolali,
Magelang, Sleman, dan Klaten, itu diminta untuk berjaga-jaga.

Secara terpisah, Camat Selo Boyolali Luwarno menyatakan, sejumlah daerah
yang teridentifikasi rawan bencana Merapi meliputi Desa Klakah, Jrakah, dan
Tlogolele. Dengan perubahan puncak Merapi yang condong ke arah selatan dan
mulai bergeser ke arah barat hingga utara, tiga daerah tersebut menjadi sangat
potensial terimbas aliran lahar panas, seperti letusan Merapi pada tahun 1954.

Dengan peningkatan status tersebut, pihaknya akan mulai mengaktifkan kembali
satuan koordinasi pelaksanaan penanggulangan bencana alam. Pada saat status
Merapi berubah menjadi siaga, sejumlah penambangan pasir di lereng Merapi,
khususnya yang berada di wilayah Selo, akan dihentikan. Hal ini merupakan
langkah antisipatif mencegah timbulnya korban jiwa akibat kemungkinan terjadinya
longsoran pasir.

Source : www.kompas.com