Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi dikeluarkan, Minggu (10/7). Inpres tersebut segera ditindaklanjuti seluruh menteri hingga wali kota dan bupati se-Indonesia untuk disosialisasikan.

 Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang
Penghematan Energi dikeluarkan, Minggu (10/7). Inpres tersebut segera ditindaklanjuti
seluruh menteri hingga wali kota dan bupati se-Indonesia untuk disosialisasikan.

Inpres yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan mulai berlaku
kemarin itu terkait dengan kelangkaan BBM akibat lonjakan harga minyak mentah
dan meningkatnya pemakaian masyarakat.

‘Inpres tersebut tentu mempunyai konsekuensi positif dan negatifnya. Namun,
bagaimana lebih lanjut dari inpres tersebut, akan dirinci masing-masing instansi
yang diinstruksikan Presiden’, ujar Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng.
Hal itu disampaikannya seusai Presiden rapat dengan gubernur se-Indonesia
selama sekitar lima jam, kemarin di Kantor Presiden, Kompleks Istana.

Menurut Andi Mallarangeng, Inpres No 10/2005 tersebut ditujukan langsung
kepada para menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Jaksa Agung, kepala lembaga
pemerintah nondepartemen, Panglima TNI, Kepala Kepolisian Negara RI, pimpinan
kesekretariatan lembaga negara, gubernur, bupati, dan wali kota.

Inti dari inpres tersebut adalah mengambil langkah penghematan energi di
lingkungan instansi masing-masing atau di lingkungan badan usaha milik negara
(BUMN) dan badan usaha milik daerah (BUMD). Hal itu khususnya berkaitan dengan
penggunaan penerangan, alat pendingin ruangan, peralatan dan perlengkapan
gedung dan kantor, termasuk penggunaan kendaraan dinas. Gubernur, bupati,
dan wali kota diinstruksikan pula untuk menyosialisasikan inpres tersebut
kepada masyarakat.

Gubernur Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, yang mewakili gubernur, menyatakan
akan menerbitkan peraturan daerah. Jika perda butuh waktu lama, bisa terlebih
dahulu dibuat surat keputusan gubernur.

Kami minta diberi kewenangan untuk mendialogkan dengan masyarakat (tentang
Red) pilihan-pilihan yang mesti diambil dalam (mengatas Red) masalah BBM tersebut,
kata Sultan.

Source : www.kompas.com