Hanya ada dua alternatif mengatasi krisis BBM, perbesar subsidi atau naikkan harga.

Hanya ada dua alternatif mengatasi krisis BBM, perbesar
subsidi atau naikkan harga.

Menurut Menko Perekonomian, Aburizal Bakrie, pemerintah saat ini tengah
mengkaji dua kebijakan untuk mengatasi krisis BBM, yaitu meningkatkan dana
subsidi atau menaikkan harga BBM.

‘Seperti bejana berhubungan. Jika subsidi tinggi, maka harga akan rendah.
Kalau harga tinggi, maka subsidi yang rendah. Jadi, hanya ada dua alternatif,
yaitu menambah subsidi atau menaikkan harga dengan memberikan uang kepada
orang miskin. Tetapi ini masih sekedar wacana,’ kata Aburizal Bakrie usai
melantik pejabat eselon II di lingkungan Kementrian Koordinator Perekonomian
hari ini (11/7) di Jakarta.

Saat ini, ujar Ical panggilan akrab Aburizal, pemerintah tengah melakukan
upaya penghematan BBM hingga 10 persen dari kuota 59,6 juta kiloliter. Jika
upaya tersebut gagal, dan harga minyak tetap bertengger di level 60 dollar
AS per barrel, maka subsidi BBM dapat mencapai Rp 150 triliun. Artinya, untuk
memberi subsidi BBM saja, pemerintah harus merogoh kocek 30 persen dari APBN
Perubahan 2005.

Jika upaya penghematan sebesar 10 persen berhasil dilakukan, sambungnya,
maka subsidi dapat ditekan menjadi Rp 138 triliun.

Dana subsidi ini akan lebih bermanfaat jika disalurkan secara langsung kepada
masyarakat miskin sebagai dana pembelian minyak tanah sekitar Rp 2,5 juta
per keluarga. Saat ini jumlah masyarakat miskin mencapai sekitar 36 juta orang
atau 12,5 juta keluarga miskin yang menjadi sasaran pembagian dana itu. ‘Untuk
dana susbisdi itu hanya diperlukan sekitar Rp 25 triliun, jauh lebih rendah
dibandingkan dengan subsidi Rp 150 triliun,’ kata Ical

Source : www.minergynews.com