Pertamina mengusulkan pembangunan kilang dan fasilitas penampungan minyak berkapasitas 150.000 hingga 200.000 barrel per hari di Tuban, Jawa Timur.

Pertamina mengusulkan pembangunan kilang dan fasilitas
penampungan minyak berkapasitas 150.000 hingga 200.000 barrel per hari di
Tuban, Jawa Timur. Proyek yang diperkirakan membutuhkan dana senilai satu
miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 9,7 triliun itu diharapkan
dapat menghasilkan BBM untuk menambah produksi Indonesia menjadi lebih dari
1,25 juta barrel per hari dan menampung stok bahan bakar untuk kebutuhan 30
hari.

Direktur Utama PT Pertamina Widya Purnama mengungkapkan hal tersebut di
Jakarta, Selasa (12/7).

Widya menegaskan, kilang itu perlu dibangun karena Pertamina hanya memiliki
kilang pengolahan dengan kapasitas maksimal 1,050 juta barrel per hari. Padahal,
pada tiga tahun mendatang, produksi minyak dalam negeri diperkirakan akan
meningkat dari 1,125 juta barrel per hari menjadi 1,25 juta barrel per hari
menyusul beroperasinya Blok Cepu dan Blok Jeruk.

‘Blok Cepu akan menghasilkan 170.000 barrel per hari dan Jeruk sekitar 100.000
barrel per hari sehingga produksi minyak Indonesia di tiga tahun mendatang
bisa lebih dari 1,25 juta barrel per hari,’ kata Widya.

Menurut Widya, kilang di Tuban itu mendesak untuk dibangun karena kawasan
Jawa Timur dan sekitarnya belum memiliki kilang pemasok. Saat ini, hanya dua
kilang yang memasok kebutuhan di Pulau Jawa, yakni Balongan yang menutupi
kebutuhan Jawa Barat, Banten, dan Jakarta, serta kilang di Cilacap yang memasok
Jawa Tengah.

Saya sudah melaporkan rencana ini kepada Presiden Yudhoyono. Kami akan mengusahakan
agar pembiayaan proyek ini dapat dilakukan dengan menarik investor, kata Widya.

Fasilitas penampung

Widya mengatakan, Presiden telah meminta agar Pertamina membangun fasilitas
penampungan (storage) yang berkapasitas 200.000 barrel per hari. Pembangunan
storage ini diharapkan dapat menambah kemampuan Pertamina dalam menampung
BBM yang diperoleh melalui impor atau produksi dalam negeri.

Dengan demikian, kami dapat mengusahakan adanya stok BBM yang lebih aman
dari sekarang, yakni hingga 30 hari, sehingga ke depan kapasitas penampung
kami lebih fleksibel, kata Widya.

Posisi stok

Widya menyebutkan, posisi stok BBM saat ini hanya cukup untuk 18,5 hari.
Pada minggu ketiga bulan Juli, Pertamina memastikan cadangan BBM dalam negeri
aman untuk kebutuhan selama 22,5 hari.

‘Hal itu dimungkinkan karena kami telah mengunci hasil impor produk sebanyak
16 juta barrel dan delapan juta barrel minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan
itu. Kami berharap konsumsi BBM menurun sehingga subsidi yang diperlukan tidak
membengkak,’ tutur Widya menjelaskan.

Pemerintah dan DPR sepakat subsidi BBM dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2005
ditetapkan sebesar Rp 76,5 triliun, dengan asumsi nilai tukar Rp 9.300 per
dollar AS dan harga minyak 45 dollar AS per barrel.

Subsidi diperkirakan akan meningkat menjadi Rp 150 triliun akibat harga
minyak yang mencapai 60 dollar AS per barrel, sehingga asumsi APBN-P 2005
akan diubah kembali pada bulan Agustus.

Sebelumnya, Wakil Direktur Utama Pertamina Mustiko Saleh mengatakan, pihaknya
baru saja kembali dari Iran untuk melakukan pembicaraan dengan investor yang
akan bekerja sama dengan Pertamina membangun kilang di Tuban tersebut.

Meskipun demikian, Mustiko Saleh belum dapat merinci besarnya nilai investasi
yang akan ditanamkan oleh investor Iran tersebut.

Source : www.kompas.com