Meski pemerintah saat ini tengah pusing akibat harga minyak mentah dunia melambung tinggi, potensi batu bara cair sebagai pengganti BBM belum dilirik.

Sebagai salah satu negara pengekspor batu bara terbesar
di dunia, mestinya potensi batu bara yang ada didayagunakan untuk berbagai
keperluan. Namun kenyataan lain, meski pemerintah saat ini tengah pusing akibat
harga minyak mentah dunia melambung tinggi, potensi batu bara cair sebagai
pengganti BBM belum dilirik.

Padahal Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan dibantu oleh
New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dari
Jepang sudah sejak tahun 1994 melakukan penelitian mengenai kemungkinan batu
bara cair menggantikan BBM. Sayang, hasil penelitian itu hingga kini masih
menumpuk di meja, karena belum dimanfaatkan.

Menurut Direktur Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Konversi dan Konservasi
Energi BPPT, Agus Salim Dasuki, batu bara cair (coal liquefaction) sangat
potensial dijadikan sumber energi pengganti BBM. Selain memiliki kualitas
yang sama dengan BBM, sumber energi alternatif yang diolah dari batu bara
muda itu juga sangat efisien dan ramah lingkungan.

‘Berdasarkan kajian yang dilakukan BPPT, sumber energi ini terbukti dapat
meningkatkan kinerja mesin dan mengurangi pengeluaran asap hitam secara signifikan.
Selain itu, nilai oktannya juga lebih tinggi dari BBM yang ada sekarang,’
kata Dasuki kemarin (12/7) di Jakarta.

Soal harga, Dasuki menjamin, bahan bakar alternatif tersebut relatif lebih
murah ketimbang harga BBM konvensional. Karena berdasarkan uji kelayakan yang
dilakukan BPPT, harga minyak bumi sintetis yang dihasilkan dari pencairan
batubara kadar rendah (low rank coal) dari wilayah Banko, Sumsel dengan kapasitas
produksi 6.000 ton per hari, harganya sekitar 23,3 – 33,3 dollar AS per barrel.

Sementara hasil uji kelayakan yang dilakukan dengan batubara kadar rendah
dari wilayah Mulia, Kalsel dan Berau, Kaltim dengan kapasitas produksi yang
sama, harganya masing-masing sekitar 29 dollar AS dan 25 dollar AS per barrel.
‘Harganya jauh lebih rendah dari harga minyak bumi saat ini dan bahkan mungkin
pada masa mendatang, karena menurut perkiraan sejumlah pengamat saat ini harga
minyak dunia sedang berada pada masa transisi menuju ekuilibrium ke dua,
yaitu dimana harga minyak akan naik dan turun namun masih dalam kisaran 40
dolar AS per barrel,’ ujar Dasuki.

Sebagaimana diketahui, harga minyak mentah dunia masih berada pada kisaran
lebih dari 50 dollar AS per barel sedangkan harga produk olahannya naik hingga
sekitar 70 dollar AS per barel untuk minyak tanah (Kerosin), 60 dollar AS
per barel untuk premium dan 64 dollar AS per barel untuk solar.

‘Dengan demikian, jika kita membangun pabrik berkapasitas produksi sebanyak
6.000 ton per hari maka akan dihasilkan sekitar 27 ribu barrel batubara cair
per hari sehingga akan menghemat setidaknya 1.620 juta dollar AS per hari,’
tukas Dasuki.

BPPT bersa-sama dengan NEDO pada tahun 2003-2006 telah menyiapkan perencanaan
proyek percontohan (demo plant) guna membangun sebuah instalasi komersial
pencairan batubara di Berau, Kaltim.

”Karena perlu investasi besar, kami akan membangun instalasi berkapasitas
3.000 ton per hari dengan biaya investasi sekitar 800 juta dollar AS sebagai
permulaan yang nantinya akan ditingkatkan menjadi 6.000 ton per hari sebagai
unit paling optimum untuk pabrik komersial,’ katanya.

Sedangkan pemerintah sendiri, dalam strategi pengelolaan energi nasional
tahun 2005-2025, baru menargetkan pembangunan tiga unit pencairan batubara
berkapasitas produksi 6.000 ton per hari pada tahun 2025. Ketiga pabrik tersebut,
lanjutnya, diharapkan akan dapat mengurangi sebanyak 10 persen kebutuhan BBM
untuk transportasi yang diperkirakan pada tahun 2020 akan mencapai 272,8 juta
barel oil equivalen (BOE).

Source : www.minergynews.com