Sebanyak 18 perusahaan peleburan timah atau smelter mulai Jumat (15/7) ini terpaksa menghentikan produksi mereka menyusul terus merosotnya harga timah di pasar internasional.

Sebanyak 18 perusahaan peleburan timah atau smelter mulai
Jumat (15/7) ini terpaksa menghentikan produksi mereka menyusul terus merosotnya
harga timah di pasar internasional. Kondisi itu diperkirakan juga akan berimbas
kepada penambang timah rakyat.

Ketua Asosiasi Industri Timah Indonesia (AITI) Apik Chakib Rasjidi yang
dihubungi kemarin mengatakan, langkah penghentian operasi itu dilakukan sampai
jangka waktu yang tidak ditentukan. ‘Kami mencoba menekan balik pasar agar
para spekulan di bursa komoditas berhenti mempermainkan harga,’ ujar Apik.

Para pengusaha yang tergabung dalam AITI memiliki kapasitas produksi 4.000
ton-6.000 ton per bulan. Sebagian besar smelter tersebut berlokasi di Pulau
Bangka. Selain anggota AITI, PT Timah Tbk dan PT Kobatin juga memiliki smelter.

Harga timah di pasar internasional turun drastis dalam sebulan terakhir.
Awal Juni lalu harga timah masih 7.820 dollar AS per ton sebagaimana yang
tercatat di London Metal Exchange (LME). Selama bulan Juni, harga timah menunjukkan
tren menurun ke level 7.300 dollar AS di akhir bulan. Setelah peristiwa bom
London, harga timah terus turun dari 7.150 dollar AS per ton menjadi 7.015
dollar AS per ton per 13 Juli 2005.

Anjloknya harga tersebut membuat khawatir para pengusaha timah di Indonesia.
Ada indikasi kuat penurunan harga diakibatkan ulah spekulan di bursa komoditas.
Mereka membuat harga turun luar biasa, padahal kebutuhan timah di dunia cenderung
naik, ujar Apik.

Menurut Apik, dengan harga timah yang tidak menentu, pengusaha smelter berusaha
mengerem pembelian pasir timah dari penambang. Sebelum pengusaha smelter berhenti
operasi, harga pasir timah masih bertahan pada Rp 52.000 per kilogram.

Ia mengakui, tidak beroperasinya peleburan akan berimbas kepada para penambang,
khususnya penambang rakyat di Bangka dan Belitung. ‘Sementara, untuk industri
smelter, pemiliknya masih bisa berupaya untuk menanggung pekerjanya,’ kata
Apik.

Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk Prasetyo Budi Saksono mengatakan, kondisi
harga timah di pasar internasional sedang mengalami anomali. ‘Dari catatan
LME, stok bulan Juni sangat rendah, sekitar 3.600-3.800 ton. Artinya, barangnya
langka, sementara permintaan tetap. Namun, harganya malah turun,’ kata Prasetyo.

Tahun lalu, pada bulan yang sama, stok timah mencapai 15.000 ton. Ia memperkirakan
kondisi itu lebih dipengaruhi faktor psikologis pasar, bukan faktor fundamental.

Prasetyo mengatakan, sejauh ini PT Timah masih mengamati perkembangan harga
sampai akhir bulan. ‘Kalau kondisi ini bertahan lama, PT Timah tentu perlu
mengantisipasi karena kami juga akan terkena dampaknya,’ ujar Prasetyo.

Source : www.kompas.com