Meskipun termasuk dalam kelompok tiga besar penghasil timah terbesar di dunia, produsen timah Indonesia tidak berdaya menghadapi pasar internasional.

Meskipun termasuk dalam kelompok tiga besar penghasil
timah terbesar di dunia, produsen timah Indonesia tidak berdaya menghadapi
pasar internasional. Para produsen kerap dibuat kewalahan dengan harga timah
yang tidak menentu.

Ketua Asosiasi Industri Timah Indonesia (AITI) Apik Chakib Rasjidi, Minggu
(17/7) di Jakarta, mengatakan, anjloknya harga timah yang terjadi dua minggu
terakhir saat stok sedang langka menunjukkan para produsen timah tidak mampu
mengontrol pasar.

”Tetap saja, harga diatur oleh para pemain di bursa komoditas,” kata Apik.

Sebulan terakhir, harga timah di Bursa Metal London terus merosot dari 7.800
dollar AS per ton menjadi 7.070 dollar AS per ton. Padahal, harga timah rata-rata
8.000-8.500 dollar AS per ton.

Anjloknya harga itu memukul pengusaha timah di Indonesia. Indonesia termasuk
tiga besar produsen timah dunia bersama dengan China dan Peru.

Produksi timah Indonesia mencapai 110.000 ton per tahun atau sepertiga dari
total produksi timah dunia. Menurut Apik, sampai kemarin sejumlah usaha peleburan
timah (smelter) di Bangka terus mengurangi produksi mereka dengan mengerem
aktivitas peleburan.

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tercatat ada 23 perusahaan smelter
yang sekaligus menjadi eksportir timah. Berdasarkan data ekspor balok timah
pada tahun 2004, PT Timah Tbk masih menjadi produsen terbesar dengan jumlah
ekspor 32.558 ton, diikuti PT Kobatin (23.595 ton), dan Prima Timah Utama
(6.012 ton).

Total ekspor balok timah dari provinsi tersebut pada tahun lalu mencapai
88.873 ton. Sedangkan sampai Juni 2005, ekspor balok timah sudah mencapai
59.988 ton.

Timah antara lain digunakan untuk keperluan industri kendaraan bermotor,
kemasan makanan, peralatan elektronik, maupun untuk amunisi.

Pemanfaatan logam timah untuk aplikasi tradisional, seperti solder, kebutuhannya
sekitar 90.000-110.000 ton per tahun. Sedangkan pelat timah untuk kebutuhan
kendaraan bermotor mencapai 70.000-80.000 ton per tahun.

”Melihat rentannya industri timah, sudah saatnya semua pihak yang terkait
dengan produksi timah duduk bersama untuk mencari jalan keluarnya,” ujar Apik.

Alternatif yang sedang dipertimbangkan adalah industri smelter langsung
mencari pengguna akhir dari produk mereka. Selama ini kebanyakan industri
smelter masih bergantung kepada pedagang di bursa internasional.

Pemerintah pusat sebenarnya telah berencana memperbanyak pembangunan smelter
untuk meningkatkan produksi timah. Kapasitas industri smelter saat ini baru
mencapai 98.000 ton. Akibatnya, sebagian dari produksi timah dari Indonesia
diolah di luar negeri.

Penambahan smelter baru diharapkan dapat menampung seluruh produksi biji
timah sehingga Indonesia dapat menyimpan stok timah. Sekali waktu, stok timah
itu dibutuhkan untuk menekan pasar termasuk mendorong harga timah.

Source : www.kompas.com