Kelapa sawit ternyata tak hanya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif (biodiesel), tetapi sabut sawit juga bisa diandalkan sebagai sumber energi listrik alternatif.

Kelapa sawit ternyata tak hanya dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan bahan bakar alternatif (biodiesel), tetapi sabut sawit juga bisa
diandalkan sebagai sumber energi listrik alternatif. Hal tersebut sudah dibuktikan
perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Eka Pendawa Sakti yang menggunakan limbah
sabut sawit yang dibakar untuk menghasilkan energi listrik.

CEO PT Eka Pendawa Sakti (EPS) Wim Iskandar di Jakarta, Senin (18/7), mengatakan,
energi listrik yang dihasilkan dimanfaatkan untuk penggunaan di areal pabrik
dan perkebunan. Pemanfaatan sabut sawit itu mereduksi biaya pemakaian listrik
untuk perusahaan hingga 90 persen.

Wim mengatakan, perusahaan cukup melakukan investasi sebesar 650.000 dollar
AS untuk membangun pembangkit skala kecil dengan daya sekitar 1 megawatt.
Investasi itu untuk membeli boiler seharga 450.000 dollar AS dan turbin seharga
200.000 dollar AS.

Menurut Wim, potensi sabut sawit menjadi bahan bakar alternatif untuk pembangkit
listrik tenaga uap skala kecil bisa diimplementasikan untuk industri kecil
dan daerah yang tak ada sumber energinya.

Dia mengakui, EPS bukan produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di Indonesia
dengan produksi sebesar 100.000 ton. Namun, perusahaan ini bisa meraup keuntungan
karena bisa mencapai tingkat efisiensi yang sangat tinggi, di antaranya dari
pemakaian limbah kebun sawit.

”Kami tidak tahu apakah perusahaan lain memanfaatkan limbahnya untuk membangkitkan
tenaga listrik. Namun, yang pasti limbah sabut sawit sangat besar untuk digunakan
sebagai bahan bakar pembangkit,” ujar Wim.

Secara terpisah General Manajer Gas Domestik PT Pertamina Edwin Bakti mengatakan,
pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) secara luas untuk menggantikan bahan bakar
minyak terganjal kebijakan diversifikasi energi yang tidak jelas. BBG pun
menjadi tidak ekonomis dan tidak kompetitif.

”BBG hanya berjalan bagus di awal, dengan stasiun pengisian bahan bakar
gas (SPBG) dibangun di mana-mana. Tetapi, kemudian tren penggunaannya justru
terus menurun,” ujar Edwin.

Di seluruh Indonesia ada 28 SPBG, yang dibangun Pertamina (21 unit) dan
swasta (7 unit). Pengembangan BBG mengalami sejumlah kendala, antara lain
penyebaran SPBG yang terbatas karena keterbatasan jaringan distribusi pipa
gas, investasi peralatan kompresor yang mahal, dan conversion kit masih impor.

Di Jakarta, misalnya, dari sejumlah SPBG yang didirikan, yang tersisa tinggal
SPBG proyek percontohan di Mampang, Daan Mogot, dan Jalan Pemuda. Masyarakat
terus terpaku pada BBM sebagai energi utama yang sebenarnya sangat mahal tetapi
terlihat murah karena disubsidi.

”Gas alam cair pun menjadi tak ekonomis untuk dieksplorasi karena permintaannya
yang sedikit, selama BBM dijual murah dengan harga subsidi seperti sekarang,
tidak ada yang mau melirik BBG,” kata Edwin.

Dari segi harga, BBG yang dijual Rp 1.550 per liter setara premium masih
lebih murah daripada premium yang dijual Rp 2.400 per liter atau solar Rp
2.200. Namun, para pengguna BBG harus memodifikasi kendaraan mereka dengan
memasang conversion kit dan tabung gas di bagasi. Biayanya sekitar Rp 9 juta
karena alat yang digunakan masih harus impor.

Source : www.kompas.com