Lonjakan harga bahan bakar minyak yang beberapa saat terakhir mencapai kisaran 60 dollar AS per barrel serta penurunan harga timah di pasar global diperkirakan akan menekan kinerja PT Timah Tbk pada semester I.

Lonjakan harga bahan bakar minyak yang beberapa saat
terakhir mencapai kisaran 60 dollar AS per barrel serta penurunan harga timah
di pasar global diperkirakan akan menekan kinerja PT Timah Tbk pada semester
I.

Demikian dikemukakan analis pasar modal AAA Securities, Deni Hamzah, Selasa
(19/7) di Jakarta. ”Sebanyak 60 persen dari beban operasional PT Timah itu
berasal dari bahan bakar,” kata Deni.

Sekretaris perusahaan PT Timah Prasetyo mengakui, kenaikan harga minyak
telah mendongkrak beban biaya sebesar Rp 15 miliar pada semester pertama,
dan pada semester kedua diperkirakan akan meningkat Rp 90 miliar dari perkiraan
semula.

”Tetapi, saya belum tahu apakah itu berpengaruh signifikan terhadap kinerja
atau tidak. Komponen yang memengaruhi biaya itu banyak,” katanya.

Sebulan terakhir harga timah di Bursa Metal London terus merosot dari 7.800
dollar AS per ton menjadi 7.070 dollar AS per ton. ”Tetapi sekarang harga
timah sudah naik ke posisi 7.325 dollar AS per ton. Tahun lalu harga rata-rata
timah 8.400 dollar AS per ton. Semester pertama tahun ini harga rata-rata
masih di atas 7.000 dollar AS per ton. Memang turun,” katanya.

Timah merupakan bahan baku untuk industri elektronika dan pelat timah untuk
kaleng makanan. Indonesia merupakan produsen timah terbesar kedua di dunia
setelah China.

”Resminya, produksi Indonesia sekitar 65.000 ton per tahun. Tetapi menurut
laporan analis, ditambah yang tidak resmi produksi Indonesia mencapai 80.000
ton,” kata Prasetyo.

Ekspor Ilegal

Hari sebelumnya, aparat Bea dan Cukai Tanjung Pinang menahan ratusan ton
kerak timah (tin slag) yang akan diekspor secara ilegal dari Pulau Bangka
ke Malaysia. Ekspor ilegal itu dilakukan dengan modus perdagangan antarpulau.

”Kita menahan 200-an ton kerak timah yang dibawa kapal motor (KM) Musdalifa
dari Belinyu, Bangka,” kata Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan Kantor
Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Pinang M Lutfi di Tanjung Pinang, Senin.

Kapal pengangkut kerak timah itu ditangkap tanggal 14 Juli 2005. ”Dalam
dokumen disebutkan tujuannya, Natuna. Namun saat ditangkap, kapal sudah mendekati
perairan Malaysia.”

Selain itu, aparat Bea dan Cukai Tanjung Pinang juga menahan sekitar 310
ton kerak timah yang akan diekspor secara ilegal ke Malaysia pada 12 Mei 2005.
Dalam dokumen itu disebutkan kerak timah akan dibawa dari Sadai, Bangka Selatan,
menuju Jakarta. Namun, saat itu kapal pengangkut kerak timah, yakni KM Galaksi,
telah bergerak haluan ke Malaysia.

Lutfi belum dapat memastikan kerugian negara.

Source : www.kompas.com