Panigoro Jual 30 Persen Saham

PT Medco Energi Internasional Tbk sedang mengincar ladang
minyak dengan cadangan yang lebih besar untuk diakuisisi. Oleh karena itu,
manajemen Medco secara beruntun menjual aset. Selain realisasi keuntungan
dari selisih harga, penjualan tersebut merupakan persiapan dana tunai untuk
akuisisi.

”Yang saya tahu Medco sedang mengincar ladang minyak lain yang lebih besar.
Tetapi, manajemen tidak menjelaskan detail, di mana dan berapa besar cadangannya.
Jadi, untuk jangka pendek Medco perlu dana tunai,” kata Kepala Peneliti Batavia
Prosperindo Aset Manajemen Irvin Patmadiwiria di Jakarta, Selasa (19/7).

Setelah hari sebelumnya mengumumkan penjualan Novus Middle East Limited
seharga 65 juta dollar AS, Selasa kemarin Presiden Direktur Medco Hilmi Panigoro
kembali mengumumkan penjualan 39 persen kepemilikan atas Blok Merangin-I kepada
PTTEP Offshore Investment Company, anak perusahaan PTT Exploration and Production
Public Company Limited asal Thailand. Wilayah blok migas ini sekitar 3.200
kilometer persegi di Jambi yang diakusisi Medco pada Oktober 2003 dengan
masa kontrak 30 tahun.

Menurut Irvin, dalam konteks bisnis jangka panjang, perusahaan tambang minyak
selalu harus memiliki ladang minyak baru. Oleh karena itu, perusahaan tambang
minyak harus terus mencari ladang minyak baru. Namun, untuk eksplorasi membutuhkan
waktu tiga sampai lima tahun dan berisiko gagal. ”Investasi yang dijamin ada
cadangan minyaknya adalah dengan mengakuisisi ladang minyak yang sudah ada,”
kata Irvin.

Lagi pula, Medco tidak menjual semua ladang minyak yang dimiliki dari hasil
mengakuisisi Novus Petroleum Ltd dan masih mempertahankan ladang tertentu.
Medco hanya menjual ladang minyak yang dinilai tidak ekonomis.

”Satu ladang minyak bisa saja ekonomis bagi satu perusahaan dan tidak ekonomis
bagi perusahaan lain. Satu ladang minyak tidak selamanya harus dimiliki satu
perusahaan besar. Kalau cadangannya tinggal sedikit, maka menjadi tidak ekonomis
bagi perusahaan besar. Akan tetapi, masih cukup ekonomis bagi perusahaan yang
lebih kecil,” kata Irvin.

Penawaran Saham

Hilmi juga menyatakan, Medco akan menawarkan saham langsung dalam bentuk
Global Depositary Shares (GDSs) milik Encore Int’l Limited (pemegang saham
penjual dari keluarga Panigoro), pemegang saham pengendali tidak langsung
Medco. Dengan demikian, dana hasil penjualan tidak akan masuk ke perusahaan.
Hilmi tidak menjelaskan peruntukan dana hasil penjualan tersebut.

Irvin memperkirakan dana tersebut untuk membayar utang keluarga Panigoro.

Sebagaimana diberitakan, keluarga Panigoro membeli kembali saham Medco milik
CSFB dan PTT sehingga menguasai 85,5 persen saham dengan harga 350 juta dollar
AS. Saat ini kepemilikan publik atas saham Medco sebanyak 5,7 persen.

Dalam penawaran saham langsung (GDSs) ini, Medco mengindikasikan akan melepas
30 persen dari saham yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Pencatatan GDSs
telah dilakukan di Luxembourg Stock Exchange, International Order Book System
di London Stock Exchange, serta Portal Nasdaq Stock Market.

”Yang pasti, keluarga Panigoro menjual sekarang dengan harga yang lebih
mahal, tiga kali lipat dari harga ketika membeli kembali sahamnya dari CSFB
dan PTT,” kata Irvin.

Source : www.kompas.com