Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro menilai gerakan penghematan energi yang dicanangkan pemerintah sudah menunjukkan hasil konkret.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro
menilai gerakan penghematan energi yang dicanangkan pemerintah sudah menunjukkan
hasil konkret. Salah satu hasil sejak imbauan penghematan dikeluarkan adalah
penggunaan daya listrik pada beban puncak yang mengalami penurunan.

”Saya baru mendapat laporan dari PLN, pada saat beban puncak, beban daya
sudah bisa diturunkan menjadi 600-900 MW. Padahal, biasanya disparitas antara
beban dasar dan beban puncak lebih dari 1.500 MW. Ini bukti konkret bahwa
inpres yang dikeluarkan tidak mengada-ada,” ujar Purnomo, seusai membuka diskusi
”Rancangan Undang-Undang Energi”, Rabu (20/7) di Jakarta.

Inpres tentang Penghematan Energi dikeluarkan pada 10 Juli 2005. Waktu beban
puncak yang ditetapkan PLN adalah pukul 17.00-22.00 WIB.

Kepala Pusat PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa dan Bali Muljo
Adji AG mengatakan, pantauan penggunaan listrik Jawa-Bali pada periode 11-19
Juli menunjukkan adanya penghematan daya sebesar 85 juta kWh.

”Jika dirupiahkan, nilainya sekitar Rp 23,7 miliar. Itu baru sembilan hari.
Bayangkan apabila masyarakat bisa terus berhemat,” ujar Muljo.

Direktur Niaga dan Pelayanan PT PLN Sunggu Aritonang mengatakan, keberhasilan
PLN menurunkan beban puncak karena dukungan masyarakat konsumen listrik. Sunggu
mengatakan, PLN juga mengkaji cara agar konsumen listrik, terutama industri,
mengalihkan pemakaian listrik dari saat jam beban puncak.

Hal itu dapat ditempuh antara lain dengan menaikkan angka koefisien komponen
tarif listrik pada saat beban puncak. Angka koefisien tarif listrik yang diatur
dalam Keppres tentang tarif dasar harga listrik berkisar 1-2. Angka koefisien
ini merupakan bagian dari perhitungan berapa biaya pemakaian listrik yang
akan dibayar konsumen.

”Saat ini, pada kondisi beban puncak, angka koefisien yang digunakan 1,4.
Kemungkinan angka koefisien itu akan dinaikkan menjadi 2,” kata Sunggu.

Dengan angka koefisien yang makin besar, otomatis tarif pada beban puncak
akan mengalami kenaikan. Namun, PLN juga akan memberi insentif berupa diskon
kepada industri yang mengalihkan penggunaan listriknya dari beban puncak.

Source : www.kompas.com