Penyusunan RUU Energi dimaksudkan untuk dapat menjadi perekat dan melengkapi hal-hal yang belum diatur dalam UU sektor energi yang sudah ada.

Penyusunan RUU Energi dimaksudkan untuk dapat menjadi
perekat dan melengkapi hal-hal yang belum diatur dalam UU sektor energi yang
sudah ada. RUU ini antara lain mengatur mengenai optimalisasi pemanfaatan
sumber-sumber energi, peningkatan nilai tambah sektor energi dan keadaan
darurat energi.

Demikian antara lain disampaikan oleh Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro
ketika menjadi pembicara utama dan membuka seminar “Keterlibatan Dunia Usaha
dalam Penyusunan RUU Energi” yang diselenggarakan oleh KADIN di Jakarta,
pagi tadi. Seminar juga menghadirkan pembicara termasuk Dirjen Migas, Dirjen
LPE, Dirjen GSDM dan Ketua Komisi VII DPR. Menurut Menteri Purnomo, RUU energi
ini bukan merupakan UU payung karena dalam sistem kita kedudukan UU adalah
sama. Dalam draft konsep RUU Energi yang diinisiasi oleh DPR ini, akan dijabarkan
antara lain mengenai optimalisasi pemanfaatan sumber energi termasuk energi
terbarukan, peningkatan nilai tambah sektor energi, pengembangan teknologi
dan sumber daya manusia serta pengaturan mengenai kondisi darurat energi.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Purnomo juga menjelaskan kembali mengenai
beberapa permasalahan yang dihadapi oleh sektor energi baik yang bersifat
umum maupun teknis/operasional antara lain masih tingginya intensitas energi
namun konsumsi energi per kapita masih rendah. Menteri Purnomo mengharapkan
agar seminar ini dapat memberikan masukan-masukan bagi penyempurnaan draft
RUU Energi.

Source : www.esdm.go.id