Produsen batu bara perlu dikenakan kewajiban memenuhi kebutuhan dalam negeri atau domestic obligation untuk memastikan pasokan bagi pembangkit listrik.

Produsen batu bara perlu dikenakan kewajiban memenuhi kebutuhan
dalam negeri atau domestic obligation untuk memastikan pasokan bagi pembangkit
listrik. Tanpa kewajiban itu, perusahaan pembangkit listrik khawatir bahwa
produsen batu bara lebih banyak memilih pasar ekspor daripada memenuhi kebutuhan
di dalam negeri.

Direktur Operasi PT Indonesia Power Achmad Sadikin, Kamis (21/7), mengatakan,
harga batu bara di pasar dunia yang semakin tinggi membuat khawatir pengelola
pembangkit listrik tenaga uap. ”Dalam 2-3 tahun terakhir ini, harga batu bara
meningkat tajam. Para produsen batu bara tentu lebih memilih ekspor,” ujar
Achmad.

PT Indonesia Power antara lain mengelola PLTU Suralaya (Jawa Barat) dan
PLTGU Tambak Lorok (Jawa Tengah). Untuk kebutuhan PLTU Suralaya setiap tahunnya,
dibutuhkan 12 juta ton batu bara. Kebutuhan pembangkit sebesar 3.400 MW itu
selama ini dipasok dari tambang PT Bukit Asam di Sumatera Selatan dan sejumlah
perusahaan di Kalimantan. Achmad mencontohkan, untuk pasokan PLTU Suralaya,
Indonesia Power membeli batu bara 5.000 kalori dari PT Bukit Asam seharga
Rp 274.000 per ton. Harga di pasar internasional saat ini mencapai sekitar
52,30 dollar AS untuk batu bara 6.700 kalori.

PT Indonesia Power sempat memperpanjang lelang pengadaan batu bara mereka
untuk kebutuhan operasional 2006 karena harga yang ditawarkan perusahaan-perusahaan
batu bara terlalu tinggi.

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia Jeffrey Mulyono mengakui,
sekitar 70 persen hasil batu bara diekspor, sisanya dipakai untuk kebutuhan
dalam negeri. Produksi batu bara untuk tahun ini diperkirakan 155 juta ton.

”Kami sudah mengusulkan kepada anggota supaya membuat kesepakatan jumlah
batu bara yang diekspor dengan yang dipakai di dalam negeri, tetapi tidak
semua anggota mendukung,” tutur Jeffrey.

Menurut Jeffrey, meskipun sudah ada pembatasan ekspor, jika ingin menjual
seluruh produksinya ke luar, perusahaan tersebut bisa mengalihkan kewajibannya
ke perusahaan lain. ”Tentu dengan tetap membayar dana ke perusahaan pengganti,”
kata Jeffrey.

Dengan pola semacam itu diyakini akan tercapai keseimbangan baru antara
harga jual batu bara di dalam negeri dan luar negeri.

Source : www.kompas.com